Rabu, Juni 01, 2016

Sejarah Batak Kuno di Sumatera Utara: Mengapa Melayu Tidak Dikenal? Ada Benarnya Medan Disebut Batak



Sumatera Utara (Noord Sumatra) adalah wilayah yang berada diantara Atjeh dan Minangkabau. Di wilayah ini sudah sejak lama berdiam bangsa Batak. Pada era kolonial Belanda daerah-daerah di perbatasan mengalami penyesuaian secara administrasi sehingga terbentuk wilayah Sumatera Utara yang sekarang. Dalam laporan-laporan awal (sebelum 1800), di wilayah yang kini disebut Sumatera Utara tidak terdeteksi adanya populasi Melayu. Populasi Melayu masih terkonsentrasi di semenanjung Malaka, kepulauan Riau dan Indragiri.

Eksistensi populasi Melayu baru muncul setelah tahun 1800, Populasi Melayu semakin banyak dan menyebar ketika pelabuhan-pelabuhan komoditi dari Tanah Batak ke pantai timur berada di bawah pengaruh (pedagang) Riaou. Hal sebaliknya terjadi di pantai barat, semakin melayu ketika pelabuhan-pelabuhan komoditi dari Tanah Batak berada di bawah pengaruh (pedagang) Atjeh. Pedagang-pedagang yang lalu lalang di pelabuhan-pelabuhan pantai barat dan pantai timur di Noord Sumatra sebelumnya diperankan oleh pedagang-pedagang Tionghoa/Inggris (di Penang).

Populasi penduduk yang berada di pantai-pantai awalnya adalah mix population. Untuk menarik perbedaan dengan penduduk asli (yang berbahasa asli Batak), lambat laun populasi campuran ini lebih mengidentifikasi diri sebagai Melayu. Afiliasi ini juga karena atas dasar penggunaan bahasa yang sama, bahasa Melayu. Para pedagang (Arab, Tionghoa, Riaou, Atjeh) jauh sebelumnya dalam berinteraksi (exhange) dengan penduduk Batak menggunakan bahasa pengantar bahasa Melayu.

Nama Batak sudah dicatat sejak era Tiongkok dan Portugis

Catatan tertua tentang nama Batak terdapat dalam laporan(-laporan) Tiongkok pada abad ke-14. Nama Batak dicatat sebagai Bata. Dalam laporan Tiongkok disebutkan lokasi Kerajaan Aru ini berada di muara sungai air tawar (fresh water estuary). Para petinggi dari Kerajaan Batak (Aru) kerap berkunjung ke Tiongkok..

Tome Pires (1512-1515) yang pernah mengunjungi Malacca mendeskripsikan Sumatra berdasarkan informasi yang dikumpulkan di Malacca, dimana di dalam laporannya Barros ditulisnya saling tertukar antara Barros dengan Bata, Bara dan juga ditulis sebagai Terra de Aeilabu dan Terra de Tuncoll. Semua nama-nama yang tertukar itu berada di daerah teritori penduduk Batak (Baros). Lalu kemudian Daru tertukar dengan Barros atau de Aru (Daru adalah ucapan untuk 'de Aru'). Ini juga mengindikasikan nama-nama itu berada di daerah teritori penduduk Batak. Intinya, beberapa bandar penting yang didaftar Tome Pires adalah Pedir, Aeilabu, Lide, Pirada dan Pacee. Dari tiga pelabuhan penting ini hanya Aeilabu (Aek Labu atau Lobu Toea? nama lain Baros) yang sangat dekat dengan teritori penduduk Batak, Meski disebut nama Aru, tetapi di dalam laporan Pires tidak menonjol.

Nama Aru baru menonjol dalam laporan Barbosa. Ekspedisi Barbosa dilakukan setelah Tome Pires. Barbosa menyebut hanya tujuh bandar penting, yakni: Pedir, Pansem, Achem, Compar (Kampar), Andiagao (Indragiri), Macaboo (Minangkabau) dan Ara (Aru). Barbosa melakukan ekspedisi pada tahun 1518. Barbosa tampaknya mengoreksi hasil identifikasi Tome Pires.

