20/06/16

Sejarah Kota Medan (24): Pewarta Deli, Surat Kabar Legendaris di Medan (1909-1946); Didirikan oleh Dja Endar Moeda (1861-1926)



Surat kabar Pewarta Deli terbit di Medan pada bulan Desember 1909. Surat kabar Pewarta Deli didirikan oleh Sjarikat Tapanoeli dibawah pimpinan redaksi Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda. Surat kabar Pewarta Deli, surat kabar pribumi terbesar di Medan dan telah melahirkan banyak tokoh pejuang, seperti Soetan Parlindoengan, Soetan Koemala Boelan, Abdulah Lubis, Mangaradja Ihoetan, Hasanoel Arifin, Adinegoro. M. Arif Lubis dan Mohamad Said. Surat kabar Pewarta Deli hidupnya cukup lama, surat kabar legendaris yang harus dikenang sebagai surat kabar Kota Medan yang telah berjuang habis-habisan untuk  menegakkan keadilan dan mempelopori pencapaian kemerdekaan Indonesia.Setelah Pewarta Deli berhenti beroperasi (dilarang), redaktur-redakturnya kemudian menjadi pelopor pendirian surat kabar, seperti Mimbar Umum dan Waspada.
Menurut Mr. Stokvis (anggota parlemen Belanda, spesialis Negara jajahan) yang berkunjung ke Hindia Belanda (1934) menyebut empat surat kabar terkumuka pribumi: Soera Oemoem pimpinan Dr. Soetomo (Surabaya), Pemandangan dan Bintang Timoer (Batavia) serta Pewarta Deli (Medan). Diantara surat kabar yang ada, Pewarta Deli merupakan surat kabar yang diedit paling baik. Pimpinan Pewarta Deli adalah Abdulah Lubis, pimpinan Bintang Timoer adalah Parada Harahap.
Pewarta Deli, Didirikan oleh Seorang Guru

De Sumatra post, 30-12-1909
Surat kabar Pewarta Deli didirikan oleh Radja Persuratkabaran Sumatera, Dja Endar Moeda di Medan pada tahun 1909. Dja Endar Moeda sebelumnya telah memiliki surat kabar Pertja Barat di Padang (1899), menerbitkan surat kabar berbahasa Melayu, Tapian Na Oeli di Sibolga (1900) dan menerbitkan majalah Insulinde di Padang (1901). Sebelum mendirikan Pewarta Deli, Dja Endar Moeda telah menerbitkan surat kabar berbahasa Belanda di Padang, Sumatra Nieuwsblad (1904) dan surat kabar Pembrita Atjeh di Kota Radja (1907). Surat kabar berikutnya yang diterbitkan oleh Dja Endar Moeda yang terbilang sukses dan bertahan hidup lama adalah Pewarta Deli yang diterbitkan oleh NV. Sjarikat Tapanoeli (pendiri:: Dja Endar Moeda).

De Sumatra post, 30-12-1909 (Pewarta Deli): ‘Kami telah menerima surat kabar berbahasa Melayu yang baru yang diterbitkan Sjarikat Tapanoeli disini yang terbit dua kali seminggu dibawah pimpinan editor Dja Endar Moeda dengan redaktur Kamaroedin. [catatan: Kamaroedin adalah anak dari Dja Endar Moeda; untuk medianya yang berada di Padang dan Sibolga ditangani oleh adiknya, Dja Endar Bongsoe].

Dja Endar Moeda adalah pendiri organisasi 'Medan Perdamaian', organisasi sosial pribumi pertama di Indonesia. Medan Perdamaian adalah organisasi yang bersifat nasional didirikan bahkan jauh sebelum adanya organisasi Boedi Oetomo tahun 1908 yang bersifat kedaerahan (Jawa). Organisasi sosial Medan Perdamaian awalnya didirikan di Padang pada tahun 1900 (lihat Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 20-02-1900). Penggagas organisasi sosial Medan Perdamaian dan ketuanya yang pertama adalah Dja Endar Moeda (lihat De Locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 21-08-1902). Organisasi multi etnik ini di Padang kemudian diteruskan oleh Muhamad Safei dan masih eksis di Padang pada tahun 1912 (lihat De Sumatra post, 26-04-1912).

Nama surat kabar di Deli ini mengikuti nama-nama surat kabar terdahulu.

Di Bandung ada Pewarta Priangan (De Preanger-bode, 26-10-1898) dan di Manado ada Pewarta Manado (Soerabaijasch handelsblad, 13-09-1904). Kedua surat kabar ini investasi orang Belanda. Di Surabaya terbit Pewarta Soerabaja, investasi kongsi Tionghoa (Bataviaasch nieuwsblad, 30-01-1905). Ketiga surat kabar tersebut berbahasa Melayu, seperti halnya Pewarta Deli. Bedanya, Pewarta Deli yang terbit tahun 1909 bersumber dari investasi pribumi yang tergabung dalam Sjarikat Tapanoeli (organisasi orang-orang Tapanoeli, khususnya dari afdeeling Mandheling en Ankola di Medan). Sjarikat Tapanoeli, selain memiliki percetakan dan surat kabar juga mendirikan klub sepakbola yang diberi nama Tapanoeli Voetbal Club tahun 1907 dan ikut mempelopori diadakannnya kompetisi sepakbola di Medan (Deli Voetbal Bond yang mulai kompetisi tahun 1907).

Di Medan sendiri sudah ada ada surat kabar berbahasa Melayu, Pertja Timor, investasi Eropa/Belanda yang terbit pertama tahun 1902. Surat kabar ini merupakan ‘adik’ dari surat kabar berbahasa Belanda yang terbit di Medan, Sumatra post.

Editor surat kabar Pertja Timor dari tahun 1901-1908 adalah Mangaradja Salamboewe. Nama Perja Timor mengikuti nama surat kabar berbahasa Melayu di Padang, Pertja Barat (terbit pertama 1892). Pada tahun 1897 editor Pertja Barat adalah Dja Endar Moeda, seorang mantan guru, pengarang novel dan penulis buku pelajaran sekolah dan pemilik sekolah swasta di Padang. Dja Endar Moeda adalah editor pribumi pertama (1897) dan editor pribumi kedua adalah Mangaradja Salamboewe (1901). Dja Endar Moeda dan Mangaradja Salamboewe adalah sama-sama alumni Kweekschool Padang Sidempuan. Dja Endar Moeda lulus 1884, Mangaradja Salamboewe lulus 1893.

Mangaradja Salamboewe tidak berumur panjang. De Sumatra post edisi 29-05-1908 memberitakan meninggalnya wartawan pemberani ini. Dalam berita koran ini, editor juga mengungkapkan rasa duka cita yang dalam, karena Mangaradja Salamboewe tidak hanya membela rakyatnya tetapi juga dunia jurnalistik (yang sebagian besar wartawan pada waktu itu berbagsa Belanda/Eropa). Editor ini melanjutkan bahwa  "Di dalam seratoes orang pribumi tidak ada satoe yang begitoe brani’. Saat mana Mangaradja Salamboewe di waktu pemakamannya hampir semua wartawan Medan hadir termasuk yang berbangsa Belanda. Abdul Hasan Nasution gelar Mangaradja Salamboewe dimakamkan di tempat pemakaman di Djalan Soengai Mati.

Pada tahun 1899, Dja Endar Moeda mengakuisisi Pertja Barat dan percetakannya. Motto Pertja Barat lalu diubah menjadi ‘Oentoek Segala Bangsa’.

Pada tahun 1900, Dja Endar Moeda menerbitkan surat kabar berbahasa Melayu di Sibolga bernama Tapian Na Oeli, kemudian di Kota Radja tahun 1907 Pembrita Atjeh dan selanjutnya Pewarta Deli di Medan tahun 1909. Motto surat kabar Pertja Barat dan Pewarta Deli persis sama: ‘Oentoek Segala Bangsa’.

Nama Pembrita Atjeh mengikuti nama-nama surat kabar sebelumnya seperti Pembrita Betawi di Batavia.

Pemilik dan editor pertama surat kabar berbahasa Melayu Pembrita Betawi adalah Karl Wijbrand, seorang Jerman, mantan editor pertama Sumatra post di Medan (1899-1900). Pada tahun 1903 yang menjadi editor Pembrita Betawi adalah Tirto Adhi Soerjo (editor pribumi ketiga). Pada tahun 1908, Tirto Adhi Soerjo mendirikan surat kabar investasi pribumi di Batavia yang diberi nama Medan Prijaji.

Delik Pers Pewarta Deli

Untuk soal perjuangan keadilan, surat kabar Pewarta Deli tidak perlu menunggu waktu. Meski Pewartra Deli surat kabar baru, namun  editornya Dja Endar Moeda adalah editor yang telah berpengalaman dan kerap menghadapi delik pers semasa di Padang. Dja Endar Moeda pejuang keadilan pantang menyerah.

Dja Endar Moeda hijrah ke Medan karena telah diusir oleh pemerintah di Padang. Pada tahun 1905 surat kabar Pertja Barat dan Sumatra Nieuwsblad, milik, Dja Endar Moeda terkena delik pers karena melaporkan seorang pejabat di Kajoetanam yang telah bertindak jahat terhadap seorang penduduk. Surat kabar Dja Endar Moeda dituduh telah menghina pejabat, lalu diadili dengan hukuman cambuk dan harus meninggalkan kota Padang.

Awalnya pindah ke Kota Radja (menerbitkan Pembrita Atjeh) dan kemudian melebarkan sayap bisnis media ke Medan. Dja Endar Moeda harus berbagi waktu untuk semua medianya. Pewarta Deli telah mulai diterima di public (apalagi Pertja Timor semakin merosot setelah Mengaradja Salamboewe tiada) sementara di Atjeh masih memerlukan upaya-upaya serius. Dja Endar Moeda bersama anaknya Kamaroedin ke Kota Radja, sementara Pewarta Deli dilakukan strukturisasi dengan mengangkat editor baru, namanya Panoesoenan gelar Soetan Zeri Moeda.

De Sumatra post, 22-03-1911: ‘seorang pembaca, apoteker di klinik dokter pribumi di Asahan telah menulis artikel di Pewarta Deli. Isi artikel dianggap menghasut dan telah menghina pengadilan. Artikel itu dikirim lewat pos dan kemudian editor melakukan editing dan kemudian dipublikasikan di Pewarta Deli edisi 26 Oktober 1910’.

Pewarta Deli akhirnya mendapat tempat di hati para pembaca di Medan dan Deli. Panoesoenan mengikuti jejak seniornya Mangaradja Salamboewe dengan menomorsatukan gaya kritis terhadap kebijakan pemerintah dan persoalan ketidakadilan. Oleh karena terlalu kencang, Panoesonan hilang kendali di jalan yang banyak rambu-rambu. Pada tahun 1915 Panoesoenan kena delik pers di pengadilan Medan dan mendapat hukuman kurungan 14 hari. Posisi Panoesoenan digantikan oleh Soetan Parlindoengan, seorang mantan guru dan djaksa.

Kini pengasuh Pewarta Deli dipimpin oleh seorang editor mantan jaksa, sebagaimana sebelumnya Pertja Timor yang digawangi oleh Mangaradja Salamboewe, yang juga seorang mantan jaksa (di Natal).

De Sumatra post, 28-10-1912: ‘di dalam kepala berita, yang ditulis oleh Flora di Pewarta Deli dalam menanggapi artikel di Sumatra post bahwa pemerintah Belanda tidak adil terhadap penduduk asli’.  [catatan: Flora adalah nama samara dari Soetan Koemala Boelan].

Surat kabar Pewarta Deli digawangi oleh orang-orang Mandailing dan Angkola dari Tapanuli. Pewarta Deli meski koran yangt bersifat nasionalis adakalanya terpengaruh oleh dinamika masyarakatnya. Persaingan antara orang-orang Tapanuli dengan orang-orang Minangkabau di lapangan kehidupan di Medan berimbas ke media. Orang-orang Tapanuli yang menganggap Pewarta Deli sebagai ‘bendera’ dan tempat menulis opini tentang persaingan, membuat orang-orang Minangkabau beraliansi dengan surat kabar Andalas (Tionghoa Padang) untuk menjadi organ untuk melindungan kepentingan mereka. Hal ini dilakukan karena Pertja Timor juga setelah Mangaradja Salamboewe masih ditangani editor orang Mandailing bernama Musa. De Sumatra post, 18-06-1914 menulis bahwa persaingan ini merupakan peristiwa yang berulang. Pada 14 tahun yang lalu (1900?) persaingan antara Minangkabau dengan Tapanuli di Padang juga sempat meruncing. Orang-orang Tapanuli menulis di Pertja Barat (kebetulan kepemilikan dan editornya orang Tapanuli) sementara media orang Minangkabau tidak ada yang representatif. Lantas orang-orang Minangkabau menggunakan surat kabar Tjahaja Sumatra (milik Tionghoa). Surat kabar Andalas di Medan adalah surat kabar orang-orang Tionghoa yang berasal dari Padang.

Editor-editor terbaik di Padang pada era itu sesungguhnya berasal dari Tapanoeli (Pertja Barat). Tjahaja Sumatra dan Sinar Sumatra di Padang awalnya digawangi oleh orang-orang Tionghoa dari Padang Sidempuan. Namun dalam perkembangannya, para editorial didominasi oleh orang-orang Tionghoa dari Padang. Lim Hoen Hin besaudara dari Padang Sidempuan kemudian pindah ke Sibolga.

Perseteruan orang-orang Tapanuli dan Minangkabau di Medan juga terjadi di Sarikat Islam (SI) di Medan. De Sumatra post, 08-01-1915 menulis bahwa pemerintah harus membuat dua kelompok (etnik) ini terjadi konvergensi, melakukan intervensi ke salah satu hanya menambah masalah. Orang-orang Minangkabau coba mendominasi SI yang bagi anggota yang berasal dari Tapanuli beranggapan bahwa SI dibangun untuk orang-orang Minangkabau (kebetulan ketuanya orang Minangabau). Munculnya ide pembentukan SI Tapanuli dimaksudkan untuk menghilangkan kesan itu. Kedua kelompok ini kerap bersaing dapat dipahami karena kedua kelompok sama-sama memiliki tingkat pendidikan yang baik. Tampaknya penciptaan SI Tapanoeli tidak akan menjadi halangan untuk pergerakan Minangkabau, tapi paling tidak satu keinginan untuk tidak tunduk kepada kepemimpinan dari Mohammad Samin (orang Minangkabau). Perpecahan dua kubu ini di dalam SI akan membuat pemerintah lebih sulit mengontrolnya.

Pewarta Deli sesungguhnya tetap pada platformnya yang bersifat nasionalis. Hanya saja publik menganggap orang Tapanuli berafiliasi dengan Pewarta Deli. Pada tahun 1916 setelah terjadi rapat besar organisasi-organisasi di Medan, surat kabar Benih Mardeka diterbitkan. Pendirinya adalah M. Samin, M. Joenoes dan Abdulah (Lubis). M. Samin dan M. Joenoes adalah SI sedangkan Abdulah dari sarikat guru.

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 24-08-1917: ‘Medan, 24 Agustus 1917. Persdelict. Kemarin dan hari ini di Pengadilan Medan terjadi demo oleh 500 penduduk asli atas tuntutan terhadap editor Pewarta Deli. Editor dituduh dianggap melakukan pasal penghinaan terhadap pejabat Gubernur. Selanjutnya, terdakwa didakwa dengan menyuarakan perasaan benci. Pengadilan menuntut f100  dan 8 hari penjara’.

