Sabtu, Juni 25, 2016

Sejarah Kota Medan (25): Istana Maimun dari Rumah Biasa di Labuhan Deli Menjadi Istana Megah di Medan; Dibangun dari Hasil Sewa Tanah Penduduk Batak



Istana Maimun pada masa kini hanya dipandang tidak lebih dari hanya sekadar sebuah ‘rumah besar’ yang tidak terawat. Istana Maimun sejak 1946 telah ‘jatuh’ fungsinya sebagai keraton. Bangunan terbesar di masa lalu (era kolonial Belanda) itu, kini sudah beralih fungsi menjadi tempat tinggal para ahli warisnya. Tidak terurus dan tidak pernah mendapat renovasi.

Istana Maimun di Medan adalah istana kerajaan termegah di seluruh Indonesia. Bangunan istana Sultan Deli ini nyaris mengimbangi istana Negara dan istana Bogor. Oleh karenanya, Istana Maimun menjadi salah satu istana yang banyak dikunjungi. Para pengunjung berdecak kagum. Arsitentur yang indah dengan biaya pembangunannya yang sangat besar.

Namun pada latarbelakang keberadaan Istana Maimun ini banyak yang tidak diketahui publik. Masyarakat hanya mengetahui bahwa istana itu pembangunannya dimulai 1888 dan selesai 1891. Masyarakat hanya terbius oleh kemegahannya semata. Di dalam istana, dulu Sultan dan para pangeran hidup dengan mewah, sementara penduduk di sekitarnya hidup susah dan terjajah. Penggalan kisah dibelakang keberadaan istana tidak pernah diungkapkan. Mungkin anda bertanya: Bagaimana istana semegah ini muncul di Medan? Mengapa istana Sultan Deli begitu wah diantara keraton-keraton yang ada pada jamannya? Apakah ada yang diuntungkan dan apakah ada yang dirugikan? Mari kita lacak!

Labuhan Deli dan Aneksasi Belanda

Pada tahun 1863 Residen Riau, Netscher datang dengan kapal perang ke Deli dan berlabuh di Labuhan Deli. Netscher, mantan Residen Tapanoeli adalah juga anggota Bataviasch Genooschap (perkumpulan akademik di Batavia). Netscher terbilang pejabat pemerintah kolonial yang mampu menulis dengan baik. Dalam laporan kunjungannya ke Labuhan Deli, Netscher mendeskripsikan dengan baik apa yang perlu ditulisnya sebagai memory. Laporan ke Deli itu juga disarikannnya dalam bentuk serial artikel di surat kabar yang terbit di Batavia.

Wilayah Deli. Batas-batas lanskap Deli adalah sepanjang pantai dari huk Langkat Toeah (5’83’’) dan sungai Pertjoet (5’43’). Panjang pantai ini tidak lebih dari 20 mil Inggris. Bagian sisi dalam lebih lebar. Garis sebenarnya dari batas ini tidak diketahui, atau bahwa dari perbatasan barat, karena bagian dalam sepenuhnya dihuni oleh suku Batak yang hanya memberikan penghormatan saja kepada Pangeran Deli. Daerah ini dihuni oleh suku-suku Batak meluas ke batas pegunungan yang jauhnya 50 mil Inggris dari lepas pantai. Seluruh daerah ini mengalir sungai-sungai yang bermuara ke laut dimana beberapa pulau cukup besar yang merupakan dua muara utama sungai Hamparan Perak dan sebelah selatan sungai Deli atau Laboehan yang mana yang disebut terakhir tempat berlabuh kapal komersil.

Labuhan Deli, 1875
Kampong Deli. Setengah mil English dari mulut sungai Deli terletak Kampong Deli. Tanah disini tampaknya sangat cocok untuk tumbuh pohon kelapa. Kampong Deli terdiri dari dua jalan panjang, yang sebagian besar rumah-rumah saling menyentuh. Jalan-jalan ini membentuk dengan satu sudut kanan lain. Hampir semua rumah bentuk panggung, sekitar tiga kaki di atas tanah dibangun, dan di bawah kanopi menjorok rendah biasanya dilengkapi dengan satu bangku bambu, baik untuk melayani sebagai tempat duduk atau untuk menampilkan barang dagangan. Beberapa rumah terbuat dari kayu, sebagian besar bambu, niboeng, kadjaogmatten dan bahan ligle serupa. Atap semua biasanya diberikan dengan katup untuk memungkinkan cahaya dan udara, dan untuk jalan keluar dari dalam rumah oleh asap. Hampir semua kolong rumah tak pernah dibersihkan, rumah-rumah menjadi jorok, dan akumulasi dari segala macam sampah di bawah rumah menunjukkan sebuah kampung kurang sedap dipandang. Jalan-jalan dan parit yang berjalan bersama di sana, untuk mengalirkan kelebihan air, membuktikan bahwa mereka sebelumnya berusaha ordc dan kontrol untuk mengeksekusi besarbesaran, tetapi dengan tangan tidak diperlukan dan semuanya sekarang mencegah j pembusukan dalam.