Terra Daru/Kerajaan Aru/Kerajaan Batak
Nama Batak baru terdeskripsi dengan baik dalam laporan Pinto (1539). Dari laporan Fernão Mendes Pinto nama Batak dikaitkan dengan nama Kerajaan Aru (Kingdom of Aru) di wilayah yang kini Sumatra Utara. Kerajaan Aru, menurut laporan Pinto (1539) dibatasi oleh lautan dan laut pendalaman (danau Toba?) dan pertambangan Menangkabau (Ophir) ibukotanya Panaju yang berada di sungai Paneticao (sungai Batang Pane).

Menurut Barbosa/Tome Pires, kerajaan Aru memiliki banyak (orang) Mandarin yang disisi luar (selat Malaka) kerap melakukan perampokan dan ancaman di selat. Kerajaan Malaka selalu waspada kepada Kerajaan Aru, karena dimasa lalu Kerajaan Aru pernah menyerang Malaka. Kerajaan Aru memudar dan muncul kekuatan baru di Siak (akumulasi dari Kampar dan Indragiri). Demikian juga, Kerajaan Pedir dan Pase memudar lalu lebih menonjol Kerajaan Atjeh. Lalu dua kekuatan ini (Siak dan Atjeh) saling bergantian memperebutkan pelabuhan-pelabuhan di pantai timur. Pelabuhan-pelabuhan ini adalah pusat pertukaran produk-produk nelayan Melayu (di lautan) dan produk-produk petani Batak (di daratan).

Era Belanda dan Inggris: Identifikasi Tanah Batak

Peta 1595: Nama Batak sebagai etnik sudah disebut
Portugis mendarat di Malacca tahun 1508 dan menguasainya tahun 1511. Sedangkan pelaut-pelaut Belanda baru muncul satu abad berikutnya 1595 (disusul Inggris 1602). Ekspedisi yang dilakukan oleh pemimpin ekspedisi Belanda, Cornelis de Houtman dimulai pada tanggal 2 April 1595 pada akhirnya mendarat di Banten. Laporan ekspedisi ini terdapat dalam jurnal tahun 1598 berjudul: ‘Journael vande reyse der Hollandtsche schepen ghedaen in Oost Indien, haer coersen, strecking hen ende vreemde avontueren die haer bejegent zijn, seer vlijtich van tijt tot tijt aengeteeckent, ...’. Dalam jurnal ini ditemukan beberapa peta termasuk peta pulau Sumatra dimana dalam peta ini nama Ilhas (pulau) dan Terra (tanah) Daru tetap teridentifikasi. Di dalam peta ini keseluruhan wilayah yang disebut Sumatra Utara pada masa ini disebut Bata.

Sejauh ini nama Batak di Sumatra Utara sudah sejak lama dicatat, sementara nama Melayu sama sekali belum teridentifikasi apalagi nama Tionghoa. Ini mengindikasikan bahwa penduduk asli Sumatra Utara di daratan hanya satu: Batak (dari Rokan hingga Ambuaru dan dari Batahan hingga Singkel).

Gazette ordinaire d'Amsterdam, 08-04-1669
Ketika VOC didirikan oleh Belanda di Batavia 1619, Tanah Batak masih independen. Meski demikian, walau tidak intens, pedagang-pedagang VOC sudah mengenal Tanah Batak. Gazette ordinaire d'Amsterdam, 08-04-1669 melaporkan bahwa Batak di Sumatra (Bata op Sumatra) memiliki kesusastraan sendiri yang berbeda dengan China, Jawa, Melayu dan Arab. Pada tahun 1701 keberadaan Batak di Angkola dilaporkan oleh seorang pedagang Tionghoa kepada Belanda di Kastil Batavia (lihat terjemahan Perret). Laporan berikutnya adalah ekspedisi yang dilakukan oleh Charlles Miller yang dilakukan tahun 1772 ke daerah Angkola, tempat dimana pedagang Tionghoa tesebut pernah tinggal selama 10 tahun.

Keberadaan Batak baru teridentifikasi kembali dalam buku ‘Verhandelingen van het Bataviaasch genootschap, der kunsten en weetenschappen’ yang terbit tahun 1787. Buku ini cukup banyak mendeskripsikan tentang Tanah Batak dan tidak menyinggung sedikitpun tentang Melayu. Tahun penerbitan buku ini (1787) harus dilihat jauh ke belakang saat dimana dilakukan pengumpulan bahan.

Dalam buku ini disebutkan bahwa Het Land der Batak berada di selatan Atjeh yakni Papa (Pakpak) dan Deira (Dairi) yang terkenal dengan kamper dan benzoin dalam jumlah besar yang berada di pegunungan yang lebih dikenal sebagai orang Batak. Kerajaan Batak (Eyk der Batak) terletak dari tengah pulau hingga ke pantai timur dimana daerah ini belum ditempati oleh penduduk asli. Kerajaan Batak itu sendiri dibagi ke dalam tiga rykjes: Het Ryk Simamora, Het Rykje Batak Silindong dan Het Rykje Boetar. Ini mengindikasikan bahwa seluruh wilayah yang dulu disebut Het Ryk Aroe menjadi bergeser ke tiga wilayah tersebut.

Ryk Simamora adalah dari pegunungan hingga ke arah timur, memiliki sejumlah besar negeri, antara lain Batong, Ria, Alias (Alas), Batadera (Dairi), Kapkap (Pakpak), sebagai negara dimulai tumbuh kamper dan benzuin, Bataholberg, Kotta Tingi, tempat raja, dan dua negeri yakni Suitara dan Jamboe ayer (dalam laporan Portugis disebut Ambuaroe). Batong dan Sunajang memasok emas 22 karat.

Het Rykje Batak Silindong terdapat banyak negeri yang besar yang menghasilkan benzuin dan emas sangat tinggi. Raja berada di Silindoeng dan di negeri Bato Hopit, suatu daerah di kaki gunung yang menghasilkan banyak sulfur yang digunakan untuk bubuk mesiu.

Ryk Boetar dimana negeri Boetar adalah tempat kerajaan dimana negeri Pulo Seruny dan negeri Batoe Bara sebagai tempat perdagangan. Lintong dan Siregar ke arah pantai timur melalui sungai yang disebut Asahan. Negeri-negeri ini hanya menghasilkan buah tanah (pertanian).

Dalam buku ini tidak teridentifikasi nama suatu kerajaan di pantai timur. Akan tetapi di pantai barat disebutkan ada kerajaan di Baros (mungkin Angkola?). Kerajaan Batak di pegunungan sewaktu-waktu jika dimnta Raja Baros dapat membantu jika diserang oleh orang Eropa. Semua kerajaan-kerajaan ini memiliki buku-buku yang terbuat dari kulit pohon dan bamboo yang berisi dongeng lama untuk semua anak-anak. Kulit kayu hanya pohon tertentu yang disebut pohon Aliem, kulit sangat tipis sebagai kertas, tinta dengan jelaga dari Dammar dicampur dengan air tebu dan penduduk menghasilkan lada yang banyak.

Dalam buku ini juga disebut negeri-negeri di pantai selatan Atjeh seperti Singkel dimana tahun 1672 terdapat perusahaan Belanda, Baros (kepala negeri menjadi Raja) dimana terdapat factory Belanda. Pada tahun 1732 dibangun drainase di Baros. Kerajaan terdiri dari Raja, Bendahara, dan pangoeloe. Radja bermarga Doulae. Di sebelah selatan adalah Sorkam. Selain tempat-tempat yang dikuasai Belanda, di selatan yang disebut Tapanoeli dikuasai oleh Inggris yang kaya dengan perdagangan kamper. Siboelang (Sibuluan), Badieri, Pinang Sore, Batang Taroe, Batu Mondoe, Sinkoang, Taboojong dan Koen Koen adalah sesuatu tempat hingga ke belakang pantai (di pedalaman) adalah Koningryk dari Batak. Natal hingga 1693 dibawah kekuasaan Belanda dan 1751 oleh Inggris bersama-sama dengan Tapanoeli dan Bancahoeloe. Batahan yang kaya emas dari 1693 masih dibawah kekuasaan Belanda.

Dengan demikian batas-batas wilayah Tanah Batak cukup jelas dideskripsikan mulai dari Rokan hingga Ambuaru (Jambu Air) dan dari Batahan hingga Singkel. Sebagian daerah Tanah Batak masih independen dan sebagian yang lain di bawah kekuasaan Belanda dan Inggris. Penduduk yang berada di muara Sungai Baroemoen dijelaskan secara rinci yang terdapat dalam buku Anderson (1823).

Bataviasche courant, 26-10-1822: ‘Pada tanggal 21 Oktober di dalam kapal HL Senn van Baschel, selain terdapat berbagai komoditi, juga terdapat kru kapal (diantaranya) van Batak (bertugas untuk kuda), van Bima, van Boegis, van Nias (dan lainnya)’.

Dalam laporan Anderson (1823) terindikasi dua jalur ekonomi penting yakni jalur sungai Deli dan jalur sungai Boeloe Tjina. Di jalur Deli (sungai Deli) di hilir terdapat Kesultanan Deli dan di hulu terdapat kerajaan-kerajaan Batak seperti Pulo Barian (Berayan) dan Kota Bangun. Saat kunjungan Anderson ini Kesultanan Deli dan Kerajaan Pulau Barian yang sama-sama menganut agama Islam tengah bertikai (persiapan perang) di Kota Jawa. Kesultanan Deli terdiri dari kampung-kampung Laboehan, Kampong Alei (tempat Sultan Deli, Mengedar Alam Shah), Kampung Tangah dan Kampung Besar. Sedangkan ke arah hulu masih terdapat kampung-kampung Batak seperti Meidan dan Babura masing-masing berpenduduk 200 jiwa. Terdapat banyak kampung ke arah hulu hingga Deli Toea yang dihuni oleh orang Batak yang jumlahnya mencapai 5.000 jiwa.

Sementara itu di jalur Boeloe Tjina terdapat kesultanan/kerajaan Batak seperti Boeloe Tjina dan Soenggal. Dua kerajaan ini tampak harmonis meski berlainan keyakinan yang mana Boeloe Tjina beragama Islam dan Kerajaaan Soenggal yang masih pagan (berpenduduk 20.00 jiwa). Kesultanan Boeloe Tjina berada di hilir sungai Boeloe Tjina dimana di muara sungai Boeloe Tjina terdapat bandar Sampai sebagai bandar Kesultanan Boeloe Tjina. Bandar Sampai berpenduduk 50 rumah sedangkan Boeloe Tjina di arah hulu bandar ini memiliki penduduk dengan 80 rumah (tempat Orang Kaya). Kampung-kampung lainnya di Boeloe Tjina adalah Pangalan Boeloe, Kelambir (tempat adik Sultan Ahmat, 25 rumah), Dangla (15 rumah), Kullumpang (tempat Sultan Ahmat, perkebunan lada, pamannya adalah Orang Kaya).

