02/07/16

Sejarah Kota Medan (28): Sjech Ibrahim, Orang Tapanuli Pertama di Deli (1875) yang Menjadi Kepala Kampung Pertama di Medan (1909); Pendiri Sjarikat Tapanoeli



Sjech Ibrahim atau Haji Ibrahim pernah menjadi kepala kampong (penghulu) Kampung Kesawan Medan. Mohamad Yacoub gelar Soetan Kinajan atau Sjech Ibrahim datang ke Deli pada tahun 1875 sebagai krani Kantor Sultan Serdang (Serdangsche Sultanaatskantoor) di Rantaoe Pandjang. Mohamad Yacoub berasal dari afdeeling Mandheling en Ankola. Pada saat itu umur Mohamad Yacoub baru 15 tahun (tamat sekolah dasar).

Pemerintahan sipil di Residentie Tapanoeli dibentuk tahun 1841 yang (masih) terdiri dari tiga afdeeling: Afd. Natal, Afd. Mandheling en Ankola dan afd, Sibolga. Residen berkedudukan di Sibolga. Di Afd. Mandheling en Ankola ditempatkan seorang Asisten Residen berkedudukan di Panjaboengan. Pada tahun 1870 ibukota Asisten Residen dipindahkan dari Panjaboengan ke Padang Sidempuan. Pada tahun 1879 dibuka sekolah guru (kweekschool) di Padang Sidempuan sebagai pengganti Kweekschool Tanobato yang ditutup tahun 1874 (Kweekschool Tanobato didirikan oleh Willem Iskander tahun 1862). Residentie Tapanoeli baru dipisahkan dari Province Sumatra’s Westkust pada tahun 1905.

Esplanade (kini Lapangan Merdeka) Medan, 1881
Pemerintahan sipil di afdeeling Deli dibentuk tahun 1863 dengan menempatkan seorang controleur di Labuhan Deli (sebagai bagian dari Asisten Residen Siak Indrapoera, Residentie Riau. Pada tahun 1874, keberadaan nama kampung Medan Poetri di Deli sudah diketahui melalui koran (Bataviaasch handelsblad, 27-11-1874), sebagai tempat orang Eropa/Belanda. Semakin banyaknya orang Eropa/Belanda yang tinggal di Medan (Poetri) pada tahun 1875 ditempatkan seorang letnan militer (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 03-03-1875). Pada tahun 1875 di sekitar Medan sudah terdapat antara 6000-7000 kuli Cina. Pada tahun 1875 onderafdeeling Medan dibentuk dengan menempatkan seorang controleur di Medan. Sementara di Labuhan Deli statusnya ditingkatkan dari controleur menjadi Asisten Residen. Pada tahun 1879 ibukota afd. Deli dipindahkan dari Laboehan Deli ke Medan (Bataviaasch handelsblad, 02-07-1879). Ibukota Residentie Sumatra van Oostkust akan dipindahkan pada tanggal 1 Maret 1887 ke Deli (De locomotief: Samarangsch han.en adv.-blad, 05-02-1887). Pada tahun 1909 ibukota Medan ditingkatkan menjadi kotamadia (gemeete). Pada tahun 1915 Residentie Sumatra van Oostkust menjadi sebuah provinsi.

Ketika Medan masih kampung, Padang Sidempuan sudah kota
Pada tahun 1875 tujuan utama orang-orang Tapanoeli khususnya afd. Mandheling en Ankola adalah ke Padang (sebagai ibukota provinsi). Untuk mencapai ibukota provinsi tersebut dilakukan dengan moda transportasi darat ke pelabuhan Natal atau pelabuhan Sibolga dan dilanjutkan dengan moda transportasi laut. Meski demikian adanya, orang-orang Mandailing dan Angkola sudah sejak lama melakukan migrasi ke Semenanjung yang awalnya melalui daratan (era padri) kemudian melalui laut (era colonial) dari Sibolga via Sabang terus ke Penang/Malaka. Sejak dibukanya perkebunan tembakau di Deli (Nienhuys, 1865) orang-orang Mandailing dan Ankola mengubah perantauan ke Deli (Labuhan Deli, Rantau Pandjang, Tandjong Poera dan Tandjong Balai). Mohamad Yacoub termasuk para migrant tersebut.

Sebelum ada djaksa pribumi di Medan, sudah terlebih dahulu ada djaksa di Leboehan Deli. Djaksa tersebut dipindahkan dari Tapanoeli bernama Si Ripin gelar Soetan Mantri (1887). Pada tahun 1893 seorang djaksa ditempatkan di Medan (djaksa pribumi pertama). Djaksa tersebut bernama Sjarif Anwar gelar Soetan Goenoeng Toea yang memulai karir sebagai djaksa di Sipirok, Mandheling en Ankola 1875 (Mantan murid Nommensen ini sebelumnya menjadi penulis di kantor Asisten Residen di Padang Sidempuan).

Mohamad Yacoub pada tahun 1880an pindah ke Medan dan bekerja di toko Huttenbach & Co, salah satu toko pertama Eropa di Medan. Mohamad Yacoub kemudian membuka usaha dan melakukan haji ke Mekah. Sejak kepulangan  Mohamad Yacoub dari tanah suci namanya lebih dikenal sebagai Hadji Ibrahim. Pada tahun 1909 ketika Medan ditingkatkan menjadi kota (gemeete) Hadji Ibrahim diangkat menjadi penghoeloe (kamponghoofd) Kampong Kesawan. Pusat pasar Medan berada di Kampung Kesawan, Hadji Ibrahim juga dikenal sebagai Penghoeloe Pekan.

Orang Mandailing dan Ankola  sudah semakin banyak di Medan. Pada tahun 1907 untuk mengimbangi pedagang Tionghoa, para pengusaha Mandailing dan Ankola membentuk Sjarikat Tapanoeli. Sarikat ini pada tahun itu membentuk klub sepakbola yang diberi nama Tapanoeli Voetbal Club dan mempelopori diadakannya kompetisi Deli Voetbal Bond. Pada tahun 1909 Sarikat Tapanoeli mendirikan surat kabar Pewarta Deli dengan ketuanya Hadji Dja Endar Moeda dan wakilnya Hadji Ibrahim. Hadji Dja Endar Moeda, alumni Kweekschool Padang Sidempuan (1884), mantan guru, pemilik sekolah di Padang dan pengusaha media dengan suratkabar yang terkenal Pertja Barat (di Padang) dan Tapian Na Oeli (di Sibolga). Dja Endar Moeda hijrah ke Medan tahun 1907.

Hadji Ibrahim tidak hanya aktif di Sajarikat Tapanoeli tetapi juga organisasi-organisasi keagamaan seperti Sarikat Islam. Hadji Ibrahim kemudian lebih dikenal sebagai Sjech Ibrahim.

Sjech Ibrahim diangkat sebagai anggota Landraad Medan pada tahun 1925. Anggota lainnya yang diangkat selain Kepala kampong dari Soengei Rengas dan Kampong Aur juga beberapa letnan Cina di Medan, Labuhan Deli dan Sunggal. Landraad adalah dewan pengadilan untuk pribumi yang anggotanya didominasi oleh orang-orang Eropa/Belanda.

De Sumatra post, 27-05-1925: ‘Landraad di Medan. Dewan Tanah di Medan mengumumkan anggota baru yang ditunjuk antara lain Mohamad Jacoeb gelar Soetan Kinajan, kampongboofd dari Kesawan dan Sungei Krah dan Soetan Oedin gelar Baherumsjah, kepala kampong dari Soengei Rengas dan Kampong Aur’.

Sjech Ibrahim termasuk pelopor pendirian Djamiatoel al-Washlijah. Organisasi ini adalah organisasi keagamaan yang dibentuk untuk mengibangi organisasi yang sudah dibentuk Muhammadiyah.  Organisasi Djamiatoel al-Washlijah didirikan pada saat pertemuan yang dilakukan di rumah Mohamad Joenoes pada 26 Oktober 1930. Muhammad Joenoes adalah pengusaha yang sukses di Pematang Siantar dan Medan. Mohamad Joenoes adalah nama lain dari Soetan Hasoendoetan mantan guru dan seorang novelis Tapanoeli yang terkenal dengan novelnya Tolbok Haleon.

Sjech Ibrahim migrant Tapanuli generasi pertama dikabarkan telah meninggal dunia pada bulan April 1933 dalam usia tinggi 73 tahun.

De Sumatra post, 21-04-1933: ’Selama 58 tahun tinggal di Deli. Sehari sebelum kemarin tiba-tiba meninggal pada usia 73 tahun Sjech Ibrahim, mantan Penghulu Pekan. Almarhum adalah salah satu yang tertua orang Tapanuli di sini. 58 tahun yang lalu dia datang dari afdeling Mandheling en Ankola. Pekerjaan pertamanya sebagai krani di Serdangsche Sultanaatskantoor, di Rantau Pandjang. Pada tahun delapan puluhan ia pindah kerja ke Huttenbach & Co, salah satu toko pertama Eropa di Medan. Kemudian ia diangkat Penghoeloe Pekan. Setelah pension pada tahun 1925 ia diangkat anggota Landraad. Almarhum adalah pendiri dari beberapa organisasi sosial dan keagamaan, yang lebih lanjut Sjech Ibrahim adalah co-pendiri Sjarikat Tapanoeli, penerbit surat kabar Pewarta Deli. Pemakaman kemarin sore dibawah bunga yang besar sebagai gantinya’.

Pengganti Sjech Ibrahim sebagai Kepala Kampung Kesawan dan Soengei Krah adalah Haji Mohamad Kasim. Namun jabatan kepala kampong yang baru harus ditangguhkan karena dituduh telah melakukan penyimpangan pembayaran uang pajak. Sebagai pejabat sementara sebagai Kepala Kampung Kesawan dan Soengei Krah adalah Abdoel Moerad, putra almarhum Sjech Ibrahim.

De Sumatra post, 02-10-1933 Penghulu ditangguhkan karena penipuan dengan uang pembayar pajak. Dengan keputusan Asisten Residen Deli dan Serdang untuk sementara bertindak Kepala dari Kesawan en Soengai Kerah ditunjuk Abdul Moerad, putra mendiang Hadji Ibrahim untuk menggantikan Penghulu Medan. Penghulu Pekan Medan (Kesawan dan Sungei Kerah) Haji Mohamad Kasim dan merupakan ayah dari Matt Deli. Dia telah ditangguhkan karena penyimpangan dengan uang pembayar pajak. Dalam kasus ini juga selama proses penelitian, ditangguhkan tiga wakil’.

De Sumatra post, 09-10-1933: ‘Besluiten en benoemingen. Diangkat Wakil dari Penghulu (Kampocghoofd) dari kampung Kesawan dan Soengai Kerah, Taib, sebelumnya adalah penulis (schrijver) di Deli Railway Company di Medan’.

Sjech Ibrahim adalah salah satu penduduk Mandailing dan Angkola yang migrasi ke Medan. Sjech Ibrahim datang ke Deli ketika masih sangat belia. Selain Sjech Ibrahim masih banyak pemuda-pemuda belia yang berasal dari Mandailing dan Ankola yang datang menyusul dan terbilang sukses. Meski masih belia namun dengan bekal pendidikan yang baik mereka dengan mudah mendapat pekerjaan di Deli dan Medan sebagai krani. Setelah memiliki cukup modal, banyak diantara mereka yang berniaga.


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.

2 komentar:

Tondi Siregar mengatakan...

Disebutkan:

"Mohamad Joenoes adalah nama lain dari Soetan Hasoendoetan mantan guru dan seorang novelis Tapanoeli yang terkenal dengan novelnya Tolbok Haleon".

Setahu saya Tolbok Haleon ditulis oleh Soetan Pangoerabaan Pane. Kalau begitu Soetan Hasoendoetan adalah orang yang sama dengan Soetan Pangoerabaan Pane?

Akhir Matua Harahap mengatakan...

Anda benar dan cukup teliti. Terimkasih. Soetan Pangoerbaan Pane pengarang novel terkenal Tolbok Haleon; Soetan Hasoendoetan novelnya yang terkenal Siti Djoeariah. Tambahan: Satu lagi pengarang novel terkenal Soetan Martoewa Radja dengan judul Doea Sedjoli (bisa juga dilihat pada artikel lain di dalam blog ini). Akhir MH