22/10/15

Medan Perdamaian: Organisasi Sosial Pertama di Indonesia (bukan Boedi Oetomo)



Organisasi sosial pribumi pertama di Indonesia, bukanlah ‘Boedi Oetomo’ (yang didirikan tanggal 20 Mei 1908 di Jakarta). Dan juga bukan Perhimpoenan Hindia, ‘Indische Vereeniging’ (yang didirikan tanggal 25 Oktober 1908 di Leiden). Organisasi sosial pribumi pertama di Indonesia justru adalah ‘Medan Perdamaian’. Organisasi Medan Perdamaian yang bersifat nasional ini didirikan bahkan jauh sebelum adanya Boedi Oetomo yang bersifat kedaerahan (Jawa).

Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 20-02-1900
Organisasi sosial Medan Perdamaian didirikan di Padang pada tahun 1900 (lihat Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 20-02-1900). Penggagas organisasi sosial Medan Perdamaian dan ketuanya yang pertama adalah Dja Endar Moeda (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 21-08-1902). Dja Endar Moeda adalah editor surat kabar pribumi pertama di Indonesia (1897) di koran Pertja Barat yang terbit di Padang. Organisasi multi etnik ini di Padang kemudian diteruskan oleh Muhamad Safei dan masih eksis di Padang pada tahun 1912 (lihat De Sumatra post, 26-04-1912).

Pada tahun 1907 Medan Perdamaian juga didirikan di Medan dan Fort de Kock. Organisasi cabang Medan Perdamaian di Medan ini membentuk klub sepakbola bernama Medan Perdamaian yang ikut berkompetisi tahun 1908 di Medan. Medan Perdamaian juga didirikan di Palembang (lihat De Indische courant, 25-09-1922) dan juga eksis di Batavia. Organisasi sosial Medan Perdamaian Batavia ini dipimpin oleh Mohamad Sjafe'i dengan wakil Tjik Nang (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 10-07-1926).

Dalam perkembangan lebih lanjut organisasi Medan Perdamaian juga didirikan di Pematang Siantar dan mendapat badan hokum tahun 1931 (lihat De Sumatra post, 12-02-1931). Pada tahun 1932 Medan Perdamaian mendapat saingan dari organisasi sosial Taman Persahabatan (lihat De Sumatra post, 15-12-1932).

Taman Persahabatan adalah organisasi sosial seperti Boedi Oetomo namun organisasi yang dibentuk di Medan ini tahun 1930 bersifat multi etnik sebagaimana organisasi Medan Perdamaian. Organisasi Taman Persahabatan diprakarsai  oleh anggota pribumi dewan Kota Medan dan para editor dari surat kabar Pewarta Deli dan tokoh lainnya seperti Baginda Djoendjoengan Lubis, dokter alumni STOVIA.

Jauh sebelumnya adabta Taman Persahabatan di Medan sudah pernah ada organisasi sejenis yang multi etnik yang disebut Medan Prijaji. Organisasi Medan Prijaji ini hanya berumur sangat pendek yang didirikan tahun 1915 yang diketuai oleh Dr. Abdoel Rasjid dengan komisaris antara lain Dr. Baginda Djoendjoengan dan Abdul Wahab Siregar. Dr. Abdoel Rasjid dan Dr. Djoendjoengan adalah alumni STOVIA (kelak Abdoel Rasjid adalah anggota Volkstaad dari dapil Tapanoeli, 1932; Dr. Abdoel Rasjid bertugas di Mandheling en Ankola sejak 1916). Pada tahun 1936 Mr. Loeat Siregar terpilih sebagai Ketua Sarikat Teman Persahabatan. Organisasi sosial Medan Prijaji ini mengingatkan kita nama surat kabar Medan Prijaji di Batavia yang dipimpin oleh Tirto Adhi Soerjo (1908-1912). 
Pada masa ini Tirto Adhi Soerjo ditonjolkan sebagai Bapak Pers Indonesia. Tirto Adhi Soerjo namanya muncul pertama kali pada tahun 1903 sebagai editor surat kabar Melayu bernama Pembrita Betawi. Surat kabar ini dipimpin oleh Karel Wijhbrand, seorang Jerman yang telah lama di Medan dan pernah menjadi editor Sumatra Post. Dja Endar Moeda, pendiri organisasi Medan Perdamaian adalah editor pribumi pertama tahun 1897 di surat kabar berbahasa Melayu bernama Pertja Barat yang terbit di Padang. Pada tahun 1900 Dja Endar Moeda mengakuisisi koran Pertja Barat dan percetakannya. Lalu dengan percetakan ini Dja Endar Moeda menerbitkan buku-buku (umumnya tulisannya berupa buku pelajaran dan roman), membuka toko buku dan sejumlah surat kabar. Praktis tahun 1907 Dja Endar Moeda telah memiliki sejumlah surat kabar dan majalan di berbagai tempat di Padang (Pertja Barat, Insulinden dan Sumatra Niuewesbland berbahasa Belanda); Sibolga (Tapian Na Oeli, di Atjeh (Pembrita Atjeh); dan di Medan (Pewarta Deli). Tirto Adh Soerjo pada tahun 1908 mendirikan surat kabar Medan Prijaji (dan ditutup 1912). Apa yang menjadi sumber ide Tirto memberi nama surat kabarnya Medan Prijaji boleh jadi terispirasi dari Medan Perdamaian dimana didalamnya terdapat tokoh pribumi terawal di bidang persuratkabaran, Dja Endar Moeda..
***
Pada masa kini, organisasi Boedi Oetomo yang lebih ditonjolkan dalam sejarah oraganisasi-organisasi. Hari lahir organisasi Boedi Oetomo bahkan kemudian dijadikan sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Bahwa organisasi Boedi Oetomo bukan yang pertama dapat diperhatikan berita yang dimuat dalam Soerabaijasch handelsblad, 20-10-1908.

De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 21-08-1902
‘Pada pertemuan asosiasi Boedi Oetomo, yang diselenggarakan di Djokdjakarta 3 Oktober 1908 (Kongres pertama Boedi Oetiomo, red) pemerintah menanggapi pertanyaan dari Bupati Temanggoeng bahwa di luar Djawa sudah ada asosiasi sejenis. (seperti misalnya) Medan Perdamaian di Fort de Kock yang didirikan 17 Oktober 1907. Organisasi Medan Perdamaian (sebagaimanai) diketahui bertujuan untuk mewakili kepentingan anggota dan populasi dalam satu kata: kemajuan. Untuk mencapai tujuan, organisasi Medan Perdamaian telah diputuskan menerbitkan majalah (maandelijksch) yang akan dicetak dan diterbitkan oleh penerbit pribumi Dja Endar Moeda di Padang yang akan berisi ilmu sehari-hari yang berguna dan yang diperlukan di bidang pertanian, peternakan, industri, pendidikan, kesehatan di kampung, keadilan, dll. Organisasi (cabang) Fort de Kock ini sudah memiliki anggota 700 orang’.

Ini menunjukkan bahwa peserta kongres pertama Boedi Oetomo sudah mengetahui adanya Medan Perdamaian (suatu organisasi yang telah didirikan sejak 1900). Untuk sekadar diketahui bahwa Medan Perdamaian adalah organisasi yang tidak eksklusif bagi dirinya sendiri. Medan Perdamaian ketika masih dipimpin oleh direktur (ketua) Dja Endar Moeda pada tahun 1902 sebagaimana dilaporkan De Locomotief (edisi 21-08-1902) bahkan telah memberi sumbangan bagi peningkatan pendidikan di Semarang sebesar f 14.490 yang diserahkan melalui Charles Adrian van Ophuijsen yang saat itu menjabat sebagai Direktur Pendidikan Province Sumatra;s Westkust (Pantai Barat Sumatra). Ini dengan sendirinya menunjukkan bahwa Medan Perdamaian, organisasi sosial pribumi pertama di Indonesia membuktikan sifatnya yang memang multi etnik dengan sasaran seluruh populasi (pribumi) di seluruh Nederlandsch Indie (Hindia Belanda). Sekadar diketahui, arsitektur organisasi (baru) Boedi Oetomo sesungguhnya adalah copy paste dari organisasi (lama) Medan Perdamaian. Hanya saja bedanya: Medan Perdamaian tetap cenderung bersifat multi etnik (nasional), sedangkan Boedi Oetomo cenderung bersifat terbatas di Jawa (kedaerahan)..

 ***
Medan Perdamaian dan Boedi Oetomo hingga tahun 1917 keduanya masih eksis. Dua organisasi sosial kemasyarakatan ini selama ini didominasi oleh golongan senior (lebih tua). Lantas, dalam perkembangan berikutnya, di Belanda muncul organisasi sosial yang lebih radikal yang dipelopori gnerasi yang lebih muda (junior). Adalah Sorip Tagor (kakek Inez dan Risty Tagor) yang mempelopori didirikannya organisasi Sumatranen Bond yang lebih progresif, karena setelah era Soetan Casajangan, organisasi Indisch Vereeniging sudah mulai kendor dalam urusan kemajuan bangsa. Pada tanggal 1 Januari 1917, Sumatranen Bond resmi didirikan dengan nama ‘Soematra Sepakat’. Dewan Sumatranen Bond ini terdiri dari Sorip Tagor Harahap (sebagai ketua); Dahlan Abdoellah, sebagai sekretaris dan Soetan Goenoeng Moelia sebagai bendahara. (Salah satu) anggota (benama) Ibrahim Datoek Tan Malaka (yang kuliah di kampus Soetan Casajangan). Tujuan didirikan organisasi ini untuk meningkatkan taraf hidup penduduk di Sumatra, karena tampak ada kepincangan pembangunan antara Jawa dan Sumatra. Mereka yang tergabung dalam himpunan ini menerbitkan majalah yang akan dikirim ke Sumatra dan mengumpulkan berbagai buku yang akan dikirimkan ke perpustakaan di Padang, Fort de Kock, Sibolga, Padang Sidempoean, Medan. Koeta Radja dan di tempat lain di Soematra  (lihat De Sumatra post, 31-07-1919).

Sebelum adanya nama Sumatra Sepakat ini di Medan pernah didirikan organisasi social bernama Tapanoeli Sepakat pada tahun 1907 yang didirikan oleh Dja Endar Moeda yang kemudian organisasi ini mendirikan surat kabar Pewarta Deli (1910). Tapanoeli Sepakat didirikan untuk merespon begitu kuatnya organisasi ekonomi komunitas Tionghoa di Medan. Organisasi Tapanoeli Sepakat ini kemudian menghilang setelah berdirinya cabang organisasi multi etnik Medan Perdamaian.

Di Batavia juga didirikan Sumatranen Bond. Organisasi ini dibentuk oleh mahasiswa-mahasiswa STOVIA yang berasal dari Sumatra. Sumatra Bond yang disebut Jong Sumatra didirikan pada tanggal 8 Desember 1917.  Asosiasi pemuda ini lahir dari suatu pemikiran bahwa intesitas (pembangunan) hanya berada di Jawa dan di Sumatra dan pulau-pulau lainnya terabaikan. Dengan kata lain pemikirannya sama dengan Sumatranen Bond yang berada di Belanda. Susunan pengurus Jong Sumatranen di Batavia ini adalah Tengkoe Mansoer sebagai ketua, Abdoel Moenir Nasoetion sebagai wakil ketua, Amir dan Anas sebagai sekretaris serta Marzoeki sebagai bendahara (lihat De Sumatra post, 17-01-1918). 

Sumatra Bond bersama-sama dengan organisasi lainnya di Batavia kemudian menyelenggarakan kongres pemuda, 28 Oktober 1928. Ketua penyelenggara kongres ini adalah Parada Harahap, pemimpin surat kabar Bintang Timoer, yang kala itu Parada Harahap adalah sekretaris perhimpunan organisasi-organisasi sosial Indonesia, Permofakatan Persatoen Perhimpunan Kemasyarakat Indonesia (PPPKI) yang berkantor di Jalan Kenari, Batavia yang diketuai oleh M. Husni Thamrin. Setelah dari kongres itu organisasi para pemuda (jong) mulai merapikan arsitektur organisasinya, seperti Sumantranen Bond menetapkan pengurusan dan menyusunan anggaran dasar dan anggaran rumahtangganya. Catatan: dari kongres pemuda ini tidak teridentifikasi tentang soal ada tidaknya Sumpah Pemuda di dalam surat kabar-surat kabar yang beredar di sekitar tanggal 28 Oktober tersebut. 
Parada Harahap adalah dulunya pada usia 14 tahun, seorang krani di sebuah perkebunan di Sumatra Timur. Tidak tahan melaihat praktek poenalie sanctie (terhadap para kuli) membongkar kasus-kasusnya dan mengirim laporannya ke surat kabar Benih Mardika di Medan (1916-1917). Akibatnya, Parada Harahap dipecat sebagai krani (kedudukan tertinggi bagi pribumi di perusahaan perkebunan). Lalu hijrah ke Medan dan bergabung dengan koran Benih Mardika tahun 1918 dan diangkat sebagai editor. Pada tahun 1919 Parada Harahap mendirikan organisasi wartawan (yang pertama di Indonesia). Namun tidak lama kemudian koran Benih Mardika ditutup karena pimpinannya mengalami kasus. Parada Harahap kehilangan pekerjaan lalu pulang kampung ke Padang Sidempuan. Di kota ini, Parada Harahap menerbitkan koran baru bernama Sinar Merdeka (1819) dengan motto Organ Ontoek Kemadjoean Bangsa dan Tanah Air. Tulisan dan protesnya terhadap Belanda mengakibatkan dirinya menghadapi banyak delik pers, dimejahijaukan dan dipenjara. Pada tahun 1922 bersama Manullang, Parada Harahap mendirikan organisasi pemuda  Sumatranen Bond (wilayah Tapanoeli) di Sibolga sebagai respon adanya Sumatranen Bond di Belanda dan Batavia. Kemudian tahun 1922 juga Parada Harahap hijrah ke Batavia, awalnya bekerja sebagai wartawan Sin Po lalu mendirikan surat kabar Bintang Hindia terbit pertama 1 Januari 1923 dan kemudian mendirikan kantor berita pribumi pertama Alpena. Pada tahun 1925 Parada Harahap dinobatkan pers Eropa/Belanda sebagai wrtawan terbaik. Pada tahun 1926 Parada Harahap menulis buku Dari Pantai ke Pantai, yang isinya bersumber dari laporan perjalanannya ke semua pelosok Sumatra (buku yang pertama ditulis seorang wartawan). Pada tahun 1926 ini juga Parada Harahap mendirikan koran Bintang Timoer. Dalam tempo satu tahun koran Bintang Timoer sudah merupakan koran paling tinggi tirasnya di Batavia.Pada tahun 1927 Parada Harahap dengan kawan-kawan mengadakan rapat untuk menyusun kembali Sumatranen Bond dimana Parada Harahap bertindak sebagai sekretaris dan ketua Soetan Muhamad Zein sebagai ketua. Pada tahun 1927 ini juga di rumah Djajadiningrat berkumpul semua pengurus organisasi-organisasi seperti Sumatranen Bond, Boedi Oetomo, Pasundan, Kaoem Betawi, Minahasa, Ambon dan lainnya dan kemudian membentuk organisasi PPPKI yang diketuai oleh M. Husni Thamrin dan sekretaris Parada Harahap. PPPKI singkatan dari Pemoefakatan Perhimpoenan-Perhimpoenan Politiek Kebangsaan Indonesia. Organisasi ini bersifat nasional dengan motto Hidoeplah Persatoean Indonesia. Pada tanggal 31 Agustus 1928 organisasi ini melakukan pertemuan publik pertama (kongres). Hadir dalam kongres antara lain: Parada Harahap, Tjokroaminto, Dr. Soetomo, Ir. Soekarno. M. Thamrin. Dalam kongres ini Parada Harahap mengomentari sikap pasifnya wakil Minahasa dan Ambon. Setelah kongres ini Parada Harahap segera mmperluas cakupan korannya dengan menerbitkan Bintang Timoer edisi Semarang (untuk Jawa Tengah) dan edisi Surabaya (untuk Jawa Timur) Bersamaan dalam kongres ini juga dilakukan pertemuan para pemudanya yang akan melakukan kongres pada tanggal 28 Oktober 1928..                      
***
Dja Endar Moeda adalah pendiri organisasi sosial pertama di Indonesia tahun 1900 di Padang yang diberi nama Medan Perdamaian. Pada tahun 1907 didirikan organisas sosial bernama Tapanoeli Sepakat di Medan (organisasi kedaerahan) dan kemudian dilebur dengan didirikannya Medan Perdamaian (organisasi nasional). Organisasi Boedi Oetomo baru didirikan. 20 Mei 1928 di Batavia kemudian organisasi Indisch Vereeniging di Belanda pada September 1908). Boedi Oetomo melakukan kongres pertama di Djogjakarta pada tanggal 3 Oktober 1908. Lalu dalam perkembangannya terjadi 'keretakan' di dalam Boedi Oetomo antara golongan tua dan golongan muda yang kemudian melahirkan adanya Sarikat Dagang Islam (SDI).
Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda adalah lulusan sekolah guru Kweekschool Padang Sidempuan 1884 (mantan murid Charles Adrian van Ophuijsen). Setelah pension menjadi guru mendirikan sekolah swasta di Padang (1895) kemudian menjadi editor surat kabar Perja Barat (1897) dan tahun 1900 Dja Endar Moeda mengakuisisi koran dan percetakan Pertja Barat menjadi milik pribadinya. Dja Endar Moeda setelah itu menerbitkan buku-bukunya (buku pelajaran dan buku bacaan umum) dan mendirikan took buku dan menerbitkan sejumlah surat kabar yang kemudian dijuluki sebagai Radja Persuratkabaran Sumatra. Dja Endar Moeda tidak hanya pionir dalam persuratkabaran tetapi juga pionir dalam pembentukan organisasi social kemasyarakatan di Indonesia.
Mungkin anda bertanya-tanya: apakah Medan Perdamaian yang didirikan di Padang oleh Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda (1900), Perhimpoenan Hindia (Indisch Vereeniging) yang didirikan di Leiden oleh Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan (1908), Sumantranen Bond yang didirikan di Leiden oleh Sorip Tagor Harahap (1917) dan Pemoefakatan Perhimpoenan-Perhimpoenan Politiek Kebangsaan Indonesia (PPPKI) yang didirikan di Batavia oleh Parada Harahap (1927) adalah serba kebetulan? Jawabnya: Tidak. Hanya kebetulan keempat orang tersebut sama-sama lahir dan dibesarkan ( di empat kampung yang berbeda) di Padang Sidempuan. Dja Endar Boemi lahir di huta (desa) Loesoengbatoe, Soetan Casajangan lahir di huta (desa) Batoenadoea, Sorip Tagor lahir di huta (desa) Hoetaimbaroe dan Parada Harahap lahir di huta (desa) Pargaroetan.
Last but not lease: Untuk sekadar diketahui bahwa pendiri organisasi-organisasi mahasiswa masa selanjutnya juga didirikan oleh anak-anak Padang Sidempuan. Organisasi mahasiswa Islam yang disebut Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) didirikan oleh Lafran Pane tahun 1947 di Djokjakarta dan juga organisasi mahasiswa Universiteit van Indonesie yang disebut Persatoean Mahasiswa Universiteit van Indonesia (PMUI) didirikan oleh Ida Nasoetion tahun 1947 di Djakarta. Universiteit van Indonesia meliputi fakultas-fakultas yang berada di Djakarta (kedokteran, sastra dan hukum), Bogor (pertanian), Bandoeng (teknik), Soerabaja (kedokteran) dan Makassar (ekonomi). Setelah pengakuan kedaulatan RI fakultas-fakultas tersebut menjadi UI, IPB, ITB, Unair dan Unhas. Tokoh terpenting dari UI adalah Hariman Siregar, ketua Dewan Mahasiswa UI tahun 1973 yang terkenal dengan peristiwa Malari (1974). Hariman Siregar adalah kelahiran Padang Sidempuan.

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar: