13/01/16

Sejarah Kota Medan (13): Kerajaan Aru di Sungai Barumun, Kerajaaan Batak, Kerajaan Islam Pertama, Suksesinya adalah Kerajaan Batak Deli (di Deli Toea) dan Kesultanan Melayu Deli (di Laboehan Deli)

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Medan dalam blog ini Klik Disin
.
Fakta lama, interpretasi baru: Ambuaru (Haru), Dilli (Deli) dan Aru (de Aru atau d'Aru atau Daru) adalah tiga tempat yang berbeda (lihat peta 1619, 1750, 1752 dan 1862). Sementara penulisan nama Dilli (Portugis) menjadi Delli (Inggris) dan kemudian Deli (Belanda) adalah nama tempat yang sama di dalam tiga era yang berbeda (lihat peta 1750, laporan Anderson 1826 dan peta 1862).  Sedangkan tiga bandar penting yang ditaklukkan oleh Majapahit adalah bandar Tandjongpura di Haru (di muara sungai Wampu di Langkat), bandar Sampei (di muara sungai Boeloe Tjina/Hamparan Perak) dan bandar Panai (di muara sungai Baroemoen di Aru). Lantas apa hubungan Kerajaan Aru di Baroemoen dengan Tiongkok dan apa pula hubungan bandar Sampei di Boeloe Tjina dengan bandar 'Kota Tjina' di Maryland/Marelan? Mari kita lacak!.

Kerajaan Aru, menurut laporan Pinto (1539) dibatasi oleh lautan dan laut pendalaman (danau Toba) dan pertambangan Menangkabau (Ophir) ibukotanya Panaju yang berada di sungai Paneticao (sungai Batang Pane). Kerajaan Malaka dan Kerajaan Atjeh berkembang setelah kejayaan Kerajaaan Aru mulai memudar di selat Malaka. Kerajaan Aru yang beribukota di pedalaman sungai Baroemoen di Padang Bolak (river Baroemoen of Paneh) adalah kerajaan besar yang tidak ada melebihinya di Nusantara saat itu (pasca Sriwijaya Jambi/Palembang) memiliki peran besar membesarkan kerajaan-kerajaan di Atjeh melalui koneksi pedagang orang-orang Moor. Keutamaan  bandar-bandar di Atjeh adalah turut menyebarluaskan agama Islam di Baroemoen, jauh sebelum penyebaran agama Islam di Melayu (Malaka). Lalu tiba waktunya, Kerajaan Aru, kerajaan Islam pertama ditaklukkan oleh Madjapahit (beragama Hindu) tetapi tidak mampu menaklukkan bandar-bandar di Atjeh. Pada fase berikutnya, Kerajaan bentukan Atjeh di Deli (Batak) ditaklukkan oleh Malaka (Portugis). Dengan demikian, kejayaan Kerajaan Aru (di Baroemoen) adalah kurun waktu yang berbeda dengan munculnya Kerajaan Deli (Batak) di hulu sungai Deli (Deli Toea). Kerajaan ini lalu dihancurkan oleh Portugis (dari Malaka) yang kemudian Kesultanan Atjeh membentuk Kesultanan Deli (Melayu) di muara sungai Deli (Laboehan Deli). Pada fase berikutnya, Kesultanan Deli bergantian berada di bawah supremasi Kesultanan Atjeh dan Kesultanan Siak hingga akhirnya Kesultanan Deli dibawah jajahan Belanda.
Peta kuno Kerajaan Aru, 1619 (peta Portugis)
Ibarat ketika Medan masih sebuah kampong, Padang Sidempuan sudah menjadi kota besar, hal yang mirip, ketika Kesultanan Deli di muara sungai Deli belum ada, Kerajaan Aru di muara sungai Batang Pane (hulu sungai Barumum) adalah kerajaan besar. Kerajaaan (Aru) dan kesultanan (Deli) muncul atas dasar terjadinya perdagangan yang intens, yakni perdagangan yang secara historis didukung oleh ekonomi komoditi kuno yang diusahakan oleh penduduk Batak di pedalaman, seperti kemenyan, benzoin, kamper, emas, lada dan tembakau. Faktor penduduk Batak sangat sentral dalam hubungannya dengan pertumbuhan dan perkembangan kerajaan-kerajaan dan kesultanan-kesultanan di wilayah yang kini disebut wilayah Sumatra Utara.

Ada yang menyebut Kesultanan Aru atau Kesultanan Haru cikal bakal Kesultanan Deli. Mungkin itu keliru. Yang mungkin benar adalah Kerajaan Deli (Batak) adalah cikal bakal Kesultanan Deli (Melayu). Sedangkan Kerajaan Deli adalah suksesi bandar Sam Pei, suatu bandar (Cina) di teluk Belawan di muara sungai Boeloe Tjina (di wilayah dimana Hamparan Perak kini berada) yang digantikan oleh penduduk Batak lalu kemudian berpindah tempat ke hulu sungai Deli (kini Deli Toea). Lalu Kesultanan Deli dibentuk di muara sungai Deli (Laboehan Deli). Bagaimana itu terjadi? Mari kita lacak!.

Mengidentifikasi dimana letak Kerajaan Aru (Battak Kinggom), ini ibarat mencari sesuatu yang hilang, carilah di tempat yang terang, meski sesuatu itu hilangnya di tempat yang gelap. Ini artinya, jika mencari sesuatu di tempat yang gelap tidak akan menemukan apa-apa. Semakin sulit, apalagi yang dicari itu sesuatu yang hilang di masa lampau. Fakta-fakta baru (yang mungkin masih samar) yang kemudian ditemukan, tidak akan membantu melukiskan gambar yang seutuhnya jika pencarian itu hanya terbatas dan difokuskan di tempat yang gelap. Ibarat, setiap orang buta coba mendeskripsikan secara dekat wujud gajah itu seperti apa. Bagian-bagian yang bisa dilaporkan hanya belalai, ekor dan kaki. Gading tidak terlaporkan karena tempatnya di bagian atas yang tidak terjangkau. Karenanya,  wujud gajah hanya akan terdeskripsikan secara lengkap dan jelas jika mengambil jarak ketika memandangnya di saat terang benderang.

Keberadaan Penduduk Batak sebagai Faktor Terpenting Munculnya Kerajaan dan Kesultanan

Untuk memahami munculnya kerajaan-kerajaan dan kesultanan-kesultanan tersebut mulailah memahami pertukaran ekonomi di muara sungai Batang Pane dan muara sungai Sangkilon di Padang Lawas (Tapanuli bagian Selatan). Sungai Batang Pane adalah jalur terawal perdagangan kamper, benzoin, kemenyan dari penduduk Batak. Sungai Sangkilon adalah jalur terawal perdagangan emas dari penduduk Batak. Di sepanjang DAS Batang Pane dan Sangkilon terdapat banyak candi-candi purba. Pusat dari perdagangan ini ada di muara sungai Batang Pane yang kemudian lebih dikenal sebagai Pertibie (Portibi). Hingga ini hari di Portibi masih terlihat jelas candi-candi besar dari era Hindu/Budha.

Aliran Produk alamiah dari Tanah Batak ke pantai
Secara teoritis ekspedisi yang datang dari jauh (Persia, Arab, India) ke Sumatra di Baros atau di Pertibie tentu motifnya adalah ekonomi (perdagangan). Suatu ekspedisi membutuhkan biaya besar: ada sponsor pembiayaan dan ada target keuntungan. Petunjuknya: ada tempat dimana dihasilkan komoditi yang dibutuhkan, yakni kemenyan, kapor baros, benzoin. Bandar yang muncul kemudian (Baros dan Pertibie) adalah tempat pertemuan (transaksi) antara si penjual dan si pembeli. Penduduk Batak dalam hal ini penjual, suatu penduduk yang telah lama mendiami teritori tersebut. Dengan demikian, sebelum adanya perdagangan (datangnya orang asing), haruslah ada yang mendahuluinya, bahwa komoditi-komoditi itu sudah diusahakan penduduk untuk kebutuhan hidup.

Munculnya pusat perdagangan di daerah yang disebut Padang Bolak (nama Padang Lawas baru muncul di era padri/Belanda) besar kemungkinan bergeser dari Baros yang posisinya tidak lagi strategis untuk mengoptimalkan dua komoditi alamiah dalam perdagangan dunia: pertambangan (emas) dan pertanian/kehutanan (kemenyan, benzoin dan kamper) dari penduduk Batak. Sungai Baroemoen yang jauh ke pedalaman dipandang sebagai infrastruktur alamiah yang dapat mendekati TKP yakni pusat produksi komoditi dunia.

Pergeseran ini ditandai dengan adanya ekspedisi dari Baros ke pedalaman di arah selatan. Ternyata di pedalaman ditemukan sumber emas di daerah pengaliran sungai (yang kelak disebut sungai Batang Angkola dimana ditemukan candi yang lebih tua dibandingkan dengan candi-candi Pertibie). Para ekspedisi ini lambat laut memahami bahwa terdapat sungai besar di pedalaman yang mengalir ke pantai timur Sumatra. Atas laporan ekspedisi awal ini, Raja Cola di India mengirim angkatan laut via muara sungai Baroemoen untuk membentuk koloni di pedalaman sebagai pusat ekonomi. Tempat yang paling strategis untuk menentukan ibukota koloni adalah di Pertibie di sungai Batang Pane. Sebab tempat ini berada di tengah antara sumber emas di selatan dan sumber komoditi kemenyan, benzoin dan kamper di utara. Nama-nama seperti Pane (Panai), Baroemoen, Angkola adalah nama-nama yang diberikan oleh orang-orang India yang datang ke wilayah pedalaman tempat dimana penduduk Batak berada.    

Pusat-pusat transaksi hasil-hasil pertambangan dan pertanian/kehutanan lalu berkembang di sejumlah DAS yang menjadi anak sungai Baroemoen. seperti sungai Batang Pane, aek Sirumambe, aek Sangkilon dan aek Batang Onang/aek Sihapas.Adalah ekspedisi Cola yang coba menyatukan titik-titik perdagangan itu dengan mendirikan ibukota di Portibie. Arti portibi adalah pusat dunia dari bahasa India (pritvi) yang dalam bahasa Jawa menjadi pertiwi. Penamaan ibukota ini sesuai keutamaan teritorial 'kerajaan Panai' yang terletak di sungai Batang Pane. Kota ini tumbuh dan berkembang menjadi pusat ekonomi di tempat dimana kini masih ditemukan candi-candi besar dan megah seperti Bahal I, Bahal II dan Bahal III. Posisi strategis ibukota ini karena menjadi simpul aliran komodi kemenyan, kamper dan benzoin dari utara (mulai dari Bila, Silindoeng hingga Toba) dan aliran komoditi emas dari selatan (mulai dari Angkola, Mandailing hingga Ophir).


Candi Bahal di Portibi (foto 1920)
Menurut catatan sejarah (bukti arkeologis), kejadian awal ini di Batang Angkola sudah ada sejak abad ke-8 (era Sriwidjaya), di Batang Pane muncul sejak abad ek-11. Dari Baros berkembang Kerajaan Perlak/Pasay. Perlak/Pasay menguasai Baros dan Panai. Pengaruh Perlak membuat Panai menjadi Islam. Pasai/Perlak dan Baros/Panai kemudian terdeteksi di Eropa ketika Marco Polo melakukan ekspedisi tahun 1293. Beberapa puluh tahun kemudian ekspedisi Madjapahit menaklukkan Panai (Padang Lawas), Sampei (Deli) dan Haru (Langkat) sebagaimana disebut dalam buku Negarakertagama.

Setelah sekian puluh tahun (karena pendangkalan sungai) ibukota pindah dari Panai ke Aru (muara sungai Batang Pane di sungai Baroemoen), lalu dalam perkembangan lebih lanjut ibukota pindah ke kota Pinang dan akhirnya ke muara sungai Baroemoen di pantai timur Sumatra. Rangkaian kerajaan yang disebut Kerajaan Panai atau Kerajaan Aru di DAS Baroemoen ini adalah Kerajaan Batak.



Candi Bahal I (masa kini) di Batang Pane, Padang Lawas
Disebut Kerajaan Batak karena lokasinya berada di daerah penduduk Batak, namun yang menjadi raja dari kerajaan adalah awalnya orang India dan kemudian digantikan oleh orang Moor (Panai). Kerajaan Aru adalah suksesi Kerajaan Panai. Kerajaan Aru adalah kerajaan besar yang melebihi semua kerajaan setelah era Sriwidjaja (Jambi dan Palembang). Paralel dengan kerajaan-kerajaan Batak ini muncul kerajaan-kerajaan Melayu berikutnya (pasca Jambi/Palembang) yang awalnya berkembang di Atjeh dan Semenanjung (Malaka).     

Secara khusus, kerajaan-kerajaan dan kesultanan-kesultanan di pantai timur Sumatra antara Perlak dan Rokan pada dasarnya bertumpu pada keberadaan penduduk Batak: tidak ada candi jika tidak ada ekonomi sebagai medium peradaban baru yang muncul dan tidak ada ekonomi jika tidak ada penduduk Batak yang mendahuluinya. Hal ini sebelumnya penduduk Batak mentransfer komoditi ekonominya ke Baros, suatu bandar paling kuno di Sumatra Utara).

Sehubungan dengan itu, artikel ini pada intinya mendeskripsikan dari sudut pandang keberadaan penduduk Batak (di pedalaman), suatu sudut pandang yang paling strategis untuk menggambarkan mengapa pelaut asing datang dan mengapa bandar-bandar bermunculan dan mengapa kerajaan-kerajaan dan kesultanan-kesultanan terbentuk di tempat dimana bandar-bandar tersebut berada. Para pelaut asing dari jauh tentu tidak membuang biaya besar dan berani menantang risiko jika hanya semata-mata untuk melancong dan menaklukkan yang lain demi gengsi. Demikian juga bandar-bandar atau kesultanan-kesultanan tidak mungkin berkembang jika tidak ada sumber-sumber ekonomi perdagangan yang dapat diteruskan dari satu tempat (di pedalaman) ke tempat lainnya (ke berbagai tempat di muka bumi).

Keberadaan penduduk Batak dalam munculnya kerajaan-kerajaan (di pedalaman) dan kesultanan-kesultanan (di pantai) di Sumatra bagian utara (termasuk Atjeh) luput dari perhatian dan terabaikan selama ini. Padahal keberadaan penduduk Batak ini sesungguhnya adalah faktor kunci, namun faktor ini nyaris tidak pernah disertakan dalam analisis lahirnya bandar-bandar dan kesultanan-kesultanan. Ini bisa dimaklumi, karena hampir semua analisis hanya melihat satu sisi bukti (yakni gerabah, keramik dan lainnya) sebagai alat pertukaran yang menjadi alasan kedatangan pelaut-pelaut asing. Padahal produk-produk manufaktur (keramik dan gerabah) itu hanya satu elemen dari pertukaran itu sendiri. Elemen lainnya adalah produk-produk alamiah seperti kemenyan, benzoin, kamper, emas dan lada yang berasal dari penduduk Batak--karenanya juga perlu lebih diperhatikan (cover both side). 

Peta-Peta Kuno Portugis: Apakah Nama Deli Berasal dari Dilli (Poertugis) atau Delhi (India)


Peta lama, Deli, 1750 (peta Portugis)
Sejauh yang diketemukan, peta paling tua yang disusun pelaut-pelaut Portugis diterbitkan pada tahun 1619. Dalam peta ini empat tempat yang teridentifikasi adalah: di pantai barat Sumatra adalah Baros (baca: Barus) dan Bathan (baca: Batahan); di pantai timur Sumatra adalah Daru (baca: Ara atau Aru) dan Ambuara (kemudian menjadi Jamboe Ajer/Perlak). Empat tempat ini terhubung dengan jalur perdagangan komoditi kuno ke daerah pedalaman dimana penduduk Batak berada. Baros adalah bandar komoditi kemenyan, benzoin dan kamper (kapor barus) dari penduduk Batak di Silindoeng dan Toba; Batahan adalah bandar komoditi emas (tampaknya Batahan lebih terkenal dari Natal) dari penduduk Batak di Mandailing. Aru (Daru) di sepanjang DAS Baroemoen adalah jalur komoditi emas. kemenyan, kamper dan benzoin dari penduduk Batak di Angkola. Ambuara atau Jamboe Ajer/di Perlak adalah bandar komoditi kemenyan, kamper dan benzoin dari penduduk Batak di Alas dan Gajo (Bandar sisi barat adalah Singkel). Dalam peta 1619, Deli belum terindentifikasi. Oleh karenanya bandar terpenting di pantai timur Sumatra hanya Aru (di sungai Baroemoen) dan Ambuaru atau Jamboe Ajer/di Perlak atau Tamiang.
Peta tertua Sumatra, 1595 (dalam Jurnal Belanda)
Peta 1619 (berbahasa Portugis) boleh jadi merupakan peta kuno paling lengkap tentang identifikasi nusantara. Sedangkan buku kono paling lengkap tentang identifikasi nama-nama tempat di dunia adalah berjudul ‘Itinerarivm, ofte schipvaert naer Oost ofte Portugaels Indien’ yang terbit di Amsterdam tahun 1614.
Nama Aru (Tetta d'Arruen) tercatat dalam buku dunia, 1614
Buku berbahasa Belanda ini masih dicetak dengan huruf gothiek. Pelaut Portugis sudah mendarat di Malacca tahun 1508 dan menguasainya tahun 1511. Sedangkan pelaut-pelaut Belanda baru muncul satu abad berikutnya yang lalu kemudian muncul VOC tahun 1602 yang berkantor di Banten, lalu pindah ke Ambon, kemudian Sulawesi Selatan, lalu ke Banten lagi dan akhirnya menetap di Batavia tahun 1619. Oleh karena itu buku ‘Itinerarivm, ofte schipvaert naer Oost ofte Portugaels Indien’ sudah beredar luas sebelum Belanda di Batavia memulai babak baru penguasaan Nusantara. Ini juga berarti peta kuno 1619 bersamaan munculnya dengan Batavia ditetapkan sebagai markas VOC yang baru (dan untuk seterusnya).

Jurnal Cornelis de Houtman 1595-1597 (hal, 1 dari 87 hal)
Rujukan utama buku ini besar kemungkinan adalah jurnal Belanda tahun 1598 berjudul: ‘Journael vande reyse der Hollandtsche schepen ghedaen in Oost Indien, haer coersen, strecking hen ende vreemde avontueren die haer bejegent zijn, seer vlijtich van tijt tot tijt aengeteeckent, ...’. Jurnal ini sepenuhnya berisi catatan hari demi hari t6entang ekspedisi yang dilakukan oleh Cornelis de Houtman yang dimulai pada tanggal 2 April 1595 dengan total 249 orang. Di dalam jurnal ini juga berisi beberapa peta termasuk peta pulau Sumatra dimana dalam peta ini nama Ilhas (pulau) dan Terra (tanah) Daru sudah teridentifikasi. Sebagaimana diketahui, Cornelis de Houtman adalah pimpinan ekspedisi pertama Belanda yang berhasil memasuki nusantara.

Peta lama, Deli, 1753 (peta Perancis)
Dalam Kamus Geografi tahun 1710 daerah penting di Sumatra hanya menyebut Achem, Lamby, Palamban, Pedier, Andragire. Ini berarti Aru tidak dianggap lagi daerah penting. Setelah lebih dari satu abad, pada peta Portugis yang diterbitkan pada tahun 1750, nama Deli sebagai nama suatu tempat baru muncul. Tempat ini disebut oleh orang-orang Portugis dengan nama Dilli (adakah relevansinya dengan Dilli di Pulau Timor?). Bandar Deli ini berada di hulu sungai Deli di pedalaman (sebagaimana Pertibie di pedalaman sungai Baroemoen). Di dekat muara sungai Deli sendiri terdapat satu muara sungai lagi (Sungai Belawan atau Sungai Boeloe Tjina atau sungai Hamparan Perak) yang mana kedua sungai ini airnya masuk ke teluk Belawan. Tampak dalam peta bahwa pulau Belawan sudah ada, tetapi (delta) Pulau Sitjanang belum muncul. Dalam peta Perancis (1752) nama Deli teridentifikasi sebagai nama sungai Songi Delli. Dalam peta Perancis ini Ambara atau Ambuara berada di sebelah utara Deli.  .


Peta baru, Aru dan Deli, 1818 (peta Belanda)
Menurut 'buku' Negarakertagama karangan Mpoe Prapantja (1365), disebutkan tiga tempat utama di pantai timur Sumatra yang ditaklukkan oleh Kerajaan Madjapahit dibawah pimpinan Gadja Mada adalah Panai, Haru dan Sampei. Sementara itu dalam 'buku' Pararaton (1336) salah satu target Ekspedisi Pamalayu adalah Tandjongpura, Haru (bandar Tanjung Pura, Kerajaan Haru di muara sungai Wampu, Langkat). Ini berarti sejauh ini, Deli belum teridentifikasi, yang dikenal justru Sampei. Menurut kamus geografis kuno Portugis (tidak ada tahun) dan kamus geografi Belanda (1862) bandar Sampei ini disebut berlokasi di muara singai Boeloe Tjina (Hamparan Perak atau Belawan). Dengan demikian bandar Sampei mendahului adanya bandar Deli (Dilli atau Delhi). Dalam kamus itu, Ambuara juga disebut Jamboe Ajer, lokasinya tidak jauh dari Pulau Sambilang.

Aru (Aroe) dan Deli (Dilli) dalam peta Portugis 1750
Dalam kamus ini Ambuara juga disebut Aru (apa maksudnya Haru?). Sementara dalam kamus ini tidak ditemukan bandar Panai tetapi secara lengkap dan eksplisit diterangkan adanya bandar Aru yang lokasi di sungai Baroemoen dan persis berseberangan dengan Malacca. Diantara kedua tempat ini di selat Malaka terdapat pulau Aru..Lantas, jika disandingkan dua peta terdahulu (1750, Portugis) dan peta berikutnya (1818, Belanda), Aru dan Deli masih sama-sama eksis. Dalam peta 1750 Deli disebut Terre de Dilli dan Aru disebut Teree de Aroe dan kemudian pada peta tahun 1818 buatan Belanda, Kerajaan Aru disebut sebagai Het Rijk Aroe, sedang Kerajaan Deli disebut Het Rijk Dilli. Jika Portugis dan Belanda menyebut Deli dengan nama Dilli, lalu pertanyaan yang muncul adalah kapan nama Deli atau Delhi pertamakali digunakan? Apakah Dilli penyebutan Deli atau Delhi dalam bahasa Portugis atau Belanda? Atau apakah Dilli bukan Deli?

Peta 1843: Aru dan Dilli hilang dari permukaan
Sejauh peta yang tersedia, nama Deli atau Delhi tidak pernah ditemukan. Dalam peta tahun 1843 buatan Belanda, bahkan nama Deli juga belum ditemukan. Sebaliknya, dalam peta yang sama Rijk Dilli dan Rijk Aroe justru yang hilang dari peta. Yang tetap eksis adalah Rijk Astjien dan Rijk Siak. Hal ini dapat dipahami karena dua kerajaan ini saling bergantian memberi pengaruh di pantai timur Sumatra dan secara internasional Kerajaan Aroe dan Kerajaan Dilli redup di bawah dua kekuatan tersebut (Atjeh dan Siak). Sebagaimana diketahui pada tahun 1824 terjadi perjanjian tukar guling antara Inggris dengan Belanda mengenai Bengkulu (Inggris) dan Malaka (Belanda). Sejak perjanjian itu (yang didahului oleh ekspedisi Anderson tahun 1822 di pantai timur Sumatra, namun wilayah pantai Timur Sumatra yang secara dejure adalah Belanda tetapi secara defacto Belanda absen, sebaliknya secara defacto Inggris masih memiliki pengaruh di pantai Timur Sumatra.

Dimana letak Aru ini menurut laporan orang-orang Inggris sebelum Portugis menguasai Malaka tahun 1511 adalah sebagai berikut: Kerajaan Kedah atau Quedah (Lat.6’10’) di daerah sebelah bawah Siam (Thailand). Di sebelah utara semenanjung Malacca ini yang sejajar dengan Kedah di Pulau Sumatra pada posisi 5’5’. Titik penting di pulau ini adalah Cape Diamond pada posisi 4’50’. Tempat berikutnya adalah Pulo Pera, suatu pelabuhan yang berada di lautanautan (selat Malacca). Lebih jauh di selatan terdapat Pulo Aru (Lat.2’50’), suatu pulau kecil di tengah selat yang mana di sisi lain. Di sisi semenanjung Malcca di sebelah tenggara pulau ini terdapat teluk besar, yang kemudian di arah selatannya terdapat Malacca, ibukota semenanjung pada posisi 2’20’. Kota ini awalnya di bawah supremasi India (sebelum Portugis). Pelabuhan ini sangat ramai, selain India, juga dikunjungi oleh kapl-kapal dari Hindustan, China, Philipina, Persia, Arab dan bahkan Afrika. Orang-orang Arab menyebarkan agama Islam. Pelabuhan Malacca ini dikunjungi adminarl Lopez pada tahun 1508 (lihat C. Pennant, 1800).
Peta 1847: Nama Deli muncul kali pertama untuk selamanya
Nama Deli baru pada peta buatan Belanda tahun 1847 untuk kali pertama muncul dalam peta yang diidentifikasi sebagai Delhi (bukan Dilli lagi). Sementara itu, nama Aru tidak pernah muncul lagi daam peta, tetapi nama Pane dan Bila masih tetap eksis, tetapi letaknya tidak lagi di pantai tetapi berada di hulu sungai Baroemoen dan hulu sungai Bila. Selanjutnya, dalam peta terbitan tahun 1862 (setelah adanya perjanjian Sultan Siak dengan pemerintah kolonial Belanda tahun 1858) nama Deli dipertegas menjadi Deli (dan untuk kali pertama secara eksplisit nama Deli dipetakan (bukan Dilli dan bukan Delhi lagi). Sehubungan dengan pergeseran nama-nama Deli itu, sesungguhnya apa yang terjadi? Apakah ada konspirasi antara Belanda, Siak dan Deli ingin menghilangkan kesan Portugis di pantai timur Sumatra, khususnya di Deli?. Entahlah. Hal lain yang muncul dalam peta tahun 1862 adalah bahwa nama Baloe Tjina muncul ke permukaan bersamaan dengan munculnya nama Deli secara eksplisit. Akan tetapi dalam peta-peta selanjutnya nama Baloe Tjina yang sempat terpetakan pada tahun 1862 lalu hilang dari peta untuk selamanya. Untuk pertanyaan mengapa nama Baloe Tjina hilang dari peta sangat mudah dijawab (lihat artikel sebelumnya). Namun demikian sangat disayangkan hilangnya nama Baloe Tjina dalam peta.

Baru-baru ini ada kesan nama 'Kota Tjina' di tempat kini, dulunya nama Baloe Tjina yang telah diberi nama Kota Tjina oleh Asisten Residen Deli tahun 1879 juga akan mengalami nasib yang sama dengan nama Baloe Tjina.Pertanyaan yang muncul: ada gerangan apa yang terjadi? Sebagaimana diketahui nama Dilli telah berubah menjadi Delli di era Inggris seperti nama Delli yang ditulis oleh Anderson dalam bukunya 1826 yang pernah berkunjung ke Deli tahun 1823. Tampaknya orang-orang Inggris mengikuti Portugis, pergeseran dari Dilli ke Delli hanyalah soal aksen dan mungkin tidak ada kaitannya dengan Delhi di India, tempat dimana gubernur Inggris berada. Bahwa ada yang mengaitkan Delli dengan Delhi adalah masalah lain, tetapi yang jelas di Deli nama Dilli menjadi Delli, sedangkan di pulau Timor Dilli tetaplah Dilli. Ini menunjukkan bawah Dilli, Delli dan Deli adalah soal kontekstual (5W+1H). Hal yang mirip dengan kasus nama Deli ini adalah nama Residentie Tapanoeli (antara preferensi Tapanoeli oleh Inggris dan pereferensi Bataklanden oleh Belanda).
Peta 1862: Nama Baloe Tjina muncul lalu hilang selamanya
Dengan demikian, dapat diulang kembali bahwa tiga tempat yang disebut secara historis adalah Panai (bergeser menjadi Aru di muara sungai Baroemoen/Panai); Haru di muara sungai Wampu; dan Sampei (bergeser menjadi Dilli). Dalam perkembangannya ketiga tempat ini menurut peta yang lebih terbaru buatan Belanda yang terbit tahun 1818 nama yang masih disebut hanya tinggal Dilli dan Aru, dimana Deli berada (pindah ke muara sungai Deli) dan Aru tetap berada di sungai Baroemoen. Nama Ambuaru atau Djamboe Ajer dan Sampei dalam kamus Belanda masih dijelaskan. Djamboe Ajer adalah pelabuhan sedangkan Sampei hanya diderskripsikan sebagai suatu bandar kecil yang berpenduduk lima puluh rumah yang didominasi oleh penduduk Batak. Bandar Sampei semakin menyusut popularitasnya karena semakin terlindung oleg Pulau Sitjanang, sementara Deli baru (Laboehan Deli) semakin popular.
Menurut John Anderson, peneliti Inggris yang berkunjung ke Laboehan Deli dan Boeloe Tjina (Sampei) tahun 1823, rumah Sultan Deli (belum disebut istana) berada di Kampong Alei suatu kampung kecil yang terdiri dari sejumlah rumah (lebih kecil dari Kampung Tangah dan Kampung Besar). Sedangkan menurut laporan Netscher yang pernah ekspedisi ke Laboehan Deli tahun 1863 rumah Sultan Deli berada di Laboehan. Jumlah penduduk Labohan sekitar 200 rumah yang sebagian besar Melayu dan ditambah orang-orang Atjeh, Cina, India berdarah campuran dan Batak.. Besar kemungkinan perpindahan ini (dari Alei ke Laboehan) setelah perang antara Sultan (melayu) dengan Radja (batak) Pulo Barain (Brayan) yang terjadi saat kunjungan Anderson [catatan: pada saat itu, wilayah kekuasaan Sultan hanya sekitar Laboehan dan Pertjoot, selebihnya adalah kampung-kampung penduduk Batak]. .
Laporan Barbosa: Kerajaan Aru, Kerajaan Besar yang Berada di Sungai Baroemoen

Peta-peta buatan Portugis itu (yang menjadi rujukan pembuatan peta-peta selanjutnya) besar kemungkinan didasarkan pada laporan Tome Pires (1512-1515) yang pernah mengunjungi Malacca. Pires mendeskripsikan Sumatra berdasarkan informasi yang dikumpulkan di Malacca, dimana di dalam laporannya Barros ditulisnya saling tertukar antara Barros dengan Bata, Bara dan juga ditulis sebagai Terra de Aeilabu dan Terra de Tuncoll. Semua nama-nama yang tertukar itu berada di daerah teritori penduduk Batak (Baros). Lalu kemudian Daru tertukar dengan Barros atau de Aru (Daru adalah ucapan untuk 'de Aru'). Ini juga mengindikasikan nama-nama itu berada di daerah teritori penduduk Batak. Intinya, beberapa bandar penting yang didaftar Tome Pires adalah Pedir, Aeilabu, Lide, Pirada dan Pacee. Dari tiga pelabuhan penting ini hanya Aeilabu (Aek Labu atau Lobu Toea? nama lain Baros) yang sangat dekat dengan teritori penduduk Batak, Meski disebut nama Aru, tetapi di dalam laporan Pires tidak menonjol.

Nama Aru baru menonjol dalam laporan Barbosa. Ekspedisi Barbosa dilakukan setelah Tome Pires. Barbosa menyebut hanya tujuh bandar penting, yakni: Pedir, Pansem, Achem, Compar (Kampar), Andiagao (Indragiri), Macaboo (Minangkabau) dan Ara (Aru). Barbosa melakukan ekspedisi pada tahun 15??. Barbosa tampaknya mengoreksi hasil identifikasi Tome Pires.


Dalam laporan Barbosa ini secara eksplisit membedakan antara Baros dan Aru. Barbosa menyebut Baros sebagai Pansem yang merupakan nama lain Baros yang disebut Pansur atau Pancur. Sedangkan Aru ditulisnya sebagai Ara. Boleh jadi Ara atau Aru sama saja. Jadi, Aru atau Ara adalah bandar yang terletak di hulu sungai Baroemoen, dimana  muara sungai Baroemoen berseberangan dengan Malacca. Demikian juga dengan nama Ambuara juga ditulis Ambuaru. Nama Ambuaru sangat dekat dengan nama yang disebut dalam buku Negarakertagama yakni Haru. Dua nama lagi yang disebut dalam buku itu adalah Panai dan Sampei. Aru adalah nama lain yang kerap tertukar dengan Panai. Jadi Haru dan Aru adalah dua tempat atau dua bandar penting yang berjauhan di pantai timur Sumatra. Sedangkan Aru dan Panai menunjuk tempat yang sama.

Dalam laporan  Barbosa/Tome Pires, Terra Aru ini dialiri oleh sungai yang sangat besar dan jauh ke pedalaman yang dapat dilayari yang tanahnya sebagian berada di tanah Minangkabao. Terra (tanah) ini sangat banyak menghasilkan emas, beras dan meat (daging), benzoin, kamper, rotan, madu, gaharu, Disebutkan Pires produk-produk mereka dijual melalui Pedir dan Pase (laut) dan melalui Panchur atau Baros (darat). Pires juga menyebut banyak budak yang berasal dari daerah ini diperdagangkan di pantai timur Sumatra. Sebagaimana diketahui hingga kini wilayah Padang Bolak adalah wilayah yang memiliki populasi ternak terbanyak di Sumatra Utara. Kerajaan Aru ini memiliki wilayah pantai antara Deli dan Rokan dimana terdapat tempat-tempat yang dijadikan sebagai pasar budak yakni di Kualu, Bila dan Panai.
Muara sungai Baroemoen: Fresh water estuary
Dalam laporan Tiongkok disebutkan lokasi Kerajaan Aru ini berada di muara sungai air tawar (fresh water estuary). Identifikasi ‘muara air tawar’ atau ‘laut air tawar’ tentu saja tidak sekadar menunjukkan pertemuan antara sungai (air tawar) dengan laut (air asin). Identifikasi itu jelas lebih dari itu. Identifikasi utusan Tiongkok itu haruslah diartikan dalam konteks navigasi atau pelayaran di era itu. Dengan kata lain, muara sungai itu haruslah sangat besar dan unik dimana muara sungai ini sulit dibedakan apakah muara itu laut, danau atau sungai. Sebagaimana diketahui, begitu besarnya muara sungai ini bahkan di tengahnya terdapat pulau besar yang dikenal sebagai Pulau Rantau. Dalam konteks pelayaran, air di muara sungai itu, airnya benar-benar dapat diminum dan tidak memerlukan upaya para awak kapal harus turun ke darat untuk mendapatkan air minum. Muara sungai yang sesuai dengan konteks serupa itu hanyalah cocok dengan sungai Baroemoen. Sebab sungai Baroemoen ini ratusan mil dapat dilayari ke hulu dimana sepertiga dari panjang sungai jelang laut airnya sangat tenang karena permukaan tanah sepanjang sungai ini hanya beberapa meter di atas permukaan laut yang dalam hal ini memungkinkan terjadinya pengendapan partikel-partikel lumpur sehingga airnya jernih (dan dapat diminum). Muara sungai semaccam ini tentu saja tidak sesuai dengan muara sungai Deli dengan pulau Sitjanang dan juga tidak sesuai dengan muara sungai Siak dengan pulau Gontong. Utusan-utusan Tiongkok dalam hal ini melaporkan adanya fresh water estuary tentu bukanlah identifikasi yang tidak berdasar. Oleh karena uniknya muara sungai ini maka mereka mengidentifikasinya sebagai salah satu tanda navigasi yang penting.
Menurut Barbosa/Tome Pires, Kerajaan Aru adalah kerajaan yang sangat besar, melebihi yang lain di Sumatra. Kerajaan Aru ini beribukota di pedalaman di tempat dimana ditemukan banyak sungai (boleh jadi sungai-sungai itu sungai Batang Pane, aek Sirumambe, Aek Sangkilon, aek Batang Onang atau Aek Sihapas). Kerajaan ini sangat kuat tidak bisa dipenetrasi dikelilingi oleh pegunungan dan jaraknya ratusan mil dari laut. Radjanya adalah seorang Moor. Kerajaan ini memiliki banyak (orang) Mandarin yang disisi luar (selat Malaka) kerap melakukan perampokan dan ancaman di selat. Kerajaan Malaka selalu waspada kepada Kerajaan Aru, karena dimasa lalu Kerajaan Aru pernah menyerang Malaka.

Orang Moor adalah orang-orang yang berasal dari sekitar Laut Tengah yang merupakan campuran ras Arab, Eropa dan Afrika yang berpusat di Andalusia (Eropa), Marokko (Afrika). Mereka ini adalah pelaut-pelaut ulung sebelum kedatangan orang Eropa (Portugis/Spanyol). Mereka ini adalah penyebar agama Islam yang dimulai di Pasai/Perlak dan kemudian mereka telah menggantikan orang-orang India (Hindu/Budha) di Baros dan Panai/Aru. Kerajaan Panai/Aru yang telah beragama Islam inilah yang ditaklukkan oleh Madjapahit (Hindu) sebagaimana dalam buku Negarakertagama. Namun dalam laporan Barbosa, Kerajaan Aru tidak tertaklukkan dan tidak bisa dipenetrasi di pedalaman. Meski dipimpin oleh orang-orang India/Moor, Aru dapat disebut sebagai kerajaan Batak, sebagaimana kerajaan-kerajaan di Atjeh banyak yang dipimpin oleh orang-orang Moor.

Aru dan Haru: Dua Nama yang Berbeda

Pulau Sitjanang dan sungai Deli, Belawan dan Wampu
Kerajaan Aru ini berada di sungai Baroemoen. Sementara Kerajaan Haru (Ambuaru) boleh jadi kerajaan yang bergeser ke muara sungai Wampu. Kerajaan Deli muncul kemudian setelah era bandar Haru, Sampei dan Panai. Besar kemungkinan setelah bandar Sampei memudar muncul bandar Deli di hulu sungai Deli (kini Deli Toe).Dalam perkembangannya, Kerajaan Deli mulai tumbuh dan berkembang, namun Kerajaan Aru di Baroemoen mulai redup. Lambat laun hegemoni, Kerajaan Aru memudar dan muncul kekuatan baru di Siak (akumulasi dari Kampar dan Indragiri). Demikian juga, Kerajaan Pedir dan Pase memudar lalu lebih menonjol Kerajaan Atjeh.

Lalu dua kekuatan ini (Siak dan Atjeh) saling bergantian memperebutkan Kerajaan Deli (Deli Toea), hingga pada nantinya di muara sungai Deli muncul Kesultanan Deli (Laboehan Deli). Tidak ada bukti yang logis bahwa Kerajaan Deli atau Kesultanan Deli adalah Kerajaan Aru maupun Kerajaan Haru. Kerajaan Deli dibentuk di lokasi eks bandar orang-orang India di pedalaman sungai Deli. Besar kemungkinan bandar India ini dibangun oleh orang-orang India yang dulunya berada di bandar-bandar India di sekitar hulu sungai Baroemoen (eksodus ke Deli setelah digantikan oleh orang-orang Moor di Baroemoen). Dalam perkembangan lebih lanjut orang-orang Moor ini digantikan oleh penduduk lokal (Batak dan Melayu).

Logika ini lebih masuk akal ketika hampir semua peneliti (asing maupun local) menyimpulkan bahwa Kerajaan Deli dan Kesultanan Deli cikal bakalnya adalah Kerajaan Aru/Haru. Hal yang tidak logis lainnya bahwa Aru dan Haru dipertukarkan untuk menunjukkan hal yang sama. Hal lainnya Aru disamakan dengan Daru, padahal Daru adalah pengucapan yang lebih simpel dari de Aru atau d’Aru. Kesimpulan yang terbaik adalah Aru dan Haru adalah dua tempat yang berbeda dan Aru bukan di Deli tetapi di Baroemoen.

Ini ibarat mencari dimana sesungguhnya Atlantis itu berada? Plato menyebut ada 26 elemen Atlantis, tetapi orang Eropa umumnya menyebutkan Atlantis ini berada di Lautan Atlantis. Ketika peneliti Brazil mencocokkan 26 elemen Plato itu ternyata tidak tepat di Atlantis tetapi lebih tepat di Indonesia. Paralel soal Aru, Tome Pires/Barbosa sudah menyebut 13 elemen Aru, tetapi para peneliti asing maupun lokal menyimpulkan opini ke Deli, padahal peneliti Batak (MO Parlindoengan) menganggap Aru itu lebih tepat berada di Baroemoen (bukan di Deli). Sebagaimana Plato soal Atlantis, dimana letak Aru tidak diketahui Barbosa/Tome Pires persis, mereka hanya mendasarkan informasi yang dikumpulkan di Malaka.

Bukti-bukti bahwa Aru bukan Deli tetapi Aru adalah Baroemoen dapat diperhatikan peta terbitan 1818 dimana Deli di Deli dan Aru di Baroemoen. Untuk membuktikan Aru berada di Baroemoen dapat dicocokkan 13 elemen yang dideskripsikan oleh Tome Pires dan Barbosa. Letak Kerajaan Aru itu menurut mereka berada di pantai timur Sumatra dengan deskripsi yang lengkap yang dapat disarikan menjadi 13 elemen utama, sebagai berikut:
1.      Kerajaan besar yang tidak ada yang melebihinya (pasca Sriwijaya di Jambi/Palembang).
2.     Posisinya sangat sulit dipenetrasi dan dikelilingi oleh pegunungan (karena jauh ke pedalaman, sungainya berliku-liku)
3.    Nama Aru adakalanya ditulis Ara dan dipertukarkan dengan Bata, Bara, Baros (nama-nama di teritori penduduk Batak)
4.    Berseberangan dengan Malaca (muara sungai Baroemoen lebih dekat ke Malaca jika dibandingkan muara sungai Deli).
5.   Kerajaan Malaka selalu waspada kepada Kerajaan Aru, karena dimasa lalu Kerajaan Aru pernah menyerang Malaka.
6.    Memiliki wilayah kekuasaan antara Ambuara dan Rokan (termasuk Deli, karena Kerajaan/Kesultanan Deli baru muncul belakangan)
7.   Beribukota di pedalaman, dapat dilayari, ratusan mil jauhnya (Sungai Baroemoen sangat jauh ke pedalaman, lima hari perjalanan, sedangkan sungai Deli hanya belasan mil)
8.    Pusat kerajaan di sekitar banyak sungai (boleh jadi sungai-sungai itu sungai Batang Pane, aek Sirumambe, Aek Sangkilon, aek Batang Onang atau Aek Sihapas).
9.      Menghasilkan banyak emas dan daging (emas dari Batang Angkola di Angkola dan Batang Gadis di Mandailing serta populasi ternak besar banyak di Padang Bolak; di Deli emas dan daging tidak pernah dilaporkan)
10.  Menghasilkan benzoin, kamper, rotan, madu, gaharu, dan beras (produk-produk alami asal penduduk Batak baik di Baroemoen maupun di Deli).
11.  Produk-produk alamiah dijual melalui Pedir dan Pase dan melalui Panchur atau Baros (melaui laut ke Pedir dan Pase, Deli sendiri belum muncul; melalui darat ke Baros, adalah sulit membayangkan dari Deli ke Baros).
12.  Terdapat pasar budak (keluar/masuk) terutama di Kualu, Bila dan Panai (Bila dan Panai tidak terlalu jauh dari muara sungai Baroemoen).
13.  Perdagangannya, dipimpin oleh orang Moor dan memiliki banyak mandarin yang disisi luar kerap melakukan perampokan dan ancaman di selat (ada kaitan dengan orang-orang Moor yang memimpin kerajaan/kesultanan di Atjeh).

Pohon beringin raksasa di hulu Baroemoen, dekat Pane  1936
Ketiga belas elemen tersebut sepintas banyak kesesuaian dengan Deli, tetapi hampir semua elemen dimiliki oleh Baroemoen. Hal ini juga dengan elemen Atlantis, sebagian cocok dengan Lautan Atlantis, tetapi hampir semua elemen sesuai dengan Indonesia. Namun, elemen kunci yang membedakan pada Atlantis adalah terasering, aluminium dan matahari sepanjang tahun; sedangkan elemen kunci pada Aru adalah penghasil emas dan daging, jarak ratusan mil dan keberadaan dan kedekatannya dengan Baros. Satu elemen tambahan, mungkin sangat vital yakni dari laporan Pinto yang pernah mengunjungi Aru tahun 1539 yang menyebut ibukota Aru berada di sungai Paneciao. Tentu pada masa ini masih sangat jelas, setelah ratusan mil memasuki sungai Baroemoen akan tiba muara sungai Batang Pane, lalu dengan menyusuri sungai Pane ini akan menemukan kompleks candi di Portibi (seperti candi Bahal I, Bahal II dan Bahal III)..

Adanya laporan pedagang Tionghoa (orang luar pertama memasuki pedalaman yang dicatat) ini mengindikasikan bahwa Tanah Batak sangat-sangat aman dan penduduknya sangat beradab. Rute perjalanan Tionghoa ini juga sekaligus mengungkapkan bahwa antara pantai timur dan pantai barat Sumatra (coast to coast) sudah sejak lama terhubung. Suatu rute yang didahului oleh orang-orang India dari Baros ke Aru (dan sebaliknya). Kedekatan hubungan Baros dan Aru ini agak menyulitkan peneliti-peneliti Portugis membedakan secara tegas Baros dan Aru yang di dalam tulisan Pires dan Pinto kerap tertukar (saling menggantikan) antara Baros, Bata dan Aru. Hal itu dapat dimaklumi karena poros perdagangan Baros dan Aru berada di alam teritori penduduk Bat
Pohon itu berumur ratusan tahun, berdiameter 20 orang berdiri
Soal nama Pane juga dilaporkan oleh seorang pedagang Tionghoa tahun 1701 yang mana pedagang ini mondar-mandir berdagang di Angkola dimana terdapat nama kota Pande (laporan ini dirilis oleh Perret, yang mana Pande disebutnya mirip Pane) [Perret, seorang arkeolog, sangat tidak memahami dimana letak Kerajaan Aru dan hubungannya dengan nama Paneciao (laporan Pinto) atau Pande (laporan seorang Tionghoa). Memang laporan Pinto sebagaimana disebut Perret banyak tidak masuk akal, hal ini dapat dimaklumi karena dibenak Perret bahwa Kerajaan Aru ada di Deli, padahal jika Perret membayangkan Kerajaan Aru itu ada di pedalaman Baroemoen sudah selesai perkara. 

Candi Bahal dan kawanan ternak (foto 1923)
Kealfaan lainnya dari Perret adalah kurang menyimak isi laporan Tome Pires, Barbosa dan Pinto dalam suatu konstruksi teritorial. Perret terjebak dalam detail yang rumit (sebagaimana deskripsi Pinto) sehingga lupa memperhatikan gambar besarnya (kombinasi Pires, Barbosa dan Pinto) dalam bentuk peta. Dalam peta 1619 (Portugis) terdapat dua tempat yang berbeda: Ambuaru dan Daru (de Aru atau d'Aru). Sementara, dalam peta 1753 (Perancis) mengidentifikasi Ambuaru dengan Deli (Ambuara berada di sebelah utara Deli). Lalu dalam peta 1818 (Belanda) dibedakan Deli (di utara) dengan Aru (di selatan). Dengan demikian Ambuaru (Haru), Deli dan Aru adalah tiga tempat yang benar-benar berbeda. Sangat tidak masuk akal jika ada peneliti lain yang menganggap Haru, Deli dan Aru adalah tempat yang sama atau tiga nama tempat yang bisa dipertukarkan. Dalam peta 1619, I. Daru atau Ilhas (pulau) Daru diidentifikasi di dalam peta sebagai satu kesatuan terirorial dengan Terra (tanah) Daru. Sebagaimana diketahui pulau Aru terdapat di timur muara sungai Baroemoen dan barat Malaka (Untuk lebih jelasnya, lihat kembali peta-peta 1750, 1752 dan 1862 di atas).
Bukti lainnya bahwa Kerajaan Aru ini adalah kerajaan besar yang pernah unggul dan kerajaan yang sangat maju masih terlihat sisa-sianya ketika Miller seorang botanis Inggris berkunjung ke Angkola pada tahun 1773 (lima puluh tahun lebih awal dari kunjungan Anderson ke Delli). Charles Miller melakukan ekspedisi dari teluk Tapanoeli via Angkola menuju Batang Onang (salah satu bandar di hulu sungai Baroemoen di jantung Kerajaan Aru di Padang Bolak). Laporan-laporan Miller ini menjadi bahan penting bagi William Marsden dalam bukunya The History of Sumatra (edisi 1811). Marsden menggarisbawahi bahwa penduduk Batak ini mampu menciptakan senjata dan membuat mesiu (dari unsur belerang), setiap pria mengendarai kuda dan yang paling mereka (Millier dan Marsden) tidak duga bahwa penduduk pedalaman Angkola ini lebih dari separuh bisa baca tulis (dalam aksara Batak), suatu angka literasi yang tinggi dan tidak pernah ditemukan di semua bangsa-bangsa di Eropa

Apakah Letak Kerajaan Aru dan Ibukota Panaju Masih Misteri?

Deskripsi yang menyebutkan dimana letak Kerajaan Aru dan ibukota Panaju berasal dari laporan Pinto. Untuk merekonstruksi isi laporan itu adalah sebagai berikut: Pinto tiba di Malaca tahun 1539. Dalam peta 1619 ada dua terrra (tanah) yang saling berdekatan yakni Ambuaru (Atjeh) dan de Aru atau d’Aru atau Daru (Kerajaan Batak/Batak Kingdom). Antara Daru dengan Malaca terdapat pulau Aru (ilhas Daru). Tanah Daru (d’Aru) ini mulai dari sungai Rokan (di selatan) hingga  sungai Tamiang (di utara). Ibukota Kerajaan Daru bukan bandar/kota di pantai tetapi kota/bandar di pedalaman (karena pusat kerajaan sesungguhnya berada di pedalaman atau hulu sungai Baroemoen / muara sungai Batang Pane).
Saat Pinto di Malaca datang utusan raja Kerajaan Aru ke Malaca untuk mengajak berkolaborasi untuk menyerang Atjeh. Utusan ini bernama Aquareng Daholay (marga Daulay?) ipar dari Raja Batak (marga Harahap?) menyebutkan banyak tersimpan di gudang-gudang hasil dari tanahnya seperti emas, lada, kamper, gaharu dan benzoin. Daholay sangat demdam ke Atjeh karena telah merenggut tiga anaknya di desa Jacur dan Lingau (Simaloengoen?). Dialek bahasa Batak Simaloengen dan Batak Padang Bolak sangat mirip. Pero de Faria (dan Pinto) diundang ke  Panaju pada hari kelima bulan kedelapan.
Pinto berangkat dari Malaka dan tiba di sebuah pelabuhan selepas pantai wilayah Kerajaan Aru bernama Surotilao (pulau Rantau?) di pertemuan laut di pedalaman dengan sungai yang disebut Hacanduri (sungai Bila?) dan kemudian berlayar sepanjang sungai lima hari hingga tiba di pertemuan sungai Baroemoen dan sungai Batang Pane lalu kemudian berlayar hingga ke Panaju (ibukota kerajaan Batak). Kerajaan ini disebut Pinto memiliki pasukan dengan kekuatan 15.000 orang, yang mana sebanyak 8.000 orang Batak dan selebihnya adalah orang-orang dari Menangkabau, Luzon, Indragiri, Jambi dan Borneo. Pasukan Aru ini juga memiliki 40 gajah dan 12 meriam. Pasukan cadangan ada di dataran tinggi yang disebut Minacalao (Minangkabau?). Selama Pinto berada di Panaju ditemani oleh seorang Moor, dan Pinto sempat melihat ada sebanyak 63 kapal yang tengah bersandar di bandar Panecao. 
Pasukan gajah (lukisan Belanda, 1614)
Kerajaan Batak ini memiliki pasukan gajah dan pasukan cadangan di dataran tinggi Minangkabau. Dua elemen tambahan ini memperkuat posisi Kerajaan Aru berada di Baroemoen (bukan di Deli). Daerah antara Rokan dan Angkola (coast to coast) merupakan habitat gajah, hingga ini hari masih ditemukan populasi gajah di daerah hulu Rokan yang berbatasan dengan Padang Lawas. Tentang pasukan cadangan dari Minangkabau yang berada di dataran tinggi boleh jadi merupakan indikasi hubungan partnership antara Kerajaan Aru di dataran rendah (Padang Lawas) dengan Kerajaan Pagarroejoeng di dataran tinggi. Oleh karena itu, Kerajaan Aru adalah Kerajaan Batak di Baroemoen, dan sangat sulit membayangkan ada asosiasi antara Kerajaan di Deli dengan pasukan gajah dan pasukan cadangan dari Minangkabau.  
Kerajaan Aru Konversi Hindu ke Islam, Kerajaan Aru Kerajaan Islam Pertama di Nusantara

Dimana letak Aru bukanlah suatu misteri, perdebatan muncul karena tidak menyatukan semua keterangan sebelum menyimpulkan.Kerajaan Aru berada di tempat dimana berada komplek percandian (era Chola, 1100). Dalam Pararaton (1336) hanya menyebut dua tempat di pantai timur Sumatra Tandjongpora, Kerjaaan Haru dan Kerajaan Palembang. Namun dalam Negarakertagama (1365) terdapat tiga tempat yang disebut yakni: Panai, Haru dan Kampe. Nama Panai boleh jadi nama lain dari Aru, atau nama bandar Kerajaan Aru di pantai (sebagaimana dua bandar lainnya di sekitar muara sungai Baroemoem: Bila dan Koealoe). Sedangkan Kampe bisa jadi nama Kampai (pulau) atau Sampai (bandar di sungai Boeloe Tjina). Dalam laporan Pinto (1539) disebut Batak Kingdom, Aru dengan ibukota Panaju. Sementara dalam peta 1619 (Portugis) diindetifikasi Ambuaru dan Daru (de Aru atau d'Aru). Pada peta 1753 (Perancis) teridentifikasi Ambuara (di utara) dan Deli (di selatan), sementara dalam peta 1818 (Belanda) teridentifikasi nama Deli (di utara) dan Aru (di selatan). Dengan demikian, letak Aru berada di DAS Baroemoen. 

Oleh karena Kerajaan/Kesultanan Aru ada di Baroemoen, maka hal yang terkait dengan Kerajaan/Kesultanan Aru haruslah dikaitkan dengan Baroemoen sebagai sumber ekonomi, penduduk Batak dan perkembangan social lebih lanjut di wilayah Baroemoen. Bukti arkeologis tertua setelah Baros adalah candi di Angkola (di Simangambat), candi di Padang Lawas dan candi di Mandailing.Memperhatikan sebaran candi di Tapanuli Bagian Selatan maka perkembangan peradaban baru tentu lebih awal terjadi di Tapanuli jika dibandingkan di tempat lain, bahkan di Deli sendiri. Ketika kehidupan Hindu/Budha di Tapanuli Bagian Selatan, di Atjeh berkembang peradaban baru Islam.

Asal usul munculnya Kerajaan Aru bermula ketika Kejayaan Sriwijaya di Sumatra yang telah mencapai puncak kemakmuran, lalu memancing minat Chola di India untuk menyerangnya (1024-1025). Motifnya adalah untuk lebih mengamankan arus perdagangan dari Sumatra dan Java tetap melalui India (ke barat) daripada menuju ke Tiongkok (ke timur). Setelah ekspedisi militer Chola melumpuhkan Sriwijaya, lalu koloni India (chola) muncul di Baroemeon sebagai pusat perdagangan penting seperti kemenyan, emas, benzoin dan lainnya. Bandar-bandar penduduk Batak ini kemudian diokupasi India dan menyatukannya yang lalu kemudian muncul Kerajaan Aru, kerajaan besar yang tidak ada yang melebihinya. Disebut tidak ada yang melebihinya karena sebelumnya hanya Sriwijaya yang disebut kerajaan besar. Kerajaan di pedalaman Sumatra ini lalu kemudian muncul kekuatan baru di Jawa yakni Singosasi dan kemudian muncul Madjapahit. Semakin memudarnya Sriwijaya lalu mulai berkembang kerajaan Melayu di Jambi tahun 1347 (Adtiyawarman, Melayupoera). Dalam kaitan ini Mpu Prapantja mulai menulis Negarakertagama (1365). Sebagian para migrant dari Palembang (yang telah dihancurkan Chola) membuat koloni baru di Malaka. Di Siak (dekat Malaka) kemudian cepat berkembang Melayu dari kepulauan. Pada puncak kejayaannya, Kerajaan Aru/Kesultanan membawahi Siak dan Malaka. Pada fase ini hikayat Laksamana Hang Tuah muncul, sebagai tokoh penting sebelum tokoh lain pada fase berikutnya (yakni Panglima Gajah Mada). Sebagian peneliti menganggap Laksamana Hang Tuah, panglima Siak dan sebagian yang lain panglima Aru. Oleh karena hanya Madjapahit yang bisa menaklukkan Aru, maka besar kemungkinan Hang Tuah adalah elemen Melayu yang menjadi panglima Kerajaan/Kesultanan Aru (Batak Kingdom). Asal mula kemarahan Gajah Mada (dari Majapahit) adalah bermula ketika Laksamana Hang Tuah pernah mengomentari Malaka sebagai Melayu bajingan yang memiliki elemen Jawa dari Madjapahit. Atas dasar itu Gajah Mada bersumpah untuk menaklukkan (kerajaan-kerajaan kecil) seperti dicatat dalam buku Negarakertagama:Gurun, Seram, Tanjung Pura (di Haru), Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang dan Tumasik dan akan menyatukannya. Gajah Mada tidak (dan tentu saja tidak) menyebut Kerajaan (besar) Aru, karena justru motif penaklukan dan penyatuan ini adalah untuk menghancurkan Kerajaan Aru dimana seterunya Laksamana Hang Tuah berada (secara teoritis, hanya panglima dari kerajaan yang lemah yang bersumpah untuk mengumpulkan kekuatan untuk melawan laksamana dari kerajaan yang kuat; sementara Hang Tuah yang mewakili Melayu coba menghina Malaka yang telah tercampur dengan elemen Jawa ingin menunjukkan dirinya sebagai Melayu tulen yang disisi lain membuat Gajah Mada tersinggung). Setelah Kerajaan Aru konversi dari Hindu ke Islama, maka Kesultanan Aru menjalin hubungan dengan timur (Tiongkok), suatu kebalikan munculnya Chola di Baroemoen. Aliansi Kerajaan/Kesultanan Aru kelak teridentifikasi dari laporan Pinto dimana dari 15.000 pasukan Kesultanan Aru, hanya 8.000 orang Batak, selebihnya pasukan dari Menangkabau, Luzon, Indragiri, Jambi dan Borneo (poros Sumatra, Kalimantan, Philipina, Tiongkok).
Mengapa poros Kerajaan Madjapahit: Jawa, Palembang, Semenanjung plus Perlak? Dan poros Kesultanan Aru Barumun: Sumatra, Kalimantan, Philipina dan Tiongkok? Hoptesis MO Parlindungan dalam bukunya Tuanko Rao mungkin jawabnya. Perkembangan Islam Sumatra-Tiongkok menjadi sinyal bagi Majapahit terhadap kelansungan masa depannya. Majapahit dalam ekspedisi Pamalayu di satu sisi ingin menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil dan menyatukannya untuk memperkuat pengaruh Hindu/Djawa, sementara di sisi lain menghancurkan kesultanan-kesultanan Islam/ Benar Pamalayu Expedition untuk menyatukan nusantara dalam konteks Hindu dan melenyapkan Islam dari nusantara. Untuk melancarkan tujuan tersebut dapat dimaklumi mengapa poros Hindu memasukkan Perlak sebagai bagiannya. Sebab, Perlak adalah kesultanan paling lemah dan dengan mengokupasi Perlak maka pengaruh Hindu ingin memisahkan dua pengaruh kesultanan Islam yang kuat, yakni Kesultanan Aru di Barumun dan Kesultanan Samudra/Pasai di Pasai. Inilah inti dari poros Jawa, Palembang dan Semenanjung plus Perlak .
Adanya perdagangan yang intens antara Panai (Hindu/Budha) dengan Atjeh (Islam) menjadi prakondisi pengaruh Hindu/Budha digantikan oleh pengaruh Islam di Baroemoen. Supremasi Atjeh atas Aru maka Kerajaan Aru (Hindu/Budha) digantikan dengan Kesultanan Aru (Islam) pada akhir abad ke 13. Pangeran-pangeran Atjeh yang orang Moor yang kemudian menjadi radja-radja di Kesultanan Aru di Baroemoen. Melalui Kesultanan Aru di Baroemoen semua kerajaan/kesultanan di Riouw menjadi Pan-Atjeh di pantai timur Sumatra. Semasa inilah ada kontak hubungan dengan Tiongkok (melalui delegasi Islam di bawah ekspedisi Sam Po Bo alias Cheng Ho.

Sebaran candi di muara Pane dan hulu Barumun
Setelah adanya hubungan diplomatik Aru/Atjeh yang Islam maka besar kemungkinan munculnya koloni-koloni Tiongkok Sumatra bagian utara, seperti Sampei di muara sungai Belawan (kemudian menjadi Boeloe Tjina), Sing Kwan (menjadi Singkuang) di pantai barat Sumatra dengan Natal di muara sungai Aek Batang Gadis. Ini berarti penduduk Batak sebagian telah beragama Islam sejak awal. Penduduk Kerajaan Aru belum lama mengkonversi agama dari Hindu menjadi Islam sebagaimana dilaporkan oleh Pinto. Ketika ekspedisi Madjapahit, Kesultanan Aru/Panai termasuk yang ditaklukkan dan kekuatannya mulai mengendor, dan kemudian diserang Kesultanan Malaka sebelum Kesultanan Malaka ditaklukkan oleh Portugis. Ketika Portugis menguasai Malaka, maka peneliti-peneliti Portugis mulai berdatangan lalu mereka memetakan dan mendeskripsikan pantai timur Sumatra. Tome Pires dan Barbosa termasuk dalam hal ini.

Binanga: pertemuan sungai Baroemoen dan sungai Pane (candi)
Singkat cerita: Kerajaan Aru/Pani kemerosoyannya diawali oleh penaklukan Madjapahit dan lalu kemudian Malaka, maka lambat laun Kesultanan Aru tamat, demikian juga Haru dan Sampei tamat. Di eks Bandar-bandar India di Deli, Kesultanan Atjeh membentuk Kerajaan Deli untuk menghubungkan penduduk Batak yang menghasilkan produk-produk alamiah seperti kamper, benzoin, lada dan lainnya. Ketika Kerajaan Batak di Deli (Deli Toe) ini menguat, lagi Portugis datang menyerangnya (cerita Puteri Hijau muncul di sini). Dalam perkembangan lebih lanjut, Kerajaan/Kesultanan Atjeh membentuk kesultanan Melayu di muara sungai Deli. Meski di Deli pimpinannnya Melayu namun keberadaan penduduk Batak tetap yang utama sebagai penghasil produk-produk alamiah. Tahap selanjutnya, ketika Kesultanan Siak berkembang kembali, lalu Kesultanan Deli bergantian dibawah supremasi Siak dan Atjeh hingga kedatangan Belanda tahun 1863. 
Belanda membentuk pemerintahan di Deli pada tahun 1863. Dengan didahului Residen Netscher berkunjung ke Deli dan melakukan negosiasi dengan dua kepala suku Batak, lalu dengan keputusan No. 8 tanggal 21 Februari 1863 disetujui untuk menempatkan seorang controleur di Deli. Surat keputusan ini juga menyebutkan untuk penempatan controleur di Siak, Laboehan Batoe (Panei), dan Batoebara. Tempat-tempat ini masuk afdeeling Siak.
Sejak Belanda melakukan koloni di Deli, keberadaan penduduk Batak tidak dianggap penting lagi (dan malah mulai disingkirkan) dan lebih penting dengan mendatangkan kuli dari Cina, Kling, Siam, dan Djawa dalam dunia baru ekonomi tembakau.

Perbedaan Melayu dan Batak dalam pembentukan struktur pemerintahan, social kemasyarakat yang baru adalah peranan Atjeh yang sangat masif dalam Melayu, sementara Batak hanya dipengaruhi oleh India dan Islam (orang-orang Moor), Batak masih bertalian dengan India, tetapi Melayu (di Deli) tidak terkait dengan India, justru Deli lebih dekat dengan Tiongkok daripada India meski nama Deli diduga berasal dari India. Bukti arkeologis, besar kemungkinan mendukung hipotesis tersebut, dimana keberadaan candi/biaro di Baroemoen dan budaya keramik/gerabah di ‘Baloe Tjina’. Istilah 'baloe' kemudian bergeser menjadi 'boeloe' sehingga Baloe Tjina menjadi Boeloe Tjina. Istilah baloe sendiri pertamakali muncul dalam laporan Pinto, 1539 yang artinya kapal kayu, lantas pada era itu apakah ada kaitan bandar Sampei di sungai Boeloe Tjina lokasinya bermula di suatu tempat yang dikenal sebagai 'Kota Tjina'?.Nama Kota Tjina diberikan oleh Asisten Residen Deli, Halewijn tahun 1875.
Kedekatan India dengan munculnya Kerajaan Aru di Baroemoen, selain candi/biaro Hindu adalah nama-nama tempat seperti Pane, Siunggam. Pjarkoling, Angkola. Satu lagi adalah ditemukannya sebuah pohon beringin raksasa yang berumur ratusan tahun di dekat Pane di Siboehoean, sebuah pohon beringin terbsar di Nusantara, sebagaimana juga ditemukan pohon raksasa sejenis di Kolkata, India. 
Kronologisnya menjadi: Kerajaan Aru di sungai Batang Pane kemudian bergeser ke sungai Baroemoen. Dari ibukota baru ini dijembatani oleh bandar Pinang di tengah, dan tiga bandar di muara sungai Baromoen dan pantai yakni Kualu, Pane dan Bila (tiga bandar ini sudah disebut Pinto adanya pada tahun 1539). Kelak di empat bandar Aru ini muncul kesultanan-kesultanan, yaitu: Kesultanan Kualo (di Tandjong Pasir), Kesultanan Pane (di Laboehan Bilik), dan Kesultanan Bila (di Negeri Lama) dan Kesultanan Pinang (di Kota Pinang). Setelah kemerdekaan, keempat kesultanan ini mnjadi Kabupaten Labuhan Batu dan pada tahun 2008 dibentuk Kabupaten Labuhan Batu Selatan dengan ibukota Kota Pinang. Sebagai kilas balik, pada saat kunjungan Anderson tahun 1822 hanya dideskripsi tiga bandar Batak di dekat pantai, sebagai berikut:

Istana Kota Pinang di sungai Baroemoen (foto 1830an)
Bandar Kwalooh berada di sungai Kwalooh. Di sekitar sungai Kwalooh ini dihuni oleh orang Batak sekitar 1.200 jiwa yang dikepalai oleh Radja Muda Ulabalang. Kota Kwalooh berjarak dua hari dari pantai. Ekspor terutama rotan, kemenyan, tikar dan lainnya sedangkan impor adalah kain putih, kain biru, opium dan lainnya. Bandar Beelah berada di sungai Beelah. Di sekitar sungai Beelah ini dihuni oleh orang Batak sekitar 1.300 jiwa yang dikepalai oleh Sultan Bedir Alum yang terdiri dari beberapa kampung. Ekspor terutama rotan, kemenyan, benzoin, tikar, emas dan lainnya.Bandar Panei merupakan kampung pertama di muara sungai besar dan terdapat beberapa kampung. Ada pulau kecil namanya Pulo Rantau di tengah sungai besar. Penduduk terutama Batak dan terdapat sekitar 1.000 jiwa Melayu. Orang Batak berasal dari dua tempat: Tambuse dan Padang Bolak.Ekspor terdiri dari kememyan, benzoin, tikar, gaharu dan beras. Untuk mendapatkan gambaran lebih lanjut situasi dan kondisi Kota Pinang dan kampung-kamnpung di DAS Batang Pane dan DAS Baroemoen sekitar 1837-1845 dapat dilihat pada artikel: Bag-1: Sejarah PADANG LAWAS: ‘Ekspansi Militer dan Eksplorasi Sipil di Era Hindia Belanda’


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber tempo doeloe (utamanya peta-peta kuno dan sumber-sumber berbahasa Belanda). Sumber pendukung, antara lain:
+Dictionarium Geographicum Universialis Oftc Algeneeb Worddenboek Des gautfchcn Aardryks (1710)
+The Suma oriental of Tome Pires, Asian Educational Services (1990).
+The Travels of Mendes Pinto. Fernão Mendes Pinto. University of Chicago Press, 2013 
+Daniel Perret, “Pemeriksaan atas Seorang Pedagang Cina mengenai Orang Batak yang berada di Sumatera Utara, 1 Maret 1701”. Dalam: Harta Karun. Khazanah Sejarah Indonesia dan Asia-Eropa dari Arsip VOC di Jakarta, dokumen 9. Jakarta: Arsip Nasional Republik Indonesia
 
Lihat juga:

Sejarah Kota Medan (9): Jacob Nienhuys, Datang ke Deli Setelah Mendengar Penduduk Batak Membudidayakan Tembakau

1 komentar:

picala bata mengatakan...

Kerajaan sriwijaya ada sebelum kerajaan aru, kerajaan sriwijaya sampai saat ini memiliki silsilah nama2 raja2 yg pernah berkuasa, sedangkan kerajaan aru yang lebih muda tidak punya sama sekali.
Itu yang jadi pertanyaan besar, peradapan tinggi, penghasil komoditi yang di cari di dunia, ternak yang memadai, bahkan yang paling penting lebih dari setengah masyarakatnya bisa baca tulis tapi tidak meninggalkan satu namapun yang pernah berkuasa pada kerajaan aru...?

Kesimpulan sederhana saya kerajaan aru bukan kerajaan. Karena para petualang pasti menulis/menyebut satu kerajaan itu lengkap dengan nama rajanya yang berkuasa sebagai laporannya.

Tapi sejak tom pires & barbarosa sampai yang lainnya tidak pernah menyebut satu namapun...?