23/07/13

Bioskop Angkola (Horas) di Padang Sidempuan ‘Tempo Doeloe’

Foto-1. Bioskop Angkola/Angkola Theater 1936-1939 (Foto: KITLV.NL)
Bioskop Angkola atau Angkola Theater  adalah sebuah bioskop di Padang Sidempuan yang sudah ada sejak era Belanda. Foto-1 memperlihatkan tampilan Bioskop Angkola sekitar tahun 1936-1939. Halaman bioskop ini masih bersih an rapih dengan latar belakang perumahan elit-elit Belanda (Foto-1a).


Foto-1a. Tampilan halaman/depan Bioskop Angkola
Foto-1b. Tampilan depan Bioskop Angkola





Foto-2. Bioskop Angkola atau Bioskop Horas Tahun 1960-an


Bioskop Angkola ini dikemudian hari berganti nama menjadi bioskop Horas, Bioskop ini beralamat di Jalan Gatot Subroto, jalan yang menghubungkan Pusat Pasar dengan Gedung Nasional. Tampilan Bioskop Angkola ini pada tahun 1960-an sudah sangat terkesan kumuh (Foto-2).




Foto-3. Bioskop Presiden (Foto: internet)

Pada tahun 1970-an dibangun sebuah bioskop di Kampung Teleng dengan nama Bioskop Tapanuli atau juga disebut Bioskop Rajawali. Pada awal tahun 1980 sebuah biskop dibangun lagi yang terletak di samping Bioskop Horas, Bioskop ini diberi nama Bioskop Presiden (Foto-3).






Semua bioskop yang ditampilkan di atas kini tidak beraktivitas lagi. Nasib serupa juga dialami bioskop-bioskop sejnis di kota-kota lain, seperti Jakarta. Hanya saja di kota-kota besar perannya digantikan oleh sinema  yang  masuk asosiasi XX1 (Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap)

20/07/13

Jembatan Batang Toru: Air Mengalir Sejak ‘Tempo Doeloe’

Baca juga: Sejarah BATANG TORU (1): Kisahnya Mengalir Sejak Doeloe, Namanya Baru Dikenal Kemudian
 
Ekspedisi Franz Wilhelm Junghuhn ke Batang Toru

Foto-1: Jembatan Batang Toru 1915 (commons.wikimedia.org)
Peta-1:  Lubuk Raya dan sekitar 1843-1847 (Diterbitkan 1852)
Pada masa dulu salah satu pesona Batang Toru adalah keberadaan sungai dan jembatannya. Sungai Batang Toru terkenal memiliki arus yang sangat deras dan jembatannya yang cukup panjang. Sungai Batang Toru ini berada di kaki Gunung Lubuk Raya (Peta-1). Seorang penjelajah mengabadikan Sungai Batang Toru dan  Gunung Lubuk Raya di dalam sebuah lukisan yang indah mirip aslinya pada November 1840 (Lukisan-1). 




Penjelajah tersebut adalah Franz Wilhelm Junghuhn yang pernah melakukan ekspedisi di selatan Tapanuli (1840-1845). Junghuhn adalah seorang Jerman—yang memiliki gelar dokter yang juga ahli botani, ahli geologi, ahli paleontologi, mineralogi, vulkanologi, etnolog, meteorologi dan seorang surveyor hebat--yang bekerja untuk Belanda yang dalam ekspedisinya ke Tapanuli membuat gambaran topografi dan etnologis yang rinci.

Lukisan-1: Sungai Batang Toru dan Gunung Lubuk Raya, 1840
Lukisan Sungai Batang Toru dan Gunung Lubuk Raya, 1840 diterbitkan oleh Hermann von Rosenberg tahun 1878 dalam bukunya 'Der Malayische Archipel. Land und Leute in Schilderungen, gesammelt während eines dreissig jährigen Aufenthaltes in den Kolonien'. Leipzig, Verlag von Gustav Weigel, 1878. Lukisan ‘Sungai Batang Toru dan Gunung Lubuk Raya’ diambil dari posisi melihat ke timur (seberang sungai Batang Toru). Ini sesuai dengan rute perjalanan  Junghuhn dari Batavia menuju Padang, kemudian Sibolga dan selanjutnya ke Batang Toru. Terlihat bahwa sungai Batang Toru ini sangat perkasa, suatu sungai yang ketika meluap tidaklah mudah diseberangi. Demikian juga ketika kondisi sungai normal, arusnya tetap sangat deras.

17/07/13

Nama-Nama Kampung ‘Tempo Doeloe’ di Padang Sidempuan, 1896



‘Padangsidimpoean’ 1870-1890

Foto-1. Sebuah Kampung di Padang Sidempuan, 1870
Sebuah kampung di Padang Sidempuan pada tahun 1870 (Foto-1) adalah satu-satunya bentuk visual hingga kini yang menjadi bukti keberadaan komunitas di Padang Sidempuan pada masa ‘doeloe’. Kampung ini terlihat sangat menyatu dengan alam sekitarnya yang mana pohon aren dan pohon kapuk masih menjadi bagian dari lahan pekarangan. Dua jenis pohon ini adalah penghasil bahan untuk pembuatan atap rumah dan kasur tempat tidur.

Foto lain tentang Padang Sidempuan di masa awal (‘doeloe’) adalah sebuah pasar kaget (pasar jongjong) sekitar tahun 1890 (Foto-2). Timbulnya pasar biasanya karena ada kebutuhan transaksi antar rumahtangga antar kampung di dalam kesatuan komunitas yang lebih besar. Pada waktu yang sama sekitar tahun 1890 terekam sebuah rumah dinas petinggi Belanda (Controleur) di Padang Sidempuan (Foto-3). Rumah dinas ini memang tampak lebih elegan tetapi rumah ini tentu saja menggunakan bahan-bahan lokal sebagaimana umumnya bangunan penduduk setempat. 
Foto-2. Sebuah Pasar di Padang Sidempuan, 1890
Foto-3. Rumah dinas Controleur di Padang Sidempuan 1890 

Nama-nama Kampung di ‘Padangsidimpoean’ 1896-1905

Sumber lain yang bentuk visual tentang Padang Sidempuan ‘tempo doeloe; adalah peta topografi. Sebuah peta topografi awal tentang ‘Padangsidimpoean’ diterbitkan pada tahun 1908 (Peta-1). Peta topografi ini menyajikan hasil identifikasi (potret) permukaan bumi Padang Sidempuan dan sekitarnya antara tahun 1896 dan 1905.

Peta-1. Padang Sidempuan 1896-1905 (Diterbitkan 1908)

Di dalam peta topografi ini diantaranya jelas terlihat luas wilayah komunitas (kampung dan bagian kota lainnya) Padang Sidempuan. Nama-nama kampung yang ada pada waktu itu (1896) cukup representatif dengan keadaan yang masih bisa dirasakan pada masa kini. Nama-nama kampung di Padang Sidempuan pada tahun 1896 adalah sebagai berikut.

  1. Pasarsiteleng
  2. Pasarsiborang
  3. Sitamiang
  4. Padangmatinggi
  5. Aektampang
  6. Losoeng
  7. Kampung Jawa
  8. Oedjoengpadang
  9. Silandit
  10. Sihitang
  11. Muara Sipongi
  12. Sidangkal
  13. Batangajoemi
  14. Kampung Toboe
  15. Sitataring
  16. Sihadaboean
  17. Tanobato
  18. Boeloegonting
  19. Sigiring Giring
  20. Pasar Moedik
  21. Panyanggar
  22. Loesoengbatoe
  23. Partihaman
  24. Hoeta Imbaroe
  25. Sabungan Djae
  26. Batoe na Doea

14/07/13

HIS, MULO dan Kweekschool di Padang Sidempuan ‘Tempo Doeloe’


HIS

Hollands Inlandsche School (HIS) di Padang Sidempuan (sekitar 1936-1939)
Hollandsch Inlandsche School (HIS) adalah sekolah pada zaman penjajahan Belanda. Pertama kali didirikan di Indonesia pada tahun 1914 seiring dengan diberlakukannya Politik Etis. Sekolah ini ada pada jenjang Pendidikan Rendah (Lager Onderwijs) atau setingkat dengan pendidikan dasar sekarang. Sekolah ini diperuntukan bagi golongan penduduk keturunan Indonesia asli, sehingga disebut juga Sekolah Bumiputera Belanda. Pada tahun 1920 Belanda mendirikan HIS di Padang Sidempuan yang diperuntukkan bagi anak-anak ambtenaar, pegawai, serdadu KNIL, anak-anak raja dan anak pedagang dengan dikutip biaya sekolah yang cukup tinggi. Bahasa pengantar dalam sekolah ini adalah Bahasa Belanda. Sekalipun demikian, guru-gurunya adalah orang Indonesia dengan kepala sekolah seorang Belanda.


MULO

Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Padang Sidempuan (sekitar 1936-1939)
MULO (singkatan dari bahasa Belanda: Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) adalah Sekolah Menengah Pertama pada zaman kolonial Belanda di Indonesia. Meer Uitgebreid Lager Onderwijs berarti pendidikan dasar lebih luas. MULO menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Pada akhir tahun 1930-an, sekolah-sekolah MULO sudah ada hampir di setiap ibu kota kabupaten di Jawa. Hanya beberapa kabupaten di luar Jawa yang mempunyai MULO (termasuk di Padang Sidempuan).


Kweekschool


08/07/13

Pasar 'Pajak Batu' Padang Sidempuan dari Masa ke Masa


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap
Sebuah Pasar di Padang Sidempuan, 1890 (Foto: KITLV.NL)

Sebuah ‘pasar’ di Padangsidimpoean pada tahun 1890 yang menjadi cikal bakal Pasar Kota Padang Sidempuan pada masa kini. Pasar ini diduga berada di pinggir sungai Batang Ayumi yang lokasinya di belakang Kantor Pengadilan yang sekarang. Dengan kata lain, ‘kampong’ yang dulunya di tahun 1870 berkembang menjadi kota kecil seiring dengan tumbuhnya pasar.