Pada tahun 1918 Parada Harahap bergabung dengan Benih Mardeka, dimana sebelumnya Abdulah Lubis sudah pindah ke Pewarta Deli. Parada Harahap adalah seorang nasionalis dan karakternya cenderung lebih bersifat moderat (menganggap semua sama).

De Sumatra post, 24-02-1919: ‘Parada Harahap dari Benih Mardeka berpendapat perlunya kerjasama yang lebih antara kelompok penduduk pribumi di Pantai Timur Sumatera. Persaingan antara Mandhelinger (Tapanoelier) dan Minangkabauer harus dihilangkan, orang harus merasa dirinya pribumi, rasa memiliki, satu untuk semua dan semua untuk satu, dan bukan seperti yang terjadi sekarang, semua untuk saya. Penulis berharap akan membawa hal besar ini ke pertemuan SI, untuk ditemukan perdamaian antara kelompok etnis pribumi yang berbeda’.

Pada awal April 1919 di Medan dibentuk organisasi wartawan. Organisasi ini merupakan aliansi wartawan pribumi dan Tionghoa. Besar kemungkinan organisasi wartawan di Medan ini yang pertama untuk wartawan pribumi. Pewarta Deli menambah tim redaksinya seorang anggota dewan.

De Sumatra post, 04-04-1919 (Een jounalistén bond): ‘Asosiasi wartawan Inlandsch Chinesche didirikan. Pengurus dewan sebagai berikut: Presiden, Mohamad Joenoes; Sekretaris, Parada Harahap. Komisaris, satu diantaranya Mohamad Joenoes di Siantar. Sarikat telah memiliki tidak kurang dari 40 anggota. Asosiasi ini bukan untuk wartawan Belanda, untuk tujuan bersama, melainkan tujuan sendiri dan bisa meluas ke rekan-rekan mereka sesama oriental’.

De Sumatra post, 11-04-1919: ‘Mr. Ismail, anggota dewan yang saat ini juga sebagai guru di HIS termasuk dalam jajaran editor dari Pewarta Deli. Jadi kita bisa berharap untuk kepentingan yang lebih besar dalam pers Melayu untuk urusan negeri. Hal ini memang bisa disebut tidak terlalu berlebihan’.

Pewarta Deli telah memainkan peran kembali soal kesatuan dan persatuan pribumi di Medan dan Sumatera Timur. Soetan Parlindoengan, editor Pewarta Deli memiliki sosok yang sentral dalam membangun opini di Medan dan sekitarnya. Setelah berhasil meredakan ketegangan antara dua kelompok (Tapanoeli dan Minangkabau), Soetan Parlindoengan dari Pewarta Deli coba menengahi munculnya isu antar agama (bukan lagi antar etnik). Sarikat Islam (SI) mulai mendapat respon dari penganut agama yang berbeda (Kristen). Redaktur Pewarta Deli, Ismail diberhentikan oleh direksi NV. Sjarikat Tapanoeli karena membela kaum kapitalis.

De Sumatra post, 25-07-1919 (Pers pribumi): ‘Soetan Parlindoengan dari Pewarta Deli, memprotes buku yang menistakan agama Islam. Parlindoengan menyalahkan penulis buku, “bahwa alih-alih berjuang untuk kesatuan semua orang pribumi. Kristen dan Muslim, seharusnya tidak saling mencela, dan justru perlu membangun kesatuan. Buku itu adalah racun bagi masyarakat”. Seorang tokoh Batak yang dikutip menganggap buku itu tidak tepat dan tidak layak jual. Kemudian buku itu ditarik dari peredaran’

De Sumatra post, 06-02-1920: ‘Dalam pengunduran diri Bapak Ismail sebagai editor dari Pewarta Deli duduk soalnya sebagai berikut: oleh manajemen NV. Sjarikat Tapanoeli, penerbit surat kabar Pewarta Deli memberhentikan Ismail’.

Pewarta Deli memuat tulisan dari Abdulah Lubis, anggota dewan kota (gemeeteraad) Medan  yang dikutip oleh De Sumatra post, 18-09-1920 tentang usulan pengelolaan tanah yang awalnya berada di tangan Sultan dan pengaran untuk dialihkan ke pemerintah (kota). Para anggota dewan termasuk Abdullah Lubis menyarankan perlu review terhadap pengaturan yang ada selama ini, karena mengandung ketidakadilan yang mana Eropa diuntungkan daripada pribumi. Kini waktunya semua pihak mengadopsi hukum, bukan semata-mata atas dasar kontrak (yang telah dibuat) yang tidak ada manfaatnya bagi penduduk. Sultan bukan pemerintahan sendiri. Sebagai yang menentukan secara umum (Negara) tentu saja haru mengacu pada adat, ang dalam hal ini tanpa pandang bulu mencangkokkan adat dari Pantai Barat ke Deli. Sejarah Deli memang begitu singkat dan imigrasi pribumi dan asing selalu begitu besar bahwa ada adat Psychedelic. Dan apa yang ada di sini dalam perjalanan waktu tanah telah dilakukan di luar kepentingan wilayah, untuk menunjukkan suatu pembangunan dari Negeri, seperti di Pantai Barat. Usulan ini akan diteruskan ke Mahkamah Agung untuk diputuskan.

Anggota Dewan Kota selama ini (di luar orang Eropa/Belanda) hanya terdiri dari Kapiten Cina, Kapiten Keling, Sultan dan controleur atas nama Batak (Sunggal). Pada tahun 1918 anggota dewan dipilih (pilkada), salah satu dari tiga non Eropa adalah Radja Goenoeng. Dalam perkembangannya menjadi lima orang dimana satu anggota baru adalah Abdullah Lubis. Ini dengan sendirinya, pada tahun 1920 merupakan awal dari perubahan pengaturan tentang wilayah di Medan dan Deli. Kontrak Sultan dan Planter tidak relevan dalam bernegara. Negara adalah rakyatb (pribumi). Asal-usul tanah dalam bernegera adalah tanah adat. Dalam kasus Medan dan Deli, hampir smua tanah adat (penduduk Batak) disewakan Sultan kepada para Planter (yang dulu tanpa pernah memberikan kompensasi kepada penduduk pemilik tanah yang asli).

De Preanger-bode, 12-12-1920
De Preanger-bode, 12-12-1920: ‘Pewarta Deli mengutip dan memberi komentar terhadap isi sebuah artikel yang pernah dimuat di majalah Sama Rata yang mengutip dari Sora Merdika. Pesan yang berbau hasutan itu sebagai berikut: ‘Marilaïi kita bersama-sama berontak, djangan takoet, tida ada sendjata, soldadoe tjoema sedikit, asal bersama brani nistjajalah berhasil baïk’. (Vrij vertaald : Laten we tezamen opstand maken, wees niet bang, we hebben wel geen wapens, doch er zijn maar weinig soldaten en als we volhouden winnen we toch).

De Preanger-bode, 20-04-1922
Pewarta Deli telah memainkan peran dalam awal perubahan radikal di Medan. Peran editor Soetan Parlindoengan sangat signifikan selama tujuh tahun terakhir. Kini (1922) Soetan Parlindoengan tidak lagi menjadi editor Pewarta Deli. Posisinya digantikan oleh Mangaradja Ihoetan. Sedangkan Soetan Parlindoengan sendiri kini menjadi pimpinan editor Pantjaran Berita (De Preanger-bode, 20-04-1922).

Pewarta Deli dibawah pimpinan redaksi Mangaradja Ihoetan tetap menjadi dinamisator dan korektor di Medan.

De Preanger-bode, 23-02-1923: ‘Pelanggaran Pers. Medan, 23 Fbr. (Aneta). Dewan negara menghukum editor Pewarta Deli sekian ratus gulden atas langkahnya karena penempatan tulisan Mohamad Said, dimana terdapat  kata-kata ‘Anak Hindia malas dan bodoh’ yang mengutip perkataan Mr. van Gennep’.

De Sumatra post, 04-07-1923
De Sumatra post, 04-07-1923: ‘Di Landraad Medan, 29 Agustus diadili, Manga Raja Ihoetan, editor Melayu courant Pewarta Deli, karena pencemaran nama baik terhadap Asisten Residen Bengkalis yang disebut pencuri dalam perdagangan. September 13 akan melayani kasus kedua melawan Manga Raja Ihoetan, juga dalam kualitas editor dari Pewarta Deli, karena mempengaruhi kehormatan dan nama baik orang Cina, Go Seng, sipir dari Cina untuk Pangkalan Soesoe’.

De Sumatra post, 18-12-1924: ‘Pelanggaran pers. Putusan Dewan negara 26 Agustus tahun ini Mangaradja Ihoetan, editor Pewarta Deli, yang didakwa karena satu penghinaan terhadap hoofddjaksa pada Rapat di Sibolga, telah dikonfirmasi oleh keputusan Dewan Kehakiman 28 November’.

Pewarta Deli terus menerus berteriak di Medan. Kini, surat kabar yang memiliki tiras besar itu kembali menyuarakan suara rakyat. Suara dari Pewarta Deli ini dilaporkan oleh Bataviaasch nieuwsblad, 19-06-1926. Disebutkan bahwa di Deli dilakukan promosi pembangunan ekonomi di bawah kebijakan pintu terbuka, modal asing menurut Pewarta Deli sebagaimana dalam Persoverzicht no. 24 akan mendapatkan kebebasan tanpa batas dan mungkin semua lahan yang tersedia akan digunakan. Oleh karena itu Pcwarta Deli meminta bahwa aliran modal tersebut dihentikan untuk sementara waktu dan sebaliknya penduduk asli ditampilkan cara untuk mengembangkan ekonomi dan untuk membangun kemitraan, jika perlu dengan cara prentah. Jika sebagian besar dari perusahaan adalah di tangan penduduk asli, satu hanya bisa mengatakan bahwa Indonesia telah meningkat secara ekonomi. Dan kemudian, dengan begitu Indonesia menuju ke sana, Indonesia Merdeka, mandiri di mana kita bisa tertawa (senang). Tapi selalu perbedaan antara teriakan (keinginan) ini dan kenyataan tidak pernah berakhir, pemerintah tidak pernah memiliki keterlibatan, inisiatif, dukungan, kepemimpinan, tanggung jawab untuk apa pun dan segala sesuatu.

De Sumatra post, 22-02-1927: ‘Konsesi dan penanaman publik. Dari ringkasan pers asli diberitahu dalam pesan dari Pewarta Deli, beberapa waktu lalu, co-editor, Mr. Njolat Soleiman dipanggil oleh Jaksa di Tandjong Balai terkait dengan sebuah artikel tentang salah satu keluhan oleh sejumlah orang dari Perapat Djandji (Kisaran) tentang tindakan melanggar hukum dari administrator Sungei Silau bahwa perkebunan penduduk dijadikan konsesi dan telah ditebang, tanpa membayar kompensasi selama lima tahun terakhir’.

Abdullah Lubis adalah anggota dewan kota Medan tahun 1920 hingga tahun 1930. Pada tahun 1929 Abdulah Lubis menjadi direktur Sarikat Tapanoeli yang menerbitkan Pewarta Deli. Editor Pewarta Deli, Mangaradja Ihoetan terkena delik pers atas pemberitaannya mengenai persekongkolan penjualan tanah yang melibatkan Gubernur (De Sumatra post, 28-01-1929). Mangaradja Ihoetan kembali terkena delik pers tentang pelaporan salah tembak dalam berburu yang dilakukan oleh Sultan (De Sumatra post, 27-08-1929). Pengganti Mangaradja Ihoetan adalah Kanoen (mantan redaktur Bintang Timoer di Batavia). Namun tidak lama kemudian, Kanoen juga terkena delik pers karena artikelnya berisi kebencian terhadap pemerintah colonial (Bataviaasch nieuwsblad, 14-11-1929).

Abdulah Lubis sebagai direktur Pewarta Deli menjadi kebingungan untuk mencari pengganti  dua editornya yang terkena delik pers dalam satu tahun. Lantas, Abdulah Lubis berangkat ke Batavia untuk menemui koleganya Parada Harahap. Kedua tokoh pers ini sepakat bahwa editor Bintang Timoer (milik Parada Harahap) Adinegoro untuk menjadi editor Pewarta Deli. Adinegoro yang memiliki nama asli Djamaloedin juga adalah koresponden Pewarta Deli di Batavia (De Sumatra post, 04-11-1929). Di Medan sendiri baru-baru ini terbit surat kabar baru, Sinar Deli yang mana editornya adalah Mangaradja Ihoetan (mantan editor Pewarta Deli).

De Sumatra post, 05-03-1930
De Sumatra post, 05-03-1930: Koran berbahasa Melayu baru, Sinar Deli. Di Medan sejak kemarin mengeluarkan surat kabar berbahasa Melayu yang baru yang diberi nama Sinar Deli, di bawah keredaksian dari mantan editor dari Pewarta Deli, Mangaradja Ihoetan dan Hasan Noel Arifin. Beberapa karyawan dari Pewarta Deli ikut bergabung. Surat kabar ini diterbitkan oleh Handel Mfi en Electr. Drukkery Sinar Dcli yang beralamat di Mcskeestraat’.

Ini adalah proses yang berulang. Mangaradja Ihoetan adalah pengganti Soetan Parlindoengan, editor Pewarta Deli yang terkena kasus delik pers. Kemudian Soetan Parlindoengan menjadi editor surat kabar yang baru, Pantjaran Berita. Kini, Mangaradja Ihoetan terkena delik pers dan kemudian menjadi editor surat kabar yang baru, Sinar Deli.

Pewarta Deli tidak pernah putus dirundung malang. Pewarta Deli tidak dalam posisi terkana delik pers lagi, tetapi editornya yang baru Adinegoro alias Djamaloedin dituduh terkait dengan gerakan komunis. Namun tuduhan itu tidak berdasarkan. DR. Soetomo, pimpinan surat kabar Soeara Oemoem di Surabaya membela Adinegoro (De Sumatra post, 21-09-1932). Sebagai pengantinya, Abdulah Lubis merekrut editor revolusioner Muhamad Arif Lubis. Kehadiran Arif Lubis juga sempat membuat Abdulah Lubis cemas karena dikaitkan dengan Partai Indonesia, partai yang dianggap berbahaya oleh pemerintah (De Sumatra post, 27-09-1932).

Pewarta Deli identik dengan Sjarikat Tapanoeli. Penerbit surat kabar Pewarta Deli adalah NV. Sjarikat Tapanoeli. Pewarta Deli kini telah berusia 24 tahun, suatu usia yang cukup dewasa untuk sebuah surat kabar. Baru-baru ini salah satu tokoh Sjarikat Tapanoeli, Sjech Ibrahim meninggal dunia dalam usia 73 tahun. Almarhum tergolong yang tertua diantara orang-orang Tapanoeli di Medan. Almarhum datang ke Medan sejak 58 tahun yang lalu. Ini berarti almarhum tiba di Medan pada tahun 1875, sepuluh tahun setelah kedatangan Nienhuys tahun 1865. Pada tahun 1875 ibukota afdeeling Deli masih berada di Laboehan Deli (ibukota dipindahkan ke Medan tahun 1879).

De Sumatra post, 21-04-1933: ’Selama 58 tahun tinggal di Deli. Sehari sebelum kemarin tiba-tiba meninggal pada usia 73 tahun Sjech Ibrahim, mantan Penghulu Pekan. Almarhum adalah salah satu yang tertua orang Tapanuli di sini. 58 tahun yang lalu dia datang dari afdeling Mandheling en Ankola. Pekerjaan pertamanya sebagai krani di Serdangsche Sultanaatskantoor, di Rantau Pandjang. Pada tahun delapan puluhan ia pindah kerja ke Huttenbach & Co, salah satu toko pertama Eropa di Medan. Kemudian ia diangkat Penghoeloe Pekan. Setelah pension pada tahun 1925 ia diangkat anggota Landraad. Almarhum adalah pendiri dari beberapa orgnisasi sosial dan keagamaan, yang lebih lanjut Sjech Ibrahim adalah co-pendiri Sjarikat Tapanoeli, penerbit surat kabar Pewarta Deli. Pemakaman kemarin sore dibawah bunga yang besar sebagai gantinya’.

Direktur Pewarta Deli, Abdulah Lubis berangkat ke Jepang (Bataviaasch nieuwsblad, 21-11-1933). Kunjungan ke Jepang ini merupakan salah satu bentuk provakasi orang Indonesia terhadap pemerintahan kolonial Belanda. Abdulah Lubis adalah salah satu dari tujuh orang pertama Indonesia ke Jepang, mewakili kelompok jurnalistik. Pimpinan rombongan tersebut adalah Parada Harahap, Direktur dan editor surat kabar Bintang Timoer di Batavia. Dalam rombongan ini terwakili kelompok wartawan (Abdullah Lubis), akdemisi politisi (Mohamad Hatta), guru, pengusaha (pertanian, manufaktur dan perdagangan). Rombongan ini berangkat dari Batavia dengan kapal Panama Maru ke Jepang dan kembali pada bulan Januari 1934 (di Surabaya). Di Jepang Parada Harahap dijuluki oleh pers setempat sebagai The King of Java Press.

Soerabaijasch handelsblad, 06-01-1934: ‘Mohamad Hatta di Jepang. Imperialisme pan-Asia.  Het Nws. v.d melaporkan baru-baru Drs. Hatta, presiden terkenal dewan PN I lokal, pada saat ini, membuat semacam perjalanan bisnis ke Jepang, tetapi juga dalam hal ini politik nasionalis sementara juga melakukan kontak dengan lingkaran politik tertentu di negara itu. Pewarta Deli di Medan menulis berdasarkan dari koresponden di Belanda yang menyatakan bahwa menurut tokoh kelompok komunis Rustam Effendi, Mr. Mohamad Hatta tidak lebih dari sebuah agen dari imperialis Jepang karena muncul dalam serangkaian artikel yang ditulis pada kesempatan kunjungannya ke Tokyo telah menunjukkan pendukung ekspansi Jepang, diwujudkan dalam slogan Pan Asia. Drs. Hatta, menurut pesan ini, propaganda untuk ide-ide yang suka perang dari Menteri Araki, yang semua Asia akan bersatu’.

Gerakan politik yang dilancarkan oleh berbagai pihak terhadap Belanda semakin kencang, baik ke dalam maupun ke luar (rombongan ke Jepang). Di dalam negeri, sejumlah media telah memainkan peran yang signifikan dalam pergerakan tersebut. Pada tahun ini sejumlah media mulai dihambat dan beberapa surat kabar dikenakan pasal delik pers termasuk dua surat kabar di Medan, Pewarta Deli dan Sinar Deli.

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 24-03-1934: ‘Persbreidel. Sekarang Sinar Deli. Sinar Deli, sebuah surat kabar pribumi nasionalis di Medan, memuat tulisan bermuatan politik atas nama PG, menerima peringatan keras, yang mengatakan bahwa opini tulisan-tulisan berikutnya, menjadi dasar dikenakan persbreidel. Gambaran dari opini yang menerima peringatan terakhir serius dan yang secara resmi persbreidel dilaksanakan ini menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen media pribumi telah berkomitmen untuk artikel publik yang dapat memnyebabkan ketertiban umum dalam situasi yang ada dapat menyebabkan gangguan. Sejauh ini yang dikenakan pers breidel antara lain: Soeara Oemoem (Surabaya), Bahagia (Semarang), Sikap (Solo), Pewarta (Padang), di Medan Sinar Deli dan Pewarta Deli (menerima peringatan serius), Persatoean Indonesia dari PI di Batavia, Indonesia Raja di Batavia (media serikat mahasiswa), Sipatahoenan (Bandoeng), Garuda Merapi (Jawa Tengah), dll..... daftar ini tentunya akan belum selesai. Segera akan ada lebih banyak untuk mengikuti’.

De Sumatra post, 31-03-1934
Dalam kunjungannya JE. Stokvis (anggota parlemen Belanda, spesialisasi daerah kolonial) ke Medan memberikan pendapatnya tentang pers pribumi. Stokvis di Medan telah memberikan kuliah umum. Stokvis berpendapat bahwa media pribumi telah menunjukkan kemajuan dan telah memberikan kontribusi dalam gerakan politik. Stokvis menyatakan saat ini ada empat media pribumi terkemuka, yakni: Soeara Oemoem (Surabaya), Pemandangan dan Bintang Timoer (Batavia) dan Pewarta Deli (Medan). Menurut Stokvis Pewarta Deli merupakan surat kabar yang diedit paling baik diantara surat kabar pribumi berbahasa Melayu (lihat De Sumatra post, 31-03-1934).

Pewarta Deli kembali kehilangan tokoh yang pernah membesarkannya. Soetan Parlindoengan dalam usian 86 tahun meninggal dunia kemarin sore (De Sumatra post, 13-06-1934). Disebutkan bahwa Soetan Parlindoengan, mantan seorang guru di Tapanoeli adalah seorang wartawan paling berpegaruh di Medan yang memulai terjun di bidang jurnalistik sebagai editor di Pewarta Deli. Setelah mengalami delik pers (Pewarta Deli), Soetan Parlindoengan melanjutkan profesi barunya dengan menjadi editor pada surat kabar yang baru Pantjaran Berita. Soetan Parlindoengan juga pernah menjadi anggota Landraad.

Bataviaasch nieuwsblad, 23-06-1934: ‘Abdul Hamid Lubis, Pemimpin PI (Partai Indonesia) di Medan. Abdul Hamid Lubis salah satunya telah dilaporkan bahwa setelah berakhirnya hukuman di penjara akan ditangkap sehubungan dengan persiapan internal telah mengalami hukuman untuk pelanggaran pers. Ini bukan pertama kalinya bahwa pemuda ini dengan pengadilan pidana sehubungan dengan fakta-fakta yang sama atau mirip bersentuhan. Kita ingat bahwa ia usia 16 tahun sudah menjadi bagian dari staf editorial dari Pewarta Deli, harus menjalani penjara karena penghinaan terhadap orang Eropa. Itu sekarang hukumannya sudah habis dan tidak diinginkan seharusnya dilakukan lagi dan dapat kembali ke profesinya’. [baca artikel tentang Abdul Hamid Lubis dalam no.21 pada blog ini].

Pewarta Deli kembali terkana pasal delik pers (Bataviaasch nieuwsblad, 15-08-1934). Kepemimpinan Abdulah Lubis berakhir di Pewarta Deli dan dewan direksi Sjarikat Tapanoeli mengangkat Haji Mohamad Kasim terhitung sejak tanggal 13 April (Bataviaasch nieuwsblad, 18-04-1936). Pers Belanda menilai meski pers pribumi sangat beragam namun memiliki kesamaan dalam gerakan rakyat seperti Pemandangan, Pertja Selatan, Tempo, Sinar Sumatra, Soera Oemoem, Warta Harian, Tjaha Timoer (pimpinan Parada Harahap, suksesi dari Bintang Timoer), Pewarta Deli dan sebagainya (Algemeen Handelsblad, 19-04-1939). De Indische courant, 19-04-1941 menulis tentang riwayat hidup Mangaradja Soangkoepon, anggota Voksraad seumur hidup dari Sumatera Timur. Mangaradja Soangkoepon disebutkan lahir di Panjanggar, Padang Sidmpuan dan bersekolah dasar di kota itu kemudian dilanjutkan ELS ke Medan. Setelah bekerja beberapa tahun di export-impor kemudian melanjutkan studi sekolah guru ke Leiden. Pada tahun 1915 Abdul Firman gelar Mangaradja Soangkoepon kembali ke tanah air di Medan dan bekerja sebagai editor Pewarta Deli (catatan: kepala editor pada waktu itu adalah Panoesoenan).

Bataviaasch nieuwsblad, 25-09-1941: ‘Sejumlah wartawan di Hindia Belanda telah melakukan perjalanan jurnalistik ke Australia atas undangan pemerintah Australia, termasuk diantaranya editor, R. Djamaloedin, Pewarta Deli di Medan. Rombongan ini berangkat 4 Oktober  dengan pesawat ke Sydney dan kemungkinan akan kembali 19 Oktober di Hindia Belanda’.

Pewarta Deli berhenti selama pendudukan Jepang (sejak 1942) dan setelah proklamasi terbit kembali. Namun kembali Belanda ke Indonesia yang dikenal sebagai agresi militer.

Het dagblad: uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 30-03-1946: ‘Pewarta Deli menyatakan bahwa adopsi uang Hindia (Indisch) baru sama saja dengan pengkhianatan dan ahwa setiap orang menemukan mereka dalam kepemilikan akan dituduh sebagai pengkhianat’.

Ketika Medan masih kampung, Padang Sidempuan sudah menjadi kota
Demikianlah riwayat surat kabar Pewarta Deli yang terbit pertamakali tahun 1909. Pewarta Deli akan terus dikenang sebagai surat kabar perjuangan, surat kabar legendaries dari Medan. Surat kabar Pewarta Deli didirikan oleh Hadji Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda, seorang mantan guru, pengarang novel, penulis buku pelajaran dan pemilik sekolah swasta di Padang tahun 1895. Dja Endar Moeda adalah alumni sekolah guru Kweekschool Padang Sidempuan (lulus 1884). Editor-editor Pewarta Deli berikutnya seperti Panoesoenan, Soetan Parlindoengan, Abdulah Lubis dan Mangaradja Ihoetan adalah mantan-mantan guru yang berdedikasi di bidang pers. Dja Endar Moeda pernah mengatakan, bahwa pendidikan dan pers sama pentingnya dalam mencerdasakan bangsa. Pewarta Deli adalah salah satu heritage dan kontribusi nyata orang-orang terpelajar dari Padang Sidempuan di awal keberadaan Medan dan sekitarnya..


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar: