24/09/13

Kweekschool Padang Sidempuan, Rajiun Harahap gelar Sutan Casayangan Soripada di Leiden, dan Pendiri Perhimpunan Pelajar Indonesia (Indische Vereeniging) di Eropa



Kweekschool Padang Sidempuan

Sutan Casayangan Soripada
Kweekschool Padang Sidempuan didirikan pada tahun 1874. Sekolah guru ini mewisuda muridnya yang pertama tahun 1884. Salah satu guru yang terkenal di Kweekschool Padang Sidempuan adalah Charles Adriaan van Ophuysen. Guru berkebangsaan Belanda ini menjadi direktur di Kweekschool Padang Sidempuan antara 1885 hingga 1890. Charles Adriaan van Ophuijsen sendiri lahir di Solok, Pantai Barat Sumatra tepat pada malam tahun baru 1854. Ayahnya bernama J.A.W. van Ophuijsen adalah seorang Asisten Residen. Charles Adriaan van Ophuysen--seorang yang sangat mengagumi budaya Batak dan memiliki minat yang besar terhadap Bahasa Melayu--kelak menjadi ahli Bahasa Melayu di Eropa (yang menjadi cikal bakal Bahasa Indonesia) dan menjabat sebagai Profesor di Universitas Leiden, Belanda.
Alamat anggota Perhimpunan Indonesia, 1908
Selama ditangani van Ophuysen (1882-1890) Kweekschool Padang Sidempuan berkembang pesat dan menghasilkan alumni yang banyak, sebagian sebagai guru dan sebagian yang lain menjadi pengarang, wartawan, pemimpin dan karyawan perusahaan perkebunan, pegawai pemerintahan Belanda. Kweekschool Padang Sidempuan pada dasarnya adalah estafet Kweekschool di Tanobato yang digagas/dipimpin oleh seorang pribumi bernama Sati gelar Sutan Iskandar (lahir 1840) yang kemudian berganti nama menjadi Willem Iskander. Putra asli Tapanuli Selatan ini adalah orang Indonesia pertama yang menempuh pendidikan barat di Belanda/Eropa (1857-1862). Ketika kunjungan yang kedua (1874) untuk membimbing sejumlah guru-guru yang berasal dari Jawa dan Sumatra untuk meningkatkan level pendidikannya ke Belanda, Kweekschool Tanobato ditutup, Sebagai gantinya dibangun kweekschool yang lebih besar di Padang Sidempuan.

22/09/13

Sekolah Negeri di Tapanuli, 1908: Sebanyak 15 dari 19 Berada di Tapanuli Selatan


Guru dan murid sekolah negeri di Sibuhuan, 1908

Pendidikan di Keresidenan Tapanuli 1908 dibawah pengelolaan Pemerintah Hindia Belanda (sekolah negeri) hampir seluruhnya berada di Tapanuli Selatan (Angkola, Mandailing, Padang Lawas dan Sipirok). Di wilayah lainnya di Tapanuli (Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara dan Nias) pada waktu yang sama pendidikan masih dikelola oleh non pemerintah seperti Misi—beberapa misi mendapat subsidi/bantuan dari Pemerintah Hindia Belanda. Terselenggaranya pendidikan oleh Pemerintah ini di Tapanuli Selatan didukung dengan cukup tersedianya guru-guru pribumi yang merupakan lulusan sekolah guru (kweekschool) di Padang Sidempuan (didirikan 1879, kelanjutan dari Kweekshool Tanobato yang ditutup tahun 1874).

Namun sangat disayangkan kweekschool ini ditutup tahun 1891 karena kebijakan efisiensi anggaran Pemerintah Hindia Belanda. Untuk mendapat pendidikan setingkat kweekschool atau lebih tinggi yang lokasinya terdekat dapat ditempuh di Fort de Kock (Bukit Tinggi). Pada waktu itu, pendidikan di Tapanuli masuk wilayah supervisi pendidikan di bawah inspektur wilayah Pantai Barat Sumatra yang berada di Fort de Kock sedangkan wakilnya pada awalnya berada di Medan kemudian tahun 1908 ditempatkan di Sibolga. Inspektur pendidikan wilayah Pantai Barat Sumatra pada tahun 1893 adalah Charles Adriaan van Ophuysen yang pernah menjadi guru di Kweekshool Padang Sidempuan sejak 1882 dan menjadi Direktur selama periode 1885-1890.

20/09/13

Residen Tapanuli: Natal, Panyabungan, Padang Sidempuan dan Sibolga



Belanda memasuki wilayah Tapanuli pada tahun 1833. Selanjutnya Belanda memulai pemerintahan dengan mengangkat Doewes Dekker sebagai Asisten Resident Natal-Mandailing yang berkedudukan di Natal. Ketika Asisten Residen Ayer Bangies ditingkatkan menjadi Residen 1837, kedudukan Asisten Residen di Natal dipindahkan ke Panyabungan dengan nama Asisten Residen Mandailing-Angkola. Nama-nama Asisten Residen selama di Panyabungan antara lain Willer dan Godon.
 
Keresidenan di Panyabungan, 1870
Wilayah Tapanuli di bawah Residen Ayer Bangies berakhir pada tahun 1841. Selanjutnya Residen Tapanuli dibentuk tahun 1842. Asisten residen yang sebelumnya berkedudukan di Panyabungan dipindahkan ke Padang Sidempuan dengan nama Asisten Residen Angkola Mandailing. Berikut adalah daftar nama-nama asisten residen Angkola-Mandailing:

L.A. Galle, 1843.
Mayor (Luit.-Kol.),  A van der Hart 1844-1847
P.H.A.B. Stallion, 1848-1849
W. Kocken, 1850-1851
P. F. Couperes, 1852
F.H.J. Netscher, 1853-1855
J. Blok 1856-1857
J. van der Linden 1858-1860
C. H. Palm 1861
H. A. Steyn Parve 1862-1863
Mr J. K. Wit 1864-1865
C.L.L. Coeverden 1865-1869
H. D. Canne 1869-1873
S. Stibbe 1874-1876
J. B Boyle 1876-1881
DF Braam Morris 1881-1882
C.F.E. Praetorus 1882-1887
A.W.P. Verkerk Pistorius 1887-1888
A. L. Hasselt 1888-1893
P. J. Kooreman 1893-1894
E. A. Taylor Weber 1894-1895
W. C. Hoogkamer 1895-1898
L. C. Welsink 1898-1908
C. J. Westenberg 1908

15/09/13

SMA Negeri 1 Padang Sidempuan: Eks Kweekschool dan HIS di Era Belanda


Belanda pertama kali masuk ke Tapanuli Selatan 1833 (Douwes Dekker). Setahun kemudian Pemerintah Belanda memulai pemerintahan sipil. Baru di era Godon pada tahun 1853 Belanda memperkenalkan pendidikan barat di Tapanuli Selatan. Sepulang dari Belanda (berangkat bersama Godon) dengan sertifikat guru bantu dari Amsterdam, Willem Iskander anak seorang tokoh di Mandailing pada tahun 1864 membuka sekolah guru (kweekschool) di Tanobato. Sekolah guru ini kemudian tahun 1874 ditutup karena Willem Iskander sendiri berangkat lagi ke Belanda (dan tidak kembali lagi).

Foto-1. Gedung tua SMA N 1 Padang Sidempuan (Foto: internet)
Sekitar tahun 18?? ibukota Residen Tapanuli di Panyabungan dipindahkan ke Padang Sidempuan. Penutupan Kweekshool Tanobatu terkait dengan pembangunan Kweekshool Padang Sidempuan. Sebelum ada kweekshool di Padang Sidempuan sekolah penduduk pribumi sudah didirikan terlebih dahulu yang berlokasi di SD2/SD10 yang sekarang. Kemudian pada tahun 1879 di Padang Sidempuan didirikan Kweekschool. Sebagaimana Peta 1880 (Peta-1), lokasi Kweekschool ini merupakan area yang kini menjadi area SMA1, SMA2, SPG, SD 16, SD 23, SD14 dan SMP 3. Pada waktu itu, sekolah orang Eropa  (Europese Lagere School) didirikan yang berada di pusat kota, yang berlokasi tepat di depan rumah Residen atau kini tepatnya di gedung BPDSU/Bank Sumut yang sekarang. Adanya kebijakan pusat, Kweekschool Padang Sidempuan ditutup pada tahun 1891. Untungnya sudah banyak lulusan Kweekschool Padang Sidempuan. Pada tahun 1908 terdapat 19 sekolah yang didirikan Pemerinta

‘Kopi Sipirok’ di Angkola dan ‘Kopi Pakantan’ di Mandailing Tempo Doeloe: ‘The Best Coffee in the World’

Kebun kopi di Padang Sidempuan, 1925

Dalam peradaban modern hanya ada tiga minuman non alkohol yang penting, yakni: esktrak tanaman teh, ekstrak biji kakao dan ekstrak biji kopi. Jumlah konsumsi teh merupakan yang terbanyak, kemudian kopi berada di urutan kedua,  dan kakao berada di posisi ketiga. Akan tetapi dalam perdagangan internasional kopi menempati posisi terpenting. Keutamaan kopi adalah karena kopi memiliki tempat yang penting dalam diet rasional semua masyarakat di dunia. Kopi juga dianggap sebagai minuman yang demokratis. Kopi tidak hanya modis dan menjadi gaya hidup (life style), tetapi juga minuman favorit para pria dan wanita dari semua lapisan. Rasa kopi juga telah diakui sebagai rasa yang paling menyenangkan di seluruh alam. Kopi menghasilkan rasa dan aroma yang tak terlukiskan dan tidak akan ada pengganti kopi. Konten kopi mampu meningkatkan kapasitas kerja otot dan mental tanpa reaksi yang berbahaya. Inilah gambaran romantisme tentang kopi. Di Sipirock Coffee, suasana ini bisa ditemukan.

***
Mobil mewah di Padang Sidempuan, 1935-Booming kopi
Romantisme kopi pada awalnya dikenal secara luas di tanah Arab dan kemudian di Turki. Pada mulanya kopi dianggap sebagai minuman pengganti untuk ‘anggur yang memabukkan’ tetapi terbukti tidak demikian dan selanjutnya minuman kopi menjadi akrab di masayarakat. Dimana-mana muncul kedai-kedai kopi. Adanya interaksi antara orang Eropa dengan dunia Arab/Turki menjadi sebab awal mengapa kopi diadopsi di Eropa sebagai minuman yang menghangatkan. Lantas dengan menjamurnya rumah-rumah kopi (kedai kopi) di Eropa terutama di Inggris menyebabkan permintaan kopi pelan tapi pasti semakin meningkat. Implikasinya, wilayah produksi kopi pun semakin meluas. Adanya kolonialisasi oleh negara-negara Eropa di berbagai tempat juga dimanfaatkan untuk memasok kebutuhan kopi dunia yang semakin meningkat (ternasuk di Pakantan/Mandailing dan Sipirok/Angkola).

06/09/13

Kronologis dan Tata Ruang Kota Padang Sidempuan Tempo Doeloe


Kronologis

Lokasi Kweekschool di Padang Sidempuan 1880
1825-Perang Paderi dimulai dan berakhir 1838. Daerah Tapanuli Selatan termasuk terror yang dilakukan pasukan Paderi.
1833-Belanda pertama kali masuk ke Tapanuli Selatan via Natal dan mendirikan benteng Fort Elout di Panyabungan untuk menyatakan keberadaannya di Tapanuli sekaligus basis untuk mengepung perlawanan Imam Bonjol di daerah Pasaman.
1834-Belanda memulai pemerintahan sipil di Tapanuli dengan nama Onderafdeeling Mandailing yang dipimpin Controleur Douwes Dekker yang kemudian lebih dikenal dengan Multatuli berkedudukan di Natal.
18??-Pemerintahan sipil di Natal dipindahkan ke Panyabungan, lalu ditingkatkan menjadi Afdeeling Mandailing/Angkola yang dipimpin Asistent Resident T.J. Willer
1840-Franz Wilhelm Junghuhn melakukan ekspedisi di selatan Tapanuli dan selesai 1845
1853-Belanda memperkenalkan pendidikan barat di Tapanuli Selatan
1864-Kweekschool Tanobato  dibuka  dan ditutup 1874
1879-Kweekschool Padang Sidempuan dibuka
1885-Tapanuli ditingkatkan menjadi keresidenan dan mengangkat seorang Resident di Padang Sidempuan.

23/07/13

Bioskop Angkola (Horas) di Padang Sidempuan ‘Tempo Doeloe’

Foto-1. Bioskop Angkola/Angkola Theater 1936-1939 (Foto: KITLV.NL)
Bioskop Angkola atau Angkola Theater  adalah sebuah bioskop di Padang Sidempuan yang sudah ada sejak era Belanda. Foto-1 memperlihatkan tampilan Bioskop Angkola sekitar tahun 1936-1939. Halaman bioskop ini masih bersih an rapih dengan latar belakang perumahan elit-elit Belanda (Foto-1a).


Foto-1a. Tampilan halaman/depan Bioskop Angkola
Foto-1b. Tampilan depan Bioskop Angkola





Foto-2. Bioskop Angkola atau Bioskop Horas Tahun 1960-an


Bioskop Angkola ini dikemudian hari berganti nama menjadi bioskop Horas, Bioskop ini beralamat di Jalan Gatot Subroto, jalan yang menghubungkan Pusat Pasar dengan Gedung Nasional. Tampilan Bioskop Angkola ini pada tahun 1960-an sudah sangat terkesan kumuh (Foto-2).




Foto-3. Bioskop Presiden (Foto: internet)

Pada tahun 1970-an dibangun sebuah bioskop di Kampung Teleng dengan nama Bioskop Tapanuli atau juga disebut Bioskop Rajawali. Pada awal tahun 1980 sebuah biskop dibangun lagi yang terletak di samping Bioskop Horas, Bioskop ini diberi nama Bioskop Presiden (Foto-3).






Semua bioskop yang ditampilkan di atas kini tidak beraktivitas lagi. Nasib serupa juga dialami bioskop-bioskop sejnis di kota-kota lain, seperti Jakarta. Hanya saja di kota-kota besar perannya digantikan oleh sinema  yang  masuk asosiasi XX1 (Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap)

20/07/13

Jembatan Batang Toru: Air Mengalir Sejak ‘Tempo Doeloe’

Baca juga: Sejarah BATANG TORU (1): Kisahnya Mengalir Sejak Doeloe, Namanya Baru Dikenal Kemudian
 
Ekspedisi Franz Wilhelm Junghuhn ke Batang Toru

Foto-1: Jembatan Batang Toru 1915 (commons.wikimedia.org)
Peta-1:  Lubuk Raya dan sekitar 1843-1847 (Diterbitkan 1852)
Pada masa dulu salah satu pesona Batang Toru adalah keberadaan sungai dan jembatannya. Sungai Batang Toru terkenal memiliki arus yang sangat deras dan jembatannya yang cukup panjang. Sungai Batang Toru ini berada di kaki Gunung Lubuk Raya (Peta-1). Seorang penjelajah mengabadikan Sungai Batang Toru dan  Gunung Lubuk Raya di dalam sebuah lukisan yang indah mirip aslinya pada November 1840 (Lukisan-1). 




Penjelajah tersebut adalah Franz Wilhelm Junghuhn yang pernah melakukan ekspedisi di selatan Tapanuli (1840-1845). Junghuhn adalah seorang Jerman—yang memiliki gelar dokter yang juga ahli botani, ahli geologi, ahli paleontologi, mineralogi, vulkanologi, etnolog, meteorologi dan seorang surveyor hebat--yang bekerja untuk Belanda yang dalam ekspedisinya ke Tapanuli membuat gambaran topografi dan etnologis yang rinci.

Lukisan-1: Sungai Batang Toru dan Gunung Lubuk Raya, 1840
Lukisan Sungai Batang Toru dan Gunung Lubuk Raya, 1840 diterbitkan oleh Hermann von Rosenberg tahun 1878 dalam bukunya 'Der Malayische Archipel. Land und Leute in Schilderungen, gesammelt während eines dreissig jährigen Aufenthaltes in den Kolonien'. Leipzig, Verlag von Gustav Weigel, 1878. Lukisan ‘Sungai Batang Toru dan Gunung Lubuk Raya’ diambil dari posisi melihat ke timur (seberang sungai Batang Toru). Ini sesuai dengan rute perjalanan  Junghuhn dari Batavia menuju Padang, kemudian Sibolga dan selanjutnya ke Batang Toru. Terlihat bahwa sungai Batang Toru ini sangat perkasa, suatu sungai yang ketika meluap tidaklah mudah diseberangi. Demikian juga ketika kondisi sungai normal, arusnya tetap sangat deras.

17/07/13

Nama-Nama Kampung ‘Tempo Doeloe’ di Padang Sidempuan, 1896



‘Padangsidimpoean’ 1870-1890

Foto-1. Sebuah Kampung di Padang Sidempuan, 1870
Sebuah kampung di Padang Sidempuan pada tahun 1870 (Foto-1) adalah satu-satunya bentuk visual hingga kini yang menjadi bukti keberadaan komunitas di Padang Sidempuan pada masa ‘doeloe’. Kampung ini terlihat sangat menyatu dengan alam sekitarnya yang mana pohon aren dan pohon kapuk masih menjadi bagian dari lahan pekarangan. Dua jenis pohon ini adalah penghasil bahan untuk pembuatan atap rumah dan kasur tempat tidur.

Foto lain tentang Padang Sidempuan di masa awal (‘doeloe’) adalah sebuah pasar kaget (pasar jongjong) sekitar tahun 1890 (Foto-2). Timbulnya pasar biasanya karena ada kebutuhan transaksi antar rumahtangga antar kampung di dalam kesatuan komunitas yang lebih besar. Pada waktu yang sama sekitar tahun 1890 terekam sebuah rumah dinas petinggi Belanda (Controleur) di Padang Sidempuan (Foto-3). Rumah dinas ini memang tampak lebih elegan tetapi rumah ini tentu saja menggunakan bahan-bahan lokal sebagaimana umumnya bangunan penduduk setempat. 
Foto-2. Sebuah Pasar di Padang Sidempuan, 1890
Foto-3. Rumah dinas Controleur di Padang Sidempuan 1890 

Nama-nama Kampung di ‘Padangsidimpoean’ 1896-1905

Sumber lain yang bentuk visual tentang Padang Sidempuan ‘tempo doeloe; adalah peta topografi. Sebuah peta topografi awal tentang ‘Padangsidimpoean’ diterbitkan pada tahun 1908 (Peta-1). Peta topografi ini menyajikan hasil identifikasi (potret) permukaan bumi Padang Sidempuan dan sekitarnya antara tahun 1896 dan 1905.

Peta-1. Padang Sidempuan 1896-1905 (Diterbitkan 1908)

Di dalam peta topografi ini diantaranya jelas terlihat luas wilayah komunitas (kampung dan bagian kota lainnya) Padang Sidempuan. Nama-nama kampung yang ada pada waktu itu (1896) cukup representatif dengan keadaan yang masih bisa dirasakan pada masa kini. Nama-nama kampung di Padang Sidempuan pada tahun 1896 adalah sebagai berikut.

  1. Pasarsiteleng
  2. Pasarsiborang
  3. Sitamiang
  4. Padangmatinggi
  5. Aektampang
  6. Losoeng
  7. Kampung Jawa
  8. Oedjoengpadang
  9. Silandit
  10. Sihitang
  11. Muara Sipongi
  12. Sidangkal
  13. Batangajoemi
  14. Kampung Toboe
  15. Sitataring
  16. Sihadaboean
  17. Tanobato
  18. Boeloegonting
  19. Sigiring Giring
  20. Pasar Moedik
  21. Panyanggar
  22. Loesoengbatoe
  23. Partihaman
  24. Hoeta Imbaroe
  25. Sabungan Djae
  26. Batoe na Doea

14/07/13

HIS, MULO dan Kweekschool di Padang Sidempuan ‘Tempo Doeloe’


HIS

Hollands Inlandsche School (HIS) di Padang Sidempuan (sekitar 1936-1939)
Hollandsch Inlandsche School (HIS) adalah sekolah pada zaman penjajahan Belanda. Pertama kali didirikan di Indonesia pada tahun 1914 seiring dengan diberlakukannya Politik Etis. Sekolah ini ada pada jenjang Pendidikan Rendah (Lager Onderwijs) atau setingkat dengan pendidikan dasar sekarang. Sekolah ini diperuntukan bagi golongan penduduk keturunan Indonesia asli, sehingga disebut juga Sekolah Bumiputera Belanda. Pada tahun 1920 Belanda mendirikan HIS di Padang Sidempuan yang diperuntukkan bagi anak-anak ambtenaar, pegawai, serdadu KNIL, anak-anak raja dan anak pedagang dengan dikutip biaya sekolah yang cukup tinggi. Bahasa pengantar dalam sekolah ini adalah Bahasa Belanda. Sekalipun demikian, guru-gurunya adalah orang Indonesia dengan kepala sekolah seorang Belanda.


MULO

Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Padang Sidempuan (sekitar 1936-1939)
MULO (singkatan dari bahasa Belanda: Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) adalah Sekolah Menengah Pertama pada zaman kolonial Belanda di Indonesia. Meer Uitgebreid Lager Onderwijs berarti pendidikan dasar lebih luas. MULO menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Pada akhir tahun 1930-an, sekolah-sekolah MULO sudah ada hampir di setiap ibu kota kabupaten di Jawa. Hanya beberapa kabupaten di luar Jawa yang mempunyai MULO (termasuk di Padang Sidempuan).


Kweekschool


08/07/13

Pasar 'Pajak Batu' Padang Sidempuan dari Masa ke Masa


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap
Sebuah Pasar di Padang Sidempuan, 1890 (Foto: KITLV.NL)

Sebuah ‘pasar’ di Padangsidimpoean pada tahun 1890 yang menjadi cikal bakal Pasar Kota Padang Sidempuan pada masa kini. Pasar ini diduga berada di pinggir sungai Batang Ayumi yang lokasinya di belakang Kantor Pengadilan yang sekarang. Dengan kata lain, ‘kampong’ yang dulunya di tahun 1870 berkembang menjadi kota kecil seiring dengan tumbuhnya pasar.

23/03/13

Sentra ‘Salak Sidempuan’ di Lereng Gunung Lubuk Raya (Daerah Angkola) Tapanuli Selatan: Penghasil Salak Utama dan Terbesar di Indonesia


Padang Sidempuan, Kota Salak (foto internet)

Sentra Salak Utama di Indonesia

Salak Sidempuan sudah lama dikenal dan diusahakan secara turun temurun. Dengan tingkat produksi 426.758 ton per tahun (Tabel-1) menjadikan produksi Salak Sidempuan yang terbanyak di Indonesia. Sebagai sentra utama salak di Indonesia, pemerintah kota telah memproklamirkan sebutan nama kota sebagai KOTA SALAK. Salak Sidempuan yang memiliki ciri khas dibanding  jenis salak lainnya, tidak hanya memenuhi pasar-pasar di Sumatera  Utara juga menjadi komoditi ekspor. Selain itu Salak Sidempuan dipasarkan di seluruh provinsi di Sumatera dan negara jiran (Malaysia dan Singapura).


Tabel-1. Beberapa Sentra Produksi Salak di Indonesia

No
Sentra
Provinsi
Nama/
jenis salak
Produksi
(ton/tahun)
1
Padang Sidempuan
Sumatera Utara
Sidempuan
426.758
2
Sleman
DI Yogyakarta
Pondoh
120.000
3
Banjarnegara
Jawa Tengah
Pondoh
193.000
4
Tasikmalaya
Jawa Barat
Manonjaya
112.000
5
Karang Asem
Bali
Bali
31.897

Salak Sidempuan sudah lama dikenal, bahkan jauh sebelum adanya salak pondoh. Salak pondoh sendiri adalah jenis salak varietas unggul yang diintroduksi oleh pemerintah untuk dikembangkan masyarakat. Salak pondoh ini berkembang pesat di lereng gunung Merapi di Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta. Salak pondoh sendiri baru mulai dikembangkan pada tahun 1980an. Tahun 1999, produksi buah ini di Yogyakarta mencapai 28.666 ton. Perkiraan produksi salak di seluruh Jawa sampai tahun 1980an hanya berkisar antara 7.000– 50.000 ton. Kini, sebaran sentra produksi salak pondoh telah meluas ke Jawa Barat (khususnya Tasikmalaya dengan produksi mencapai 112.098 ton). Namun demikian, berapa total produksi salak pondoh di Pulau Jawa belum terdata dengan baik. Selain sentra produksi salak di Padang Sidempuan/ Tapanuli Selatan (Sumatra Utara), saya telah melihat sendiri produksi salak di Sleman (DIY), Banjarnegara (Jawa Tengah), Bali, dan Enrekang (Sulawesi Selatan). Sentra produksi Salak Sidempuan tiada duanya.

Riwayat 'Salak Sidempuan' 

Salak Sidempuan adalah salah satu tanaman asli Indonesia yang tumbuh subur di lereng Gunung Lubuk Raya. Sentra produksi Salak Sidempuan sangat luas yang meliputi Kecamatan Angkola Barat, Kecamatan Angkola Timur, Kecamatan Angkola Selatan, Kecamatan Marancar dan Kecamatan Sayur Matinggi (Tabel-2). 



Tabel-2. Wilayah Areal Produksi Salak di 
Sekitar Padang Sidempuan (Tapanuli Selatan)

No
Kecamatan
Luas tanam (Ha)
Produksi (ton)
1
Angkola Barat
17.666
397.485
2
Angkola Selatan
466
10.485
3
AngkolaTimur
436
9.810
4
Marancar
363
8.168
Total
18.967
426.758

Kecamatan Angkola Barat adalah sentra utama. Di kecamatan ini terkenal dengan pepatah 'Salak Sibakkua, Dipangan Sada Mangido Dua" (salak Sibakkua, dimakan satu, malah minta dua). Tahun 1971 adalah pertamakali saya berkunjung ke daerah sentra salak ini di Sitinjak. Konon, Salak Sidempuan, diekspor ke Batavia pada era Belanda melalui pelabuhan Sibolga untuk memenuhi kebutuhan orang-orang Eropa. Gambar-1 memperlihatkan perkembangan produksi salak di Indonesia (1970-2012). Dengan mengasumsikan bahwa pada tahun 1970 produksi salak Indonesia antara 20.000-30.000 ton, dan produksi salak pondoh baru diintroduksi tahun 1980an, maka total produksi salak Indonesia sebelum tahun 1980 besar kemungkinan merupakan kontribusi Salak Sidempuan.

09/02/13

GUS IRAWAN PASARIBU dari Tapanuli Selatan: Suatu Momentum Meraih Kembali Tahta Gubernur Sumatera Utara


Sejarah Gubernur Sumatera Utara

Persaingan dalam perebutan posisi Gubernur di Sumatera Utara dari waktu ke waktu sungguh sangat seru dan menarik. Banyak aspek yang menjadi sumber perdebatan di masyarakat yang menjadi pertimbangan siapa yang paling sesuai untuk diangkat/dipilih menjadi orang nomor satu di Sumatera Utara. Aspek-aspek tersebut diantaranya: nasionalis vs sosialis, militer vs sipil, keragaman etnik dan agama, profesional vs birokrat, incumbent vs entrant dan partai vs independen. Namun demikian yang lebih menarik dilihat adalah bahwa kenyataannya sebanyak delapan periode  (dari 16 periode) masa jabatan Gubernur Sumatera Utara secara definitif dijabat oleh putra-putra dari Tapanuli Bagian Selatan (lihat Tabel-1).


Tabel-1. Nama Gubernur Sumatera Utara Asal
Tapanuli Bagian Selatan (1948-2013)

No
Periode
Nama Gubernur
Mulai
Berakhir
1
18-06-1948
01-12-1948
Sutan Muhammad Amin Nasution
2
25-01-1951
23-10-1953
Abdul Hakim Harahap
3
23-10-1953
12-03-1956
Sutan Muhammad Amin Nasution
4
18-03-1956
01-04-1960
Sutan Kumala Pontas
5
01-04-1960
05-04-1963
Raja Djundjungan Lubis
6
31-03-1967
12-06-1978
Marah Halim Harahap
7
13-06-1983
13-06-1988
Kaharuddin Nasution
8
13-06-1988
15-06-1998
Raja Inal Siregar