Rumah Sultan dan Masjid. Di bawah pemerintahan dikendalikan dan kuat. Pada ujung desa adalah rumah dari Sultan dan masdjid. Yang pertama adalah luas, bangunan papan, trotoar ditutupi terhubung dengan satu depan dan satu achtervaranda. Semua bangunan ini berdiri di atas tiang, hampir delapan kaki di atas tanah, dan ditutupi dengan atap. Voorvaianda adalah sekitar sembilan puluh kaki panjang dan tiga puluh lebar, tanpa pilar di tengah, dan dengan demikian menciptakan, luas ruangan yang indah, yang oleh tinggi atap dan dinding berkisi-kisi juga sangat lapang.

Masyarakat. Satu pemandangan yang aneh, diantara beberapa ratus penduduk asli, tampak sejumlah pria Atjeh dipersenjatai dengan belati dan pedang panjang Atjeh dengan gagang perak. Rumah sultan dikelilingi pagar. Juga terdapat empat rumah panggung rendah yang dihuni oleh orang Batak. Bangunan rumah Batak ini ditutupi dengan serat dari paku sawit dan rapi dengan dekorasi Batak seperti dicat. Rumah kepala Batakscbe seperti cottage, yang mengakui supremasi Deli. Mesdjid adalah sebuah bangunan papan yang cukup terawat dengan baik ukuran rendah.

Pakaian. Gaun dari penduduk pribumi terdiri dari satu lembar, celana pendek dan korset lebar atau salah satu dari sarung yang diikat sampai bahu. Celana dan korset ziin linen biasanya putih atau biru. Dimediasi katun atau sutera memakai celana Atjehsch. Kelas bawah terkesan kotor. Para wanita memakai sarung, yang diikat berada di atas payudara.

Barang dagangan. Sebagian baris wade pembuatan Eropa dan diimpor dari Pulu Pinang. Hampir tidak ada rumah di desa Deli dimana tidak hanya barang-barang yang ditampilkan. Namun, sebagian besar kasus adalah nilai yang kecil, seperti ikan kering, gambir dan buah. Di beberapa toko juga ditemukan produk Inggris atau Aljehsche seperti pakaian, besi, obat-obatan, dll.

Penerangan. Bagi kebanyakan rumah adalah salah satu pers minyak, menunjukkan sederhana, blok melingkar, disimpan memanjang pada dua trestles dan memberikan satu takik persegi, di mana daging kelapa parut halus melalui wedges yang gepersd. Minyak bocor akibatnya adalah kualitas yang sangat baik dan harga murah.

Penduduk. Populasi Deli di pantai adalah Maleijers, di pedalaman Batak. Penduduk Melayu kecil jumlahnya; mereka tidak lebih dari beberapa ribu jiwa. Mereka mendiami tanah pesisir rendah dan terutama terkonsentrasi di Kampung Deli. Sementara sekitar dua puluh Cina dan sekitar seratus Hindu berdarah campuran terdapat di Kampung Deli. Sedangkan Batak dapat dikatakan sangat banyak. Daerah yang dihuni oleh Batak terhitung mulai dari pantai dan terus memanjang hingga ke atas pegunungan tinggi. Dikatakan bahwa penduduk Batak ini ada kepala suku yang memerintah sekitar 40.000 jiwa. Diantara mereka terdapat Mohammedanism (beragama Islam) tampaknya klaim telah dibuat.

Deskripsi Netscher ini merupakan deskripsi paling lengkap tentang keberadaan Deli dan Labuhan Deli. Kampung Deli adalah tempat dimana rumah sultan berada. Rumah sultan terbilang yang paling besar diantara rumah-rumah penduduk yang jumlahnya sekitar 200 rumah. Rumah sultan adalah rumah panggung berukuran sembilan puluh kaki panjang dan tiga puluh kaki lebar (27 M x 9 M), tanpa pilar di tengah. Sultan adalah kepala kampong, yang juga menjadi sultan untuk penduduk di garis pantai (sepanjang 20 KM) yang terdiri dari beberapa ribu penduduk. Di luar itu, agak ke dalam adalah daerah penduduk Batak.

Di Kampung Deli terdapat duapuluh Tionghoa, sekitar seratus Hindu berdarah campuran, sejumlah pria Atjeh dipersenjatai dengan belati dan pedang panjang, serta empat rumah panggung rendah yang dihuni oleh orang Batak. Gambaran ini mengindikasikan Labuhan Deli adalah pusat perdagangan dibawah kekuasaan Atjeh. Adanya orang Tionghoa besar kemungkinan berperan sebagai pedagang (ke luar) sedangkan empat rumah Batak mengindikasikan perwakilan dagang empat kepala suku Batak (ke dalam). Penduduk India dan penduduk Melayu cukup besar. Penduduk India boleh jadi mengindikasikan sisa orang-orang India (asal mula Deli?) sedangkan penduduk Melayu mengindikasikan pertumbuhan migran Melayu yang datang dari timur (Semenanjung Malaka) dan dari selatan (Riau). Labuhan Deli sebelum dibawah supremasi Kesultanan Atjeh berada di bawah supremasi Kesultanan Riau.

Berdasarkan laporan Anderson (1823) rumah tempat Sultan berada di Kampung Alei. Pada saat kunjungan Anderson terjadi perang antara Sultan dengan Radja Kampung Braijan (Kerajaan Batak). Setelah itu tempat sultan (Sulthan Osman) pindah ke Labuhan Deli pada tahun 1854. Kesultanan Atjeh menguasai Labuhan Deli. Ketika pada tahun 1862 terjadi kesepakatan antara Pemerintah Nederlansch Indie dengan Sultan Siak, Deli yang berada dibawah supremasi Atjeh, guna untuk pemulihan hak-haknya, Sultan Mahmoud (anak Sultan Osman) bergegas untuk mengambil perlindungan kepada Belanda dan memaksanya kembali untuk melakukan keadilan atas dominasi Atjeh. Kunjungan Netscher adalah tanggal yang menentukan supremasi Atjeh hilang dari Labuhan Deli.

Awal keberadaan Sultan Deli bermula ketika pelabuhan-pelabuhan di sepanjang pantai timur dikuasai oleh Siak. Pada tanggal 8 Maret 1811, kepala Deli yakni Panglima Mengedar Alam, oleh pangeran Siak diberkahi sebagai Sultan. Rupanya kolaborasi Deli dan Siak ini tidak semua suku-suku Batak menyetujuinya. Para pimpinan suku Batak (baik di pantai maupun di pedalaman) hanya melihat Deli sebagai boneka dari Siak. Batak sendiri tampaknya lebih menyukai Atjeh daripada Siak dalam penguasaan Kesultanan Deli (karena alasan kultural dan territorial)..

Kesultanan Deli adalah kekuasaan yang rapuh. Kesultanan yang hanya hidup semata-mata untuk kepentingan komersil (Inggris). Kesultanan ini selalu dibawah bayang-bayang kekuatan besar (Atjeh dan Siak), tetapi tidak berhasil sepenuhnya membuat aliansi dengan tetangganya, penduduk suku Batak (karena ada yang pro kontra diantara suku-suku Batak atas kehadiran atau semakin menguatnya kesultanan Deli). Kesultanan Deli telah menyebabkan nasibnya hancur karena perang saudara, hingga akhirnya memutuskan untuk meminta perlindungan kepada Belanda, rezim kekuatan baru di pantai timur Sumatra, rezim yang menginginkan kesultanan Deli barada di dalam pelukannya (didahului oleh Siak yang meminta perlindungan kepada Belanda).

Nienhuys dan Penduduk Batak Disingkirkan

Setelah Deli dianeksasi Belanda, seorang controleur ditempatkan di Labuhan Deli. Controleur Baron de Raet van Cat mulai bekerja dengan Sultan Deli dan melakukan upaya negosiasi perdamaian dengan empat pemimpin Batak. Sultan dan empat pemimpin Batak adalah kunci suksesnya perdagangan (misi colonial). Nienhuys dari Jawa Timur dan kawan-kawan pada tahun 1865 datang ke Deli untuk membuka perkebunan tembakau dengan menyewa lahan dari Sultan. Salah satu pemimpin Batak membantu Nienhuys untuk menyediakan tenaga kerja. Namun tenaga kerja Batak hasilnya kurang memuaskan. Nienhuys coba mencari tenaga kerja dari Jawa di Penang, juga tidak memuaskan. Lalu Nienhuys mendapatkan tenaga kerja Cina di Singapoera, hasilnya cukup memuaskan. Perkebunan tembakau ternyata sukses. Hasil uji di Jerman produk tembakau Deli ternyata jempolan dan beritanya cepat menyebar. Sejak 1869 investor Eropa mulai tertarik investasi di Deli, apalagi terusan Siez baru dibuka. Perkembangan yang pesat di Deli (pantai timur), sebaliknya di pantai barat mulai sepi (arus kapal Eropa-Batavia sudah mulai melalui selat Malaka).

Investasi yang terus meningkat membutuhkan lahan yang lebih banyak. Lahan-lahan yang dikuasai oleh Sultan di sekitar Labuhan Deli dan Petjoet sudah habis disewakan dalam bentuk konsesi seiring dengan perluasan pengembangan perkebunan Nienhuys membentuk maskapai (Deli Mij). Penyerobotan lahan-lahan penduduk Batak mulai dirasakan. Para pemimpin Batak mulai bereaksi. Para Planter baru yang semakin banyak berdatangan mulai mendesak Sultan dan Controleur melakukan pembebasan lahan.

Sultan dalam hal ini serba salah. Sultan mulai terpengaruh. Di satu sisi Sultan memiliki hubungan baik dengan penduduk Batak melalui para pemimpin Batak. Di sisi lain, hasil sewa lahan terhadap para planter makin lama makin menyenangkan karena menjadi sumber kekayaan baru. Sultan mulai tergiur, memperkaya diri sendiri dan mengorbankan penduduk Batak. Awalnya sisi barat Sungai Deli (Boeloe Tjina/Hamparan Perak) mulai diokupasi. Kerajaan-kerajaan kecil (penduduk Batak) di sepanjang Sungai Deli mulai tidak berdaya. Somasi terhadap Sultan mulai dilancarkan oleh para pemimpin Batak. Tetapi tidak digubris. Tidak demikian dari pemimpin Batak di Sunggal yang berani angkat senjata terhadap represi pasukan militer Belanda, yang berada mengawal di depan Sultan (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 30-10-1873). Sukses Sultan Deli meraup kekayaan dari sewa tanah, mengundang minat dari Serdang dan Langkat untuk mengundang para investor masuk ke daerahnya masing-masing. Kisah yang sama juga terjadi: penduduk Batak disingkirkan.

Sementara itu pemerintahan Belanda juga berkembang dengan tumbuhnya perkebunan di Deli (kuli Cina mulai mendominasi sebagai tenaga kerja perkebunan). Pedagang-pedagang Tionghoa juga semakin deras mengalir dengan pertambahan kuli Cina yang semakin massif. Pemimpin Cina diformalkan dengan mempromsikan letnan menjadi kapten di Labuhan Deli (Tjong Yong Hian) dan mengangkat letnan baru di Medan (Tjong A Fie). Dua pimpinan Cina bersaudara ini melesat cepat menjadi kaya (karena perdagangan utamanya opium). Distribusi opium ini awalnya berada di tangan Sultan. Sultan sudah mulai nyaman dengan hitung-hitungan lahan konsesi baru (mermpas lahan dari penduduk). Lambat laun Tjong Yong Hian dan Tjong A Fie terlibat penguasaan lahan untuk digunakan sendiri (perkebunan dan perumahan).

Status afdeeling Deli kemudian ditingkatkan dari controleur menjadi Asisten Residen. Di sekitar Medan Putri, perkebunan Deli Mij (Nienhuys dkk) semakin banyak fasilitas-fasilitas umum (pusat perbelanjaan, kesehatan dan menjadi tempat transit ke segala penjuru kebun-kebun baru).

Tunggu deskripsi lebih lanjut



*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar: