20/05/16

Nama Danau Toba Sudah Disebut oleh Orang Batak Angkola Sejak dari Doeloe: Junghuhn yang Berasal dari Jerman Hanya Sekadar Mencatat



Ada seorang kawan bertanya, apakah nama danau Toba diperkenalkan oleh orang-orang Jerman? Saya jawab: Bukan orang Jerman yang menamai danau Toba tetapi penduduk Angkola. Kawan saya kaget, tetapi kelihatannya dia senang. Lantas kawan saya itu menguji saya: ‘Bagaimana membuktikannya?’ Lantas saya jawab enteng: ‘Ah, kau ini. Soal itu saya sangat paham. Dja Pangkat dari kampung Saroematinggi di Angkola yang bicara, Junghuhn (orang Jerman) yang mencatatnya (1842). Lalu kemudian, Ida Pheiffer (1852) mencatat kembali nama danau Toba. Dja Pangkat adalah pemandu ulung: Dja Pangkat adalah pemandu Franz Wilhelm Junghuhn dan Dja Pangkat adalah juga pemandu Ida Pheiffer dalam ekspedisi di Tanah Batak. [catatan: saya telah menulis tentang kedua orang ini].

Danau besar itu tidak akan mungkin orang Toba menyebutnya dengan danau Toba. Danau ini sangat besar. Orang Toba tahu betul bahwa danau itu juga bagian dari perairan ulayat dari orang Samosir, orang Simalungun dan sebagainya. Dengan kata lain: mungkin danau besar itu mereka tidak tahu menyebutnya secara keseluruhan dengan nama apa. Jadi boleh saja menyebutnnya dengan danau Silalahi (karena dekat Silalahi), danau Moeara (karena dekat Moeara), danau Balige (karena dekat Balige) dan danau Bakara (karena dekat Bakkara). Akan tetapi, faktanya (yang akan dijelaskan kemudian) bahwa orang Angkola menyebutnya dengan nama danau Toba.

Peta 1830: Danau besar belum teridentifikasi
Ini ibarat selat antara pulau besar dengan semenanjung. Tak ada gunanya bagi oang Deli menyebutnya dengan nama selat Malaka. Demikian juga dengan orang Serdang, Asahan, Tamiang, Rokan dan sebagainya. Bahkan bagi orang Penang, Singapore dan Malaka tidak memiliki kepentingan untuk menyebutnya dengan nama apa. Akan tetapi faktanya bahwa selat itu dinamai dan dicatat sebagai selat Malaka. Orang Malaka sendiri boleh jadi tidak tahu bahwa selat itu telah dinamai orang lain dengan nama selat Malaka (nama yang melekat pada diri mereka).

Dari sudut pandang orang Angkola, danau besar itu bersentuhan dengan orang Toba. Orang Silindung juga tahu bahwa danau besar itu bersentuhan dengan orang Toba. Nah, apakah orang Angkola dan orang Silindung sama-sama menyebut nama danau besar itu dengan nama danau Toba, itu adalah hal lain. Yang jelas bahwa orang Angkola yang memperkenalkan kepada orang asing nama danau Toba. Orang-orang asing pertama (dalam hal ini orang Eropa) yang memasuki Tanah Batak selalu dimulai dari Angkola.

Andaliman di Angkola (Miller, 1772)
Charles Miller (1772) melakukan ekspedisi kulit manis ke Tanah Batak dilakukan di Angkola. Laporan Miller ini didayagunakan oleh William Marsden dalam bukunya The History of Sumatra (terbitan tahun 1811). Miller di Angkola disambut dengan baik (horja). Jika ditambahkan ke dalam hal ini, catatan terawal tentang Angkola dapat ditemukan dalam laporan Kastil Batavia tahun 1701 dimana orang(-orang) Tionghoa berlalu lalang di Angkola untuk berdagang. Pedagang Tionghoa yang melaporkan kehadirannya selama 10 tahun di Angkola kepada yang berwenang di Batavia bahkan telah menikahi seorang gadis  Angkola dan mereka dikaruniai seorang putri sebelum mereka pindah ke Batavia tahun 1701 (lihat terjemahan Perret dkk). Gambaran ini mengindikasikan bahwa Angkola sudah terbuka sejak lama: aman dan terkendali. Untuk sekadar menambahkan bahkan Angkola sudah terbuka sejak abad ke-8 (bukti candi di Simangambat, Angkola dan percandian di Padang Lawas sejak abad ke-11), ketika orang-orang Panai (Ceilon) dan orang-orang Ankola (India) datang berniaga untuk mendekatkan diri ke TKP di daerah pedalaman Tanah Batak (dimana sudah sejak doeloe penduduk di Tanah Batak mengusahakan komoditi emas, kamper, benzoin, kemenyan dan kulit manis yang dianggap sebagai produk komersil dunia). Mereka inilah orang-orang yang membuat koloni pertama di Tanah Batak, baru kemudian menyusul Belanda).

Pemerintahan kolonial di Sumatra Utara pertama kali dibentuk di Mandailing dan Angkola tahun 1841 yang kemudian disebut afdeeling Mandheling en Ankola. Nama afdeeling ini sudah ada sejak lama (Residentie Tapanoeli dibentuk tahun 1841). Afdeeling Mandheling en Ankola paling tidak sudah disebut tahun 1833 ketika militer Belanda memasuki wilayah Tanah Batak tahun 1833 di Mandailing dan Ankola dari pelabuhan Natal dan Rao (era pemerintahan militer).

Di era pemerintahan sipil (Residentie Tapanoeli), Asisten Residen pertama afdeeling Mandheling en Ankola (baca: Mandailing dan Ankola) adalah TJ Willer (1841-1845). TJ Willer memiliki keahlian di bidang geografi sosial. Pada saat Willer menjabat asisten residen di Panjaboengan, di (onderafdeeling) Angkola ditempatkan seorang controleur bernama WF Godin (benteng militer terdapat di Pitjar Kelling, 1837 (kini Pijor Koling ketika terjadi perang Pertibie). Benteng ini kemudian direduksi dan dibangun garnisun militer (1841) di area yang kemudian disebut Padang Sidempuan. Pada tahun 1839 sudah diberitakan di Batavia akan ditempatkan seorang controleur di Angkola yang berkedudukan di Pitjat Kelling.

Pada fase awal pemerintahan sipil inilah afdeeling Mandheling en Ankola dikonsolidasikan untuk pembangunan sosial dan pembangunan pertanian: introduksi koffie cultuur. Suatu kesepakatan antara wakil pemerintahan sipil Belanda dengan para pemimpin penduduk local (Mandailing, Ankola, Sipirok dan Padang Lawas). Program pembangunan pertanian ini semakin efektif (lebih manusiawi) dan lebih terpetakan dengan baik ketika Residen Tapanoeli dijabat oleh Alexander van der Hart (sejak 1845). Hart adalah seorang militer yang humanis (berpangkat luit.colonel), seorang pahlawan Belanda dalam perang Bondjol (kala itu masih berpangkat kapten).

Di Batavia, Gubernur Jenderal Pieter Merkus langsung merekrut seorang geolog yang berpengalaman di Jawa bernama Franz Wilhelm Junghuhn. Dia adalah seorang Jerman, seorang dokter dan juga seorang ahli geologi (dan juga seorang Botanis). Keahlian botani ini diperlukan karena terdapat keragaman sumber daya hayati Tanah Batak (yang mungkin mengacu pada laporan Charles Miller, seorang Inggris ahli Botani yang dikirim untuk memasuki Tanah Batak di Angkola pada tahun 1772). Jalur ekspedisi Miller inilah yang diikuti oleh Junghuhn (dari Pulau Poncang di teluk Tapanoeli, Loemoet, Sipisang di Batang Toru, Sigumuru, Hutarimbaru, Simasom hingga Batang Onang di Padang Bolak). Nama Padang Lawas awalnya adalah Padang Bolak (hingga perang Pertibie, 1838). Nama Padang Sidempuan belum muncul ke permukaan (boleh jadi karena masih sebuah kampong yang sangat kecil).

Ketika WF Godin memulai kerja di Angkola untuk membantu Willer, ahli geologi Junghuhn datang bersama Rosenberg datang dari teluk dengan sujumlah pemandu. Rosenberg adalah seorang pelukis berbakat yang sekaligus menjadi asisten Junghuhn (Lukisan pertama Rosenberg tahun 1840 tentang aek Batang Toru, dolok Lubuk Raya dan rambin adalah potret terawal tentang Angkola). Junghuhn dan Godin lalu bertemu di Angkola.

Sungai Batang Toru dan Gunung Lubuk Raya, 1840
Pieter Merkus sangat mempercayai Junghuhn. Taruhan memasuki Tanah Batak akan sangat mahal. Tidak mudah bagi orang Batak menerima orang asing (kata lain lebih selektif). Tingkat penerimaan penduduk lokal menjadi ukuran. Willer, Godin dan Junghuhn (demikian juga nanti Hart, Godon, Hammer dan van der Tuuk) cukup disukai para pemimpin di Tanah Batak (tidak semua pejabat Belanda diterima pemimpin Angkola dan Mandailing, bahkan ada yang hanya tugasnya hanya berumur tiga bulan, karena ditolak). Gubernur Jenderal di Batavia selalu mempertimbangkan saran colonel Michiel di Padang untuk mengirim orang dari Batavia ke Tanah Batak. Hal ini supaya tidak terulang lagi dalam kasus kerusuhan koffiestelsel dimana Edward Doewes Dekker yang mengadvokasi penduduk Mandailing en Ankola (1843). Edward kelak dikenal sebagai Mr. Multatuli yang pada tahun 1843 menjabat sebagai controleur di Natal.

Peta 1843: Danau besar sudah teridentifikasi, belum ada nama
Setiap kerusuhan mahal biayanya, seperti Perang Bondjol, Perang Pertibie (kelak Perang Toba). Pemerintah colonial ingin meminimalkan cost dan memaksimumkan revenue atau pendapatan. Esensi kolonialisme adalah keuntungan. Dalam konteks inilah Willer, Godin dan Junghuhn bekerja di Tanah Batak di Angkola dan Mandailing. Setelah Junghuhn di Angkola, pemerintahan akan di perluas ke Pertibie. Oleh karena tugas Junghuhn sudah relatif selesai dalam hal pemetaan geologi dan botani di Angkola dan Mandailing, tugas Junghuhn di Pertibie digandakan: Tidak hanya dalam mapping fakta-fakta alam (geologi dan botani) tetapi juga menjadi acting controleur di Pertibie untuk membantu TJ Willer (1841-1842). Sementara Zelner sudah ditempatkan di hulu Bila (kini Sipangimbar). Inilah cakupan pemerintahan sipil pertama di Tapanoeli (juga menjadi yang pertama di Noord Sumatra = Tapanoeli plus Sumatra’s Oostkust).

Salah satu penemuan Junghuhn di Angkola adalah tusam. Junghuhn menemukan tanaman ini di Angkola Dolok (Sipirok) dan sifat botaninya berbeda dengan pinus di tempat lain. Franz Wilhelm Junghuhn kemudian mempersembahkan nama tanaman ini kepada Pieter Merkus dengan diberi nama lengkap Pinus Merkusii Jungh. et de Vriese (Paduan orang yang memberi kerja dan orang yang bekerja).

Peta 1847: Nama danau sudah disebut sebagai danau Toba
Selanjutnya, tugas Junghuhn akan diperluas ke Silindoeng en Toba. Namun untuk memasuki daerah Silindoeng en Toba tidak mudah karena informasi yang minim tentang kedua daerah ini bagi orang-orang Eropa. Tetapi tidak untuk orang-orang Angkola. Disamping itu, di daerah Silindoeng dan khususnya Toba dikabarkan masih kerap terjadi perang antar huta (dan bahkan antar marga). Juga masih adanya kekhawatiran orang-orang Eropa terhadap penduduk Silindoeng yang bersumber dari berita (yang mungkin masih simpang siur) terhadap adanya kasus ‘pembunuhan’ pendeta Burton yang datang dari Sibolga/Barus. Akan tetapi pemetaan di Silindoeng en Toba harus dilakukan oleh kebijakan di Batavia (mungkin berdasarkan proyeksi temuan Junghuhn di Angkola dan Pertibie).

Untuk menuju daerah Silindoeng en Toba, Junghuhn membutuhkan pemandu-pemandu terbaik diantara begitu banyak pemandunya yang trsebar di Angkola, Mandailing dan Pertibie. Salah satu pemandu terbaik itu adalah (Mangara)Dja Pangkat, seorang kepala kampong di Angkola (Djae) di Saroematinggi. Dja Pangkat tidak hanya cerdas, kuat tetapi juga sudah mulai mahir berbahasa Belanda. Saroematinggi adalah salah satu pos militer Belanda terawal di Angkola yang didirikan tahun 1835 (bersamaan dengan pos militer di Tobing dekat Sigumuru di lereng dolok Lubuk Radja (nama ini kemudian bergeser menjadi Lubuk Raya). Keutamaan lain dari Dja Pangkat yang sangat dibutuhkan oleh Junghuhn adalah karena Dja Pangkat sudah kerap ke Silindoeng. Pada masa itu dan mungkin sudah sejak lama, selain karena bahasa dan adat yang kurang lebih sama antara satu tempat dengan tempat lain di Angkola (Mandailing/Padang Bolak) sudah terhubung dengan Silindoeng (Toba). Bagi orang Angkola tidak ada masalah ke Silindoeng, kriterianya bagi Junghuhn siapa yang kerap ke sana. Namun bagi orang Eropa (dalam hal ini Junghuhn, Jerman) masih ada masalah (kurang informasi). Tentang sosok Dja Pangkat ini diketahui dari tulisan Hamehs yang pernah tinggal lama di Saroematinggi yang dimuat pada surat kabar Sumatra-courant, edisi 17 Maret 1881.

Melakukan interpretasi (relasi) dan menyimpulkan (konstruksi) seharusnya memahami konteks (sistem variabel) yang didukung oleh data: selengkap mungkin, seakurat mungkin dan seorisinil mungkin. Kini (di era IT) semua fakta dalam bentuk data digital sudah tersedia, didukung dengan oleh mesin pencari yang tercanggih dan alat-alat analisis (statistic) terbaru serta mesin translate terupdate, sesuatu yang sulit dilakukan pada masa lampau dengan mudah dilakukan pada masa ini baik untuk mendapatkan angka statistik, verbatim, peta atau bentuk-bentuk lain seperti suara. Dengan bantuan alat-alat teknologi IT mutakhir (dan kemauan dari banyak library mulai dari Portugal hingga Jerman yang telah rela memformat hardcopy menjadi soft copy/digital) kita seketika dapat menyarikan data-data selengkap mungkin dengan tingkat akurasi yang tinggi. Karena itu saya terbantu, saya telah menulis ratusan artikel tidak perlu secara fisik berkunjung ke perpustakaan lagi dan bahkan dapat dilakukan sesingkat-singkatnya dan hasilnya dapat dipublish seketika (diupload di dunia maya). Semua artikel di dalam blog ini hanya ditulis sambil menonton bola atau tengah mendengar musik saat senggang di pinggir kolam. Meski begitu adanya tingkat akurasi dan presisi tetap harus dijaga.

Dengan mengutubnya semua stakeholder academic masa kini (libarary, IT, methodology) maka dunia akademik kita semakin terbantu dalam kecepatan dan akurasi dalam membuktikan hipotesis (relasi variable) dan menyusun kontruksi topic atau tema yang sedang diperhatikan. Kita sudah seharusnya berpikir ke masa depan (kejujuran dan ketelitian ilmiah) dan sebaliknya mesin-mesin akademik (IT, tools of Metodology) dalam riset dan penulisan juga mampu merecall memory (kontribusi librarian) ke masa lampau secara lengkap, akurat dan historical (time series). Dengan begitu kita akan terhindar seperti anekdot lama yang mengisahkan tentang semua orang buta ingin mempersepsikan seekor gajah gede. Satu sama lain dari mereka hanya menyimpulkan gajah itu berupa ekor, kaki, belalai dan lainnya tanpa pernah ke sebuah kontruksi utuh tentang gajah yang sebenarnya. Pemahaman konteks  dalam hal ini (yang bersifat holistic) sangat diperlukan untuk mendukung pemahaman (understanding) secara utuh (bukan parsial). Kompetensi dalam diri seseorang akademik tidak lagi perlu membuat dikotonomi kualitatif dan kuantitatif tetapi justru harus dilihat keduanya sebagai yang bersifat reversible. Namun demikian, meski dunia sudah berubah, didunia internet masih banyak para pembual (mindistorsi masalah, bukan untuk menemukan solusi terhadap permasalahan).

Lubuk Raya dan sekitar 1843-1847 (Peta diterbitkan 1852)
Hamehs menulis artikel itu karena telah banyak membaca diskusi-diskusi di koran-koran Belanda yang keliru dan kurang lengkap menyajikan peristiwa-peristiwa kunjungan Ida Pheiffer ke Tanah Batak tahun 1852. Hamehs sangat yakin bahwa orang pertama yang melihat danau besar di Toba adalah Ida Pheiffer. Tentu saja tulisan Hamehs ini diharapkan sangat sahih dan jujur (meski Ida sudah meninggal tahun 1858 dan Junghuhn 1864). AJF. Hamehs adalah seorang pendeta misionaris yang bekerja di Saroematinggi di Angkola sekitar tahun 1852. Untuk menguji kebenaran tulisan Hamehs ini dapat disandingkan dengan tulisan Ida Pheiffer sendiri yang ditulisnya pada tanggal 12 Oktober 1852 dan telah dimuat pada Algemeen Handelsblad, 09-05-1853. Kedua tulisan di koran itu menjadi saling melengkapi. Namun demikian, berita-berita surat kabar di sekitar 1852-1853 masih dapat digunakan (tentu saja yang bersumber dari Ida Pheiffer atau pemerintah lokal sendiri).

Akan tetapi untuk menamai pulau di tengah danau besar itu urusan penduduk Tanah Batak dan namanya disebut pulau Samosir (tetapi juga tidak masalah dengan nama pulau Toba). Lantas mengapa pulau besar di tengah danau besar disebut pulau Samosir, karena penduduknya disebut orang Samosir. Lalu kemudian, mengapa danau besar itu disebut dengan nama danau Toba? Jawabnya: orang Toba tidak bisa mengklaim nama danau menjadi danau Toba, tetapi penduduk Batak di selatan (Silindoeng, Angkola, Padang Lawas dan Mandailing) memerlukan nama danau besar itu. Orang di empat daerah adat ini tentu saja memerlukan nama yang sama: yang dinamai dengan danau Toba. Akan tetap mengapa harus bernama danau Toba? Karena penduduk di empat daerah ini melihat danau besar ini berada di sisi daerah Toba. Oleh karena itu, nama danau besar itu adalah danau Toba (paling tidak dari sudut pandang orang-orang Batak di empat daerah itu). Ini semaccam konsensus yang pada akhirnya tetapi entah siapa dan darimana penamaan danau besar itu namanya menjadi danau Toba. Nama inilah yang dicatat oleh Dr. Franz Wilhelm Junghuhn sebagaimana semua nama-nama geografis yang dicatatnya (tanpa terkecuali). Nama ini pula yang beredar di dunia akademik (termasuk di Batavia).

Leydse courant, 14-02-1853
Leydse courant, 14-02-1853: ‘De Amsterdam Courant melaporkan bahwa petualang terkenal Ida Pfeiffer dalam ekspedisinya yang terakhir di bagian dari Hindia Belanda, telah melanjutkan dengan berani dan telah dicapai perjalanannya melalui bagian dari Borneo pada bulan Agustus telah terbukti ekspedisi jauh lebih berani dalam negara Batta di noorden Sumatra yang penduduknya dituduh sebagai kanibal rencananya untuk penemuan secara pasti danau besar yang disebut danau Toba yang dianggap (diperkirakan) oleh orang Eropa ada di daerah tersebut.

Dalam surat kabar ini sudah disebut nama danau besar sebagai danau Toba yang akan dibuktikan oleh Ida Pheiffer. Keterangan sejauh ini seakan baru ditemukan oleh Ida Pheiffer sebagai yang pertama. Lantas apakah Junghuhn sudah pernah ke danau besar tersebut? Itu juga masih diperdebatkan. Boleh jadi keduanya hanya sampai di Silindoeng atau daerah Toba tetapi belum sampai melihat danau besar itu?

Peta 1852: Nama danau Toba sudah disebut
Algemeen Handelsblad, 09-05-1853 (tulisan Ida Pheiffer): ‘…Menurut pernyataan dari pemandu saya, saya dilarang 15 sampai 20 pos ke arah danau. Apakah mereka bersedia menamani saya melihatnya sendiri dari perbukitan? Tapi tidak ada yang mau menemani saya. Orang-orang yang tinggal di sekitar danau tengah terjadi perselisihan dan bahwa ekspedisi saya kesana akan berbahaya. Saya sekarang sudah sekitar selusin perjalanan dan hingga sampai ke negara Batak, sejauh ini berhasil seorang Eropa. Yang jelas memang satu hal saya tidak ada salahnya, saya hanya harus berterimakasih itikad baik saya dan keluarga saya. De Batakers mencintaiku, lebih dari duniawi, seperti Dayakker. Bahwa saya yakin saya tidak akan berkelana tanpa bantuan mereka atau perlindungan mereka untuk usaha saya.

Namun bukan itu (melihat atau tidak) yang menjadi inti persoalan, tetapi apakah nama danau besar itu bernama danau Toba? Dalam tulisan Hamehs nama danau besar itu disebutnya danau Toba. Hamehs juga menyebut bahwa Junghuhn sudah beberapa kali ke danau Toba yang dipandu oleh Dja Pangkat. Bukti lain bahwa nama danau Toba sudah disebut dapat dicek pada Peta Residentie Tapanoeli terbitan tahun 1852, sebagaimana disebut di dalam tulisan Ida Pheiffer bahwa dia membeli peta itu di Batavia. Peta inilah yang menjadi pedomannya untuk melakukan ekspedisi ke Tanah Batak. Dalam peta tersebut jelas-jelas disebut nama danau Toba (meer van Toba).

Sumatra-courant, 17-03-1881 (tulisan Hamehs): ‘…Keesokan paginya dia memberitahu saya keinginannya untuk sesegera mungkin perjalanan ke Toba dan meminta saya bahwa dia akan perlu pemandu. Saya mencari pemandu yang dapat dipercaya, sebab ini adalah perjalanan yang banyak bahaya…. Saya telah berhasil mendapatkan pemandu yang baik untuk mendampinginya. Namanya Dja Pangkat, seorang kepala kampong dari Soeroemantinggi yang akan melakukan tugas berdiri di depannya. Dia terkenal, berteman dengan sejumlah kepala kampong di Silindoengsche, memiliki pengalaman mendampingi Dr Junghühn, mengunjungi beberapa kali ke danau Toba… aku melihat tiba-tiba lda Pfeiffer berpacu dan sampai di halaman; dia tampak pucat dan lelah, rok coklat rok dan sal penuh dengan lumpur dan robek. Aku membantunya untuk turun dari kuda; dia ingin sekaligus untuk tidur, karena dia sakit parah dan lelah…. Dia telah membandingkan dengan laporan Dr Juughuhn, dan dia memuji negara ini memiliki kesuburan dan kekayaan bangsa; namun di desa-desa yang dia dimana-mana orang dengan tombak dan pedang orang bersenjata, namun mereka tampak tidak apa-apa tapi tetap waspada… Ida Pfeiffer tinggal di rumah-rumah para pemimpin, pernah dia berjalan dikerumuni pria dan wanita, dan dia tidak bisa mengambil langkah oleh karena banyak orang yang penasaran. Ida Pfeiffer menjadi kehilangan kebebasan bergerak karena rasa ingin tahu atas kedatangannya. Bahkan di Aek Taoe (wilayah  danau Toba) juga ada sejumlah orang dalam suatu hari perjalanannya dari Silindoeng ke Toba kerumunan bersikeras untuk melihat. seperti pada kakinya. Ida Pfeiffer tiba-tiba berbalik, merasa ada teror atau ketakutan lalu melarikan diri. Apa itu yang ia tahu? Ia berlari dan bahkan dalam satu hari ia pergi melalui tiga puluh tiang dalam satu nafas. Para kepala Silindoeng, hanya melihat kembali, tidak mengerti mengapa dia buru-buru pulang. Ida bilang dia sebenarnya mendapat banyak sambutan apalagi mereka menghargai wanita kulit putih. Ketika berkunjung, itu semua mereka terima dengan hormat, memberikan nasi, ayam, kadang-kadang daging sapi sebagai hadiah yang ditawarkan dimana-mana, tentu bahwa suasana damai. Ia menyatakan lagi bahwa orang-orang di sana selalu bersenjata, mereka bahkan bersenjata ke sungai untuk mandi, karena desa-desa biasanya bersama-sama berpikiran dan kebebasan mereka dalam bahaya. lda Pfeiffer membayangkan sebagai tanda bahaya. Saya bertanya mengapa ia kembali dan telah berjalan begitu sangat cepat. Katanya karena sakit. lda Pfeilfer dipandu ke Sipirok dan mandi lalu para keluarga dari pengiringnya diterima dengan baik. Juga di Sigelanggaug dan Soeroemantinggi… Ida Pfeifler  adalah wisatawan tak kenal lelah, berani, tapi bepergian dengan nol pengetahuan. Padang Pandjang, 12 April, 1881. A. J. F. Hamehs’.

Dalam tulisan Ida Pheiffer tidak disebut nama danau Toba (kecuali dengan frase perjalanan ke Toba). Dalam tulisan Ida juga tidak disebutkan apakah telah melihat danau. Tulisan Hamehs menyimpulkan bahwa Ida tentu sudah melihat danau dari jauh (memang tidak sempat merasakan airnya) sebagaimana dinyatakan Hamehs bahwa Ida sudah sampai ke Aek Taoe wilayah danau Toba. Dalam tulisan Hamehs nama danau besar itu sudah disebut sebagai danau Toba (tapi itu ditulis tahun 1881, sudah sangat jauh dari tahun dimana Ida Pheiffer sudah berada jauh hingga ke Toba).

Satu-satunya sumber penamaan danau Toba adalah dari faktor kunci: Dja Pangkat yang disebut Hamehs sebagai pemandu Ida Pheiffer juga pemandu Junghuhn. Ida Pheiffer yang hanya sekadar bertualang tentu tidak memerlukan nama-nama geografis bahkan soal nama danau besar tersebut. Akan tetapi Junghuhn tidak demikian. Junghuhn sangat memerlukan nama-nama geografis: gunung, bukit, sungai, huta, tentu saja nama-nama danau, apalagi nama danau besar. Junghuhn sebagai ahli geologi dan botanis juga memerlukan detail yang lain seperti sampel-sampel tertentu, sketsa-sketsa geografis dan bahkan koordinat gps-nya.

Danau Siais,dekat Padang Sidempuan (peta 1852)
Kita bisa membayangkan begitu banyaknya apa yang harus ‘direkam’ dan dicatat Junghuhn dengan tetap menjaga ketelitian (kelengkapan dan akurasi). Perjalanan yang jauh melelahkan dengan medan yang berat dan risiko atau ancaman yang setiap saat bisa muncul. Untuk mendukung tugas Junghuhn yang berat ini, Junghuhn terbantu dengan para pemandu-pemandu terbaik (cerdas, kuat dan berdedikasi) di Tanah Batak termasuk Dja Pangkat. Para pemandu inilah yang menjadi penerjemah, pengobservasi yang seakan tugas mereka yang cukup lama bagaikan asisten peneliti dari Dr. Franz Wilhelm Junghuhn.

Nama-nama itu dicatat oleh Junghuhn, mencatat semua yang harus dicatat. Nyata-nyata semua yang dicatat adalah nama-nama lokal (terutama nama-nama geografis). Junghuhn tidak akan sekali-kali melakukan pemberian label nama yang berbeda dengan nama lokal yang sudah umum digunakan oleh penduduk. Ini akan berbahaya karena tidak akan bisa diverifikasi lebih lanjut (ketika ada peneliti lain yang datang kemudian).

Berbeda dengan pemberian nama Batavia dan Buitenzorg. Orang Pakuan atau Padjadjaran (di Bogor) tidak pernah mengetahui adanya nama Batavia. Mereka hanya mengenal nama suatu pelabuhan yang disebut Sunda Kelapa. Bahkan orang-orang Portugis belum sempat menamai area yang luas di sekitar Sunda Kelapa. Akan tetapi ketika Belanda telah membuat koloni di sekitar Sunda Kelapa lambat laun kemudian muncul nama Batavia. Nama Batavia bertahan hingga keberadaan orang-orang Belanda. Demikian juga nama Buitenzorg untuk menamai area di sekitar Bogor. Nama Batavia sudah dikenal sejak lama di Eropa sebagai nama suatu daerah. Yang menyisakan pertanyaan adalah bahwa nama Toba juga sudah dikenal di Eropa. Akan tetapi ini kasusnya berbeda dengan nama Batavia. Nama Deli sendiri muncul pertama kali dengan nama Dilli (era Portugis), kemudian Delhi (era Prancis/Inggris) lalu kemudian menjadi Deli (era Belanda). Nama Medan sendiri diadopsi dari nama lokal Medan Putri (era awal para planter) kemudian mengalami reduksi menjadi hanya disebut Medan saja (era pemerintahan colonial Belanda).

Sudah barang tentu Junghuhn sangat nyaman melakukan pencatatan di Tanah Batak, karena semua hal sangat spesifik untuk soal penamaan apapun, tidak hanya nama gunung, nama danau, nama sungai, nama huta, bahkan nama-nama daun, nama hewan, nama waktu (bahkan nama hitungan jam) serta tentu saja nama marga dan nama gelar setiap orang dewasa. Dja Pangkat adalah nama gelar yang disingkat dari Mangaradja Pangkat. Tidak ada di tempat lain di Hindia Belanda yang begitu detail dalam soal system penamaan kecuali di Tanah Batak.

Air danau Toba mengalir ke laut
Nama-nama lokal inilah yang menjadi laporan-laporan dari Junghuhn dan juga yang menjadi bahan pembuatan peta-peta. Bahan-bahan ini ada yang langsung diolah sendiri oleh Junghuhn seperti sketsa atau peta tetapi juga bahan-bahan yang sama digunakan oleh badan tofografi Belanda atau badan-badan lain di luar negeri seperti di Belanda dan Jerman. Hal ini karena tugas Junghuhn ke Tanah Batak adalah tugas Negara, tugas yang dibiayai oleh Negara, bukan tugas pribadi. Karenanya bahan-bahan yang dikumpulkan oleh Junghuhn tidak bersifat eksklusif tetapi bersifat umum, standar dan dapat digunakan oleh berbagai pihak juga digunakan dalam kurun waktu yang berbeda. Tugas Junghuhn adalah tugas akademik untuk kebutuhan pemerintah colonial dan lembaga-lembaga ilmu pengetahuan (termasuk di Jerman). Dengan demikian tidak ada celah dan tidak ada waktu untuk bermain-main dan mengkonstruksi seperti halnya barang seni, tetapi ini adalah tugas pengumpulan data dari tangan pertama: penduduk lokal di Tanah Batak. Nama danau Toba sudah dicatat Junghuhn, termasuk sungai utama yang bersumber dari danau Toba menuju laut: Aek Asahan (ke pantai timur/Asahan). Dalam peta-peta lama ada kesan air danau Toba juga menuju laut melalui Aek Daho (ke pantai barat/Singkel).

Kaart van het Tobameer en het Landschap Silindoeng (versi Toba)
Soal penamaan danau Toba, bukanlah soal yang luput dari perhatian penduduk di Tanah Batak. Penamaan danau Toba berbeda dengan penamaan pulau Sumatra. Danau besar yang disebut danau Toba berada di dalam lingkungan Tanah Batak, sementara pulau Sumatra meski Tanah Batak menjadi bagian dari Sumatra, tetapi tidak ada urusan bagi penduduk di Tanah Batak apakah nama pulau bernama pulau Sumatra atau nama lain. Biarlah itu urusan orang lain, karena penduduk di Tanah Batak tidak membutuhkan itu. Setali tiga uang, ketika penduduk Balige ditanya, akan dijawabnya danau Balige demikian juga di Silalahi maupun di Moeara. Orang-orang di Silalahi, di Moeara atau di Balige tidak peduli apa nama danau itu secara keseluruhan. Itu bukan urusan mereka.

Satu hal peta terbitan 1879 adalah peta palsu. Peta ini  berjudul Kaart van het Tobameer en het Landschap Silindoeng: volgens opnemingen van de Rijnlandsche Zendelingen. Peta ini dibuat dua versi (Jerman dan Belanda). Bahan peta ini dikumpulkan pada kunjungan singkat (observasi) pada tahun 1873 oleh tiga misionaris Jerman. Di sebut palsu karena ada beberapa daerah tidak rinci (tidak adanya desa-desa) sementara yang lainnya sangat rinci. Yang paling fatal adalah tidak bisa menentukan air danau Toba mengalir kemana? Apakah ke barat atau ke timur? Juga terlihat dalam peta penempatan tanah basah dan tanah kering saling tertukar. Untuk Silindoeng daerah aliran sungai Batang Toru sangat berantakan. Semua itu sangat berbeda dengan peta yang dikeluarkan oleh Junghuhn yang sangat lengkap terasuk peta geologi dan formasi gunung. Lantas pertanyaan mengapa demikian amburadul? Jawabnya: Peta itu adalah peta pesanan pemerintah yang dilakukan oleh tiga misionaris Jerman. Sementara misionaris Jerman yang sudah lama di Silindoeng tetap menggunakan peta awal buatan Junghuhn, meski ada upaya perbaikan tetapi tidak sefatal peta dari tiga misionaris tersebut. Hasil peta ini dilaporkan kepada Resident. Oleh karenanya peta ini dibuat dua versi bahasa. Tujuan pembuatan peta ini adalah untuk memenuhi pesanan pemerintah colonial di sekitar danau Toba. Istilah sekarang semacam kajian, laporannya sangat tebal tetapi petanya sangat keliru. Boleh jadi peta itu dipesan dalam rangka penyerangan Sisingamangardja (lihat Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 27-06-1878).

Akan tetapi untuk menamai pulau di tengah danau besar itu urusan penduduk Tanah Batak dan namanya disebut pulau Samosir (tetapi juga tidak apa dengan nama pulau Toba). Lantas mengapa pulau besar di tengah danau besar disebut pulau Samosir, karena penduduknya disebut orang Samosir. Lalu kemudian, mengapa danau besar itu disebut dengan nama danau Toba? Jawabnya: orang Toba tidak bisa mengklaim nama danau menjadi danau Toba, tetapi penduduk di Batak di selatan (Silindoeng, Angkola, Padang Lawas dan Mandailing) memerlukan nama danau besar itu. Orang di empat daerah adat ini tentu saja memerlukan nama yang sama: yang dinamai dengan danau Toba. Akan tetap mengapa harus bernama danau Toba? Karena penduduk di empat daerah ini melihat danau besar ini berada di sisi daerah Toba. Oleh karena itu, nama danau besar itu adalah danau Toba (paling tidak dari sudut pandang orang-orang Batak di empat daerah itu). Ini semacam consensus pada akhirnya tetapi entah siapa dan darimana penamaan danau besar itu menjadi danau Toba. Nama inilah yang dicatat oleh Dr. Franz Wilhelm Junghuhn sebagaimana semua nama-nama geografis yang dicatatnya (tanpa terkecuali). Nama ini pula yang beredar di dunia akademik (termasuk di Bataviaasch Genootschap, Batavia).

Kaart der Bataklanden: bijlage voor het Sumatra's Oost Kust (versi Deli)
Akan tetapi orang di Angkola, tidak akan tahu (secara spesifik) ada nama danau Balige, danau Maoera atau danau Silalahi. Jika pun orang Angkola tahu nama-nama serupa itu, mereka tidak terlalu membutuhkan. Yang mereka tahu dari jauh (sejak lama), danau besar itu namanya adalah danau Toba. Itu yang mereka butuhkan: satu nama untuk semuanya. Orang-orang di selatan seperti di Angkola dan Silndoeng melihat danau besar itu secara teleskop (bukan mikroskop).
Oleh karena Junghuhn dan Ida Pheiffer datang dari selatan di Angkola menuju utara di Toba, sudah barang tentu sebelum kedua orang ini sudah mendapatkan nama dari danau besar itu sebagai danau Toba yang ditengah danau besar itu disebut pulau Samosir. Dengan demikian, danau Toba telah dipikirkan oleh orang Batak, Junghuhn yang orang Jerman tidak perlu memikirkannya lagi. Junghuhn hanya tinggal mencatat dan menyusun laporannnya sebaik mungkin. Dan, nama inilah yang menyebar kemana-mana. Dalam hal ini perlu dicatat bahwa munculnya nama danau Balige, danau Moeara atau danau Silalahi jelas kesalahan si pembuat peta, jika sipencatat tidak mengetahui nama danau itu secara keseluruhan. Sebaliknya, sepembuat peta bisa benar karena bisa saja tao diartikannya sebagai nama perairan (bukan nama danau). Mungkin kita saja yang salah memahami maksudnya. Kekeliruan menafsirkan ini tidak akan terjadi jika paham secara kontekstual (tidak hanya sekadar melihat secara mikroskopis). Apa kata dunia jika metodologi berpikir kita sempit serupa itu? Bisa jadi nanti disebut 'katak dalam tempurung'. 
Sebagaimana dari sudut pandang dari selatan bahwa nama danau besar itu diberi nama danau Toba, juga kenyataannya bahwa dari sudut pandang dari utara (Simaloengoen, Karo dan Pakpak) tetap disebut danau Toba (Toba meer). Mengapa tidak muncul nama danau Simaloengoen, danau Karo atau danau Pakpak? Itu semua karena sudah terlanjur lebih awal nama danau Toba dipopulerkan dari selatan ke dunia internasional.
Schetskaart van het Toba-meer met aangrenzend terrein (v. Deli)
Jadi dapat dipahami bahwa nama danau besar itu sudah tercatat paling tidak pada tahun 1853 (lihat Leydse courant, 14-02-1853). Pada tahun-tahun sekitar ini yang menjadi controleur di Angkola adalah Mr. Hammer yang berkedudukan di Padang Sidempuan, suatu ‘kota’ (yang jauh lebih besar dari Medan, yang saat itu Medan Putri masih sebuah ‘kampong’ kecil). Padang Sidempuan adalah tempat terakhir dimana terdapat orang(-orang) Eropa. Ida Pheiffer menemui Hammer dan tentu saja mendiskusikannya. Hammer sempat menyarankan untuk membatalkan niat Ida, tetapi Ida tetap ngotot harus ke Toba untuk membuktikan adanya danau Toba. Akhirnya Hammer melepaskan Ida Pheiffer dan memberikan tip dengan sejumlah kosa kata bahasa Batak dan menulis surat kepada beberapa kepala kampong di Silindoeng untuk dibawa Ida.

Algemeen Handelsblad, 09-05-1853 (tulisan Ida Pheiffer): ‘Untuk Padang Sidempoean di Ankola, aku menghadap Mr. Hammers, dimana aku berdiam dua hari. Dari Tuan Hammers saya dapat beberapa panduan dalam perbedaan bahasa Bataksche… Untungnya dalam tur ini ada Rajah (Dja Pangkat) pemandu kami yang kenal Hali Bonar. Disamping itu di Padang Sidempoean aku punya surat rekomendasi dari Mr Hammer untuk dia… Munculnya wajah Eropa di Bataklanden merupakan hal terbesar, terutama sejak tahun 1835, ketika dua misionaris dibunuh disana… Itu jadi kabar  kedatangan saya sebagai api berjalan tangan, mendarat jauh menyebar, sangat alami… Setelah kami menempatkan perjalanan beberapa hari lagi, akhirnya tiba di lembah indah yang sepenuhnya produktif yang belum pernah saya lihat di seluruh Sumatera. Itu adalah sekitar 15 tiang panjang dan 5 tiang lebar, dan dikelilingi oleh pegunungan tinggi Sumatera dari Selatan ke Timur melintasi populasi disini sangat banyak, dan ada banyak uta yang tersebar di lingkungan. Mereka dikelilingi oleh lima meter dinding dengan tanah dan  oleh bamboes dan lainnya pagar hidup hijau dan sering masih dikelilingi oleh kanal… Lembah ini dilintasi  sungai yang indah Batang Toro dan beberapa kali banjir kecil terjadi, dan kaya dengan ubi (kentang) yang dibudidayakan; melihat seseorang dengan kawanan kerbau dan sapi padang rumput dan dimana-mana tampaknya berlimpah.

Sumatra-courant, 17-04-1881 (tulisan Hamehs): ‘Awal perjalanan ke Tapanoeli ini pertama kali dimulai tahun 1852 di Panjaboengan. Di Panjaboengan ada Asisten Residen (Godon) dan Controleur di Ankola yang berkedudukan di Padang Sidempoean. Saya di Koeringgi (antara Soeroematinggi dan Sigelanggan) dapat kabar dari Mr. Godon tentang Ida Pfeiffer… Ketidaksabaran untuk segera berangkat sulit dimengerti untuk saya; dia absolutly tidak bisa sama sekali ada bahasa Hindia bahkan kata-kata Melayu hanya tahu sedikit, mungkin hanya sepuluh kata yang dipahaminya sendiri yang memang benar-benar dibutuhkan seperti makan, minoem, tidor dan djalan yang dianggapnya sudah memadai. lda Pfeilfer tinggal empat hari dengan saya…. Dia kemudian pergi ke Sipirok, saya akan ikut membimbing hingga Pargaroetan sesudah Batoe Nadoea, tetapi dia meminta ikut lebih jauh… Di Sipirok istirahat dan mandi. Malam harinya berhenti di Boeloe Mario lalu dengan beberapa kepala kampung di pagi hari diajak ikut ke Silindoeng.  Saya hanya sampai disini… Lama dari Sipirok ke Silindoeng sekitar satu hari… Beberapa kepala keluarga Sipirok yang memiliki keluarga di Silindoeng secara sukarela mengikutinya. Mereka mengambil jalan pegunungan yang sulit sebenarnya atau jurang yang dalam... Ida'Pfeiffer oleh pemimpin di Silindoeng paling hormat diterima. Ida Pfeiffer tinggal di rumah-rumah para pemimpin… Ketika berkunjung, itu semua mereka terima dengan hormat, memberikan nasi, ayam, kadang-kadang daging sapi sebagai hadiah yang ditawarkan dimana-mana, tentu bahwa suasana damai….(setelah di Angkola kembali)…Saya bertanya mengapa ia kembali dan telah berjalan begitu sangat cepat. Katanya karena sakit. lda Pfeilfer dipandu ke Sipirok dan mandi lalu para keluarga dari pengiringnya diterima dengan baik. Juga di Sigelanggaug dan Soeroemantinggi… Di kediamannya di Fort de Kock, dia menulis kepada saya  beberapa kata, terima kasih, memberikan hadiah melalui pemandu yang telah saya carikan… Kemudian saya belajar apa pun darinya; pertama lima atau enam tahun kemudian saya mengetahui bahwa dia telah menulis dan saya membaca sebuah karyanya berjudul Revue des deux Mondei, saya pikir, sangat bagus tentang kinerja dari perjalanannya di Bataklanden.’.

Perjalanan Ida Pheiffer ke Toba, dua dibelakangnya orang yang dianggap penting adalah Hamehs, Dja Pangkat dan Hammer. Dalam hal ini, (Mangara)Dja Pangkat telah memandu Ida Pheiffer ke Toba hingga ke Fort de Kock (kini Bukittinggi). Ini mengindikasikan bahwa pada masa itu orang Angkola boleh jadi sudah terbiasa melakukan perjalanan jauh hingga ke danau  besar di utara (di Toba, Bataklanden) maupun hingga ke danau besar di selatan (Manindjaoe, Fort de Kock).

Hammer sendiri belum pernah ke danau Toba. Baru controleur sesudahnya bernama Hennij yang pernah ke danau Toba. Mr. Hennij adalah seorang sarjana, ahli pertanian yang cukup berhasil melakukan pendekatan dengan penduduk di Tanah Batak (tidak hanya penduduk di Angkola tetapi juga di Silindoeng). Ketika Junghuhn pergi ke Silindoeng en Toba, controleur Angkola adalah Godin (yang tentu saja belum pernah ke danau besar bahkan ke Silindoeng sekalipun). [catatan: controleur Happe tidak lama karena pada tahun 1843 posisinya digantikan oleh W.F. Godin (lihat Almanak, 1843) dan pada tahun 1846 digantikan oleh LB. van Polanen Petel. Bahan-bahan peta Tapanoeli selesai dikumpulkan tahun 1847 yang menjadi dasar pembuatan peta Tapanoeli yang terbit 1852, peta yang menjadi pedoman Ida Pheiffer melakukan eskpedisi ke Tanah Batak].

Mengapa orang-orang Angkola bisa melakukan perjalanan sejauh itu: dari Toba ke Manindjaoe (tao to tao) dan dari Baros hingga Laboehan Bilik (coast to coast). Hal ini diperkuat dengan ‘laporan’ controleur Godin yang pernah menulis pada surat kabar Algemeen Handelsblad. Godin mengatakan bahwa kuda-kuda Batak terbilang terbaik di nusantara (negara kepulauan). Semua laki-laki naik kuda hanya ada di sini (Tanah Batak). Kehidupan sangat tenang dan nyaman serta tidak perlu ada yang diwaspadai.

Rumah controleur Angkola di Padang Sidempoean (1843-1846)
Algemeen Handelsblad, 09-12-1847 (ditulis pada bulan Agustus 1846, di Sidimpoean): ‘Saya tinggal di sebuah lembah di bagian lembah sungai Ankola. Rumahku, jika anda tahu, telah dibangun, dan jendela telah dilengkapi dengan jendela kaca, sangat menyenangkan, dan taman di sekitar rumah saya…Di sini, rumah-rumah tidak begitu kuat dibuat, sebagai salah satu kebiasaan mereka, beberapa diantaranya mewah… Namun kuda-kuda mereka cukup tersedia yang boleh dibilang dianggap untuk yang terbaik dari Nusantara setelah Makassarsche. Mereka berlari cepat dan bisa bertahan lama…Pria naik kuda hanya di sini… oleh orang-orang (Eropa) jarang melintasi wilayah ini sepanjang saya dalam dua tahun tinggal di tempat ini, aku punya pengalaman, bagaimana aku kadang-kadang melakukan perjalanan cukup jauh… Jarang seseorang (dari Eropa) dari Padang atau Tappanoelie (Sibolga) untuk mengunjungi kami, dan itu sudah beberapa bulan sejak kami telah dikunjungi beberapa fisikawan di sini (besar dugaan adalah Junghuhn dkk).. Sekarang di sini adalah benar-benar lingkungan yang sangat menyenangkan dan untuk menawarkan banyak variasi; dan udara yang kita hirup dalam bergslreken ini, sangat sehat… rumah sakit dan apotek kami dan tentang segala sesuatu memberi kesan…kepuasannya… Hujan di sini biasanya lebih berat, guntur dan petir ganas dan lebih mengerikan daripada di Eropa dan kita semua di sini selalu sangat sehat, bukti bahwa kita memiliki climaat yang sangat baik’’.

Algemeen Handelsblad, 09-12-1847: ‘…Kita hidup di sini, seperti telah saya katakan, sangat tenang, karena Battas uiet woelziek dapat disebut llet sangat berbeda dengan tetangga kita, orang Melayu--mereka adalah pahit berombak, dan mereka ditemukan kerusuhan atau membuat konspirasi, yang terburuk, mereka selalu memulai baru, juga di afdeeling melayu sangat perlu waspada; tampaknya seolah-olah alam luslelooze mereka niei menahan terik...Tapi di sini kita memiliki kesan dari mereka berbahaya namun disposisi tidak perlu takut...Oleh pegunungan lembah Rau dengan negara Batta dipisahkan. Itu adalah pertama kabupaten Mandheling, yang sangat luas, sangat baik penduduknya, mereka dilindungi oleh benteng. Kemudian mengikuti distrik kami, yang Ankola kurang luas daripada Mandheling, dan jauh lebih sedikit penduduknya, dan dihitung hampir 15.000 jiwa, sedangkan desa-desa semua kecil, dan tersebar jauh dari yang lain. Distrik ini juga punya benteng, seperti lembah Mandheling, hampir sama adalah benteng Rau. Hal ini dapat Anda menentukan apakah di Battas tenang, saya jamin itu di pos-pos tersebut Sumatera uplands sangat memang menjaga mereka. Satu hal yang kita kadang-kadang tidak menyenangkan, adakalanya surat dari Eropa lama sampai ke sini, bahkan daripada waktu-waktu membutuhkan dua bulan bagi kami untuk terus tanpa kabar dari Batavia’.

Di Tanah Batak, seperti yang dikatakan Godin, cukup tenang dan nyaman dan penduduknya sangat bersahabat dan tidak mengganggu (tidak seperti di tempat lain). Hal ini paling tidak di Angkola dan Mandailing sejauh pengetahuannya dan ruang lingkup tugasnya. Tentu saja apa yang baru ditemukan (berguna bagi pemerintah colonial) di Tanah Batak menjadi bahan diskusi di Batavia untuk membuat kebijakan dan program pembangunan lebih lanjut. Laporan-laporan dari Tanah Batak (tentu saja utamanya laporan dari Junghuhn) bisa dicermati oleh Ratu di Belanda. Untuk memastikan itu, Ratu mengirim utusan khusus dari Belanda untuk datang ke Padang Sidempuan. Utusan khusus itu adalah Jenderral von Gagern, seorang tentara professional pensiunan jenderal Jerman yang memberi advis ke Ratu dari kunjungannya ke Hindia Belanda, termasuk Tanah Batak khususnya Padang Sidempuan di Angkola.

Satu sudut Padang Sidempuan, 1846 (lukisan Clerq, ast. Gagern)
Algemeen Handelsblad, 09-12-1847 (ditulis pada bulan Agustus 1846, di Sidimpoean): ‘…Sebulan lalu, yang di posting (pos) ini terkait dengan Jenderal von Gagern…Pada pertengahan Juni (1846), ia telah ditemani Jenderal Michiels, gubernur militer Sumatra’s Weskust... Anda bisa membayangkan betapa besar jumlah kami di sini dalam kunjungan pejabat tinggi ini…untuk menyambut tamu kami…rumah dan Kasernen, gebraiji ordo dan semuanya dipoles atau diperbaharui…Pada bulan Juli (1846) kedua  jenderal itu di sini (Padang Sidempuan), dengan rombongan, empat asisten, tiga ambtenaren sipil, dan pegawai dan operator, waarvar. Lebih dari dua ratus operator telah diperlukan untuk membawa.pakkagie (perbekalan) yang dibawa melalui pegunungan dan lembah… Satu kemudian membayangkan  yang sulit dimengerti dan banyaknya kerumunan di kami sehingga sangat ramai di Sidimpoewang. Dari semua sisi yang kepala Batta, datang dengan sejumlah pengikut, semua datang dengan di atas kuda, banyak peningkatan harian, mereka untuk menyaksikan Pak Gubernur… Untuk menampung tamu kami, secara substansial tidak mudah.Tentu saja, bagi dua jenderal, rumah yang dipilih adalah rumah terbaik untuk mereka tinggal…para jenderal telah berkunjung dan selesai ke tempat di pelosok-pelosok di sini, namun mereka  lebih dari empat hari mereka tinggal di sini--dua kali dari yang direncanakan. Ini bukti bahwa hal itu menyenangkan mereka dengan kami… Semuanya telah ditinjau di sini, bahkan rumah sakit dan apotek kami dan tentang segala sesuatu memberi kesan bahwa Jenderal von Gagern menyatakan kepuasannya… Rombongan meninggalkan kami menuju Tappanoelie (Sibolga), untuk selanjutnya para jenderal di sepanjang pantai menuju ke Padang untuk kembali…Ini adalah salah satu Fraaije dan komisi terhormat; menguntungkan yang sama karena salah satu adjudantnya mengatakan kepada saya bahwa secara umum mengeluarkan dana sebesar f 4.000… Jenderal von Gagern adalah utusan Raja yang datang dari Negeri Belanda, seorang tentara professional pensiunan jenderal Jerman yang memberi advis ke Raja dari kunjungannya ke Hindia Belanda’.

Kunjungan FB von Gagern ini adalah suatu hordja bagi penduduk di Tanah Batak. Kedatangan dari semua sisi di Tanah Batak oleh pemimpin Batak yang datang dengan sejumlah pengikut, semua datang dengan di atas kuda adalah suatu penghormatan tinggi terhadap tamu asing secara adat. Boleh jadi inilah pertemuan pemimpin di Tanah Batak bertemu satu sama lain: mulai dari Pakantan hingga Toba dan dari Loemoet hingga Kota Pinang (sebaliknya di pantai timur para pemimpin Melayu mulai dari Rokan hingga Tamiang serba ketakutan di bawah tekanan yang Dipertoean Agoeng, Sultan Siak Indrapoera karena harus selalu  mengirim upeti).

Suatu huta di Silndung (lukisan Rosenberg, 1847)
Di Tanah Batak kehidupan yang demokratis (mulai dari Pakantan hingga Toba dan dari Loemoet hingga Kota Pinang) secara sukarela datang berkunjung ke Padang Sidempuan untuk mendukung Radja-Radja adat di Angkola yang menjadi tuan rumah dari Jenderal von Gagern dari Jerman. Boleh jadi respon ini positif karena nama Jerman sudah sejak lama dikenal oleh para pemimpin Batak yakni dua sosok yang meski tampak bersahaja tetapi sangat cerdas yang bernama Dr. Franz Wilhelm Junghuhn dan pelukis handal Rosenberg yang telah berkeliling di seluruh pelosok Tanah Batak dalam survei geologi dan botani.

Pada saat itu dua sosok lainnya yang kelak dikenal para pemimpin Batak adalah van der Tuuk dan Nommensen. Kedua orang ini boleh jadi sudah menyimak dari awal dan terus mengikuti berita-berita di surat kabar yang terbit di Batavia maupun di Amsterdam tentang dinamika (perkembangan positif) yang terjadi di Tanah Batak.

Nama-nama Junghuhn, Rosenberg dan von Gagern di Jerman sudah luas diberitakan. Uniknya, asisten pribadi Jenderal von Gagern adalah seorang Prancis bernama JHW le Clerq. Anak muda Prancis ini jago dalam tembak menembak, memiliki pemahaman bahasa asing yang banyak dan juga seorang yang berbakat dalam melukis (pada masa itu belum ada photographer). Junghuhn, Rosenberg dan le Clerq adalah tiga orang Eropa yang terawal yang mengabadikan secara visual tentang Tanah Batak. Lukisan-lukisan mereka pada masa ini dapat diakses. 

Horja penyambutan Jenderal von Gagern adalah kesempatan kedua bagi semua pemimpin Batak bertemu. Pertemuan pertama terjadi pada tahun 1839. Kala itu pertemuan baru dihadiri oleh para pemimpin dari Mandailing, Angkola, Padang Bolak dan Tapanoeli (Loemoet dan sekitarnya). Pertemuan kali yang kedua (1846) boleh jadi merupakan pertemuan yang terbesar oleh para pemimpin tertinggi di seluruh Tanah Batak (mulai dari Pakantan hingga Toba dan dari Loemoet hingga Kota Pinang). Ini menunjukkan sudah ada persatuan dan kesatuan. Ini juga dilihat oleh pemerintah kolonial sebagai ‘bargaining position’ dari penduduk di Tanah Batak (sesuatu yang tidak ditemukan di tempat lain).

Pemerintah kolonial Belanda di Batavia dan Padang berpikir ulang. Jenderal Michiel di Padang sudah sejak awal paham resistensi penduduk Batak ini. Michiel tidak mau lagi mengulang risiko, seperti yang telah terjadi pemberontakan di Mandailing dan Angkola (1842-1843) yang mengakibatkan sebagian penduduk eksodus ke Padang Lawas dan sebagian menuju semenanjung Malaja (mahal costnya dan kehilangan potensi pendapatannya, tenaga kerja jumlahnya merosot tajam). Korbannya tidak hanya orang-orang Mandailing dan Angkola tetapi juga orang-orang Belanda sendiri seperti Edward Douwes Dekker (yang kelak dikenal sebagai Multatuli. Oleh karenanya, Jenderal Michiel menugaskan ke Tapanoeli orang Belanda terbaik (berani, cerdas dan humanis), seperti luit.colonel Alexander van der Hart (Residen Tapanoeli, mantan pahlawan Bondjol, anak buah Michiel, sangat pemberani, humanis, sangat menghormati wanita, tidak pernah minum dan main judi), Asisten Residen Godon ke afdeeling Mandhelin en Ankola (mantan controleur di Singkel, humanis dan selalu membawa istrinya ke TKP), controleur Hammer (di Angkola, pemberani dan cepat mahir bahasa Batak dan cakap bernegosiasi), Pada fase berikutnya pemerintah colonial di Batavia menugaskan Netscher (Residen Tapanoeli, 1853) dan controleur Hennij (di Angkola), sementara Godon tetap pada posisinya (selama 10 tahun, terlama di Hindia Belanda). Pengalaman dan keberhasilan Netscher di Tapanoeli akan ditugaskan untuk ‘menjinakkan’ penduduk Melayu di Residentie Riaou (mulai dari Natuna hingga Bangkinang dan dari Indragiri di batas Residentie Palembang hingga Tamiang di batas Atjeh). Mr. Hennij yang pertama kali ditempatkan di Angkola, prestasinya aduhai: promosi menjadi Asisten Residen Mandheling en Ankola dan promosi lagi menjadi Sekretaris Governor Sumatra’s Westkust di Padang). Prestasi serupa ini jarang terjadi. Itulah daftar sekilas tentang reputasi baik dari Jenderal Michiel dan Luit colonel Alexander var Hart dalam persiapan pembangunan awal di Tapanoeli (khususnya di afd. Mandheling en Ankola). Boleh jadi keduanya mendengar dengan baik nasihat dari Jenderal von Gagern (yang tentu saja von Gagern mendapat masukan dari Dr. Franz Wilhelm Junghuhn). Junghuhn dan von Gagern kebetulan sama-sama berdarah Jerman. Keduanya mungkin merasakan memiliki chemistry yang sama dengan penduduk di Tanah Batak: cerdas, berani, terbuka dan mudah diprediksi.

Benar, pada tahun 1847 AP. Godon dipanggil ke Batavia untuk menghadap Gubernur Jenderal. Godon harus meninggalkan tugas sebagai controleur di Singkel dan segera ditugaskan untuk menjadi Asisten Residen di afdeeling Mandheling (Afdeeling Singkel kala itu masih bagian dari Residentie Tapanoeli). Kinerja dari asisten residen sebelumnya: TJ. Willer, C. Rodenburg dan JKD. Lammleth perlu lebih ditingkatkan karena afdeeling Mandheling en Ankola akan segera ‘lepas landas’.

Nederlandsche staatscourant, 28-07-1848: ‘di Sumatra’s Westkust, Asisten-Residen Mandheling en Ankola, Controleur kelas-1, A.P. Godon, yang diminta melibatkan kepada siapa, Radja, persepsi yang sudah ditetapkan’. Leydse courant, 05-08-1850: ‘Mandheling sudah selesai untuk menanam kopi, pada tahun 1847 hasilnya sudah ada 5.000 pikul’

AP Godon dan istri langsung bertugas di afdeeling Mandgeling en Ankola (sangat jarang pejabat Belanda di hari-hari pertama menjalankan tugas langsung membawa istri dan anak). Tugas pertama Godon adalah bekerjasama dengan para pemimpin local untuk membuka isolasi dengan membangun jalan (dari Mandailing ke pelabuhan Natal, demikian juga dari Angkola ke pelabuhan Loemoet dengan menugaskan perjabat baru, AF. Hammer yang juga membawa istri). Para istri-istri ini (ketika para suami bekerja jauh di luar rumah) juga ternyata aktif melakukan tugas social: pendidikan.

Tingkat literasi yang tinggi di Tanah Batak sudah pernah dilaporkan oleh Charles Miller ketika melakukan ekspedisi kulit manis ke Angkola (lihat The History of Sumatra, 1811). Miller dan Marsden sangat kaget karena di Tanah Batak terdapat lebih dari separuh penduduk bisa baca tulis (tentu dalam aksara Batak). Angka literasi ini menurut mereka melebihi angka literasi dari semua bangsa-bangsa di Eropa. Pendidikan ‘ala Batak’ ini dilakukan di sopo (suatu tempat publik yang terdapat di setiap huta). Mereka menulis dikulit kayu yang halus dengan menggunakan tinta yang terbuat dari jelaga damar yang dicampur dengan cairan tebu, penanya dibuat dari lidi pohon enau.  

Istri Godon dan istri Hammer blusukan ke berbagai tempat untuk menemukan anak-anak yang pintar di sopo-sopo. Sejumlah anak dididik dengan memperkenalkan aksara latin, sopan santun ‘ala Eropa’ dan bahasa Belanda. Hasilnya tak terduga: murid-murid cepat mengabsorb semua pengetahuan gurunya. Dua perempuan Eropa di pedalaman ini merekomendasikan kepada suami mereka agar anak-anak didik mereka diberi kesempatan untuk studi lebih lanjut. Para suami juga mendukung dan membicarakannya dengan Resident Netscher untuk diteruskan ke Gubernur di Padang dan Gubernur Jenderal di Batavia. ‘Menteri pendidikan’ menyambut baik usulan ini apalagi para orangtua murid-murid ini mampu membiayainya.

Nieuwe Rotterdamsche courant: staats-, handels-, nieuws-en advertentieblad, 18-01-1855: ‘Batavia,  25 November 1854. Satu permintaan oleh pemimpin Mandheling (Batta-landen) dan didukung oleh Gubernur Sumatra’s Westkust, beberapa bulan yang lalu, ditetapkan oleh pemerintah, bahwa dua anak kepala suku asli terkemuka, yang telah menerima pendidikan dasar dibawa untuk akun negara ke Batavia dan akan mengikuti kedokteran, bedah dan kebidanan. Para pemuda yang disebut Si Asta dan Si Angan di rumah sakit militer di sana pada murid ini baru saja tiba dari Padang disini, dan akan disertakan di pelatihan perguruan tinggi (kweekschool) dokter asli’.

Ini adalah suatu fenomena yang fantastic. Namun bukan suatu keajaiban, tetapi suatu yang harusnya memang begitu: tingkat literasi yang tinggi, bargaining position, kesediaan para istri pejabat membantu pendidikan, kopi yang sudah menghasilkan dan telah dibukanya sejak 1851 di Batavia ‘sekolah kedokteran’. Kita bisa bayangkan bahwa pemerintahan sipil baru dimulai tahun 1841 (dalam tempo 13 tahun) sudah ada dua anak Batak studi di Batavia untuk menjadi calon dokter pribumi. Ternyata dua anak itu: Si Asta (Mandailing) dan Si Angan (Angkola) adalah dua siswa pertama dari luar Jawa yang diterima di sekolah kedokteran tersebut yang juga disebut Docter Djawa School. Pada tahun 1856 menyusul kembali dua orang anak Batak bernama Si Dorie dan Si Napang (demikian seterusnya secara periodik). Mengapa begitu padahal setiap tahun siswa yang diterima hanya delapan sampai 10 siswa? Batavia menginginkan kriteria seperti anak-anak Batak ini: cerdas, berani, kuat, kemampuan financial orangtua, ulet dan tidak cengeng jika ditempatkan dimanapun di Hindia Belanda.  Dr. Asta dan Dr. Dorie ditempatkan di Tapanoeli sementara Dr. Angan dan Dr. Napang ditempatkan di Padangsche (Bovenlanden dan Benelanden).

Saat itu ‘sekolah tinggi’ hanya ada dua jenis sekolah kedokteran Docter Djawa School dan sekolah keguruan (kweekschool). Sekolah kedokteran hanya ada di Batavia, tetapi kweekschool sudah terdapat di Soerakarta (dibuka 1852) dan Fort de Kock (dibuka 1856). Salah satu adik kelas Dr. Asta yang berbakat di bidang lingustik bernama Si Sati justru berambisi untuk studi langsung ke Belanda. Gagasan Si Sati muncul karena AP Godon akan cuti besar ke Eropa/Belanda dan mendiskusikannya dengan Godon, karena Si Sati selama ini telah menggantikan posisi istri Godon sebagai guru dan juga Si Sati adalah asisten penulis (schrijver) AP Godon di kantor Asisten Residen Mandheling en Ankola. Setelah perdebatan di dewan di Batavia, terutama soal pembiayaan, menteri pendidikan, Residen Natscher dan Asisten Residen AP Godon menjelaskan di dewan bahwa di afdeeling Mandheling en Ankola produksi kopi sudah jauh meningkat dan harganya semakin merangsek menjadi harga kopi tertinggi di dunia. Tok..tok..tok: putusan terhadap Si Sati dikabulkan. Singkat kata: Si Sati bersama keluarga Godon berangkat studi ke Belanda (siswa pertama pribumi studi ke luar negeri).

Ketika Medan masih kampung; Padang Sidempuan, sudah kota
Penduduk Tanah Batak mengadopsi bahasa Melayu dan juga bahasa Belanda tetapi hanya menerapkan aksara Latin. Peradaban baru telah dimulai sejak anak Batak sudah ada yang menjadi dokter dan satu anak Batak yang lain tengah menuntut ilmu di Belanda. Setelah lulus Si Sati yang telah mengubah nama menjadi Willem Iskander di Belanda (1861), langsung pulang kampong dan mendirikan sekolah guru (kweekschool) di Tanobato tahun 1862. Karena sekolah Willem Iskander ini metode pendidikannya bagus lalu diakuisisi pemerintah 1864 dan lulusannya moncer dan kemudian menjadi sekolah guru yang terbaik di Sumatra (mengalahkan Kweekschool Fort de Kock). Dari sekolah inilah guru-guru yang jumlahnya sangat banyak dan mengisi semua sekolah-sekolah di seluruh pelosok Tapanoeli.

Pada bulan Februari 1863, Residen Riau (Netscher) tiba di Deli dengan kapal perang dan membuang jangkar di muara sungai Deli sebagaimana dilaporkannya sendiri pada tahun 1864. Dari atas kapal, Residen mengundang dua pimpinan suku Batak (mungkin yang kontra), Sebaja Lingga dan Goenoeng Radja dalam suatu pertemuan. Dua pempimpin ini datang dengan pengikut sebanyak 500 orang bersenjata lengkap ke Laboehan Deli. Residen mengundang dua pimpinan suku Batak ini untuk datang di atas kapal uap HM Haarlem-mermeer. Pemimpin ini memenuhi undangan Residen dan datang dengan gagah berani namun tetap dengan berperilaku sangat layak (tentu dengan seragam kebesaran).

Di atas kapal, Residen melakukan psywar tanpa disadari kedua pimpinan suku Batak tersebut dengan cara mengajak berkeliling di dalam kapal dan dengan santun memperlihatkan kecanggihan pesenjataan besar yang dimiliki dan memperlihatkan para awal kapal berbangsa Eropa/Belanda yang jumlahnya cukup banyak dengan persenjataan lengkap. Taktik Residen dengan cara ini mungkin ingin mempercepat proses perdamaian dan menghindari perang terbuka. Tampaknya berhasil untuk membungkam kedua pimpinan ini. Keberhasilan Residen dalam hal ini karena sudah berpengalaman di Tapanoeli (sebagai resident).

Pada tahun ini juga (1863) Controleur Deli mulai bekerja. Pada tahun 1864 berdasarkan Staatsblad No.48 tanggal 27 Maret 1864 organisasi pemerintahan sipil di Siak terdiri dari Asisten Residen dan dua Controleur. Berdasarkan Almanak Pemerintah tahun 1867 ada tambahan controleur untuk Asahan, Deli, Batoebara, Laboehan Batoe, Siak. Sebagaimana diketahui Resident Riaou berkedudukan di Tandjong Pinang (Bintan). Residentie Riaou terdiri dari: Kepulauan Riaou dan Kesultanan Siak (pantai timur Sumatra). Pada tahun 1865 Nienhuys dkk datang untuk memulai membuka perkebunan tembakau. Sementara anak-anak Batak di afdeeling Mandheling en Ankola sudah bertebaran dimana-mana sebagai dokter, guru atau sebagai pegawai pemerintah.

Sumatra-courant, 06-11-1875
Controleur yang ditempatkan di Laboehan Deli, setelah tiga tahun bertugas, melakukan ekspedisi ke Tanah Batak pada tanggal 9 Desember 1866 hingga Januari 1867. Rombongan ekspedisi ini banyaknya dua ratus orang. Ini seakan teringat lagi ketika Jenderal von Gagern berkunjung ke Padang Sidempuan tahun 1846. Ekspedisi ini tidak sampai ke danau Toba. Controleur Deli berikutnya, C. de Haan pada tahun 1870 melakukan ekspedisi kembali ke Bataklanden (lihat Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 06-11-1875). Ekspedisi kedua ini mengikuti rute yang sama. Ekspedisi ini sampai ke danau Toba di Tongging. Dalam koran ini secara eksplisit sudah disebutkan nama danau Toba (Toba meer).

Di Sipirok (Angkola Dolok), sebagai daerah terjauh dari afdeeling Mandheling en Ankola kehidupan juga mengalami perbaikan sebagaimana di Angkola Djoeloe dan Angkola Djae. Kebun kopi penduduk sudah mulai menghasilkan. Controleur Angkola en Sipirok sudah berhasil meningkatkan koffiecultuur di semua wilayah. Mr. Hennij kerap berkunjung ke Silindoeng untuk memonitor penduduk sebagai bagian dari Residentie Tapanoeli tetapi pemerintahan sipil belum terbentuk. Karenanya tugas acting controleur di Silindoeng diperankan oleh Mr. Hennij. Saat itu Sigompoelon masih masuk onderafdeeling Sipirok (Angkola Dolok). Jarak Sigompoelon dengan Silindoeng tidak terlalu jauh. Sejak 1857 secara defacto Sigompoelon dan Silindoeng bukan daerah independen lagi. Mr. Hennij sendiri sudah pernah ke danau Toba. Dengan kata lain, Mr. Hennij adalah orang pemerintah pertama yang sudah mengenal dengan baik Silindoeng en Toba.

Java-bode: nieuws, handels-en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 29-01-1859: ‘mengutip surat Controleur Ankola en Sipirok, A.W. Henny yang ditulis 1 Maret 1858 yang antara lain menyatakan bahwa beberapa kebun di Si Pirok yang terletak di perbatasan Padang-Lawas dimana ada beberapa kebun yang semua tanaman telah menghasilkan, sementara yang beberapa kebun yang lain baru menghasilkan sebagian saja, dan yang lainnya bahkan belum ada tanaman sama sekali yang menghasilkan

Pada tahun 1858 Gustav van Asselt ditempatkan di Sipirok sebagai parkshuismeester. Gustav van Asselt juga dalam hal ini mewakili gereja dimana sejumlah misionaris Belanda ditempatkan di Angkola (termasuk Sipirok). Pada tahun-tahun berikutnya bergabung misionaris Jerman di Sipirok. Misionaris Jerman ini lalu melakukan ekspedisi ke Silindoeng. Pada bulan September kembali ke Sipirok untuk melakukan pertemuan antara misionaris Belanda dan misionaris Jerman.

Padangsch nieuws-en advertentie-blad, 19-10-1861: ‘bahwa 18 September para misionaris, Heijne, Klammer dan Echtgenoote meninggalkan Silindoeng dan tiba di Sipirok’

Dalam pertemuan itu (7 Oktober 1861) dihadiri Betz, van Asselt, Klammer, dan Heine. Hasil pertemuan disepakati beberapa keputusan penting. Salah satu keputusan itu adalah pembagian wilayah misi. Misionaris Belanda konsentrasi di wilayah Angkola dan misionaris Jerman di Silindoeng. Inilah tahun-tahun awal misionaris Jerman mulai bekerja di Silindoeng (dan kemudian ke Toba). Tokoh misionaris terpenting di Silindoeng adalah Nommensen. Oleh karena kesibukannya sendiri belum sempat ke danau Toba (dari selatan), malahan controleur C de Haan lebih dahulu mencapai danau Toba (dari utara).

Foto pertama danau Toba (kunjungan de Haan, 1870)
Dua ekspedisi dari Deli tentu sangat terkait. Ekspedisi pertama (1866) adalah untuk menguji hasil psywar dari Residen Netscher (1863), sebab Deli akan dikembangkan menjadi perkebunan tembakau (yang telah dimulai 1865). Ekspedisi kedua (1870) untuk memverifikasi apakah ada resistensi dari penduduk Batak Karo gunung setelah penduduk daerah Karo dusun sudah ‘diusir’ oleh tiga pihak yang bersekongkol: planter, sultan dan controleur. Jika dinyatakan ‘aman dan terkendali’ segera ibukota afdeeling Deli dipindahkan dari Laboehan Deli ke Medan. Wilayah kekuasaan Sultan selama ini hanya area Laboehan Deli dan area sungai Pertjut. Sedangkan daerah Boeloe Tjina (kini Hamparan Perak) dan daerah Medan dan sekitarnya adalah wilayah penduduk Batak Karo yang disebut Karo dusun (Karo dataran rendah). Resistensi sempat terjadi yang kemudian timbul perang yang dikenal sebagai Perang Sunggal.

Sebaliknya dari selatan: pada tahun 1868 Gubernur Arreins melakukan psywar keToba. Kunjungan kerja gubernur pantai barat ini untuk memastikan apakah ada resistensi dari penduduk Toba ketika di Silindoeng sudah berjalan pemerintahan sipil (untuk mendukung permintaan para misionaris). Tiga daerah yang mengelilingi danau Toba (Karo, Simaloengoen dan Toba) masih independent. Dengan hadirnya C de Haan di Karo (utara danau) dan Arreins di Toba (selatan danau), sesungguhnya antara Tapanoeli dengan Deli sudah terhubung dan penduduk yang berada di daerah Karo dan Toba sudah terinvasi. Dengan kata lain apapun (resistensi dan bentuk-bentuk perlawanan) yang terjadi di Karo dan Toba harus dituntaskan. Sebagaimana diketahui Perang Sunggal (didukung Karo dan Atjeh) segera teratasi. Tetapi tidak demikian dengan di Toba. Perlawanan (pengikut) Sisingamangaradja adalah perang besar yang dikenal sebagai perang Toba yang telah menelan banyak korban dan kerugian biaya di masing-masing pihak.

Peta 1838 (sketsa): Perang Pertibie
Kehadiran cotroleur C de Haan dan Gubernur Arriens di danau Toba menambah jumlah orang penting yang pernah ke danau Toba (melihat atau mendekati) sebelum dan sesudah C de Haan antara lain: controleur Brans, Cleerens, Trenite, Kroesen, de Haan dan van Hengst, Reinier, Verbeek dan Snackey, Gouverneur Arriens, Fotografer Inggris, Mr. Hennij, Dr. HN van der Tuuk, Junghuhn, Ida Pheiffer, Gustav van Asselt, Heine, Nommensen, Johansen, Dr. Schreiber dan lainnya. Tentu saja tiga misionaris Jerman yang datang dari Deli dengan pengawalan militer yang telah menyusun peta di sekitar danau atas pesanan dari pemerintah. Peta palsu itu lebih tepatnya disebut sketsa untuk persiapan Perang Toba (Sisingamangaradja). Pengumpulan data itu dilakukan tahun 1873 dan petanya diterbitkan pada tahun 1878. Perang Toba sendiri meletus pada tahun 1878 (dan selesai 1905). Pembuatan peta sebelum perang adalah protap pemerintahan militer sebagaimana dalam Perang Pertibie (Tuanku Tambusai) tahun 1838.

Peta 1886: Perbandingan danu Toba dan danau lain
Dengan demikian detail danau Toba lebih awal dibuat dari utara danau Toba jika dibandingkan dengan detail dari selatan. Dr. Franz Wilhelm Junghuhn adalah orang yang pertama mencatat nama danau besar sebagai danau Toba. Nama inilah yang kemudian menyebar ke segala arah. Nama danau itu muncul dari sebutan orang-orang Batak yang berada di Angkola, Silindoeng, Mandailing dan Padang Lawas. Boleh jadi orang-orang Toba sendiri belum tahu bahwa nama danau besar di depan rumah mereka disebut Danau Toba.

Keutamaan danau Toba di Indonesia adalah karena merupakan danau terbesar. Besarnya dapat diperbandingkan dengan nama danau-danau lainnya dalam skala yang sama dengan urutan sebagai berikut: Toba, Poso, Tempe, Maninjau, Singkarak dan Ranau (lihat gambar).

Junghuhn adalah tokoh penting dalam penemuan afdeeling Bataklanden (Silindoeng en Toba), hasil ekspedisinya selama 1840-1845 telah menerbitkan buku terkenal Bataklanden auf Sumatra tahun 1847. Untuk Ankola sudah lebih awal dilaporkan oleh Charles Miller (1772) dan William Marsden (1811). Junghuhn adalah penemu pertama danau Toba, seorang Jerman yang berdedikasi dalam dunia ilmu pengetahuan. Setelah itu orang Jerman berikutnya yang menyusul ke Bataklanden adalah Klammer, Heine, Nommensen, Dr. Schreiber (1866-1873), Dr. Petermann, Leipoldt.  Sungguh luar biasa, bahwa Jerman, sebagian besar dalam pelayanan di Bataklanden. Junghuhn tidak hanya menjelaskan dengan baik tentang potensi geologi dan botani Bataklanden, tetapi juga telah membuka isolasi dan yang terpenting Junghuhn telah menepis konsepsi yang sangat salah orang-orang Melayu terhadap Batak.

Publisitas danau Toba secara luas terjadi di sekitar 1852-1853 ketika Ida Pheiffer tiba di Padang Sidempuan ingin melihat danau besar di Toba, sepuluh tahun sejak Junghuhn, seorang Jerman mencatat nama danau Toba dari orang-orang di Angkola (1842-1843). Junghuhn memulai tugas survei geologi dan botani di Angkola, Mandailing dan Padang Lawas, setelah itu tugasnya diperluas ke Silindung dan Toba. Meski beritanya tidak heboh tetapi semua hasil pencatatan Junghuhn mengalir ke Batavia dan dari pusat pemerintahan colonial di Batavia menyebar ke seluruh penjuru termasuk Eropa. Informasi awal Junghuhn inilah yang menjadi sumber konfirmasi tentang adanya danau besar di Tanah Batak yang namanya telah dicatat sebagai Danau Toba, ketika muncul pemberitaan seorang gadis Austria bernama Ida Pheiffer tengah berada di Tanah Batak dan ingin membuktikan adanya danau besar. Intinya: nama danau tetap nama danau, Good newsnya yang berbeda. Ida Pheiffer sebagai penjelajah mendapat liputan luar biasa, nama Junghuhn sebagai peneliti seakan tenggelam. Tapi, itulah perbedaan esensi publisitas antara seorang pemburu (Pheiffer) dengan guru (Junghuhn). Singkat kata: mari kita hargai Dr. Franz Wilhelm Junghuhn sebagai penemu nama danau Toba dalam dunia akademik, sebagaimana juga Junghuhn sebagai penemu tusam (pinus). Jika kita mundur ke belakang: kita juga harga Dr. Charles Miller sebagai penemu andaliman (nama andaliman di Angkola juga disebut dengan sinyarnyar). .

Jadi nama danau Toba jelas-jelas bukan dikonstruksi oleh misionaris Jerman. Memang nama danau Toba yang mencatat pertama kali adalah orang Jerman namanya Dr. Franz Wilhelm Junghuhn. Untuk urusan itu selesai perkara. Selanjutnya tentang nama Batak kapan mulai ada? Dalam peta 1830 yang ditunjukkan di atas, Batak adalah suatu wilayah yang sangat luas. Pada peta 1847 (di atas) wilayah yang disebut Batak itu dinamai Gebied der Battas (daerah Batak).

Peta 1595: Nama Batak sebagai etnik sudah disebut
Kemudian kita merujuk pada peta-peta dua abad sebelumnya. Pada peta 1619 di daerah geografis Batak ini terdapat tiga tempat yang penting: Baros, Batahan dan Terra Daru. Posisi Baros dan Batahan nama pelabuhan, sedangkan Terra Daru adalah nama wilayah (terra). Terra Daru adalah singkatan Terra de Aru (terra d’aru menjadi terra daru). Terra Daru (bahasa Portugis) berarti Tanah Aru atau daerah Aru. Nama Batak sebagai sebuah kawasan tidak ada dalam peta ini. Akan tetapi tiga nama tempat itu masuk kawasan Batak (ditulis Bata). Hal ini dapat diperiksa pada peta yang dimuat dalam Jurnal Belanda 1595, laporan yang berisi perjalanan Cornelis de Houtman yang dimulai pada tanggal 2 April 1595. Cornelis de Houtman adalah pimpinan ekspedisi pertama Belanda yang berhasil memasuki nusantara. Peta dalam jurnal Belanda 1595 tampaknya menjadi dasar pembuatan peta 1619 (yang mana pada tahun VOC sudah berkoloni di Batavia).

Terra Daru dalam buku Pinto (1512) adalah wilayah yang menjadi Kerajaan Batak (Batak Kingdom). Adanya Kerajaan Batak ini juga diperkuat oleh laporan-laporan Tingkok pada abad ke-15 (era ekspedisi Cheng Ho, 1400an). Disebutkan bahwa perwakilan dari Batak telah mengunjungi Tiongkok. Dalam kunjungan balasan Tiongkok ini (yang dikenal ekspedisi Cheng Ho) mereka berlabuh di muara sungai air tawar. Satu-satunya muara sungai air tawar yang sesuai untuk ukuran kapal besar adalah muara sungai Barumun. Apakah nama sungai Baroemoen berasal dari aroe atau aru?. Kerajaan Aru ini besar kemungkinan suksesi koloni India di Angkola (candi Simangambat abad ke-8) dan koloni Ceilon di Padang Bolak (candi Padang Lawas abd ke-11). Pedagang-pedagang India/Ceilon ini diduga memasuki Tanah Batak untuk mendekatkan diri ke TKP (setelah persaingan ketat antar pedagang-pedagang internasional di pelabuhan kuno di Barus).

Keberadaan orang Batak sudah barang tentu telah diketahui sejak jaman kuno. Keberadaan penduduk Batak karena komoditi dunia yang tidak ditemukan di tempat lain dan hanya ada di Tanah Batak yakni: kamper, kemenyan, benzoin, kulit manis plus emas). Penduduk Batak langsung melakukan transaksi sendiri ke Barus. Besar dugaan bahwa penduduk Melayu (yang ada sekarang) belum settle di pantai-pantai barat maupun timur Tanah Batak (Terra Daru). Mereka besar kemungkinan masih di pulau-pulau yang terdapat di Kepulauan Riau yang sekarang. Pada saat Anderson datang ke Deli (1823), koloni Melayu hanya terkonsentrasi di Laboehan Deli (sekitar 200 rumah). Jumlah ini pada saat Netscher datang tahun 1863 tidak terlalu berubah. Di era kekuasaan Siak (awal VOC) terhadap pusat-pusat transaksi dagang (asing dengan penduduk Batak) penduduk Melayu menyebar ke utara secara massif dari wilayah Riau memasuki pantai timur Tanah Batak. Demikian juga di pantai barat pada saat kejayaan maritim Atjeh menguasai perdagangan penduduk Melayu dari Padang dan sekitarnya merangsek secara masif ke utara di pantai barat Tanah Batak. Sebelum Siak dan Atjeh menguasai perdagangan pantai di Terra Daru diperankan oleh pedagang-pedagang Tionghoa yang berbasis di Singapore dan Malaka. Pedagang-pedagang Tionghoa menggantikan pedagang sebelumnya dari India, Arab dan Persia.


Di Peta Tapanoeli lama hanya disebutkan nama-nama afdeeling Mandheling en Ankola, afdeeling Pertibie, afdeeling Bataklanden, afdeeling Sibolga en Ommelanden, afdeeling Natal dan afdeeling Baros. Tidak disebutkan di dalam wilayah administrasi nama Tapanoeli kecuali hanya di dalam judul peta, disebut Kaart va Tapanoeli.  Akan tetapi semua afdeeling yang disebut di dalamnya adalah Residentie Tapanoeli. Setali tiga uang nama-nama di danau besar hanya disebut Tao Silalahi, Tao Moeara, Tao Balige dan Tao Bakara, tetapi di dalam judul diberi nama Toba Meer. Artinya semua tao-tao tadi adalah bagian dari Tao Toba. Tao dalam hal ini boleh jadi diartikan perairan. Dalam peta Tapanuli berikutnya kabupaten terdiri dari Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara. Dalam hal peta danau Toba bisa saja dibuat: Tao Toba Balige, Tao Toba Balige, Tao Toba Moeara dan Tao Toba Bakara, seperti halnya Medan Barat, Medan Timur, Medan Labuhan, Medan Kota dan sebagainya. Dengan demikian tidak ada masalah antara judul peta dengan nama-nama yang terdapat di dalam peta. Namun jika ada yang menganggap bahwa judul dokontruksi (berbeda dengan isinya) ini hanya soal level pemahaman (tingkat logika berpikir).

Sebagaimana disebut TJ Willer (rekan Junghuhn) dalam bukunya (1846) 'Verzameling der Battahsche wetten en instellingen in Mandheling en Pertibie' bahwa tidak ada kaitan bahasa Melayu dengan bahasa Batak. Semua produk pangan dan komoditi bahasa Batak memiliki nama sendiri yang seusia dengan bahasa mereka. Ini artinya bahwa produk-produk yang diminati dunia yang menyebabkan para pedagang berdatangan untuk berniaga dengan penduduk Batak sudah mengusahakannya sejak awal. Nama-nama baru yang muncul kemudian (dari luar) terdapat padanannya dalam bahasa Batak, misalnya sere (emas), kemenyan (sekko)m kulit manis (hulim), padi (eme) dan sebagainya.

Tidak hanya bahasa, elemen budaya lainnya, yang utama adalah inti kebudayaan (core culture) yang umum disebut dalihan na tolu. Suatu sistem sosial (kekerabatan) yang terdapat di semua geografis mulai dari Mandailing, Angkola, Padang Bolak, Silindoeng, Toba, Pakpak, Simaloengoen, Karo, Gayo dan Alas. Core culture inilah yang membedakan dengan etnik lainnya (terutama tetangganya Melayu) yang justru menjadi identitas etnik Batak yang sejatinya (dapat dibedakan dengan etnik Melayu). Sedangkan etnik Melayu hanya disamakan oleh elemen bahasa saja: Melayu Atjeh, Melayu Deli, Melayu Riau, Melayu Minang, Melayu Banjar, Melayu Malaysia, Melayu Palembang dan sebagainya. Semua yang berbahasa Melayu adalah Melayu. Semua yang beradat ‘dalihan na tolu’ adalah Batak.


Untuk selingan, baca juga:
Dr. Radjamin Nasution: Walikota Pertama Surabaya, Pemain Sepakbola Top


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.
Catatan: saya bukan seorang ahli sejarah (sejarawan) dan juga bukan antropolog. Saya hanya seorang ekonom biasa yang tengah mempelajari ekonomi suatu daerah: ekonomi Tapanoeli dan ekonomi Noord Sumatra. Untuk lebih memahaminya saya membutuhkan aspek sejarahnya

Tidak ada komentar: