01/11/16

Abdul Abbas dan Gele Harun: Pemimpin Republik yang Tetap Setia Terhadap Penduduk Lampung




Residen Lampung pertama: Abdul Abbas dan Gele Harun
Mr. Abdul Abbas adalah residen pertama Lampung. Mr. Abdul Abbas dikudeta di Lampung ketika masih menjabat sebagai Residen. Mr. Abdul Abbas lalu digantikan oleh Badril Munir. Namun dalam perkembangannya, tokoh-tokoh Lampung mengoreksinya dengan mengangkat Gele Harun sebagai residen baru menggantikan residen yang lama Rukadi Wiryoharjo.

Mr. Abdul Abbas dan Mr. Gele Harun adalah dua ahli hukum, pemimpin republik yang selalu setia terhadap penduduk Lampung. Meski mereka berdua bukan asli Lampung, tetapi kepedulian mereka terhadap penduduk Lampung tidak ada yang menandinginya sekalipun tokoh asli Lampung sendiri. Oleh karenanya penduduk Lampung seharusnya mengapresiasi kedua tokoh ini. Jika keduanya bukan ‘wong kito’ Lampung, lantas siapa kedua ahli hukum ini? Mari kita lacak!.

Mr. Abdul Abbas, Anggota PPKI

Tidak ada orang Lampung yang menjadi anggota BPUPKI, tetapi ada orang Tapanuli yang menjadi anggota PPKI. Mr. Abdul Abbas adalah anggota PPKI yang menyampaikan berita kemerdekaan RI yang kemudian diangkat menjadi Residen Lampung. Orang Lampung sendiri tidak terlalu mengenal siapa Abdul Abbas dan darimana asalnya, orang Lampung sendiri hanya mengenal Abdul Abbas pernah sebagai Ketua Shu Sangi Kai Lampung di jaman penduduk Jepang.

Setelah lulus kuliah rechtshoogeschool (sekolah tinggi hukum), Abdul Abbas tidak pulang kampong tetapi lebih memilih berprofesi sebagai  pengacara dan berkiprah di Tandjoeng Karang (Lampong)

Mr. Gele Harun, Anak Dr. Harun Al Rasjid

Pada tahun 1938, Gele Harun baru pulang studi sekolah hukum di Leiden. Gele Harun membuka kantor pengacara di Tanjung Karang. Mr. Abdul Abbas dan Mr. Gelen Harun adalah dua pengacara pemberani di Lampung di era colonial Belanda.

Mr. Abdul Abbas dan Mr. Gele Harun, Dua Tokoh Republik yang Berjuang Mempertahankan Kemerdekaan

Abdul Abbas dan Gele Harun adalah asal Padang Sidempuan. Abdul Abbas lahir di Medan tahun 1906 dan Gele Harun lahir di Sibolga tahun 1910. Ayah Abdul Abbas, kelahiran Sipirok bernama Mangaradja Siregar yang memulai karir sebagai djaksa di Sibolga lalu dipindahkan ke Medan. Sedangkan ayah Gele Harun, kelahiran Padang Sidempuan, lulusan docter djawa school  (1903) yang memulai karir di Padang, kemudian di Sibolga lalu pindah ke Lampung.

Afdeeling Padang Sidempuan (sebelumnya bernama afdeeling Mandailing en Angkola) salah satu daerah (afdeeling) di Hindia Belanda (baca: Indonesia) di era Belanda yang terbilang maju dalam pendidikan. Pada tahun 1854 sudah ada yang kuliah di docter djawa school di Batavia, tahun 1957 sudah ada yang sekolah guru di negeri Belanda, tahun 1905 sudah ada yang kuliah di negeri Belanda, tahun 1909 sudah ada yang kuliah di sekolah kedokteran hewan di Buitenzorg (baca: Bogor). Oleh karenanya, orang-orang terpelajar dari Padang Sidempuan sudah menyebar ke berbagai penjuru tanah air sejak lama, termasuk orangtua dari Abdul Abbas dan Gele Harun. Para orangtua dari Amir Sjarifoedin, Abdul Hakim, Mochtar, Adam Malik, SM Amin, Zulkifli, Sakti Alamsjah merantau ke berbagai tempat. Amir Sjarifoeddin Harahap lahir di Medan menjadi Perdana Menteri RI yang kedua, Abdul Hakim Harahap lahir di Sarolangun menjadi Gubernur Sumatra Utara, Mochtar Lubis lahir di Sungai Penuh menjadi pendiri surat kabar Indonesia Raya di Jakarta, Adam Malik lahir di Pematang Siantar yang menjadi Menteri Luar Negeri dan Wakil Presiden, SM Amin Nasution lahir di Banda Aceh yang menjadi Gubernur Sumatra Utara, Zulkifli Lubis lahir di Aceh yang menjadi Kepala Staf Angkatan Darat dan Sakti Alamjah Siregar lahir di Sungai Karang menjadi pendiri surat kabar Pikiran Rakyat di Bandung.

Putra-putra asal Padang Sidempuan yang merantau, banyak yang tidak kembali. Mereka mendedikasikan diri di tempat mereka berada. Seperti kata pepatah dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, anak-anak mereka juga melakukan hal yang sama seperti para orangtua mereka, termasuk Abdul Abbas dan Gele Harun. Mereka sepenuh hati menjadi warga setempat.

Mr. Abdul Abbas Siregar sudah menganggap dirinya bukan hanya sebagai warga Lampung tetapi sudah berperilaku seperti orang Lampung. Ketika dibentuk PPKI, Abdul Abbas termasuk anggotanya. Anggota yang mewakili orang Lampung, bukan mewakili orang Tapanuli. Karena itu Abdul Abbas diangkat menjadi Residen Lampung pasca kemerdekaan RI. Namun tidak dinyana Abdul Abbas digulingkan.

Namun dalam perkembangannnya, posisi Abdul Abbas sebagai Residen Lampung diincar oleh kelompok tertentu yang mengatasnamakan hasil konres rakyat dan melakukan kudeta dan menggantikannnya dengan yang lain Badril Munir. Residen baru yang diangkat tersebut ternyata tidak kapabel lalu digantikan oleh Rukito Wiryoharjo.

Mr. Abdul Abbas kemudian ditarik ke pusat. Pada masa agresi militer pertama, Menteri Pertahanan Amir Sjarifoeddin menugaskan Mr. Abdul Abbas menjadi Residen Sumatra Timur. Sementara di Lampung, Rukito Wiryoharjo ditugaskan untuk menjadi Residen menggantikan Badril Munir. Namun dalam perkembangannya, di Sumatera Timur Belanda membentuk Negara boneka, Residen Abdul Abbas mengungsi ke Pematang Siantar. Sementara di Lampung, Residen Rukito tidak bersedia mengungsi malah sebaliknya berkolaborasi dengan Belanda. Lalu tokoh-tokoh Lmapung di pengungsian mengangkat Gele Harun menjadi Residen Lampung di pengungsian. Kekeliruan yang selama ini dilakukan tokoh-tokoh asli Lampung telah melakukan koreksi sendiri dengan mengangkat Gele Harun sebagai Residen. Mr. Abdul Abbas dan Mr. Gele Harun di waktu yang sama menjadi Residen di pengungsian, berjuang melawan Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan RI.

Tunggu deskripsi lengkapnya


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar: