23/09/17

Sejarah Kota Medan (56): Sutan Muhammad Amin Nasution, Ahli Hukum Kelahiran Atjeh Memulai Karir di Medan; Gubernur Sumatera Utara Pertama

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Medan dalam blog ini Klik Disin


Kroeng Raba Nasoetion (gelar) Soetan Moehammad Amin adalah tokoh penting dan terpenting dalam awal pembentukan Provinsi Sumatera Utara, Provinsi Atjeh dan Provinsi Riau. Sutan Muhammad Amin lahir di Atjeh menyelesaikan pendidikan dasar di Sibolga (Tapanoeli) dan Tandjong Pinang (Riau) sebelum melanjutkan pendidikan tinggi di Batavia. Setelah meraih gelar Meester (MR) di Sekolah Tinggi Hukum, Sutan Muhammad Amin memulai karir di Medan sebagai pengacara (1934).

Mendagri Hazairin melantik Gubernur SM Amin (1953)
Pengacara pribumi pertama di Medan adalah Radja Enda Boemi (1918). Atas prestasinya, lulusan Recht School Batavia ini beberapa tahun kemudian melanjutkan pendidikan hukum ke negeri Belanda untuk mendapatkan gelar Mr. Radja Enda Boemi kemudian melanjutkan studi ke tingkat doktoral dan meraih gelar doktor tahun 1925 dengan desertasi berjudul ‘Het grondenrecht in de Bataklanden: Tapanoeli, Simeloengoen en het Karoland'. Setelah kembali ke tanah air, Alinoedin Siregar gelar Radja Enda Boemi diangkatkan menjadi wakil ketua pengadilan di Semarang, Soerabaja dan kemudian diangkat menjadi Ketua Pengadilan (Landraad) di Buitenzorg (kini Bogor). Radja Enda Boemi adalah orang Batak pertama yang menjadi ahli hukum dan orang Indonesia pertama yang meraih gelar Doktor di bidang hukum.  

Riwayat Sutan Muhammad Amin (disingkat SM Amin Nasution) sudah banyak ditulis. Artikel ini ditulis untuk sekadar menambahkan informasi yang belum ada dan dalam beberapa detail untuk memberi catatan sebagai upaya untuk mengoreksi sejumlah kesalahan data yang tertulis dan kekeliruan dalam menafsirkan. Sumber yang digunakan dalam hal ini surat kabar sejaman (berbahasa Belanda). Untuk meningkatkan pemahaman diperkaya dengan situasi dan kondisi sejaman (kontekstual).

30/05/17

Bag-20. Sejarah Padang Sidempuan: Sejarah Awal Pergerakan Politik Indonesia, Bermula di Padang Sidempuan; Visi Menjadi Indonesia

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan dalam blog ini Klik Disin


Padang Sidempuan termasuk salah satu pusat pergerakan politik di era Belanda. Salah satu tokoh muda revolusioner Padang Sidempuan adalah Parada Harahap. Setelah merasa cukup untuk berjuang di Padang Sidempuan, kampong halamannya, Parada Harahap hijrah ke Batavia tahun 1923 untuk demi cita-cita: Indonesia Merdeka.

Dari Padang Sidempuan Menjadi Indonesia
Pada tahun 1919 surat kabar berbahasa Melayu diterbitkan di Padang Sidempuan yang diberi nama Sinar Merdeka. Surat kabar ini dipimpin oleh Parada Harahap, seorang mantan krani di perkebunan milik investor Eropa/Belanda yang membongkar kasus penyiksaan kuli asal Jawa di Sumatra Timur (1918).

Jauh sebelum Parada Harahap, para seniornya yang sudah mengasah diri di Padang Sidempuan, banyak yang melanjutkan perjuangan di kota-kota lain, seperti Dja Endar Moeda di Kota Padang (sejak 1895), Mangaradja Salamboewe di Kota Medan (sejak 1902) dan Soetan Casajangan di Kota Leiden, Belanda (sejak 1905).

24/05/17

Bag-19. Sejarah Padang Sidempuan: Pejuang Ranggar Laoet Melawan Kehadiran Belanda di Angkola; Kampung Asal Kini di Sipirok

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan dalam blog ini Klik Disin


Soetan Mangkoetoer di Mandailing dan Ranggar Laoet di Angkola. Dua pejuang di Afdeeling Mandailing dan Angkola yang terang-terangan melawan Belanda. Mereka berdua menunjukkan perlawanan sejak awal ketika Belanda memulai kolonialisasi di Afdeeling Mandailing dan Angkola. Keduanya lalu ditangkap dan dibuang ke daerah lain.

Peta (perbatasan) Angkola-Sipirok, 1852
Suksesi Ranggar Laoet di Angkola adalah Soetan Habiaran. Setelah Ranggar Laoet ditawan/dibuang Soetan Habiaran melanjutkan perlawanan dengan melakukan penyerangan terhadap infra struktur di bawah kontrol Belanda yang berpusat di Batangtoroe. Sedangkan Soetan Habiaran melakukan penyerangan terhadap Belanda berpusat di Bila/Simangambat. Kampung halaman Ranggar Laoet dan Soetan Habiaran berada di perbatasan Angkola-Sipirok.

Sejauh ini, kiprah dua pejuang Angkola ini tidak pernah ditulis. Karena itu, kedua pejuang yang terang-terangan menentang kehadiran Belanda tersebut seakan hilang ditelan masa. Artikel ini akan mengkompilasi berita-berita surat kabar masa lampau tentang kiprah keduanya. Intinya, riwayat Ranggar Laoet di Angkola mirip dengan riwayat Soetan Mangkoetoer di Mandailing.

22/05/17

Sejarah Kota Medan (55): Medan dan Binjai, Kota Kembar; Peran Moda Transportasi Kereta Api Perkebunan di Deli dan Langkat

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Medan dalam blog ini Klik Disin


Kota lama di Langkat dan di Deli adalah Tandjongpoera dan Laboehan—kota pelabuhan yang menjadi simpul perdagangan dari pedalaman dan menjadi tujuan perdagangan internasional—sudah berkembang sejak lama, jauh sebelum kehadiran Belanda. Dua kota pelabuhan ini terkenal sebagai pusat perdagangan komoditi lada dan tembakau di Sumatra’s Oostkust. Juga terkenal sebagai eksportir kuda-kuda dari Bataklanden.

Deli Mij, Medan of Medan Poetri (1876)
Pemerintah Hindia Belanda memulai pemerintahan di Deli pada tahun 1863 dengan menempatkan seorang controleur di Laboehan (Baron de Raet van Cat). Sedangkan di Langkat-Tamiang pemerintahan baru dibentuk kemudian pada tahun 1876 dengan menempatkan controleur di Tandjongpoera (Bataviaasch handelsblad, 20-04-1876).

Controleur Deli di Laboehan adalah C. de Haan yang memulai bertugas pada tahun 1865. Tugas pertama controleur Deli ini adalah melakukan ekspedisi ke Bataklanden yang dilakukan tahun 1866 (tiga tahun setelah kehadiran controleur).

25/03/17

Sejarah Masjid Istiqlal, Ini Faktanya (7): Harmoni Antar Umat Beragama di Tanah Batak; Islam Pertama di Indonesia di Baros; Kristen Terakhir di Sipirok

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Masjid Istiqlal dalam blog ini Klik Disin


Masjid Istiqlal adalah Masjid Merdeka, nama masjid yang diinginkan oleh Presiden Soekarno. Meski sejauh ini pembangunannya belum selesai, namun nama masjid yang sesuai (istiqlal) dan lokasi yang sesuai sudah menjadi paten (tidak akan berubah lagi). Sayangnya, Ir. Soekarno tengah berada di dalam kesulitan dan sohibnya Zainul Arifin Pohan telah lama tiada. Singkat kata: untuk sementara pembangunan Masjid Istiqlal terkendala untuk sementara waktu.

Mesjid dan gereja di Sipirok, 1906
Lokasi Masjid Istiqlal yang dipilih Soekarno berdasarkan diskusinya dengan Zainul Arifin Pohan tentu saja berdasarkan pilihan dari Yang Maha Menentukan. Secara vertical (historis) lokasi masjid berada di atas taman Wilhelmina, yang seakan menyiratkan masa lalu colonial telah digantikan oleh masa depan bangsa Indonesia. Secara horizontal (futuristic) lokasi masjid yang berada berhadapan dengan Gereja Katedral (bukan berseberangan dan juga bukan membelakangi) seakan menyiratkan di masa depan harmoni antar umat beragama dapat terus terjaga. Itulah masjid terbesar di Indonesia, masjid merdeka dan masjid lambang persatuan.

Masjid Istiqlal yang akan menjadi lambang agama Islam di alam kemerdekaan akan menaungi siar agama Islam hingga ke masa depan. Agama Islam sendiri adalah agama yang datang kemudian (setelah Budha dan Hindoe) yang kemudian menyusul agama Kristen dan Katolik. Agama Islam di Nusantara diduga bermula di Baros, Tanah Batak, Pantai Barat Sumatra dan kemudian menyebar ke seluruh nusantara. Ini berarti boleh jadi agama Islam di Nuasantara diterima oleh penduduk Batak. Sebaliknya, seperti yang akan dideskripsikan, di Tanah Batak juga di Sipirok agama Kristen terakhir kali diterima di Nusantara. Ini seakan penduduk Batak di Tanah Batak terbilang yang di satu sisi terawal masuk Islam dan di sisi lain yang terakhir masuk Kristen di Nusantara.

30/12/16

Sejarah Tapanuli (Bag-8): Kapur Barus, Hanya Ditemukan di Tanah Batak, Sudah Disebut dalam Al Quran dan Injil

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Tapanuli dalam blog ini Klik Disin


Kapur Barus, atau kamper hanya ditemukan di Tanah Batak. Paling tidak hal itu disebutkan dalam buku-buku kuno. Buku paling kuno yang menyebutkan kapur barus adalah ‘Den rosegaert van den bevruchten vrouwen. Ghecorrigeert ende…’ terbitan tahun 1560. Dalam buku ini kapur barus disebut kafura (champora). Sejak tahun itu ratusan buku telah membicarakan komoditi kuno ini. Umumnya, para penulis menyatakan kapur barus berasal dari Barus (Baroesh) dan juga dari Sumatra (De Kamferboom van Sumatra, (Dryobalanops camphora Colebr. Terbit tahun 1851). Tidak pernah disebutkan kapur barus berasal dari Tanah Batak, namun semua penulis mendeskripsikannya bahwa kapur barus tersebut diproduksi (sebagai hasil hutan) di daerah antara Batahan dan Singkel (1’10'N-20’20’) dengan ketinggian 1.000-1.200 meter dpl yang lebih dikenal sebagai Tanah Batak. Jung Huhn bahkan menyebut aliran kapur barus ini bermula di Loemoet dan Hoeraba (dua wilayah terluar Angkola).

29/11/16

Sejarah Kota Medan (54): Lapangan Merdeka Medan, 17-8-1951 dan Lapangan Medan Merdeka, 17-8-1950; Dua Lapangan Pertama di Indonesia Sukarno Pidato



Perayaan pertama HUT RI di  Lapangan Merdeka, 1950
Lapangan Merdeka Medan dan Lapangan Medan Merdeka adalah dua lapangan yang sangat emosional dijadikan sebagai simbol kemerdekaan Indonesia. Lapangan Merdeka Medan adalah eks Esplanade di Medan. Sedangkan Lapangan Medan Merdeka adalah eks Koningsplein di Jakarta. Presiden Sukarno berpidato pada tanggal 17 Agustus 1950 di Lapangan Medan Merdeka. Presiden Sukarno berpidato pada tanggal 17 Ahustus 1951 di Lapangan Merdeka Medan. Dua lapangan (field) ini adalah dua lapangan pertama di Indonesia tempat dimana Sukarno berpidato pada saat hari Peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia.

Lapangan Medan Merdeka, 17 Agustus 1950

Secara resmi Belanda mengakuai kedaulatan RI tanggal 27 Desember 1949. Sejak itu kemerdekaan Indonesia tanpa hambatan. Untuk memperingati Hari Kemerdekaan RI yang kelima (yang pertama setelah pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda) akan dipusatkan di depan istana negara di Jakarta, tepatnya di lapangan Koningsplein. Nama lapangan ini awalnya disebut Lapangan Gambir (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 20-01-1950).

Di Medan, peringatan Hari Kemerdekaan RI yang kelima (yang pertama setelah pengakuaan kedaulatan RI) akan dipusatkan di Lapangan Esplanade. Ketua panitia peringatan adalah Mr. GB Josua.