30/12/15

Sejarah Kota Medan (10): Tjong A Fie alias Tsiong Tsiok Fie, Pemilik Banyak Nama dan Kerajaan Bisnisnya Dibangun dari Hasil Perdagangan Opium

Baca juga:

Sejarah Kota Medan (41): Pemilu di Era Belanda; Radja Goenoeng, Pribumi Pertama Anggota Dewan Kota Medan
Sejarah Kota Medan (32): Hari Jadi Kota Medan, Suatu Interpretasi yang Keliru; Untuk Pelurusan Sejarah, Ini Faktanya!


Para komandan koeli Tjina di Deli, 1870
Tjong A Fie adalah salah satu orang kaya yang menerima peruntungan di Deli. Jika Janssen menjadi kaya raya, karena Nienhuys datang ke Deli karena keberuntungan. Setali tiga uang, Tjong A Fie menjadi kaya raya karena Tjong Yong Hian. Pada masa ini orang hanya mengetahui Tjong A Fie seorang dermawan, seperti halnya Janssen. Akan tetapi tidak pernah dijelaskan sisi lain dari kehidupan Tjong A Fie yang sebenarnya. Bagaimana Tjong A Fie menjadi seorang dermawan adalah satu hal, tetapi bagaimana Tjong A Fie menjadi kaya raya adalah hal lain. Untuk mendapatkan gambaran seutuhnya, artikel ini coba menelusuri dua sisi kehidupan Tjong A Fie sekaligus.
***
Pada bulan Februari 1863 di Deli sudah terdapat sekitar dua puluh orang Tionghoa (catatan Residen Riou, Netscher). Mereka ini berbaur dengan berbagai penduduk yang bermukin di Laboehan Deli: Melayu, Atjeh, India berdarah campuran dan Batak. Orang-orang Tionghoa ini tidak diketahui darimana datangnya: Apakah sisa penduduk Cina era tempo doeloe (Boeloe Tjina) atau pendatang baru yang merantau dari Penang atau pesisir pantai timur Sumatra (Riaou). Yang jelas mereka hidupnya berdagang.

Pada bulan Maret 1863 Nienhuys tiba di Laboehan Deli untuk tujuan membuka perkebunan tembakau. Disepakati dalam suatu perjanjian: Sultan Deli menyediakan lahan dan Nienhuys akan bebas sewa sepuluh tahun pertama dan 10 tahun berikutnya dengan sewa f200 pertahun. Disamping itu disepakati: Sultan mengumpulkan lada (ekspor) dari penduduk Batak dan Nienhuys mendatanngkan barang (impor) dari luar. Untuk urusan distribusi opium dan garam menjadi monopoli Sultan.

Untuk menyediakan tenaga kerja, Nienhuys, satu-satunya orang Eropa di Deli bersama temannya seorang kepala suku Batak berkeliling di Deli untuk mencari orang Batak dan orang Melayu yang bersedia bekerja di kebun tembakau. Beberapa tenaga kerja yang didapat oleh Nienhuys hasil pekerjaannya tidak memuaskan: cenderung bermalas-malasan, ceroboh dan kurang hati-hati soal pekerjaan yang memerlukan penuh perhatian. Kepala suku Batak angkat tangan terhadap keluhan Nienhuys.

Nienhuys berinisiatif pergi ke Penang untuk mencari tenaga kerja. Ditemukan selusin pekerja yang berasal dari Jawa. Namun sang pimpinan tenaga kerja, malah lebih konsentrasi menjadi guru agama buat orang-orang Melayu daripada mengawasi anggotanya yang bekerja di kebun. Nienhuys kembali lagi ke Penang mencari tenaga kerja dan berhasil membawa sebanyak 120 orang kuli Cina. Sangat memuaskan Nienhuys dan sesuai yang diharapkan untuk bekerja di perkebunannya.

28/12/15

Sejarah Kota Medan (9): Jacob Nienhuys, Datang ke Deli Setelah Mendengar Penduduk Batak Membudidayakan Tembakau



Budidaya lada di Kampong Batak di Deli (1878)
Sejarah Tanah Deli sebagai pusat perkebunan tembakau dunia sudah diketahui secara luas. Jacob Nienhuys sebagai pionir dalam membuka perkebunan tembakau di Deli juga sudah diketahui umum. Namun ternyata, pemilik ide pembukaan perkebunan tembakau di Deli bukan Nienhuys. Pemilik ide tersebut adalah seorang Arab di Surabaya yang pertama mendengar bahwa di Boeloe Tjina (kini Hamparan Perak), penduduk Batak sudah sejak lama telah membudidayakan tembakau dan memperdagangkan produk tembakau. Mr. Arab lantas mengajak Nienhuys yang bekerja di sebuah perkebunan orang Jerman di Jawa Timur untuk mencari investor di Batavia sebelum melakukan perjalanan jauh ke Deli.  

Boeloe Tjina adalah tetangga Deli, dua lanskap yang dibatasi oleh sungai Deli. Lanskap Boeloe Tjina dulunya beribukota Sampei, suatu pelabuhan disisi kanan sungai Boeloe Tjina. Nama Boeloe Tjina adalah nama baru Sampei. Dalam buku Negarakertagama disebutkan tiga pelabuhan besar yang ditaklukkan oleh kekuatan maritim Majapahit dibawah panglima Gajah Mada, yakni: Panai (muara sungai Baroemoen), Sampei (muara sungai Boeloe Tjina/Hamparan Perak) dan Haroe (muara sungai Wampu). Pelabuhan Sampei pada 1860 masih eksis yang dihuni oleh lima puluh rumah penduduk yang dikepalai oleh syah Bandar. Pelabuhan ini masih aktif untuk ekspor lada, gading, tembakau dan impor garam dan opium. Laboehan Deli adalah nama pelabuhan yang muncul kemudian dan telah menggantikan posisi penting Sampei (Boeloe Tjina).

Asal Usul Perkebunan Tembakau yang Sebenarnya di Deli

Jacob Nienhuys, anak seorang broker tembakau di Amsterdam mulai belajar tembakau diperkebunan milik Willem III di dekat Rhenen (Jerman). Dengan pengetahuan budidaya tembakau, kemudian atas ajakan seorang Jerman, Nienhuys berlayar ke Nederlandsch Indie, 1860. Nienhuys, pemuda umur 23 tahun mulai bekerja pada sebuah perkebunan tembakau di Rembang dan Probolinggo, suatu perkebunan milik pemerintah yang menjalin kerja sama dengan perusahaan rokok Nicot (Ngladjoe).

17/12/15

Sejarah Kota Medan (8): Labuhan Deli, Kota Baru, Kota Medan, Dua Kali Muncul Sebagai Pusat Peradaban



Ekspedisi ke Bataklanden (1866): Dari Laboehan Deli via Medan

Labuhan Deli (Melayu) vis-à-vis Kota Medan (Batak)

Sesungguhnya antara Batak dan Melayu di Deli sejak doeloe sudah bersaudara. Meski datang dari arah dan asal-usul yang berbeda, tetapi Batak dan Melayu di Deli sama-sama menghadapi musuh yang sama: kelesuan ekonomi. Penduduk Batak di belakang garis pantai aktif dalam produksi lada hitam. Penduduk Melayu di pantai aktif dalam perdagangan komoditi. Kedua belah pihak bersifat mutualistik, peran masing-masing bersifat komplemen (saling memperkuat).

Penyebaran penduduk Melayu sudah masuk jauh ke pedalaman (sepanjang DAS Deli) dan sebaliknya penduduk Batak sudah menempel ke bibir pantai (DAS Boeloe Tjina). Perang Langkat yang terjadi tahun 1823 menyebabkan dominasi Batak di pantai (Boeloe Tjina) menghilang lalu digantikan penduduk Melayu, sebaliknya dominasi Melayu di pedalaman (Deli Toea) menghilang lalu digantikan penduduk Batak. Perang antara Batak dan Melayu ini dengan sendirinya telah menjadi koreksi bagi kedua pihak untuk kembali ke posisi alamiah (keseimbangan awal): perdagangan era komoditi kuno (kemenyan, kamper dan benzoin).

Bagaimana itu terjadi? Mari kita lacak!

Labuhan Deli adalah kota baru di pantai timur Sumatra (dari sudut pandang masa doeloe). Sebuah kota pelabuhan (bandar) yang menjadi simpul (market) produk-produk alami dari Tanah Batak (Bataklanden) utamanya lada yang dipertukarkan (economic exchange) dengan produk-produk manca negara yang dibutuhkan penduduk Tanah Batak utamanya garam, batang besi dan kain. Hampir semua produk yang diperdagangkan di Laboehan Deli berasal dari penduduk Batak. Selain penduduk Tanah Batak menjadi makmur, penduduk Laboehan Deli juga turut menjadi makmur hanya dari jasa-jasa pelabuhan (ibarat Singapura pada masa kini). Sebaliknya penduduk Labuhan Deli akan sangat menderita (kelesuan ekonomi) jika penduduk Batak tidak mengusahakan produksi lada hitam.

Laboehan Deli (1863)
Bandar (pelabuhan laut atau pelabuhan sungai) adalah simpul ekonomi antara lautan dan daratan. Tidak akan muncul bandar jika tidak ada economic exchange. Dari pedalaman penduduk membawa komoditi untuk dipertukarkan dengan barang-barang dari seberang lautan, sebaliknya dari seberang lautan saudagar membawa komoditi untuk dipertukarkan dengan penduduk pedalaman. Penduduk Batak sudah ratusan atau ribuan tahun hidup di pedalaman, sementara penduduk yang menempati bandar(-bandar) telah beberapa kali berganti orang. Yang tidak berubah: penduduk Batak tetap memerlukan pembeli siapapun (rezim) yang menduduki bandar.

Deskripsi Laboehan Deli, sebagai bandar (pelabuhan komoditi) tampaknya telah terabaikan dalam literatur masa kini (sengaja atau tidak sengaja). Artikel ini akan mengungkapkan fakta-fakta yang dikesampingkan dan juga menguraikan fakta-fakta baru. Fakta-fakta baru ini didasarkan pada laporan Residen Riaow (1861-186?), E. Netscher yang pernah berkunjung ke Deli awal tahun 1863. Kemudian didukung laporan Baron de Raet van Cats (controleur Deli yang pertama) yang pernah berkunjung ke Bataklanden akhir tahun 1866. Controleur Deli yang kedua, C. de Haan (bersama fotografer Denmark) yang pernah melakukan eskpedisi ke Bataklanden pada akhir tahun 1870 (sebelum de Haan, ekspedisi ke Bataklanden dilakukan oleh Nienhuys tahun 1868).

Fakta-fakta baru ini ditambah dengan laporan J.S.G. Gramberg (seorang investor), laporan Willer (asisten residen di Mandheling en Angkola, 1845-1847) dan buku Junghuhn (1847), peneliti yang dikirim ke Tapanoeli). Tentu saja fakta-fakta baru ini masih ada yang tercecer yang bisa dipungut dalam buku Marsden (1811) dan buku Anderson (1826).

Semua sumber-sumber tersebut akan disajikan dalam suatu sketsa (analisis sederhana) untuk memperkaya pemahaman kita tentang afdeeling (kebupaten) Deli di Residentie (provinsi) Sumatra’s Ooskust, yakni: penduduk Melayu di Laboehan Deli di onderafdeeling (kecamatan) Laboehan Deli dan penduduk Batak di Medan di onderfadeeling (kecamatan) Medan.

03/12/15

Marah Halim Harahap, Mantan Gubernur Sumatra Utara, Wafat


Turut berdukacita*: Kita telah kehilangan tokoh besar:Marah Halim Harahap


Marah Halim Harahap meninggal dunia dalam usia 94 tahun. Meninggal pada hari Kamis, 3 Desember 2015 pukul 06.00 WIB di rumah sakit Permata Bunda, Medan. Dimakamkan pada hari yang sama di Taman Makam Pahlawan, Medan.

*saya tidak pernah melupakan pertemuan dengan beliau tahun 1987, 'Saya akan mengenangmu Amangtua melalui tulisan'. Serial sejarah Marah Halim Cup baru 15 artikel, saya akan teruskan pada artikel ke-16 dan seterusnya. Artikel pertama adalah: Sejarah Marah Halim Cup (1): Sepakbola Indonesia Bermula di Medan

Akhir Matua Harahap

26/11/15

Sejarah Kota Medan (7): Bulu Cina, Kota Lama, Kota China, Dua Kali Hilang Dari Peradaban



Peta Boeloe Tjina 1862
Nama Bulu Cina pada masa ini adalah nama sebuah desa di Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatra Utara. Nama desa ini telah menerima waris dari sebuah nama lanskap (kecamatan/kabupaten) di masa doeloe yang disebut Onderafdeeling (kecamatan) Baloe Tjina. Lanskap (kecamatan) Baloe Tjina sendiri yang berada di Pantai Timur Sumatra (Sumatra’s Oostkust) berdasarkan peta 1862 berbatasan langsung dengan lanskap (kecamatan) Langkat di sebelah utara dan lanskap (kecamatan) Deli di sebelah selatan. Nama bandar (pelabuhan) terkenal di Boeloe Tjina di masa doeloe bernama Sampei yang berada di sisi sungai Boeloe Tjina. Bandar Sampei adalah salah satu dari tiga bandar terkenal (Panai, Haroe dan Sampei) yang ditaklukkan oleh Majapahit (sebagaimana disebut dalam buku Negarakertagama oleh Mpu Prapanca).Bagaimana nama pelabuhan kuno itu hilang dan bagaimana nama Boeloe Tjina dihilangkan menarik untuk dipelajari. Mari kita lacak!

De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 04-06-1873: ‘Kekaisaran Atjeh meliputi bagian utara pulau Sumatra.. di pantai timur dibatasi sungai Tamiang yang menjadi batas antara Atjeh dan dependensi dari bawahan kami, Sultan Siak… selatan sungai Tamiang di sepanjang pantai timur terletak lanskap Langkat dan Baloe Tjina, yang termasuk dependensi Siak…Sesuatu yang diketahui baik adalah gunung Batoe Gapit, gunung dekat perbatasan Baloe Tjina dengan ketinggian 6.155 kaki di atas laut dan, konon, orang Batak yang menghuni lingkungan itu, yang mampu memberikan begitu besar jumlah sulfur yang mereka gunakan untuk pembuatan mesiu… Saya telah membuat keterangan di peta Sumatra (bagian utara) ini terutama didasarkan pada laporan dari para pelancong Inggris..’

Peta Boeloe Tjina, 1870
Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 28-04-1873: ‘Dari Singkel dilaporkan bahwa orang Atjeh dan orang Batak di pedalaman sudah agak lama tidak muncul, sehingga tidak ada perdagangan kamper yang menguntungkan. Ketidakhadiran mereka akan mendeklarasikan fakta bahwa mereka terlalu sibuk dengan persiapan mereka untuk perang (melawan Belanda). Para pedagang di Aceh berpendapat bahwa seluruh penduduk Tampat Tuan (Tapaktuan) dan penduduk di NW (noordwest) Baloe Tjina akan bergabung dengan Sultan Aceh (melawan Belanda)’.

Peta Boeloe Tjina 1880
Baloe Tjina atau Boeloe Tjina, sebagai sebuah nama sesungguhnya telah dua kali hilang dari peradaban. Pertama, peradaban di masa lampau sebelum era kolonial yang diduga kuat terdapat koloni Tjina yang boleh jadi menjadi munculnya nama Boeloe Tjina. Misteri kota Cina masa lampau ini tengah dipelajari oleh sejumlah kalangan. Kedua, peradaban di masa era kolonial yang mana Baloe Tjina atau Boeloe Tjina diberi nama sebagai suatu lanskap (wilayah administratif yang belum terukur secara akurat). Nama lanskap ini kemudian dihilangkan dan wilayahnya di satukan ke dalam lanskap Deli ketika fase perkebunan besar dimulai di Deli dan Langkat. Nama Boeloe Tjina bukan lagi nama onderafdeeling (kecamatan) tetapi menjadi nama plantation (onderneming). .

13/11/15

Prof. Dr. Mr. Todung Harahap gelar Sutan Gunung Mulia, Kelahiran Padang Sidempuan: Menteri Pendidikan RI yang Kedua




Prof. Dr. Mr. Todoeng Harahap
Todung Harahap gelar Sutan Gunung Mulia pernah menjadi Menteri Pendidikan RI (setelah Ki Hajar Dewantara). Sutan Gunung Mulia lahir di Padang Sidempuan 1896 dan meninggal tahun 1968. Sutan Gunung Mulia adalah orang Indonesia ketujuh bergelar doktor dan orang Indonesia kedua bergelar profesor. Sutan Gunung Mulia adalah pendiri dan rektor pertama Universitas Kristen Indonesia (UKI). Sutan Gunung Mulia adalah orang Indonesia pertama menulis Eksiklopedia Indonesia. Sutan Gunung Mulia adalah pendiri dan ketua pertama Dewan Gereja- Gereja di Indonesia. Sutan Gunung Mulia adalah sepupu dari Amir Sjarifoedin (mantan Perdana Menteri RI). Kronologisnya sejak 1911 disarikan di bawah ini.

***
Todung Harahap lahir di Padang Sidempuan tahun 1896. Memulai pendidikan dasar di Sekolah Eropa (Europeesche Lagere School=ELS) Padang Sidempuan tahun 1903. Namun ketika naik kelas dua, ELS Padang Sidempuan ditutup karena dipindahkan ke Sibolga. Todung Harahap mau tak mau ikut pindah sekolah ke Sibolga. Pada tahun 1910, Todung menyelesaikan pendidikan di ELS dan ayahnya Mangaradja Hamonangan seorang pengusaha perkebunan di Padang Sidempuan menyekolahkan Todung ke Negeri Belanda.

Di negeri Belanda sendiri, sudah ada dua anak Padang Sidempuan yang studi, yakni: Rajioen Harahap gelar Soetan Casajangan Soripada dan Abdoel Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon. Sutan Casajangan tiba di Belanda tahun 1905 dan Mangaradja Soangkoepon tahun 1910. Sutan Casajangan pada tahun 1908 mendirikan dan presiden pertama Perhimpunan Hindia (Indisch Vereeniging) dan kembali ke tanah air tahun 1914 dan jabatan terakhir sebagai Direktur Normaal School di Meester Cornelis, Batavia. Mangaradja Soangkoepon kembali ke tanah air tahun 1917 dan memulai karir sebagai pejabat di Sumatra Timur dan jabatan terakhir anggota Volksraad tiga periode berturut-turut mewakili ‘dapil’ Sumatra Timur.

Setelah semua urusan selesai, Todung Harahap berangkat dari Batavia menuju Negeri Belanda tahun 1911. Dari Batavia menumpang kapal Prinses Juliana tanggal 2 November 1911 dengan nama tertulis di dalam manifest kapal sebagai Si Todoeng (lihat Het nieuws van den dag: kleine courant, 27-11-1911). Setelah menyelesaikan sekolah hukum dengan gelar Meester (Mr) tahun 1919 Todoeng pulang ke tanah air..

05/11/15

Pelopor Pendidikan dan Pendiri Organisasi Sosial di Indonesia: Suatu Refleksi dalam Pengembangan Pendidikan, Agribisnis dan Ekonomi Kreatif di Tapanuli Bagian Selatan [1]



Oleh Akhir Matua Harahap[2]

Pada masa ini Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) terdiri dari empat kabupaten dan satu kota, yakni: Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Padang Lawas Utara, Kabupaten Padang Lawas dan Kota Padang Sidempuan.Lima wilayah ini meski kini berbeda secara administratif namum dari sudut pandang mana pun kelima wilayah ini memiliki karakteristik yang sama: bahasa, budaya, sosial, ekonomi dan sebagainya. Oleh karenanya kelima wilayah ini tetap terikat dalam satu kesatuan sosial dan ekonomi yang disebut Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel).

Tiga isu utama pada masa kini di Tapanuli Bagian Selatan, yakni pendidikan, agrisbisnis dan ekonomi tengah mengalami permasalahan yang akut: tingkat kualitas pendidikan (penerimaan siswa di PTN terbaik) sudah sangat menurun, gerak pembangunan sektor pertanian dan pengembangan bisnis pertaniannya mengalami perlambatan, dan juga produk-produk unggulan telah lama kalah bersaing, sementara produk yang dapat diandalkan masih belum teridentifikasi dengan baik.

Padahal di masa doeloe dua dari tiga tiga isu utama tersebut memiliki success story di Afdeeling Mandheling en Ankola (nama lain Tabagsel tempo doeloe) yang dibicarakan di tingkat nasional (Hindia Belanda), yakni: pendidikan dan agribisnis.

BERITA PASCA LOKAKARYA: Lokakarya Pendidikan, Agribisnis dan Ekonomi Kreatif Tabagsel di IPB International Convention Centre, Baranangsiang Bogor, Senin, 2 November 2015



Jakarta (SIB)- Tanpa mengabaikan masalah pembangunan bidang lainnya, sektor pendidikan, agribisnis dan ekonomi kreatif perlu mendapat perhatian yang serius di daerahTapanuli Bagian Selatan (Tabagsel), Provinsi Sumatera Utara ( Sumut). Sebab, ketiga hal tersebut, sekarang ini mengalami permasalahan yang pelik bahkan kalut. Tingkat kwalitas pendidikan misalnya, khususnya penerimaan siswa di Pendidikan Tinggi Negeri (PTN) terbaik sudah sangat menurun. Gerak pembangunan sektor pertanian dan pengembangan bisnis pertanian sangat lambat, sedangkan produk-produk unggulan telah lama kalah bersaing, sementara produk yang dapat diandalkan masih belum teridentifikasi dengan baik.

Hal ini mengemuka dalam Lokakarya bertema: Pendidikan, Agribisnis dan Ekonomi Kreatif Tabagsel, hari Senin ( 2/11) di IPB International Convention Centre, Botani Square, Baranang siang, Bogor.

Dalam lokakarya sehari itu,  tampil sebagai pembicara Prof Dr Hermanto Siregar (Wakil Rektor IPB), MM Azhar Lubis (Deputi Kepala BKPM Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal),  Dr Mulya E.Siregar (Deputy Komisioner Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan), Ir H Darmadi Harahap SPd MM MP (Rektor Universitas Graha Nasional/UGN) dan Akhir Matua Harahap (Peneliti dan Pengajar Ilmu Kependudukan, Ekonomi dan Bisnis Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia).

BERITA PRA LOKAKARYA: Lokakarya Pendidikan, Agribisnis dan Ekonomi Kreatif Tabagsel di IPB International Convention Centre, Baranangsiang Bogor, Senin, 2 November 2015


Waspada, 31 Oktober 2015


29/10/15

22/10/15

Medan Perdamaian: Organisasi Sosial Pertama di Indonesia (bukan Boedi Oetomo)



Organisasi sosial pribumi pertama di Indonesia, bukanlah ‘Boedi Oetomo’ (yang didirikan tanggal 20 Mei 1908 di Jakarta). Dan juga bukan Perhimpoenan Hindia, ‘Indische Vereeniging’ (yang didirikan tanggal 25 Oktober 1908 di Leiden). Organisasi sosial pribumi pertama di Indonesia justru adalah ‘Medan Perdamaian’. Organisasi Medan Perdamaian yang bersifat nasional ini didirikan bahkan jauh sebelum adanya Boedi Oetomo yang bersifat kedaerahan (Jawa).

Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 20-02-1900
Organisasi sosial Medan Perdamaian didirikan di Padang pada tahun 1900 (lihat Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 20-02-1900). Penggagas organisasi sosial Medan Perdamaian dan ketuanya yang pertama adalah Dja Endar Moeda (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 21-08-1902). Dja Endar Moeda adalah editor surat kabar pribumi pertama di Indonesia (1897) di koran Pertja Barat yang terbit di Padang. Organisasi multi etnik ini di Padang kemudian diteruskan oleh Muhamad Safei dan masih eksis di Padang pada tahun 1912 (lihat De Sumatra post, 26-04-1912).

Pada tahun 1907 Medan Perdamaian juga didirikan di Medan dan Fort de Kock. Organisasi cabang Medan Perdamaian di Medan ini membentuk klub sepakbola bernama Medan Perdamaian yang ikut berkompetisi tahun 1908 di Medan. Medan Perdamaian juga didirikan di Palembang (lihat De Indische courant, 25-09-1922) dan juga eksis di Batavia. Organisasi sosial Medan Perdamaian Batavia ini dipimpin oleh Mohamad Sjafe'i dengan wakil Tjik Nang (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 10-07-1926).

09/10/15

Sejarah Kota Medan (6): Anak-Anak Padang Sidempuan 100 Persen Republik dan Peran Mereka dalam Indonesia Merdeka




Djabangoen (1931)
Orang Padang Sidempuan di Kota Medan, sesungguhnya sudah sejak lama ada. Bahkan orang-orang Padang Sidempuan sudah ada sejak didirikannya Deli Maatschappij (1869). Pionir perusahaan tembakau inilah yang menjadi pemicu munculnya kota Medan. Ini berawal dari pusat aktivitas Deli Mij, yang berada persis di tengah area kampung Medan Poetri, ciri perkampungan sebagai awal lambat laun berubah menjadi ciri perkotaan (urban) yang pada berikutnya muncul sebuah kota (town). Nama asal Medan Poetri lambat laun lebih populer disebut Medan (menjadi suatu nomenklatur).

‘Kota’ Medan pada awalnya adalah sebuah tempat dengan ciri perkotaan (town) yang terdiri dari sejumlah fasilitas dari perusahaan perkebunan tembakau Deli Maatschappij. Fasilitas tersebut terdiri dari beberapa bangunan kantor Administratur, bangunan untuk fasilitas kesehatan (rumahsakit dengan seorang dokter bangsa Belanda), bangunan untuk fasilitas pendidikan bagi anak-anak para kuli (sekolah dengan guru-guru yang didatangkan dari Mandheling en Ankola), bangunan untuk berbagai outlet kebutuhan sehari-hari, bangunan gudang dan bangunan pengolahan tembakau, bangunan mes untuk tamu dan bedeng-bedeng yang diperuntukkan untuk para kuli (dan keluarganya).

Ketika Medan, sebuah kampung; Padang Sidempuan, sebuah kota
Jalan setapak yang menghubungkan kota Laboehan Deli dengan kampung Medan Poetri lambat laun semakin diperlebar sehubungan dengan semakin tingginya intensitas pemanfaatan jalan darat untuk menggantikan jalan sungai yang tidak praktis lagi. Jalan ini semakin ramai, dan kota Medan ‘ala’ Deli Mij ini juga dijadikan para planter lain (tetangga Deli Mij) sebagai tempat persinggahan (beristirahat atau bermalam) dari dan ke area kebun masing-masing. ‘Kota’ Deli Mij ini menjadi sangat penting ketika terjadi pemberontakan kuli di perkebunan Soengai Pertjoet (empat jam perjalanan dari kota Medan yang mana pos militer yang awalnya berada di kota Laboehan Deli dipindahkan ke kota Medan agar lebih dekat dengan TKP. ‘Kota’ Medan lalu menjadi satu-satunya wilayah paling aman di Deli, lebih-lebih satu detasemen militer yang didatangkan untuk mengatasi pemberontakan tidak kembali tetapi justru menetap dan awal dibangunnya garnisun militer di Medan. Lalu kemudian menyusul ditempatkannya seorang controleur (sipil) di kota Medan (1875). Tidak lama kemudian, setelah adanya pemerintahan sipil di kota Medan (yakni setingkat controleur) segera pula menyusul dibangun kantor pos dan Hotel Deli di Laboehan Deli membangun hotel (cabang) di kota Medan. Sejak itu, kota Medan tumbuh kembang bagaikan deret ukur. Pertumbuhan kota menjadi lebih masif, karena kampung-kampung (komunitas) Tionghoa di sepanjang jalan poros antarakota  Laboehan Deli dan kota Medan melakukan migrasi (urbanisasi) ke kota Medan yang disusul kemudian urbanisasi orang-orang Melayu, Batak dan Atjeh yang sudah lama ada di kota Laboehan Deli dan orang-orang Batak yang dari dataran tinggi (pedalaman). Itu semua terjadi begitu cepat. Dan percepatan itu semakin kencang dengan pindahnya ibukota Asisten Residen Deli dari kota Laboehan Deli ke kota Medan (1879) dan Deli Mij mandapat konsesi untuk membangun dan mengoperasikan kereta api di Medan dan sekitarnya (1881).

Pada tahun 1880 titik nol kota Medan ditetapkan dengan membangunan esplanade (aloon-aloon kota) yang dimasa kini disebut Lapangan Merdeka. Dari pusat kota ini (esplanade) lanskap kota mulai diatur sedemikian rupa kota Medan (ala Deli Mij) menjadi Kota Medan (planologi ala pemerintah kolonial). Ketika ibukota Residentie Sumatra’s Oostkust pindah dari Tebing Tinggi di Bengkalis ke Medan di Deli tahun 1887, kebutuhan aparatur pemerintah menjadi membengkak. Untungnya, Kota Medan secara fisik sudah sangat siap. Berbagai fasilitas pemerintah diperbanyak, jalan dan jembatan semakin ditingkatkan kualitasnya. Aparatur pemerintah juga seakan ‘bedol desa’ dari Tebing Tinggi, Bengkalis ke Medan, Deli. Para pegawai pemerintah yang ada di Bengkalis yang selama ini banyak didatangkan dari Sumatra’s Westkust (Padangsche dan Tapanoeli) juga turut migrasi ke Medan. Jumlah para pegawai Residen ini semakin banyak, meski tidak semua pegawai di Bengkalis ikut pindah tetapi sejumlah pegawai berpengalaman (pejabat) didatangkan langsung dari Sumatra’s Westkust khususnya dari Residentie Tapanoeli.

05/10/15

Sejarah Kota Medan (5): Anak-Anak Padang Sidempuan Berpartisipasi Aktif Membangun Kota Medan



Abdul Hakim Harahap, Gubernur Sumatra Utara 1952-1954
Pada tahun 1918 Kota Medan resmi secara penuh menjadi kotamadya (gemeente). Sebelumnya (bersifat administratif sejak 1909), kota dipimpin langsung oleh Asisten Residen Deli (semacam bupati). Kini, Kota Medan secara defacto dipinpin khusus oleh seorang walikota. Yang menjadi walikota pertama adalah Baron Daniel Mackay. Pada fase kotamadya ini, untuk pertama kali pula pribumi terwakili di dewan kota (gemeeteraad). melalui proses pemilihan. Untuk wakil Eropa/Belanda dipilih oleh semua penduduk Eropa/Belanda dewasa, tetapi untuk wakil pribumi dipilih oleh perwakilan (penduduk pribumi berdasarkan tingkat pendapatan tertentu). Para pemilihAnggota dewan kota pribumi pertama yang terpilih adalah Kajamoedin Harahap gelar Radja Goenoeng. Anak Padang Sidempuan ini bahu membahu dengan Mackay membangun kota. Peran penting, Radja Goenoeng, mantan guru, sebagai anggota dewan yang juga merangkap penilik sekolah itu adalah mereorganisasi sistem pendidikan. Peran penting lainnya, pada tahun 1928 dipercaya sebagai ketua tatakelola administrasi pemerintahan kota. Dua bidang penting yang diperlukan Kota Medan saat itu.

Atas prestasi dan pengabdian kelahiran Hutarimbaru, Padang Sidempuan  ini di bidang pendidikan (guru, eksekutif maupun legislatif) Residen Bouman atas nama Gubernur dan atas nama Gubernur Jenderal diberikan bintang de Groote Zilveren Ster van Trouw en Verdienste, 1928. Suatu tingkat pencapaian yang tinggi bagi seorang pribumi. Pada tahun 1927, Baginda Aloan Soripada yang berdinas terakhir di Medan dan 1927 mendapat bintang emas untuk loyalitas dan jasa diberikan kepadanya sebagai demang di Sibolga.

Pada tahun 1918 ditempatkan seorang hakim muda di kantor Landraad Medan, bernama Alinoedin Siregar. Tugas-tugas utamanya adalah untuk menangani semakin banyaknya kasus-kasus pertanahan yang terjadi dan tingkat kriminal. Alinoedin adalah alumni pertama sekolah hukum (Rechts School) di Batavia. Di sekolah hukum ini, Alinoedin adalah anggota tim catur kampusnya. Setelah beberapa tahun, anak kelahiran Batangtoru ini yang terbilang cerdas dan karena prestasinya di Medan, Alinoedin diberi kesempatan untuk melanjutkan studi hukum ke Negeri Belanda.

Alinoedin Siregar gelar Radja Enda Boemi berangkat studi ke negeri Belanda dan belajar hukum di Universiteit Leiden. Pada tahun 1925, Radja Enda Baomi meraih gelar doktor (PhD) dengan desertasi berjudul ‘Het grondenrecht in de Bataklanden: Tapanoeli, Simeloengoen en het Karoland' (hukum tanah). Radja Enda Boemi adalah ahli hukum pribumi pertama orang Batak, satu dari dua di Sumatra dan satu dari delapan di Nederlansch Indie. Radja Enda Boemi adalah pribumi keempat bergelar doktor dan pribumi kedua bergelar doktor di bidang hukum di Nederlandsch Indie. Setelah pulang ke tanah air, Radja Enda Boemi diangkat sebagai ketua pengadilan di Semarang, lalu di Surabaya dan kemudian di Buitenzorg (1930).

29/09/15

Sejarah Kota Medan (4): Sumatra’s Oostkust Menjadi Provinsi (1915); Anak-Anak Padang Sidempuan Mulai Memainkan Peran Penting



Mangaradja Soangkoepon
Berdasarkan Staatsblad no. 180 tahun 1909, pada tanggal 1 April 1909 di Medan dibentuk Gemeenteraad. Ini berarti Kota Medan mulai babak baru dalam suatu pengelolaan kota, dimana dalam hal ini pemerintah akan diawasi oleh suatu dewan (Gemeenteraad). Pemerintah kota pada masa itu adalah Asisten Residen, E.G.Th. Maier. Anggota Gemeenteraad terdiri dari berbagai fungsi. Dibentuknya Gemeenteraad dimaksudkan untuk melakukan tugas-tugas pemerintahan agar lebih efektif di Medan dengan semakin kompleksnya permasalahan kota. Adanya gemeenteraad, mengakibatkan bentuk pemerintahan di Residentie Sumatra's Oostkust menjadi dua: Dewan Budaya (Residentie) dan Dewan Kota (Medan). Penetapan anggota dewan ditunjuk dari Batavia dengan SK khusus. Yang duduk dalam dewan budaya (Plaatselijken Raad van het cultuurgebied der Oostkust van Sumatra) dari kalangan pribumi adalah Sultan Deli, Sultan Asahan, Sultan Langkat, Sultan Serdang plus Tsiong Yong Hian (mayor komunitas Tionghoa). Sedangkan yang duduk di dewan kota Medan adalah salah satu dari dua pribumi yakni pangeran Deli plus Tjong A Fie (Kapten komunitas Tionghoa). Selebihnya adalah orang-orang Belanda dari kalangan pejabat dan Deli Mij, Deli Spoor serta lainnya. Kedua dewan ini secara resmi diangkat sejak 1 April 1909 [catatan: Tsiong Yong Hian adalah abang dari Tjong A Fie).

Pada era awal Belanda di Medan (kolonial) struktur pemerintahan tidaklah sama dengan yang sekarang, akan tetapi mekanisme pembagian wilayahnya kurang lebih sama. Pada era kolonial penentuan status pemerintahan (civiel departement) lebih ditentukan pada intensitas perekonomian yang membutuhkan kekuatan keamanan (militaire departement). Berbeda dengan masa sekarang (RI), dimana semua wilayah disebut provinsi dan masing-masing dikepalai oleh Gubernur (bagaimanapun tingkat perekonomiannya). Dengan kata lain lebih ke arah pendekatan kesejahteraan (welfare). Sedangkan di era Belanda pendekatannya pada pendekatan perekonomian (keuntungan kolonial). Akibatnya, Residentie Tapanoeli tidak pernah sampai pada level province, karena secara perekonomian kurang prospektif dari segi keuntungan jika dibandingkan Sumatra’s Oostkust. Jika suatu wilayah dianggap telah merosot secara perekonomian, statusnya bisa didegradasi, sebagaimana terjadi pada status Residen yang sebelumnya berkedudukan di Tebingtinggi Afd. Bengkalis yang didegradasi sementara Medan Afd. Deli sebaliknya dipromosikan (tukar guling) menjadi Residen.

Dalam perkembangannya, di Residentie Sumatra’s Oostkust pertumbuhan dan perkembangan perekonomian terus berlanjut. Perkembunan tidak hanya di afdeeling-afdeeling Melayu (Deli, Batoebara, Asahan dan Laboehan Batoe) tetapi juga semakin meluas ke afdeeling-afdeeling Batak (Simaloengoen en Karolanden). Untuk mengefektifkan pemerintahan (atas dasar perekonomian) di Simaloengoen en Karolanden ditingkatkan statusnya menjadi Asisten Residen dengan ibukota di Pematang Siantar. Dua afdeeling Batak ini dimasukkan dalam Residentie Sumatra’s Oostkust daripada Residentie Tapanoeli (lebih pada pertimbangan perekonomian).

Pada tahun 1915 Residentie Sumatra’s Oostkust mengalami reorganisasi dimana afdeeling-afdeeling Atjeh dimasukkan ke Residentie Atjeh seperti afd. Tamiang, sementara afdeeling-afdeeling Batak dikukuhkan masuk menjadi Residentie Sumatra’s Oostkust atas dasar kesatuan ekonomi perkebunan. Pada tahun dimana reorganisasi ini status Residentie Sumatra’s Oostkust ditingkatkan menjadi province (yang dikepalai oleh seorang Gubernur).

26/09/15

Sejarah Kota Medan (3): Kronologis Pembangunan Kota dan Anak-anak Padang Sidempuan Menjadi Pionir di Segala Bidang



Lahir di P. Sidempuan, 1860
Seperti yang diprediksi sebelumnya, akhirnya pada tahun 1887 (1 Maret) ibukota Sumatra van Oostkust dipindahkan ke Medan. Ini dengan sendirinya di Medan, status Asisten Residen ditingkatkan menjadi Resident. Residentie Sumatra van Oostkus sendiri kemudian direduksi yang mana afd. Bengkalis dipisahkan dan kembali masuk menjadi bagian dari Residentie Riaouw. Dengan kata lain Residentie Sumatra van Oostkus meninggalkan Bengkalis. Hal yang sama sebagaimana sebelumnya (1845), Residentie Tapanoeli meninggalkan Air Bangies. Namun pemisahan Sumatra van Oostkust dengan Bengkalis tidak serta merta menyelesaikan masalah, karena selama ini antar dua lanskap ini terdapat hubungan tradisional (antara Yang Dipertoean Agung van Siak di Bengkalis dengan sultan-sultan di Laboehan Batoe, Asahan, Batoebara dan Deli).

Medan, 1876
Sejak ibukota Asisten Residen dipindahkan dari Laboehan Deli ke Medan (1979) hingga status Asisten Residen di Medan ditingkatkan menjadi Residen (1887) telah banyak yang berubah di Medan. Perubahan yang terjadi bagaikan deret geometri, tidak lagi dalam hitungan tahun tetapi bahkan dalam hitungan bulan. Tidak hanya infrastruktur dan bangunan gedung yang berubah drastis tetapi juga arus penduduk dan barang (ekspor dan impor). Tidak ada istilah terlambat bagi pemerintah Belanda hadir di Medan, yang juga tidak ada kata terlambat bagi Medan untuk tumbuh dan berkembang lebih cepat menjadi kota besar. Kronologis perkembangan kota, sebagai berikut:

A. Fase  Controleur di Laboehan Deli dan Deli Maatschappjij di Medan Poetri (1865-)

Pada tahun 1865 Controleur di Deli, Residentie Riaouw ditempatkan di Laboehan Deli. Pada saat yang bersamaan dengan controleur ini diiringi dengan pendirian pos militer dengan tiga sersan yang dibantu oleh enam kopral polisi. Tentara dan polisi ini dibantu dengan sebanyak 80 prajurit pribumi biasanya dari asal Jawa dan Madura (sebagaimana halnya di Mandheling en Ankola). Keberadaan istana Soletan Deli di Laboehan Deli sudah sejak lama ada.

Rumah Kepala Adm. Deli Maatshappij di Medan (1869)
Pada tahun 1865 ini juga J. Nienhuys menyusuri Sungai Deli ke arah hulu hingga sampai di Kampong Medan Poetri yang letaknya tidak jauh dai pertemuan Sungai Deli dan Sungai Baboera. Di dekat kampung ini Nienhuys mulai membuka kebun tembakau. Ternyata berhasil. Pada tahun 1869 Deli Maatshappij didirikan dan mulai membangun fasilitas. Bangunan yang pertama didirikan adalah Kantor Deli Mij, kemudian menyusul Rumah Kepala Administratus Deli Mij. Dua bangunan ini berada di sisi timur Sungai Deli (setelah pertemuan Sungai Deli dan Sungai Baboera). Bangunan berikutnya yang dibangun adalah klinik (rumah sakit) Deli Mij yang lokasinya lebih ke hilir Sungai Deli.

22/09/15

Sejarah Kota Medan (2): Ibukota Deli Pindah ke Medan; Pembangunan Kota dan Peran Besar Deli Maatschappij



J. Nienhuys di Deli dengan kuda Batak, 1865
Pada tahun 1879  berdasarkan beslit tanggal 28 Juni 1879 nomor 12 ibukota Asisten Residen Deli pindah dari Laboean Deli ke Medan. Pada saat perpindahan ini, lokasi ibukota yang ditetapkan bukanlah ruang kosong, tetapi suatu area yang awalnya adalah suatu kampong benama Medan Poetri, yang kini menjadi lokasi dimana pusat aktivitas perusahaan perkebunan (plantation), Deli Maatschappij (DM). Siapa yang menjadi penghuni kampung Medan Poetri ini pada saat DM memulai aktivitas tabakskultuur (budidaya tembakau) dapat dibaca pada artikel kedelapan Sejarah Kota Medan (dalam blog ini)..

Pada tahun 1865, secara de jure, seorang controleur ditempatkan di Laboehan Deli. Selama berkedudukan di Laboehan Deli, controleur didukung oleh tiga sersan dan enam kopral polisi yang dibantu oleh 80 orang Melayu.  Pada tahun ini juga, J. Nienhuys, seorang Belanda tiba di Deli dan menuju ke Medan Poetri dan membuka perkebunan tembakau (persis di sisi timur pertemuan Sungai Deli dan Sungai Baboera). Pada tahun ini juga kuli Cina mulai didatangkan. Sukses perkebunan tembakau mengakibatkan sejumlah investor Eropa berdatangan.

Inilah sebuah keajaiban yang terjadi di Deli, Nienhuys telah memicu segalanya. Hal yang sama terjadi sebelumnya di Mandheling en Ankola, yang mana Sati Nasoetion gelar Soetan Iskandar tahun 1857 berangkat studi ke Belanda (orang pribumi pertama studi ke Negeri Belanda). Sati Nasoetion yang mengubah namanya menjadi Willem Iskander (diambil nama dari Radja Willem) setelah mendapat akte guru tahun 1861 pulang ke kampung halaman dan mendirikan sekolah guru tahun 1862 di Tanobato (Mandheling en Ankola). Willem Iskander telah memicu segalanya [kelak di Bataklanden (Silindoeng en Toba) dengan kehadiran Nommensen].

Nienhuys meningkatkan usahanya dengan mendirikan NV. Deli Maatschappij pada tahun 1869 dengan saham separuh Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM). Tahun ini juga tahun dimana Terusan Suez dibuka. Tidak lama (dalam 10 tahun), pada tahun 1875 status controleur di Laboehan Deli ditingkatkan menjadi Asisten Residen, sementara di onderafdeeling Medan ditempatkan seorang controleur. Sebelum controleur ditempatkan di Medan, sudah terlebih dahulu dibangun sebuah garnisun militer (pindahan dari Laboehan Deli).

Namun yang jelas, pada tahun 1879 di sekitar kampong ini jumlah bangunan modern/Eropa lambat laun semakin bertambah. Sejak 1875 kampung ini tumbuh dan berkembang, seiring dengan dibangunnya sebuah garnisun, dan penempatan seorang controleur di Medan (Poetri). Sejak 1875, sebutan tempat, lebih kerap ditulis Medan daripada Medan Poetri.

Hal yang sama pernah terjadi pada nama kampung Sidimpoean. Ketika controleur Ankola pertamakali ditugaskan, rumah dan kantor yang dibangun adalah di dekat kampung Sidempuan (sebelumnya sudah terlebih dahulu ada garnisun pindahan dari Pijorkoling). Lalu nama yang kerap disebut selanjutnya menjadi Sidempoean dan kemudian didepannya ditambahkan kata Padang sehingga menjadi Padang Sidempoean. Besar kemungkinan pejabat pemerintah pertama di suatu tempat (seperti kampung Sidimpoean dan kampung Medan Poetri) melakukan penyesuaian dengan lidah Eropa, kebutuhan praktis administrasi serta nomenklatur (dokumen dan peta). Kemiripan lainnya, antara (Padang) Sidempuan dengan Medan (Poetri) adalah soal posisi dimana lokasi garnisun: Garnisun Padang Sidempuan berada diantara (dan tidak jauh dari) pertemuan dua sungai, yakni Sungai Batang Ajoemi dan Batang Angkola, sedangkan garnisun Medan berada diantara (dan tidak jauh dari) pertemuan dua sungai, yakni: Sungai Baboera dan Sungai Deli.Secara teknis posisi serupa itu sudah menunjukkan fungsi pertahanan (benteng alam). . 

16/09/15

Sejarah Kota Medan (1): Pada Saat Medan Masih Sebuah Kampung, Padang Sidempuan Sudah Menjadi Kota

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Medan dalam blog ini Klik Disin
 .

Baca juga:


Ketika Medan, sebuah kampung; Padang Sidempuan, sebuah kota
Pada masa kini, Medan adalah ibukota Provinsi Sumatra Utara. Pada masa kini, Provinsi Sumatra Utara terdiri dari sejumlah kabupaten dan sejumlah kota. Pada masa kini, Kota Medan sudah menjadi kota besar (metropolitan): kota nomor tiga terbesar di Indonesia. Kota yang berada di Tanah Deli ini masih akan tumbuh dan berkembang hingga ke masa datang. Lantas kapan Kota Medan mulai tumbuh dan kapan pula terbentuknya Provinsi Sumatra Utara. Sebagai perbandingan awal, ketika Medan masih sebuah kampung, Padang Sidempuan sudah menjadi kota (besar). Sebagai perbandingan awal juga, ketika Sumatra's Oostkust (Pantai Timur Sumatra) yang beribukota Medan menjadi Residentie, jauh sebelumnya Tapanoeli sudah menjadi Residentie. Kota Padang Sidempuan sendiri pernah menjadi ibukota Residentie Tapanoeli (1875).
Wilayah yang menjadi Residentie Sumatra's Oostkust (Patai Timur Sumatra) adalah pemekaran wilayah dari Residentie Riaow, sementara Residentie Tapanoeli adalah pemekaran dari Provinsi Sumatra's Westkust (Pantai Barat Sumatra). Ketika, status Sumatra's Oostkust ditingkatkan dari residentie menjadi province dibentuk Residentie Atjeh. Pada periode kedua pemilihan anggota dewan (Volksraad), nama Sumatra Utara (Noord Sumatra) muncul yang mana Residentie Tapanoeli dan Residentie Atjeh digabung sebagai satu daerah pemilihan (dapil) yang disebut dapil Noord Sumatra (Sumatra Utara). Sedangkan Province Sumatra's Oostkust menjadi satu dapil sendiri. Ketika Residentie Atjeh dimekarkan, pemilik nama Sumatra Utara hanya tinggal Tapanoeli. Dalam perkembangannya, nama Sumatra's Oostkust dihapus, lalu wilayah-wilayah eks Sumatra's Oostkust bersama dengan wilayah-wilayah eks Tapanoeli digabung menjadi sebuah provinsi. Nama provinsi disebut Sumatra Utara (nama yang telah lama melekat dan dikaitkan dengan Tapanoeli).
Sehubungan dengan itu, lantas apa hubungan Padang Sidempuan dengan Medan? Dan apa pula hubungan Tapanoeli dengan Sumatra Utara? Serial artikel ini coba menelusuri mulai dari titik nol: Kapan terbentuk kota Padang Sidempuan (1841), kapan terbentuk kota Medan (1869); kapan terbentuk Tapanoeli (1845), kapan terbentuk Sumatra's Oostkust (1879) dan terakhir, kapan terbentuk Sumatra Utara (1927). Hal yang terpenting dari itu adalah apa saja peran anak-anak Padang Sidempuan sejak awal dalam membangun kota Medan dan membentuk provinsi Sumatra Utara. Mereka  datang dari kota pertama di Sumatra Utara, yakni Padang Sidempan, ibukota Afdeeling Mandheling en Ankola, tempat dimana Multatuli (Edward Douwes Dekker) belajar soal keadilan (1843), tempat dimana Herman Neubronner van der Tuuk belajar dan menyusun tatabahasa Bahasa Batak (1850), tempat dimana Nommensen belajar sistem sosial orang Batak (1861), tempat dimana Charles Adrian van Ophuijsen belajar dan menyusun tatabahasa Bahasa Melayu (1879), tempat dimana semua penduduknya Republiken.

Sebagai gambaran awal, peran anak-anak Padang Sidempuan sejak dari awal di Kota Medan diantaranya, adalah: pers (koran dan percetakan) pribumi pertama (1902), editor pribumi pertama (1903), guru pribumi pertama (1893), pengawas sekolah pertama (1910), pemilik sekolah pribumi pertama (1903), dokter-dokter pertama pemberantas kusta, kolera dan tbc, pemilik klubdan pendiri bond sepakbola pribumi pertama, anggota dewan kota (gementeeraad) pribumi pertama (1918) dan anggota dewan pertama yang terpilih ke dewan pusat (Volksraad) di Pejambon, Batavia (1927). Anak-anak Padang Sidempuan juga adalah pendiri organisasi sosial pertama (1904), penggagas pasar sentral dan pelopor pengembangan rumah sakit (1928),  kepala pelabuhan pribumi pertama, jaksa pribumi pertama (1893) dan polisi pribumi pertama. Anak-anak Padang Sidempuan juga yang terkena delik pers pertama (1911), pertama dalam melawan kolonialisme, republiken, para pejuang di medan tempur dan ketua Front Nasional Medan (1945). Anak-anak Padang Sidempuan pasca perang adalah ketua panitia hari kemerdekaan pertama di Medan (1950), Walikota Medan pertama (1945), Residen Sumatra Timur pertama, Gubernur Sumatra Utara pertama, penggagas, pendiri dan presiden universitas (USU) pertama (1953), notaris pribumi pertama (1937), ahli hukum pribumi pertama (1917), penggagas pembangunan stadion Teladan (1953). Mari kita lacak kisah masing-masing dan peranan-peranan apa lagi yang mereka lakukan sejalan dengan pembangunan dan perkembangan Kota Medan (dan provinsi Sumatra Utara). 
Namun perlu diketahui, bahwa semua prestasi itu tidak terjadi tiba-tiba dan bersifat lokal. Anak-anak Padang Sidempuan bahkan sudah sejak lama di tingkat nasional dan internasional melakukan kebajikan yang serupa, diantaranya: siswa pertama dari luar jawa di Docter Djawa School (STOVIA) tahun 1854, siswa pertama pribumi studi ke Belanda (1857), penulis buku pelajaran pertama (1862), pengarang novel/roman pertama (1895), penyusun buku panduan perjalanan haji pertama (1902), penulis buku pertama terbit di Eropa (1913), alumni sekolah hukum pertama (rechtschool) di Batavia (1914), alumni pertama sekolah menengah pertanian di Buitenzorg (1911), alumni pertama sekolah dokter hewan di Belanda (1909) di Buitenzorg, pendiri organisasi sosial pertama, Medan Perdamaian tahun 1900 (jauh sebelum adanya Boedi Oetomo, 1908), pendiri dan presiden perhimpunan mahasiswa di Belanda (1908), pendiri Sumatra Bond (1817), pendiri Tapanoeli Bond, pendiri Batakcshe Bond, pendiri bank pribumi pertama (1920), peraih gelar doktor hukum pribumi pertama (1925), peraih gelar doktor perempuan pertama (1931), pendiri organisasi wartawan (1918), pendiri akademi wartawan (1951), ketua panitia kongres pemuda (1928), ketua KADIN pribumi pertama (1929), orang pribumi pertama ke Jepang (1932), anggota BPUPKI (1945), walikota pribumi pertama di Kota Surabaya (1942), Residen Sumatra Tengah (Sumatra Barat dan Riau) pertama (1945), Residen Lampung pertama (1948). Daftar ini lebih panjang lagi dengan menyertakan tokoh-tokoh di bidang militer, perdana menteri, wakil presiden dan menteri. Last but not lease: pendiri dan presiden pertama himpunan mahasiswa Islam  HMI (1947) dan pendiri dan presiden pertama persatuan mahasiswa universiteit van Indonesia PMUI (1947).
Tentu saja masih banyak lagi yang dapat memberi gambaran kontekstual tentang peranan anak-anak Padang Sidempuan pada fase awal sejarah Kota Medan dan sejarah Indonesia. Nama-nama mereka seharusnya ditempatkan dalam top list bumiputra dengan tinta emas cetak tebal baik dalam penulisan sejarah Kota Medan dan maupun penulisan sejarah Indonesia. Kini, di era teknologi informasi, data-data sudah terbuka dan terang benderang. Tidak ada lagi ruang untuk memanipulasi data dan informasi sejarah. Salam jasmerah. Mari kita mulai seri artikel pertama.

10/09/15

Gelar Doktor Pertama di Indonesia: Dr. Ida Loemongga, PhD, Doktor Perempuan Pertama di Indonesia

Baca juga:
Bag-8. Sejarah Padang Sidempuan: ‘Dr. Ida Loemongga, PhD, Dinasti Guru dan Dokter: Like Son, Like Father; Like Girl, Like Mother’


Ida Loemongga dikawal dua adiknya saat sidang terbuka di Amsterdam, 1932
Pendidikan doktor adalah pendidikan tertinggi di bidang akademik. Pada masa kini, jumlah doktor Indonesia sudah cukup banyak tetapi masih jauh dari jumlah yang dibutuhkan. Perempuan yang bergelar doktor jumlahnya masih sangat sedikit jika dibandingkan laki-laki. Meski begitu adanya, namun gelar doktor sesungguhnya sudah sejak dari doeloe, orang Indonesia dapat meraihnya. Tidak hanya laki-laki tetapi juga perempuan. Uniknya, empat diantara orang Indonesia bergelar doktor pertama adalah berasal dari Padang Sidempuan, afd. Mandheling en Ankola, Tapanoeli. Bahkan satu diantara empat tersebut adalah doktor perempuan pertama di Indonesia..  

***
Husein Djajadiningrat
Gelar doktor pertama diraih oleh Hussein Djajadiningrat di Universiteit Leiden pada Mei 1913 di bidang sastra (De Telegraaf, 31-12-1934). Desertasi Djajadiningrat berjudul ‘Critische beschouwingen van di Sadjarah Banten’. Dr. Mr. Hussein Djajadiningrat juga adalah profesor pertama di Indonesia. Pada tahun 1935 Husein Djajadiningrat diangkat menjadi guru besar bidang hukum di Rechtschool, Batavia (lihat juga De Telegraaf, 31-12-1934).

Husein Djajadiningrat berangkat studi ke Belanda tahun 1904. Pada tahun 1905 menyusul Soetan Casajangan. Pada awal tahun 1906 jumlah mahasiswa pribumi di Belanda baru enam orang, termasuk didalamnya dokter Abdul Rivai (alumni docter djawa school) yang awalnya bekerja sebagai editor Bintang Hindia. Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan kelahiran Padang Sidempuan adalah tokoh pergerakan pemuda pertama di Belanda.