Diantara raja-raja dan sultan-sultan itu, yang pertama mendapat gelar dari Siak adalah Sultan Deli. Dengan gelar yang ada Sultan Deli lalu menganggap Deli (sekitar Laboehan), Boeloe Tjina, Langkat, Pertjoet dan tempat-tempat lainnya sebagai bawahannya. Sultan Deli merasa di atas angin karena dukungan Siak. Namun gelagat Sultan Deli ini mendapat resistensi terutama dari raja-raja Langkat (Perang Langkat) dan Raja Pulo Barian. Pada saat Anderson di Deli 1822/1823 perang antara Sultan Deli dan Raja Pulo Barian tengah memanas. Untuk mengimbangi kekuatan Sultan Deli, Radja Pulo Barian mendatangkan pasukan tambahan dari orang-orang Batak di hulu sungai Deli dan bahkan ada yang dari Siantar. Awal munculnya ketegangan karena Sultan Deli coba memonopoli arus perdagangan di DAS Deli, Raja Poeloe Barian tidak terima.

Sementara itu di pantai timur sebelah selatan Anderson mendeskripsikan tiga bandar Batak utama, sebagai berikut: Bandar Kwalooh berada di sungai Kwalooh. Di sekitar sungai Kwalooh ini dihuni oleh orang Batak sekitar 1.200 jiwa yang dikepalai oleh Radja Muda Ulabalang. Kota Kwalooh berjarak dua hari dari pantai. Ekspor terutama rotan, kemenyan, tikar dan lainnya sedangkan impor adalah kain putih, kain biru, opium dan lainnya. Bandar Beelah berada di sungai Beelah. Di sekitar sungai Beelah ini dihuni oleh orang Batak sekitar 1.300 jiwa yang dikepalai oleh Sultan Bedir Alum yang terdiri dari beberapa kampung. Ekspor terutama rotan, kemenyan, benzoin, tikar, emas dan lainnya.Bandar Panei merupakan kampung pertama di muara sungai besar dan terdapat beberapa kampung. Ada pulau kecil namanya Pulo Rantau di tengah sungai besar. Penduduk terutama Batak dan terdapat sekitar 1.000 jiwa Melayu. Orang Batak berasal dari dua tempat: Tambuse dan Padang Bolak. Ekspor terdiri dari kemenyan, benzoin, tikar, gaharu dan beras.

Kesultanan Melayu semakin eksis. Hal ini karena didukung oleh Inggris dari Penang. Inggris membutuhkan kedua etnik ini sekaligus. Etnik Melayu untuk perdagangan di pantai/lautan dan etnik Batak untuk pertanian dan pengumpul hasil-hasil hutan di pedalaman/pegunungan. Inggris di Penang yang dekat dengan Melayu di semenanjung Malaka terus menjaga eksistensi Melayu di Deli. Kesultanan Deli yang mulai rakus memerlukan dukungan dari luar: Inggris (dan kemudian digantikan oleh Belanda).

Kehadiran Belanda di Tanah Batak

Perdagangan komoditi terus mengalir dari Tanah Batak ke Batavia, baik melalui pelabuhan-pelabuhan dipantai timur maupun peabuhan-pelabuhan di pantai barat. Sebelum kehadiran Belanda di Tanah Batak banyak hal yang terjadi. Di pantai barat, kaum padri melakukan invasi ke Tanah Batak. Di pantai timur kesultanan Riau yang berkolaborasi dengan Inggris menancapkan pengaruhnya di pelabuhan-pelabuhan penting seperti Tandjong Poera, Laboehan Deli, Rantau Pandjang, Batoebara, Tandjong Balei, Koewaloeh, Biela dan Panai.

Pantai timur semakin ramai dari waktu ke waktu. Penguasa Inggris dan lesultanan Riaou bersimaharajalela. Melayunisasi terrjadi di pantai timur. Migran dari kepulauan Riau semakin merangsek ke utara hingga ke Tamiang. Keramaian ini semakin memuncak ketika terjadi eksodus sebagai penduduk dari Minangkabau, Mandheling en Ankola ke pantai-pantai timur untuk menghindari padri.  

Gelombang migrasi juga terjadi ketika Belanda sudah mulai membentuk pemerintahan di Minangkabau dan Tapanoeli.

Javasche courant, 01-02-1845: ‘(mengutip) dari Bataviassch Genootschap yang berisi pemetaan wilayah Melayu dan Batak menurut LH. Oosnoff (1939) bahwa untuk tanah Melayu terdiri dari (1) Benelanden dan (2) Bovenlanden van Padang; untuk tanah Batak terdiri dari (1) Mandaheling en Ankola, (2) de Batak Silindoeng dan (3) Baai van Tapanoeli…’.

Ketika Belanda menerapkan koffiestelsel di Mandailing dan Ankola tahun 1841-1845 banyak penduduk yang memberontak lalu melakukan migrasi ke pantai timur. Demikian juga di Minangkabau. Sebagian migran dari Ranah Minangkabau dan Tanah Batak ini terus menyeberang ke semenanjung Malaka. Penduduk Batak dan Minangkabau membentuk koloni-koloni di Selangor dan Negeri Sembilan di semenanjung Malaka. Sementara yang berada di pantai timur juga terbentuk koloni-koloni seperti penduduk Batak di Labuhan Batu dan Asahan, penduduk Minangkabau di Batubara. Sebagian dari pendatang ini melakukan hubungan perkawinan dengan Melayu yang sudah eksis lebih dahulu sebagian yang lain tetap dalam komunitasnya (Batak atau Minangkabau).  

Javasche courant, 17-11-1841: ‘dari Padang kapal Ned Ind bernama S. Farrow membawa berbagai komoditi ke Batavia (diantaranya) 349 picols kopi milik Laer & Jonkman,  29 picols cassia milik Dast & Co, dua kuda Bata (Batak paarden) milik S Farrow, 33 picol benzoin milik Tio Tiamak (dan lainnya)’

Javasche courant, 28-09-1842: ‘dari Padang kapal Aanvoer 22 September dan tiba 24 September membawa berbagai komoditi (diantaranya) kopi, poeli, empat Batak paarden (dan lainnya)’.

Kehadiran Belanda di Tanah Deli

Sebelum Belanda melakukan invasi, penduduk wilayah pantai timur sudah sangat heterogen: Melayu, Tionghoa, Keling, Minangkabau, Banjar, Boegis, Atjeh dan Batak. Penduduk Batak terdiri dari Alas, Karo, Simalaengoen, Toba, Angkola dan Mandailing. Hal yang sama juga terjadi di pantai barat: Melayu, Tionghoa, Minangkabau, Atjeh, Nias dan Batak (Mandailing, Angkola, Toba, Silindoeng, Dairi, Pakpak, Gayo). Sementara di pedalaman Tanah Batak komunitas Batak tetap berlangsung sebagaimana sejak dulu.

Pada dasarnya penduduk asli Noord Sumatra adalah Batak. Migran yang pertama muncul adalah Tionghoa disusul kemudian Melayu, Atjeh, Minangkabau. Penduduk Batak yang pindah dari pedalaman ke pantai (timur atau barat) tidaklah dikatakan sebagai migrant melainkan sebagai penduduk tetap.

Belanda melakukan invasi ke pantai timur. Afdeeling Deli menjadi diminati para investor asing perkebunan Tembakau. Balanda mulai memisahkan Batak dari Melayu dan mengangkat Sultan Deli sebagai primat yang dengan sendirinya memperkokoh eksistensi Melayu di pantai timur. Kolaborasi Planter, Sultan dan pemerintah colonial (Controleur) mulai mengokupasi tanah-tanah orang Batak dan lambat laun semakin tersingkir di bawah senjata. Munculnya migran baru Siam, Keling, China dan Jawa semakin membuat pantai timur khususnya menjadi daerah melting pot. Strategi pemerintaan colonial mendukung Melayunisasi (yang berpusat di istana-istana) di pantai timur khususnya di Deli untuk memperkuat positioning Belanda dalam menjepit perlawanan di Toba (Perang Toba) dan perlawanan di Atjeh (Perang Atjeh). Hulubalang-hulubalang kesultanan berperan penting utamanya dalam Perang Atjeh. Tunggu deskripsi lebhih lanjut…


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar: