01/04/15

Hariman Siregar, Ida Nasution, Lafran Pane, Parlindungan Lubis, Sutan Casajangan: Anak-Anak Padang Sidempuan yang Menjadi Pemimpin Mahasiswa



Pada masa kini, organisasi mahasiswa tidak diperlukan lagi. Sudah lebih dari cukup organisasi yang sudah didirikan. Yang diperlukan adalah bagaimana mahasiswa mengisinya dan mendayagunakannya. Memikirkan perlu tidaknya organisasi mahasiswa itu sudah ditunaikan oleh para pendahulu (pionir) mahasiswa. Mungkin banyak yang tidak menyadari, ternyata para pionir itu berasal dari kampong yang sama: Padang Sidempuan. Mereka itu adalah (mulai dari yang tertua): Soetan Casajangan (1908), Sorip Tagor (1917), Abdul Rasjid (1919), Parlindungan Lubis (1938), Lafran Pane (1947), Ida Nasution (1947), AM Hoetasoehoet (1952) dan Hariman Siregar (1974).

Padang Sidempoean, 1908 (klik gambar jika ingin memperbesar peta)
Sejak era Belanda, kota kecil Padang Sidempuan yang berada di pedalaman Tapanuli ini selalu diperhitungkan di tingkat ‘nasional’ (Nederland-Indie). Mungkin banyak generasi muda Indonesia yang tidak tahu dimana kota ini berada. Untuk mengingat kembali: Kota Padang Sidempoean adalah ibukota Afdeeling (kabupaten) Padang Sidempoean. Afdeeling ini terdiri dari dua onderafdeeling (kecamatan), yakni: Mandheling en Ankola (Staatsblad 1937 No.563). Pelabuhan terdekat dari kota ini berada di Siboga, ibukota Residentie Tapanoeli.


Willem Iskander (1875): Pelajar Pribumi Pertama Sekolah di Luar Negeri, Pemimpin Guru-Guru untuk Studi ke Negeri Belanda

Willem Iskander (Sati Nasoetion) memperoleh akte guru di negeri Belanda, berangkat dari Batavia 1857 dan lulus 1861. Willem Iskander adalah pribumi pertama yang sekolah ke Negeri Belanda. Pada tahun 1862 Willem Iskander mendirikan sekolah guru (kweekschool) di Tanobato, onderafdeeling Mandheling. Menurut Poeze (2008), hanya sekolah guru ini di Nederlansche Indie yang dapat dianggap berjalan baik (karena gurunya menulis buku pelajaran sendiri dan para siswa tiap tahun lulus 100 persen). Atas prestasi guru dan Kweekschool Tanobato, maka pada tahun 1875 Willem Iskander diminta untuk membimbing dan menjadi mentor sejumlah guru di Jawa dan Sumatra untuk mendapat akte guru di negeri Belanda, sementara Willem Iskander sendiri diberi beasiswa oleh pemerintah Hindia Belanda untuk melanjutkan studi untuk memperoleh akte kepala sekolah. Namun sangat disayangkan mereka semua yang berangkat bersama-sama dari Batavia tidak kembali. Mereka itu satu per satu meninggal dunia karena alasan yang berbeda-beda. Satu bentuk perjuangan yang lain oleh Willem Iskander dalam bukunya yang terkenal Sibulus-bulus, Sirumbuk-rumbuk yang terbit di Batavia 1871 yang didalamnya terdapat puisi yang mana dua baris sangat terang-terangan menentang penjajahan Belanda (ada yang berpendapat puisi inilah pemicu Willem Iskander diasingkan dan dibunuh di Belanda, bukan meninggal karena hal lain).
Sekadar untuk diketahui: Kakak kelas Willem Iskander di sekolah dasar swadaya penduduk asuhan Ny. Godon (asisten residen Mandheling en Ankola) bernama Si Asta dan Si Angan direkomendasikan sang guru untuk sekolah kedokteran di Batavia. Mereka berdua masuk Docter Djawa School pada tahun 1854. Saat mereka masuk, belum ada siswa yang lulus. Ini artinya mereka tergolong angkatan generasi pertama (Docter Djawa School dibuka 1851). Menariknya, ternyata dua anak ini terbilang siswa yang sangat pintar. Manariknya lagi, ternyata dua anak yang masih belia ini merupakan siswa pertama luar Djawa yang diterima di sekolah kedokteran tersebut (lihat: Nieuwe Rotterdamsche courant: staats-, handels-, nieuws-en advertentieblad, 18-01-1855)

Sutan Casajangan (1908): Mantan Guru, Alumni Kweekschool Padang Sidempoean, Pendiri Himpunan Pelajar Indonesia di Belanda

Sutan Casajangan
Untuk menggantikan sekolah guru Tanobato yang ditinggalkan Willem Iskander ini dibangun sekolah guru yang lebih besar di Padang Sidempoean 1879. Salah satu guru yang terkenal yang kemudian dipromosikan menjadi direktur sekolah di kota ini adalah Charles Adrian van Ophuijsen. Sutan Casajangan adalah murid terbaik Charles Adrian van Ophuijsen di sekolah guru (kweekschool) Padang Sidempoean. [Charles adalah anak seorang controleur yang pernah bertugas di Natal, awalnya adalah seorang dokter lalu kemudian ganti profesi menjadi guru di Padang Sidempoean. Total Charles di kota kecil ini selama sepuluh tahun yang dalam perkembangannya Charles diangkat menjadi profesor di Universiteit Leiden]. Setelah lulus 1887, Sutan Casajangan diangkat sebagai guru di Simapil-Apil, Padang Sidempoean. Setelah mengabdi lebih dari sepuluh tahun, Sutan Casajangan yang sudah berumur 30 tahun merasa ada yang tidak berjalan semestinya di seluruh daerah di Nerderlansch Indie. Sutan Casajangan bangkit dan membulatkan tekad untuk melanjutkan studi ke negeri Belanda. Sutan Casajangan memiliki dua tujuan: (1) untuk meningkatkan kemampuan dirinya sebagai guru pribumi.dengan pendidikan Eropa, karena baru Willem Iskander satu-satunya pribumi yang memiliki kualifikasi Eropa, (2) menuntaskan cita-cita Willem Iskander untuk mendapatkan acte kepala sekolah agar bisa menjadi Direktur Kweekschool Akreditasi-A, seperti Probolinggo, Surakarta, Bandung dan Padang Sidempuan.

Pada tanggal 5 Juli 1905 Sutan Casajangan berangkat dari Batavia dengan kapal Prinses Juliana dan tiba di Rotterdam 30 Juli 1905. Sutan Casajangan adalah mahasiswa kedua yang kuliah di Negeri Belanda. Surat kabar Telegraaf mewawancara Soetan Casajangan di Amsterdam yang dilansir Bataviaasch nieuwsblad, 02-07-1907 (hanya mengutip beberapa saja di sini).

‘…mengapa anda mengambil risiko jauh studi kesini meninggal kesenangan di kampungmu, calon koeria, yang seharusnya sudah pension jadi guru dan anda juga harus rela meninggalkan anak istri yang setia menunggumu…anda tahu untuk masyarakat saya, masih banyak yang perlu dilakukan, kami punya mimpi, kami diajarkan dengan baik oleh guru Ophuijsen….tapi kini masyarakat kami sudah mulai menurun dan melemah pada semua sendi kehidupan.. saya punya rencana pembangunan dan pengembangan lebih lanjut dari penduduk asli di Nederlandsch Indie (Hindia Belanda)..saya mengajak anak-anak muda untuk datang ke sini (Belanda) agar bisa belajar banyak..di kampong saya kehidupan pemuda statis, baik laki-laki dan perempuan..dari hari ke hari hanya bekerja di sawah (laki-laki) dan menumbuk padi (perempuan)…mereka menghibur diri dengan menari (juga tortor) yang diringi dengan musik, simbal, klarinet, gitar dan ensambel gong…(dansten zij op de muziek van bekkens, klarinet, guitaar en gebarsten gong...)..anda tahu dalam Filosofi Batak kuno, kami yakin bahwa jiwa itu berada di kepala, dan karenanya kami harus tekun agar tetap intelek…

Pada tahun 1908 jumlah mahasiswa pribumi di Negeri Belanda sudah ada sekitar dua puluh orang. Sutan Casajangan sebagai senior (dan mantan guru) berinisiatif dan menggagas serta mendirikan perhimpunan pelajar Hindia Belanda di Negeri Belanda. Organisasi ini disebut Indisch Vereeniging yang diresmikan dirumahnya sendiri di Haarlem, Oktober 1908. Sutan Casajangan adalah Presiden pertama organisasi mahasiswa di Negeri Belanda. Organisasi ini kemudian pada tahun 1920 menjadi Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI). Setelah menjadi sarjana dan mendapat akte kepala sekolah, Radjioun Harahap gelar Soetan Casajangan Soripada yang pernah menjadi asisten dosen Prof. Charles Adrian van Ophuijsen (mantan gurunya di Padang Sidempoean) dalam pengajaran Bahasa Melayu di Universiteit Leiden. Ini juga mengindikasikan bahwa Sutan Casajangan adalah pribumi pertama yang mengajar di universitas di negeri Belanda. Setelah menyelesaikan buku yang diterbitkan di Belanda, Sutan Casajangan pulang ke tanah air dan kembali mengabdi sebagai guru dan kepala sekolah di sejumlah tempat seperti Buitenzorg, Fort de Kock, Dolok Sanggoel, Ambon dan terakhir menjadi Direktur Normaalschool di Meester Cornelis, Batavia.

Parlindoengan Loebis (1938): Ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Paling Radikal dan Ditawan di Kamp Konsentrasi NAZI   

Parlindungan Lubis
Parlindoengan Loebis lahir di Batangtoru, Afdeeling Padang Sidempoean 30 Juni 1910. Setelah tamat sekolah dasar berbahasa Belanda, HIS Padang Sidempuan, 1924, melanjutkan pendidikan sekolah menengah (MULO) ke Medan. Selanjutnya, Parlindoengan Loebis melanjutkan pendidikan kelas 4--AMS Afdeeling B (bidang Matematika dan Fisika) ke Weltevreden, Batavia. Parlindoengan Loebis sendiri lulus dari AMS tahun 1930. Setelah lulus sekolah menengah (AMS) di Weltevreden, Batavia (kini Pasar Baru, Jakarta), Parlindoengan Loebis mendaftar ke sekolah tinggi kedokteran (Geneeskundige Hoogeshool) di Batavia. Pada tahun 1931 sebagaimana diberitakan Bataviaasch nieuwsblad (edisi 18-12-1931) Parlindoengan Loebis lulus ujian kandidat bagian I sebagai asisten medis. Namun karena dianggap memenuhi syarat, Parlindoengan Loebis direkomendasikan menjalani pendidikan yang lebih tinggi di bidang kedokteran di Negeri Belanda.

Parlindoengan Loebis dari Padang Sidempuan, Medan dan Batavia bersiap-siap menuju Nederland. Parlindoengan berangkat dari Tandjong Priok dengan menumpang s.s. Ophir menuju Singapura tanggal 6 Agustus 1932. Di Belanda, Parlindoengan Loebis diterima di Fakultas Kedokteran, Universitas Leiden. Selama kuliah, waktunya banyak tersita untuk kegiatan organisasi kemahasiswaan. Pada tahun 1936, Parlindoengan Loebis dipilih menjadi Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI). Pada tahun itu, Perhimpunan Indonesia telah berusia 30 tahun dihitung sejak pendirian Indisch Vereeniging tahun 1908 yang didirikan oleh Sutan Casajangan. Parlindungan Lubis menjabat Ketua PPI antara tahun 1936 hingga 1940 (periode setelah M. Hatta).

Akhirnya, Parlindoengan Loebis lulus ujian doktoral Januari, 1938 (lihat, De Tijd : godsdienstig-staatkundig dagblad, 09-02-1938), lulus ujian dokter gelar pertama (eerste gedeelte) September 1939 (lihat Nieuwsblad van het Noorden, 07-10-1939) dan dipromosikan menjadi dokter setelah lulus ujian akademik Oktober 1940 sebagaimana diberitakan De standard, 26-10-1940. Parlindoengan yang selama mahasiswa dianggap intelijen Jerman sebagai anti fasis, termasuk dalam list orang-orang yang diburu. Parlindoengan Loebis ditangkap intelijen Jerman yang telah menduduki Belanda pada Juni 1941 dan dimasukkan ke kamp konsentrasi NAZI. Parlindoengan Loebis adalah satu-satunya orang Indonesia di kamp yang mengerikan ini. Parlindoengan Loebis akhirnya bebas setelah empat tahun di tahanan. Pada tahun 1947 Parlinduengan Lubis dengan teman-temannya yang pro kemerdekaan pulang ke tanah air (menumpang kapal Weltevrede). 

Lafran Pane (Februari, 1947):  Anak Guru yang Sastrawan dan Cucu Ulama Besar, Pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)

Sanusi, abang Lafran Pane
Lafran Pane adalah seorang anak mantan guru di Muara Sipongi dan cucu seorang ulama besar di Sipirok. Lafran Pane lahir di Padang Sidempuan, 5 Februari 1922. Ayah Lafran Pane adalah Sutan Pangurabaan Pane, seorang guru alumni kweekschool,  yang juga menjadi sastrawan lokal dengan karya terkenalnya Tolbok Haleon  (Hati yang Kemarau). Roman ini pertama kali terbit di Medan tahun 1933 dan sampai tahun 1980-an roman Tolbok Haleon masih dipakai sebagai bacaan di sekolah-sekolah di Tapanuli Selatan. Sutan Pangurabaan Pane yang lahir di kampong Pangurabaan, Sipirok tidak hanya sukses dalam karir guru dan penulis tetapi juga sukses dalam bisnis seperti percetakan, penerbitan, perdagangan dan transportasi. Oleh karena itu, Sutan Pangurabaan dianggap sebagai orangtua yang mampu menyekolahkan anak-anaknya dengan baik.

Lafran Pane, cucu dari Syekh Badurrahman Pane memulai pendidikan dasar di pesantren di Sipirok, kemudian dilanjutkan di HIS (swasta) Padang Sidempoean dan kemudian melanjutkan pendidikan menengah di Batavia di bawah bimbingan dua abangnya Sanusi Pane dan Armijn Pane yang sudah dikenal sebagai sastrawan terkenal di Batavia. Lafran Pane melanjutkan pendidikan tinggi tidak ke STOVIA seperti sebelumnya dua abangnya (awalnya kuliah kedokteran tetapi dalam perjalanan lebih menekuni sastra sebagaimana ayah mereka). Lafran Pane justru lebih memilih bidang studi Islam. Boleh jadi, Lafran yang memulai pendidikan di pesantren ini ingin meneruskan karir kakeknya. Lafran Pane akhirnya kuliah di Sekolah Tinggi Islam Batavia.

Namun dalam perkembangannya, Belanda kembali ke Indonesia dan kampus Lafran Pane harus pindah ke Yogyakarta. Selama kuliah di Yogyakarta banyak berinteraksi dengan berbagai kalangan. Lafran Pane yang tengah menekuni bidang studi Islam ini merasa terpanggil untuk menyatukan berbagai elemen mahasiswa dari kalangan Islam untuk merapatkan barisan dalam situasi perjuangan rakyat Indonesia. Lafran Pane menggagas perlunya dibentuk organisasi mahasiswa Islam untuk turut memberi wadah dalam situasi politik perang. Lafran Pane kemudian bersama teman-temannya yang lain mendeklarasikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada tanggal 5 Februari 1947. Lafran Pane kemudian menjadi Presiden pertama Himpunan Mahasiswa Islam.  

Situasi politik yang berubah menyebabkan Lafran Pane yang sudah lulus sarjana muda Islam ingin mengkombinasikan pengetahuannya dengan kebutuhan terkini yakni dengan menambah ilmu baru yakni ilmu politik. Di Yogyakarta Lafran Pane masuk Akademi Ilmu Politik yang merupakan bagian dari Universitas Gajah Mada  pada bulan  April 1948. Universitas swasta ini lalu kemudian diakuisi pemerintah republik 1949 dan menjadi universitas RI dan akademi ini berubah menjadi fakultas.

Lafran Pane yang masih menjadi Ketua HMI dan juga sebagai mahasiswa di Universitas Gajah Mada (universitas republik) sangat merasakan dampak perang terhadap kehidupan para mahasiswa yang berasal dari Sumatra yang pembiayaannya sangat tergantung dari orangtua. Hampir semua mahasiswa yang berasal dari Sumatra putus kiriman uang dari kampong halaman karena dirampas oleh Belanda. Lafran Pane dalam hal ini masih terbantu oleh dua abangnya: Sanusi Pane dan Armijn Pane. Namun tidak demikian rekan-rekannya yang lain. Lafran Pane coba membicarakan permasalahan itu dengan pemimpin republik di Yogyakarta. Hasilnya, pemimpin republik memberi respon dan lalu dibentuk sebuah biro penghubung yang dinamai Biro Kontak untuk Sumatra yang langsung diketuai oleh Menteri Sosial RI, Ir. H.A. Tambunan dan sekretaris, Lafran Pane sendiri. Tujuan pembentukan biro ini untuk menyelamatkan studi mahasiswa yang berasal dari Sumatra. Dalam kepengurusan biro ini juga termasuk satu wakil dari masing-masing keresidenan yang ada di Sumatra (lihat Het nieuwsblad voor Sumatra, 30-11-1949).Untuk membantu mahasiswa lainnya agar tetap kuliah adalah salah satu bentuk nyata perjuangan Lafran Pane selama masa perang.

***
Masa kolonial telah berlalu, kemerdekaan yang sempat dirampas oleh Belanda (NICA) telah diperoleh kembali dengan adanya pengakuan Belanda terhadap kedaulatan NKRI (Desember, 1949). Babak baru Indonesia mulai dibangun, namun demikian jasa-jasa para pelaku babak lama juga harus mendapatkan haknya. Di Jakarta, Sutan Pangurabaan Pane, ayah Lafran Pane menggagas pula untuk dibentuknya organisasi para pensiunan. Organisasi ini diberi nama Kumpulan Kaum Pensioenan. Pimpinan pusat organisasi ini diketuai oleh Sutan Pangurabaan Pane.  Organisasi yang berpusat di Jakarta ini dengan cabang yang baru 50 onderafdeeling di seluruh Indonesia yang anggotanya sudah mencapai satu juta. Anggota organisasi ini meliputi mantan pejabat, militer dan usaha negara.  Dana simpanan yang besarnya telah mencapai  Rp 10.000.000 dikembangkan dengan membangun sejumlah usaha di berbagai daerah (lihat De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 04-10-1951)
Lafran Pane akhirnya lulus ujian dan menjadi sarjana di Universitas Gadjah Mada pada tanggal 26 Januari 1953. Lafran Pane sendiri terbilang sebagai sarjana ilmu politik pertama di Indonesia. Ayah Lafran Pane menjadi tersenyum, tidak hanya anaknya-anaknya yang berhasil sesuai keinginan mereka, tetapi Sutan Pangurabaan Pane juga berhasil telah menjamin jutaan pensiunan mendapatkan haknya kembali yang selama ini ditahan oleh Belanda selama perang.
Ida Nasoetion (November, 1947): Srikandi dari Padang Sidempoean, Pendiri Persatuan Mahasiswa Indonesia

Ida Nasution
Ida Nasution, lahir  tahun 1922 dan mengikuti pendidikan dasar Eropa (ELS) di Sibolga. Keluarga mereka pindah ke Batavia sehubungan dengan ayahnya pindah tugas dari Sibolga ke Batavia. Pada tahun 1934 Ida Nasoetion didaftarkan di Koningin Wilhelmina School. Di sekolah elit Belanda ini Ida Nasoetion menempuh pendidikan enam tahun (SMP dan SMA). Pada pertengahan tahun 1940 Ida Nasoetion lulus ujian akhir di K. W. III School dan direkomendasikan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Negeri Belanda. Ida Nasoetion tidak tertarik kuliah ke negeri Belanda.

Ida Nasoetion yang sudah menulis sejak sekolah menengah lalu mendaftar dan diterima di Jurusan Sastra Bahasa (letteren faculty) Universiteit van Indonesie.  Fakultas Sastra dan Filsafat (Faculteit der Letteren en Wijsbegeerte) di Universitas Indonesia (Universiteit van Indonesie) dibuka pada tanggal 1 Oktober 1940 dan memulai perkuliahan awal pada tanggal 4 Desember 1940. Ida Nasoetion termasuk mahasiswa angkatan pertama di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (awal pendiriannya bernama Fakultas Sastra dan Filsafat, kini bernama Fakultas Ilmu Budaya). Ida Nasoetion sangat menikmati sekolah tinggi ini karena bakatnya di bidang sastra sejak masuk di K.W. School. Soerabaijasch handelsblad 28-08-1941 melaporkan Ida Nasoetion lulus ujian preliminary (kelas satu) di Faculteit der Letteren en Wijsbegeerte.

Ida Nasoetion yang baru kuliah satu tahun, tiba-tiba situasi dan kondisi di Indonesia berubah. Pada akhir Desember 1941 pasukan Jepang telah melakukan pemboman di Tarempa, Kepulauan Riau yang membuat Belanda mengalami sok. Satu per satu kilang minyak di Kalimantan dan Sumatra diduduki tentara Jepang. Di Batavia semuanya menjadi berhenti termasuk kampus Ida Nasoetion. Pada tanggal 1 Maret 1942 kapal-kapal perang Jepang telah merapat di luar Batavia di teluk Banten dan Cirebon. Gubernur Jenderal Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang yang dipimpin Letnan Jenderal Hitoshi Imamura setelah diadakan perundingan di Kalijati tanggal 8 Maret 1942. Setelah tanggal tersebut maka berakhir sudah pemerintahan Belanda di Indonesia dan Universiteit van Indonesie ditutup. Ida Nasoetion berhenti pula kuliah.

***
Setelah suasana menjadi tenang, pemerintahan militer Jepang memberikan izin untuk pendidikan tinggi dibuka kembali. Pada tanggal 29 April 1943 Fakultas Sastra dan Filsafat melakukan aktivitas kembali. Namun karena dosen-dosen sebelumnya adalah orang Belanda, kini mereka pulang ke Negeri Belanda, maka aktivitas perkuliahan tidak berjalan semestinya. Lagi pula jumlah mahasiswa yang ada hanya dapat dihitung dengan jari. Mahasiswa yang beberapa orang ini, salah satunya Ida Nasoetion lebih banyak belajar mandiri dan melakukan aktivitas sastra di luar kampus. Pada masa ini Ida Nasoetion banyak berinteraksi dengan sastrawan-sastrawan angkatan Poejangga Baroe (nama majalah menggantikan Balai Poestaka), seperti Soetan Takdir Alisjahbana dan Armijn Pane. Sedangkan angkatan Balai Poestaka antara lain Merari Siregar dan Sanusi Pane plus Muhammad Kasim dan Suman Hs. Semua nama-nama yang disebut tersebut berasal dari kampungnya di Afdeeling Mandheling en Ankola, Residentie Tapanoeli. Dengan demikian, Ida Nasoetion tidak kekurangan mentor.

Sejak perang (1942) banyak sastrawan-sastrawan muda bermunculan bagaikan jamur di musim hujan. Ini berbeda dengan era Belanda. Pada era Jepang, para pemuda lebih menggebu  untuk meraih kemerdekaan. Semangat ini terasa di dalam jiwa raga para sastrawan muda. Sementara itu, karena Jepang memberikan keleluasaan penggunaan bahasa asli (Bahasa Indonesia), yang di satu sisi para pemuda yang berminat sastra tidak perlu membuang waktu untuk belajar bahasa asing untuk menjadi penyair, penulis prosa dan penulis esai dan sebagainya. Di sisi lain dirasakan adanya rasa bebas dan sedikit chauvinism. Tiga diantara para pemuda yang menonjol mewakili entitas sastrawan muda Indonesia adalah Chairil Anwar (penyair), Idroes (prosa), Ida Nasoetion (esai) plus Usmar Ismail (drama).

Keutamaan Ida Nasoetion dalam masa ini karena Ida Nasoetion merupakan satu-satunya sastrawan (muda) yang berlabel mahasiswa. Meski kuliah sastra tidak menentu, bukan hanya senin-kemis tapi bahkan Januari-Mei, Ida Nasoetion tetaplah terdaftar sebagai mahasiswa yang ingin menjadi sarjana sastra. Dengan didukung tingkat inteligensia yang memadai dan berasal dari sekolah elit Belanda (Koniging Wilhelmina) kurikulum yang dibuatnya sendiri tidak terlalu sulit untuk dilaksanakannya. Ida Nasoetion dalam keterbatasan system perkuliahan itu dilihatnya sebagai suatu tantangan. Selain tetap belajar sendiri, Ida Nasoetion juga bekerja keras menulis dan mengirimkan tulisan-tulisannya ke berbagai media khususnya majalah-majalah sastra. Namanya semakin menggema di kalangan pegiat sastra, apalagi kemampuannya untuk melakukan kritik sastra dan menyajikan esai yang sudah sempurna (mungkin berkat didikan di KWS). Tidak butuh waktu lama, Ida Nasoetion sudah diakui sebagai kritikus sastra dan penulis esai yang berbakat. Adakalanya Ida Nasoetion menulis namanya sebagai samaran dengan nama Ida Anwar (nama ayahnya Anwar Nasoetion).

Para sastrawan muda ini lebih taktis dibanding senior mereka dari angkatan Poejangga Baroe. Jika angkatan sebelumnya menulis lebih menggunakan gaya retorika keindahan, tidak demikian dengan sastrawan muda yang hidup di awal era revolusi—lebih nyata dan lebih bergelora (sastra revolusi). Chairil Anwar (lahir di Medan, 1922) dan Ida Nasoetion yang sama-sama seusia lebih tajam dan mengena. Chairil Anwar sangat piawai dalam puisi-puisinya yang hampir seluruhnya dalam bahasa Indonesia dan hampir semua majalah Indonesia ada karyanya. Semua puisinya itu kemudian dikumpulkan menjadi satu buku yang berjudul ‘Deroe Tjampoer Deboe’. Ida Nasoetion lebih fokus pada pengembangan kritik dan esai dan artikel-artikelnya dikirimkan ke koran dan terutama majalah baik yang berbahasa Indonesia maupun yang berbahasa Belanda, seperti Het Inzicht, Siasat, Sadar, Pembaroean, Opbouw. Ida Nasoetion juga menerjemahkan beberapa buku bahasa Perancis (Malraux). Di dalam tulisan-tulisan Ida Nasoetion seperti pada ‘Indonesie Culturaal’ kata-kata ‘merdeka’ kerap ditemukan.

Dua sastrawan muda ini kerap berinteraksi dan sama-sama memiliki visi dan misi yang sama: bangkit! Keduanya pernah sama-sama mengasuh rubrik ‘gelanggang’ dalam majalah Siasat. Kedua sastrawan muda yang masih belia (berusia 20 tahunan) tumbuh dan berkembang baik pada era Jepang maupun setelah Indonesia merdeka. Ketika, Jepang bertekuk lutut sama sekutu, maka situasi dan kondisi berubah, euforia kemerdekaaan hanya sekejap lalu kembali berada di bawah pemerintahan kolonial Belanda. Chairil Anwar dan Ida Nasoetion tetap konsisten dengan penanya: cerdas dan tajam. Perkuliahan Ida Nasoetion yang selama ini tidak berjalan lancar justru menjadi lebih kacau balau lagi. Namun demikian tingkat kematangan Ida Nasoetion semakin sempurna—Ida Nasoetion tumbuh dan berkembang justru di luar ruangan kuliah.

***
Sejak kedatangan kembali Belanda, perang terus terjadi antara tentara Belanda dan pasukan gerilyawan republic, para sastrawan muda tetap terus berpikir dan bekerja serta menghasilkan karya-karya. Pada tanggal 21 Januari 1946 kampus Universiteit Indonesie dibuka kembali dengan status Nood Universiteit (Universitas Darurat). Ida Nasoetion berada dalam situasi dilemma: di satu pihak jiwa revolusioner sudah memuncak (sisi republic), di pihak lain suksesi Jepang dengan Belanda akan membuat perkuliahan di Universiteit van Indonesie akan memungkinkan berjalan normal seperti sediakala (awal pendiriannya tahun 1941).

Sementara itu. kemampuan Ida Nasoetion dalam bahasa Belanda dipromosikan oleh penerbit majalah-majalah opbouw (pembangunan) dan cultuural (kebudayaan) Belanda di Indonesia. Ida Nasoetion direkrut menjadi anggota dewan redaksi Het Inzicht dan Ida Nasoetion juga menjadi anggota staf redaksi majalah Opbouw yang ketuanya seorang guru besar Belanda, Prof. dr. R.F. Beerling (lihat Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia 09-05-1947). Beerling adalah associate professor di Fakultas Ekonomi Universiteit van Indonesia (faculteit der economische). Meski Ida Nasoetion berada di lingkungan akademisi sastra dan pembangunan di tengah orang-orang Belanda, tetapi rasa gerahnya terhadap kolonialisme tidak berkurang. Untung para pegiat penerbitan Belanda yang ada di Batavia tetap respek atas karakter independent dari Ida Nasoetion.

Ketika situasi perkuliahan di Faculteit der Letteren en Wijsbegeerte, Universiteit van Indonesie sudah mulai kondusif, Ida Nasoetion langsung sumringah, sebab ada kebijakan baru setelah perang karena sulitnya ekonomi dan pembiayaan bagi angkatan 1940 dan 1941 uang kuliah akan digratiskan (lihat Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 12-11-1946). Meski ini dari sudut Belanda semacam politik membujuk, namun demikian, sekali lagi: jiwa merdeka Ida Nasoetion tetap bergelora.

Dengan dimulainya otonomi kampus, Ida Nasoetion bersama G. Harahap dari jurusan jurnalistik melihat celah ini dengan menggagas dan mendirikan perhimpunan mahasiswa. Dengan kawan-kawan yang lain, Ida Nasoetion meresmikan organisasi mereka dengan nama Perhimpunan Mahasiswa Universitas Indonesia yang disingkat PMUI pada tanggal 20 November 1947 (lihat Het dagblad :uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 05-04-1948). Kala itu, perguruan tinggi di bawah pemerintahan Belanda baru satu-satunya Universiteit van Indonesie yang kampusnya tersebar di Batavia (menjadi UI), Buitenzorg (menjadi IPB), Bandoeng (menjadi ITB), Surabaija (menjadi Unair) dan Macassar (menjadi Unhas). Pada awal organisasi mahasiswa ini didirikan anggotanya baru sebanyak 30 mahasiswa dan lambat laun sebelum ulang tahun yang pertama anggotanya sudah menjadi 100 mahasiswa (hanya memperhitungkan yang di Batavia). Ida Nasoetion adalah presiden pertama perhimpunan mahasiswa Indonesia. Gelagat Ida Nasoetion dibalik memersatukan mahasiswa ini tercium juga oleh intelijen Belanda.

Setelah empat bulan menjadi presiden (ketua) PMUI, Ida Nasoetion dilaporkan koran Nieusgier diculik tanggal 23 Maret 1948. Ida Nasoetion hilang selamanya dan diduga kuat dibunuh oleh intelijen dan tentara Belanda (lihat juga Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 05-04-1948). Wanita muda berbakat ini juga adalah redaktur beberapa majalah berhasa Indonesia dan berbahasa Belanda serta menerjemahkan buku-buku berbahasa Perancis. Kehilangan wanita pejuang, Srikandi Padang Sidempoean yang masih berumur 26 tahun ini adalah sebuah misteri yang belum terungkapkan hingga kini.

Hariman Siregar (1974): Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia dan Peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari) 

Hariman Siregar
Hariman Siregar, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di era pembangunan. Hariman Siregar nyata-nyata tidak butuh organisasi baru lagi. Sudah cukup. Hariman Siregar ingin menghargai pemikiran awal para seniornya ‘dongan sahuta’: Sutan Casajangan Harahap, pendiri Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di luar negeri; Lafran Pane, pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI); dan Ida Nasoetion, pendiri Perhimpunan Mahasiswa Universitas Indonesia (PMUI). Hariman Siregar hanya ingin mengisinya, sebagaimana telah dilakukan oleh seniornya Parlindungan Lubis di PPI Belanda.  Hariman Siregar paham betul risiko yang akan muncul. Parlindungan Lubis yang anti fasis menuai risiko, ditangkap, dimasukkan ke kamp konsentrasi NAZI di Jerman. Hariman Siregar tidak takut. Hariman Siregar adalah anak seorang pejuang di medan perang yang membela rakyat banyak.

Sebelum memahami siapa dan mengapa Hariman Siregar, mari kita kilas balik pada suasana perang di Padang Sidempoean, tempat dimana Hariman Siregar dilahirkan dan melihat kiprah ayahnya dalam ikut mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di Tapanoeli.

***
Sibolga, ibukota Residentie Tapanoeli. Setelah serangan angkatan laut Belanda dari teluk Tapanoeli akhirnya jatuh ke tangan militer Belanda tanggal 20 Desember 1948. Pasukan Belanda ingin segera menduduki Kota Padang Sidempoean karena kota ini merupakan satu-satunya jalur dari utara menuju  Kota Bukittinggi, ibukota Republik Indonesia di pengungsian. Namun itu tidak mudah. Perlawanan rakyat Padang Sidempoean sangat heroik. Pada tanggal 28 Desember 1948, pasukan Belanda kemudian tiba di Batangtoru. Untuk menahan akselerasi pasukan Belanda dari arah Sibolga, pasukan republik yang dimotori para laskar Padang Sidempuan eks anggota Kapten (anumerta) Koima Hasibuan untuk melakukan taktik pencegatan dan bumi hangus. Karenanya, seluruh jembatan yang menuju Padang Sidempuan diruntuhkan, pohon-pohon besar yang berdiri sepanjang jalan raya ditumbangkan ke tengah jalan, jalan-raya yang rata diberi berlubang disana-sini agar kendaraan militer Belanda tidak dapat melewatinya. Juga bangunan-bangunan yang kemungkinan akan digunakan Belanda untuk markasnya dibakar atau dirubuhkan. Ini semua adalah harga yang sangat mahal yang harus ditanggung rakyat Padang Sidempuan dalam mengusir kedatangan kembali (pasukan) Belanda ke Padang Sidempuan.

Pasukan Belanda yang berpengalaman perang itu, lengkap dengan persenjataan dan kendaraan lapis baja ternyata mampu mengatasi rintangan yang ada. Semua taktik bergerilya yang dilakukan laskar republik ketika itu ternyata pasukan Belanda tetap dapat mengatasinya dan terus saja merangsek. Akhirnya, pada tanggal 1 Januari 1949 pasukan Belanda berhasil memasuki Kota Padang Sidempuan. Setiba di dalam kota, pasukan Belanda tampaknya 'kecele' karena menemukan ibukota Afdeeling Padang Sidempuan itu sudah dibumihanguskan (Padang Sidempoean lautan api). Pasukan Belanda juga menemukan kota dalam keadaan kosong karena telah ditinggalkan rakyat Padang Sidempuan mengungsi ke luar kota.

Kota Padang Sidempoean, 1943 (klik gambar jika memperbesar peta)
Pemerintah Republik Indonesia di Padang Sidempuan di bawah pimpinan Bupati Sutan Doli Siregar, Patih Ayub Sulaiman Loebis, Wedana Maraganti Siregar dan Kepala Logistik (Persediaan Pangan Rakyat) Kalisati Siregar juga telah meninggalkan Padang Sidempuan menuju Sipirok (ibukota Kewedanaan Sipirok). Setelah mengkoordinasikan kekuatan rakyat,  pada tanggal 5 Januari 1949 pasukan republik (tentara, polisi, rakyat dan pejabat pemerintahan) melancarkan serangan terhadap pasukan Belanda yang menduduki  Padang Sidempuan dari Sipirok, dan berhasil masuk ke dalam kota. Akan tetapi balasan mortir yang bertubi-tubi diluncurkan pasukan Belanda bukan lawan yang sepadan bagi pasukan republik. Pasukan republik ini terpaksa mundur dan kembali ke Sipirok dengan membawa serta pejuang yang gugur dan anggota pasukan yang terluka. Melihat gelagat kekuatan di Sipirok, pasukan Belanda pada tanggal 21 Januari 1949 merangsek ke Sipirok dan berhasil mengatasi perlawanan rakyat lalu pemerintah RI di Sipirok terpaksa mengungsi lagi ke Arse.

Pada tanggal 30 Januari 1949, Binanga Siregar, Residen ‘adinterim’ Militer Tapanuli yang datang dari Taroetoeng (ibukota Residen di pengungsian) datang ke Sipirok untuk menyaksikan dari dekat pertahanan republik di garis depan. Binanga Siregar yang pernah menjabat Djaksa di Padang Sidempoean membawa kabar yang dipantau melalui radio Belanda dan Radio Australia bahwa Indonesia telah berhasil melakukan diplomasi di PBB. Lalu pada tanggal 1 Februari 1949 Ayub Sulaiman Lubis dan Kalisati Siregar berangkat ke Batang Angkola melalui rute gerilya dan selanjutnya meneruskan perjalanan ke Panyabungan. Keesokan harinya jalan yang sama dilalui pula oleh Binanga Siregar, Sutan Doli Siregar, Maraganti Siregar dan Abdul Hakim Harahap (Wakil Komando Militer Tapanuli, yang mana kala itu yang bertindak sebagai Gubernur Militer Noord Sumatra adalah Mayjen Dr. Gindo Siregar) untuk mengabarkan keberhasilan bangsa Indonesia di PBB untuk bidang diplomatik kepada masyarakat di pedalaman. Sementara itu, pasukan Belanda terus melancarkan serangan kepada pasukan republic di berbagai tempat, seperti di Arse, Simangambat, Goti dan Pijorkoling. Pertempuran yang paling dahsyat terjadi di Benteng Huraba, Batang Angkola.

Pasukan Belanda yang telah menguasai Padang Sidempoean dan Sipirok, kini dialihkan ke Panyabungan dan Kotanopan lalu sasaran akhir ke Bukittinggi (ibukota RI di pengungsian). Dalam pertempuran melawan republik, pasukan Belanda dapat menguasai Pijorkoling. Lalu, untuk membendung pasukan Belanda, rakyat, pemerintah dan laskar membangun benteng di Huraba. Akan tetapi benteng ini tidak diduga, karena panduan dari dua orang penghianat, pasukan Belanda berhasil menguasai benteng ini ketika pasukan republic dalam keadaan tidak siap. Kemudian di Huta Tolang dari arah Panyabungan rakyat dan lascar melakukan konsolidasi. Pada tanggal 5 Mei 1949 sekitar pukul 04.00.WIB penyerangan oleh pasukan semesta republik dilancarkan ke jantung pertahanan pasukan Belanda di Benteng Huraba 

Dalam pertempuran di benteng ini pasukan gabungan republik menggunakan mortir untuk memperkuat daya tampur.  Pertempuran ini terjadi sangat heroik dan membutuhkan waktu dan baru pukul 16.30.WIB pasukan gabungan berhasil memenangkan pertempuran dan Benteng Huraba dapat direbut kembali. Pasukan Belanda yang dikalahkan lalu kocar-kacir dan mundur ke Padang Sidempuan. Dalam pertempuran ini ditaksir cukup besar kerugian yang dialami oleh pihak pasukan gabungan republik baik jiwa maupun materi. Dari anggota pasukan Brimob Tapanuli sendiri yang gugur terdapat sebanyak 11 orang dan dari pasukan Brigade–B sebanyak 16 orang. Sementara dari barisan laskar dan rakyat yang tergabung dalam pertempuran itu tidak tercatat berapa orang yang gugur dalam pertempuran yang heroik itu. Benteng Huraba sendiri adalah pertahanan yang tidak bisa ditembus oleh pasukan Belanda untuk menuju Bukittinggi.

Memahami situasi dan kondisi Benteng Huraba yang strategis dan sempit yang diapit bukit dan dikelilingi hutan rimba membuat nyali pasukan Belanda agak kecut. Lalu untuk sementara pasukan Belanda dialihkan ke Arse, Sipirok tanggal 8 Mei 1949. Mungkin pasukan Belanda berupaya untuk membuka jalan keluar, karena jalan raya menuju Batangtoru dan Sibolga sudah dikuasasi pasukan Republik. Praktis pasukan Belanda terkepung di Padang Sidempuan dari tiga arah pintu exit. Ini berarti wilayah Panyabungan masih tetap menjadi daerah aman, tempat dimana pemerintahan Padang Sidempuan sebelumnya melakukan pengungsian.

Tepat pada tanggal 23 Mei 1949, terjadi pertempuran besar lagi. Kini lokasi kejadian berada di sekitar jembatan Aek Kambiri, kampong Aek Horsik, Sipirok, suatu area yang mirip Benteng Huraba. Pasukan republik yang memimpin pencegatan ini di bawah pimpinan Letnan Sahala Muda Pakpahan dan wakilnya Maskud Siregar. Cukup banyak pasukan Belanda yang tewas. Atas peristiwa ini, pasukan Belanda mulai panic dan melancarkan penyerangan dan memburu Letnan Pakpahan yang masih berusian 23 tahun itu hingga ke kampong-kampung dan bahkan selama pencarian ini tidak sedikit penduduk sipil yang ditembak mati ditempat karena dianggap menghalangi pengejaran. Dan akhirnya Letnan Pakpahan berhasil ditangkap.

Ketika rakyat Sipirok mengetahui Letnan Sahala Muda Pakpahan telah ditangkap Belanda maka secara spontan rakyat Sipirok melakukan demonstrasi agar dia dibebaskan. Masyarakat Sipirok merasa ikut serta dalam perjuangan fisik melawan Belanda yang datang kembali untuk menjajah. Dibenak rakyat Sipirok, Sahala Muda Pakpahan dianggap pimpinan laskar yang paling berani. Tapi pasukan Belanda tidak bergeming. Dalam perkembangannya, serangan pasukan Belanda terpaksa berakhir di front pertempuran di Arse (Sipirok), hal ini sehubungan dengan berita terakhir bahwa Belanda telah mengakui kedaulatan RI. Lalu, pada tanggal 3 Agustus 1949 gencatan senjata antara Belanda dan Indonesia disepakati. Kemudian dilanjutkan perundingan yang disebut Konferensi Meja Bundar (KMB), sebuah pertemuan antara perwakilan pemerintah Republik Indonesia dan Belanda yang dilaksanakan di Den Haag, Belanda dari tanggal 23 Agustus hingga 2 November 1949.

Dalam KMB ini, Abdul Hakim Harahap ditunjuk sebagai penasihat delegasi Republik yang akan pergi ke KMB di Den Haag. Wakil dari Sumatra Utara (Aceh, Sumatra Timur dan Tapanoeli) diwakili oleh Gubernur Sumatera Utara, Mr. SM Amin Nasoetion dan Residen Tapanoeli, Binanga Siregar. Selama di Den Haag, Abdul Hakim Harahap berpartisipasi aktif sebagai penasihat umum dari delegasi Indonesia. Abdul Hakim Harahap sendiri sebelum menjadi Wakil Residen/Wakil Komando Militer Tapanoeli adalah seorang sarjana ekonomi yang pernah menjadi pejabat ekonomi Belanda/Jepang dengan kedudukan terakhir di Makassar yang menguasai tiga bahasa asing (Belanda, Inggris dan  Perancis). Hasil perundingan KMB itu antara lain dan yang terpenting bahwa kedaulatan NKRI akan diserahkan selambat-lambatnja pada tanggal 30 Desember 1949.

Selanjutnya, pada tanggal 30 November 1949, berlangsung serah terima pemerintah sipil Kewedanaan Sipirok dari pejabat Belanda yang disebut kontrolir selaku PBA (Plaatselijk  Bestuurs Adviseur = Penasehat Pemerintah Setempat) Belanda yang berkedudukan di Padang Sidempuan kepada M. D. Harahap selaku Wedana di Sipirok yang disambut gembira warganya. Di bidang keamanan PBA menyerahkannya kepada Komandan Brigade-B (mewakili Maraden Panggabean, komandan militer di Residentie Tapanoeli) sebagai penanggungjawab pertahanan dan keamanan Keresidenan Tapanuli di wilayah Padang Sidempuan. Hadir pada serah terima tersebut wakil dari KTN (Komisi Tiga Negara). Puluhan ribu rakyat yang membanjiri halaman balai Kota Sipirok menjadi saksi lalu bersorak gembira. Kontrolir itu ternyata tidak lupa mengucapkan “Hidup Republik Indonesia”,  usai penandatanganan dokumen bersejarah itu. Setelah serah terima itu, anggota pasukan Belanda, pejabat sipil dan kaki tangan NICA bergegas meninggalkan Sipirok.

***
Ayah Hariman Siregar bernama Kalisati Siregar turut aktif dalam perang semasa agresi Belanda itu di Padang Sidempoean. Kalisati Siregar pada masa perang tersebut menjabat sebagai Kepala Logistik (persediaan pangan bagi rakyat dan pasukan republik) yang berada di pengungsian yang pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Fungsi logistik ini tidak mudah, karena di satu sisi berusaha menghalangi perampasan bahan pangan oleh pasukan Belanda dari penduduk dan di sisi lain berusaha menyeimbangkan tingkat persediaan (logistic) antara kebutuhan laskar rakyat dan pasukan republik dengan ketersediaan pangan untuk kebutuhan penduduk di pengungsian. Dengan kata lain, Kalisati Siregar ‘bertempur dengan amunisi pangan’ yang berada diantara pejuang republik di garis depan dan rakyat yang mendukung sepenuhnya di garis belakang. Pemahaman statistik pangan diperlukan dalam hal ini.

Kalisati Siregar sendiri adalah salah satu putra Padang Sidempoean yang pulang dari perantauan di jaman Jepang. Ketika tentara Jepang menduduki Batavia, suasana tidak menentu, sandang dan pangan menjadi langka. Para orangtua umumnya memanggil pulang anak-anaknya, karena di Afdeeling Padang Sidempoean masih mampu dipenuhi kebutuhan anak-anak mereka sekalipun sudah berkeluarga. Anak-anak Padang Sidempoean yang pulang semasa pendudukan Jepang dan mereka yang sudah sejak awal sudah bertugas di Afdeeling Padang Sidempoean pada saat itu jumlahnya sudah sangat banyak, namun tetap masih lebih banyak yang tidak bersedia pulang karena alasan masing-masing. Ketika tentara Jepang menduduki Tapanoeli, anak-anak Padang Sidempoean ini segera dicari oleh tentara Jepang. Berdasarkan catatan registrasi Belanda, tentara Jepang tidak sulit menemukan para penduduk terpelajar ini. Anak-anak Padang Sidempoean yang pulang dari perantauan inilah yang direkrut tentara Jepang untuk menyusun birokrasinya di setiap level pemerintahan. Tentara Jepang mengkonsolidasikan penduduk yang sudah siap pakai. Kalisati Siregar termasuk bagian dari grand design tentara Jepang dalam menyusun birokrasi pemerintahan di Padang Sidempoean. Kalisati Siregar memiliki kualifikasi dalam hal statistik dengan latar belakang keilmuan bidang perdagangan (handels).
***
Kalisati Siregar lahir di kampong Liang, distrik Sipirok, Onderafdeeling Angkola-Sipirok, Afdeeling Padang Sidempoean. Setelah lulus HIS di Kota Sipirok, Kalisati melanjutkan studi ke sekolah menegah pertama, MULO yang berada di Kota Padang Sidempoean. Sebagaimana umumnya, siswa-siswa yang telah lulus sekolah menengah di Padang Sidempoean melanjutkan studi ke Djawa, biasanya mereka melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah atas dulu ke Medan atau langsung ke Batavia. Kalisati Siregar termasuk yang BTL berangkat ke Batavia.

Kalisati Siregar diterima di sekolah menengah atas bidang perdagangan di Batavia. Pada tahun 1938, Kalisati Siregar termasuk diantara siswa-siswa Middlbare Handelsschool yang lulus ujian transisi dari kelas satu ke kelas dua (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 28-05-1938). Namun setelah lulus sekolah bidang perdagangan ini di Batavia, Kalisati Siregar ‘mentok’ pendidikannya. Karena sekolah tinggi ekonomi belum ada (Sekolah Tinggi Ekonomi yang menjadi bagian dari Universiteit van Indonesie baru diselenggarakan pada tahun 1948). Kalisati Siregar ingin kuliah ke Negeri Belanda tetapi itu tentu sangat mahal, lalu demi menghormati orangtuanya di kampong, Kalisati Siregar memilih bekerja langsung dan melamar di Kantor Pusat Statistik di Batavia. Kali Sati Siregar kemudian diterima dan diangkat sebagai pegawai kelas-satu di Kantor Pusat Statistik di Batavia (Bataviaasch nieuwsblad, 04-04-1941).

***
Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Anak-anak Padang Sidempoean yang tidak sempat pulang atau memang tidak ingin pulang ribuan jumlahnya. Di seputar kemerdekaan ini beberapa anak Padang Sidempoean di Batavia yang sangat menonjol adalah Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap, Adam Malik Batoebara, Kol. Abdoel Haris Nasoetion, Kol. Zulkifli Loebis, Parada Harahap, Sanusi Pane, Ing. Mangaradja Onggang Parlindoengan, dan Drs. Todoeng Soetan Goenoeng Moelia Harahap, PhD. Sementara anak-anak Padang Sidempoean yang berada di Medan yang cukup menonjol adalah Mr. S.M. Amin Nasoetion, Dr. Gindo Siregar, Mr. Loeat Siregar, guru Madong Loebis. Juga di kota-kota lain, seperti: Abdoel Hakim Harahap, SE. (Makassar), Dr. Radjamin Nasoetion dan Apt. Ismail Harahap (Surabaya), Dr. Muhammad Daulay (Semarang), Mr. Masdoelhak Nasoetion, PhD dan Dr. Parlindungan Loebis, Ing. Magaradja Onggang Parlindungan Siregar (Yogyakarta), wartawan Sakti Alamsyah Siregar (Bandung), Drh. Anwar Nasoetion dan Mr. Radja Enda Boemi Siregar, PhD (Bogor), Mr. Gele Haroen dan Haroen Al Rasjid Nasoetion (Lampung), Darwin Hamonangan Nasoetion dan Sutan Pangurabaan Pane (Palembang), Mr. Egon Nasoetion (Padang), Dr. Diapari Siregar, Dr. Muhammad Hamzah Harahap dan guru Soetan Martoewa Radja Siregar (Pematang Siantar).  

***
Anak-anak Padang Sidempoean baik yang di kampong halaman maupun yang berada di perantauan bahu-membahu dan mengambil bagian dalam menyusun tata pemerintahan baru pasca proklamasi kemerdekaan dan berusaha mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang dimotori tiga founding father: Ir. Soekarno, Drs. M. Hatta dan Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap. Di pusat, Mr. Amir Sjarifoeddin, Menteri Penerangan; Mr. S.M. Amin Nasoetion menjadi Gubernur Sumatra Utara (Aceh, Sumatra Timur dan Tapanoeli); Residen Sumatra Tengah (Sumatra Barat, Riau dan Jambi), Mr. Masdoelhak Nasoetion, PhD; Walikota Medan, Mr. Loeat Siregar; Wakil Residen Tapanoeli, Abdoel Hakim Harahap, SE dan di Tapanoeli Selatan, Bupati Sutan Doli Siregar, Sekretaris Ayub Sulaiman Loebis, Wedana Maraganti Siregar, Kepala Bidang Pertanian, Djohan Nasoetion dan Kepala Bidang Perdagangan, Kalisati Siregar.

Dalam perkembangannya, sebagaimana tidak terduga, pada masa agresi militer Belanda pemerintahan sipil diperkuat dengan pembentukan pemerintahan sipil-militer. Di Pusat, Mr. Amir Sjarifoeddin merangkap Menteri Pertahanan; di Sumatra Utara diangkat Dr. Gindo Siregar menjadi Gubernur Militer; di Tapanoeli, Wakil Residen Sipil, Abdul Hakim Harahap didampingi Residen ‘adinterim’ Militer, Binanga Siregar; di Padang Sidempoean, Kapten Koima Hasibuan (anumerta) digantikan oleh Letnan Bedjo (tentara) dan Komisaris Maskadiran (brimob); dan di Sipirok perang gerilya dipimpin Letnan Sahala Muda Pakpahan. Letnan Bedjo dan Komisaris Maskadiran adalah pemimpin laskar dan polisi dari Sumatra Timur yang mengungsi ke Tapanoeli Selatan. 

***
Para orangtua di Padang Sidempoean sangat menyadari betul bahwa memiliki anak-anak yang tengah berjuang di perantauan dan mereka khawatir jika seandainya mereka kalah perang dan wilayah tempat mereka diduduki Belanda, maka setidaknya jika mereka harus pulang masih ada tempat tinggal kampung halaman yang bisa menampung mereka. Dalam konteks ini, menjadi mudah dipahami, mengapa begitu heroiknya orangtua dan anak-anak Padang Sidempoean mempertahankan kedaulatan kampong halaman Padang Sidempoean ketika pasukan tentara Belanda dikabarkan akan menduduki Kota Padang Sidempoean dalam rangka menjepit ibukota Republik Indonesia di pengungsian di Bukittinggi. Dan, juga mudah dipahami mengapa rakyat Padang Sidempoean berani berkorban yang tak terkira dan berani melakukan bumi hangus kota Padang Sidempoean (sebagaimana sebelumnya Bandung lautan api).

Oleh karenanya, anak-anak Padang Sidempoean berjuang di dua tempat: kampung halaman dan tanah perantauan. Anak-anak Padang Sidempoean yang berada di perantauan mengawal dan mempertahankan habis-habisan NKRI. Sementara orangtua dan anak-anak Padang Sidempoean yang berada di Tapenoeli khususnya di Afdeeling Padang Sidempoean juga berjuang mempertahankan kampong halaman. Para orangtua di kampung halaman dan anak-anak mereka di perantaun tidak satupun yang menginginkan kampung halaman menjadi negara boneka Belanda. Oleh karenanya sejarah perang di Padang Sidempoean harus dihitung sebagai bagian yang tidak terpisahkan dan pelaku penting dari sejarah perang mempertahankan kedaulatan NKRI.

***

Hariman Siregar lahir pasca perang melawan Belanda di Padang Sidempuan pada tanggal 1 Mei 1950. Prestasi ayahnya, Kalisati Siregar sebagai pejabat di Padang Sidempoean sebelum dan selama perang diapresiasi pemerintah pusat dan ditinggikan jabatannya lalu dipindahkan ke Medan pada saat mana Abdoel Hakim Harahap menjadi Gubernur Sumatra Utara (yang ketiga: 25-01-1951 sd  23-10-1953). Setelah beberapa tahun di Medan, Kalisati Siregar dipindahkan ke Palembang untuk menggantikan posisi jabatan yang ditinggalkan oleh Darwin Hamonangan Nasoetion. Terakhir, Kalisati Siregar dipindahkan ke pusat sebagai pejabat di Departemen Perdagangan RI tahun 1959 (hingga pension). Sebelum pindah ke Jakarta, Hariman Siregar sendiri sempat beberapa tahun bersekolah di Palembang. Hariman Siregar, anak keempat Kalisati Siregar lalu ditransfer ke Jakarta dan lulus sekolah dasar (SD) tahun 1961. Pendidikan sekolah menengah (SMP dan SMA) juga diselesaikan di Jakarta dan lulus 1967.

Tahun 1967 adalah tahun pasca ‘perang saudara’ melawan paham komunis. Saat itu ayahnya mulai memasuki usia pension, Hariman Siregar justru baru memulai pendidikan tinggi. Hariman Siregar awalnya diterima di Institut Teknologi Bandung (ITB). Akan tetapi ayahnya meminta untuk kuliah di Universitas Indonesia saja agar bisa menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran. Hariman Siregar yang selalu hormat kepada orangtua ini mengiyakan permintaan sang ayah. Hariman Siregar ujian saringan di Universitas Indonesia dan diterima. Karena itu, Hariman Siregar baru terdaftar di Universitas Indonesia pada tahun 1968.

Hariman Siregar, sebagaimana umumnya anak-anak Padang Sidempoean, para orangtua meminta anak-anaknya mengutamakan pendidikan. Hariman Siregar sangat tekun belajar. Itu dilaluinya hingga tingkat tiga. Hariman Siregar tidak tahu politik dan tidak berusaha belajar politik. Karena itu Hariman Siregar tidak tergoda untuk terlibat dalam organisasi sebagaimana teman-temannya justru sudah banyak yang karatan di organisasi, meski di luar kampus, hingar bingar organisasi mahasiswa makin menyeru. Bahkan Hariman Siregar tidak menyadari bahwa di dalam kampus pengaruh HMI sudah sangat kuat.

Tapi lambat laun eskalasi diskusi permasalahan social dan ekonomi masyarakat yang semakin runyam menyadarkannya. Hariman Siregar tersentak. Dalam pasca 'perang saudara' ini, Hariman Siregar seakan terlahir kembali, tetapi lahir sebagai aktivis mahasiswa. Darah pejuang dalam dirinya mulai bereaksi (like son, like father). Hariman Siregar tidak perlu teori politik. Tidak punya waktu untuk mempelajarinya. Soal itu, Hariman Siregar kalah jauh dari teman-temannya. Hariman Siregar hanya mulai membagi perhatian antara pendidikan di satu sisi dan ikut berjuang untuk kemasyarakatan di sisi lain. Untuk itu tidak perlu teori, Hariman Siregar hanya mengikuti nalurinya, yakni: action!

Untuk mendalami situasi dan kondisi lantas Hariman Siregar mulai intens mengikuti perkembangan yang ada dan mulai berpartisipasi dalam diskusi-diskusi. Di dalam kampus Hariman Siregar memulai organisasi dengan menjadi anggota Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) mewakili Fakultas Kedokteran. Ibarat motor diesel, Hariman Siregar makin lama makin panas dan akselerasinya juga makin kencang. Pada tahun 1971, Hariman Siregar sudah mengajukan diri untuk dicalonkan menjadi ketua senat. Hasilnya, Hariman Siregar terpilih menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran.

Eskalasi politik di kalangan mahasiswa makin meningkat karena persoalan kemasyarakatan semakin menganga antara kebijakan pemerintah dengan kenyataan yang dihadapi rakyat banyak. Hariman Siregar menyadari organisasi intrakampus akan sangat terbatas. Kebetulan mahasiswa kedokteran se-Indonesia akan melakukan kongres di Makassar 1972. Hariman Siregar melepaskan jabatan Ketua Senat dan mengajukan diri untuk menjadi Sekjen Ikatan Mahasiswa Kedokteran Indonesia (IMKI). Dalam  kongres ini Hariman Siregar terpilih. Nama Hariman Siregar mulai mencuat ke permukaan. Kini, Hariman Siregar sudah memiliki portfolio. Suatu portfolio yang unik, suatu kombinasi modal aktivis politik (kemasyarakatan) dan aktivis profesi (keilmuan). Figur Hariman Siregar mengubah mainstream politik kampus. Mahasiswa yang masih banyak dalam posisi ‘mengambang’ selama ini lalu hanyut dan mengidolakan Hariman Siregar sebagai calon pemimpin baru.

Hariman Siregar menyadari bahwa IMKI belum cukup. Hariman Siregar masih butuh ‘kendaraan’ politik mahasiswa yang powerfull. Hariman Siregar mulai meretas jalan menuju Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia (DMUI), Teman-temannya sadar betul peluang Hariman Siregar sangat kecil untuk bisa menjadi Ketua DMUI. Hal ini karena dari masa ke masa yang menjabat posisi itu adalah mahasiswa yang memiliki basis yang kuat. Saat itu HMI sangat kuat dan mahasiswa UI banyak yang berafiliasi dengan HMI. Hariman Siregar tidak peduli dengan apa yang dipahami teman-temannya. Hariman Siregar justru masih melihat ada celah. Dan itu tantangannya. 

Seorang yang memiliki darah pejuang, menghadapi tantangan adalah perjuangan. Hariman Siregar mengajukan diri. Sekali lagi, teman-temannya menganggap keinginan Hariman Siregar itu sulit terlaksana, bahkan dari kalangan HMI sendiri juga menganggap Hariman Siregar tidak perlu diperhitungkan. Hariman Siregar yang cerdas mungkin menyimpulkan begini: ‘jika kawan dan lawan meremehkan saya, itu berarti kekuatan saya dan dapat dianggap sebagai bonus yang diterima di awal pertarungan’. Hariman Siregar tampaknya tidak takut dan memang tidak ada takutnya. Hariman Siregar tidak hanya mahasiswa pemberani tetapi juga mahasiswa cerdas serta memiliki talenta diplomasi yang kuat.

Hariman Siregar yang fasih berbahasa Batak itu ternyata paham juga prinsip adat ‘dalihan natolu’ yang mengutamakan ‘relasi’ daripada ‘unsur’. Dalam bahasa sekolahan sesuatu itu tidak hanya membutuhkan syarat perlu (necessary condition), tetapi juga dibutuhkan syarat cukup (sufficient condition). Dalam bahasa sehari-hari: ‘lebih mungutamakan konten daripada siapa yang menjadi pelaku’. Dalam adat dalihan natolu kedudukan setiap marga adalah sama (unsur) tetapi kedudukannya berubah dengan situasi dan kondisi tertentu (relasi). Mungkin Hariman Siregar berpikir: ‘jika saya lebih muda dan tidak memiliki apa-apa (unsur-1) dan anda lebih alim dan lebih kaya (unsur-2), tetapi saya adalah mora (relasi) dan anda adalah anakboru (relasi), maka tempat dudukmu ada di belakang saya (relationship) dan suatu saat saya duduk di belakangmu. Dalam bahasa politik praktis sekarang jelang pemilu: ‘menonjolkan figur (unsur) atau isi program’, massa yang cerdas akan cenderung memilih isi program (relasi).

Hariman Siregar mulai bekerja. Bekerja dengan caranya sendiri (soliter), karena Hariman Siregar bangkit karena kesadaran sendiri. Hariman Siregar lalu bergerilya (sebagaimana ayahnya dulu di medan perang) dengan melakukan pendekatan ke semua unsur yang ada dan anehnya bahkan melakukan pendekatan ke orang-orang HMI sendiri. Padahal HMI telah punya calon sendiri. Mungkin Hariman Siregar berpikir: ‘selagi mereka semua adalah bangsa Indonesia, mereka adalah kawan’. Karenanya, Hariman Siregar terus mendekati mahasiswa-mahasiswa HMI meski Hariman Siregar mengetahui mereka sudah memiliki calon yang direstui oleh Pengurus Besar HMI (yang kala itu dijabat oleh Akbar Tanjung). Bahkan Hariman Siregar, berani-beraninya datang menghadap Akbar Tanjung. Anak Sibolga ini mungkin hanya tersenyum. Tersenyum karena merasakan dalam dirinya sesama anak Tapanoeli, karena Hariman Siregar memiliki jiwa petarung dan otak yang encer. Mungkin Akbar Tanjung dalam posisi dilematis: mengiyakan berarti menciderai dirinya sendiri karena Akbar Tanjung adalah Ketua PB HMI; menolak berarti takut ‘kualat’ sama Lafran Pane (pendiri HMI).

Hasil bergerilya Hariman Siregar berbuah hasil. Para analisis menyimpulkan perebutan Ketua DMUI akan sengit. Angka-angka yang beredar ternyata sudah fifty-fifty antara Hariman Siregar dengan calon kuat dari HMI. Meski begitu, semua kalangan menganggap Hariman Siregar akan tetap kalah. Tapi Hariman Siregar adalah joki terbaik dari Padang Sidempoean dengan kuda poni terbaik dari Sipirok. Jika ketemu kombinasi kimia ‘joki terbaik’ dan ‘kuda terbaik’  maka suatu pertempuran sekalipun itu dilangsungkan di Wild West akan meraih kemenangan. Hariman Siregar adalah lone ranger van Sumatra’s Westkust. Hariman Siregar mengabaikan opini orang lain. Hariman Siregar lebih percaya pada kearifan yang dibangun di atas kecerdasan yang dibawa dari huta.

Ketika ‘pemilu’ DMUI berlangsung dan saatnya perhitungan suara, Hariman Siregar kejar-kejaran dalam pengumpulan suara. Ketika posisi 24-24, masih ada dua suara yang berada di dalam stoples (total voter 50 suara perwakilan mahasiswa). Mahasiswa HMI yang mengikuti perhitungan suara itu tetap yakin akan menang kandidatnya karena secara defacto ada 25 voter yang berafilasi dengan HMI. Lalu kertas berikutnya dibuka, dan ternyata suara untuk Hariman Siregar: skor menjadi 25-24. Hariman Siregar berada di atas angin. HMI masih punya harapan dalam proses pemilihan ulang karena suara terakhir adalah milik HMI sehingga skor 25-25 alias draw.

Sebagaimana lazimnya suara terakhir yang menentukan selalu diulur-ulur oleh panitia untuk mempermainkan emosi penonton. Akibatnya suasana di TPS itu semakin tegang. Akhirnya panitia pemilihan membuka kertas suara, tetapi mau mengatakan apa malah terdiam tak disadarinya. Dapat diduga bahwa panitia yang membuka dan akan membacakan langsung itu adalah panitia yang berafiliasi kepada HMI. Tetapi hadirin mendesak untuk segera dibacakan. Dengan setengah malu dan kecut menyeru: Ha..riman! Lalu semua forum kaget dan tidak menduga yang menang adalah Hariman Siregar. Dari sudut supporter Hariman Siregar lalu berteriak: Hidup Hariman, Hidup Hariman, Hidup Hariman. Dari sudut supporter HMI yang sejak beberapa saat terdiam, lalu menyadari calon mereka telah dikalahkan dan Hariman Siregar yang menang.

PB HMI gusar: bukan terhadap Hariman Siregar. Tetapi, siapa yang membelot dari 25 mahsiswa yang mewakili (berafilasi) HMI itu? Pertanyaaan ini tidak terjawab sekian lama. PB HMI juga tidak terlalu memusingkannya lagi, mereka sadar ‘pemilu’ DMUI adalah bagian dari demokrasi. Hariman Siregar sendiri juga tidak perlu menyelidiki siapa-siapa yang mendukungnya dan memberikan suara kepada dirinya. Hariman Siregar ingin segera bekerja. Bekerja untuk menyusun pengurus DMUI yang baru. Anehnya, Hariman Siregar justru memilih fungsionaris pertama adalah sekjen. Anehnya lagi, Hariman Siregar justru mengangkat kompetitornya sebagai sekjen. Dunia kampus terheran-heran. Tapi, orang lupa bahwa Hariman Siregar adalah orang yang cerdas yang tidak pernah mau memusuhi siapapun selagi yang bersangkutan masih bangsa Indonesia. Adat dalihan natolu ditunaikan oleh Hariman Siregar: ‘mendahulukan relasi daripada unsur’, mendahulukan konten (relasi) daripada siapa yang harus melakukan (unsur). Akbar Tanjung dari kubu HMI paham betul suprateori dalihan natolu, dan jelas tidak kaget dan tidak heran mengapa yang dipilih dari HMI dan mengapa Hariman Siregar berpikir begitu. 

Pengangkatan orang HMI sebagai sekjen disambut sukacita oleh semua kalangan HMI seluruh Indonesia. Mungkin Akbar Tanjung dan Lafran Pane hanya tersenyum-senyum saja. Hariman Siregar dalam hal ini tidak hanya merebut kemenangan dengan tanpa peluru, tetapi juga telah merebut hati kalangan HMI. Ini bonus kedua yang diperoleh Hariman Siregar pada posisi portfolionya sebelum memulai tugas baru: perjuangan untuk rakyat.

Hariman Siregar telah memberi contoh bagaimana seharusnya hidup berbangsa. Ayahnya dulu di masa perang dapat mempertahankan NKRI tidak dengan peluru tetapi dengan amunisi pangan. Lalu dalam perkembangannya, dan melihat kondisi objektif yang ada (apalagi sekjennya adalah dari HMI), orang HMI yang dianggap membelot itu buka suara, namanya Imran Hasibuan (sudah barang tentu asalnya dari Padang Sidempoean). Ketika ditanyakan kepadanya mengapa membelot (partisan HMI) dan memberikan suara kepada Hariman Siregar (non-partisan). Imran hanya menjawab enteng: ‘saya adalah HMI tulen, tetapi saya juga adalah anak Batak’. Mungkin mendengar jawaban Hasibuan ini, pendiri HMI Lafran Pane dan ketuanya yang kini dijabat Akbar Tanjung hanya tersenyum-senyum saja. Diplomasi Siregar yang cerdas dibalas dengan diplomasi Hasibuan yang cerdas pula—diplomasi ‘halak hita’, diplomasi ‘dalihan natolu’ (arti harpiahnya begini: saya dan engkau adalah teman, jika dia adalah temanku atau jika dia adalah temanmu, maka dia adalah teman kita untuk memperkuat berdirinya sebuah tungku).
Hariman Siregar menyadari betul bahwa dalam adat 'dalihan natolu' bahwa hidup dan kehidupan itu adalah unsur-unsur yang memiliki relasi dan bersifat komplementer (bukan substitusi). Sebab substitusi itu adalah saling menyingkirkan atau bahkan saling membunuh, sementara komplemen adalah saling memperkuat. Ketika Lafran Pane dulu di masa perang ketika mendirikan HMI di luar kampus (ekstrakurikuler), justru rekan 'dongan sahuta' Ida Nasoetion bersama G. Harahap mendirikan PMUI di dalam kampus (intrakurikuler), Kedua mahasiswa asal Padang Sidempoean itu membangun konsep pemikiran atas dasar saling memperkuat. Adagium saat itu: 'semua adalah kawan, musuh bersama adalah kolonialisme dan imperialisme. Kini Hariman Siregar paham betul bagaimana Lafran Pane dengan HMI dan Ida Nasoetion dengan PMUI membangun organisasi untuk tujuan bersama. Kedua anak Padang Sidempoea itu bersinergi bukan saling melukai. Hariman Siregar mengikuti pola pikir kedua seniornya yang kebetulan 'dongan sahuta' di Padang Sidempoean dengan memadukan kekuatan massa HMI dengan massa non-HMI dalam satu kekuatan mahasiswa bersatu melawan musuh bersama yakni yang menggerogoti negara kala itu: korupsi dan modal asing. Nyata bahwa ramuan Hariman Siregar itu paten rasanya.
***
Hariman Siregar, Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia selalu dikaitkan dengan peristiwa malapetaka lima belas januari, 15 Januari 1974. Padahal kenyataannya tidak demikian. Perjuangan Hariman Siregar dalam hal negeri ini adalah satu hal, tetapi terjadinya huru-hara dan pembakaran massal di Jakarta (lautan api) adalah satu hal yang lain. Hariman Siregar adalah anak pejuang, Kalisati Siregar, seorang pejuang di Padang Sidempoean yang tidak ingin menyengsarakan penduduk. Hariman Siregar adalah seorang yang cerdas dan juga pemberani. Hariman Siregar tidak sebodoh itu sebagaimana dituduhkan kepadanya atas terjadinya kerusuhan dan pembakaran massa di Jakarta 15 Januari 1974. Memang berkorelasi, tetapi tidak signifikan (tidak bisa digeneralisasikan).

Setelah Hariman Siregar terpilih menjadi Ketua DMUI, eskalasi politik khususnya antara pemerintah dan kalangan mahasiswa semakin meninggi. Kebijakan pro pemerintah yang menginginkan pertumbuhan ekonomi yang menguntungkan segelintir penduduk Indonesia, tidak sejalan dengan harapan masyarakat dan mahasiswa yang menginginkan pemerataan kesejahteraan. Ini semua dipicu oleh semakin merajalelanya korupsi dan tekanan Negara asing melalui modal asing. Eropa dengan ketuanya Belanda (via IGGI yang diketuai oleh Pronk) dan invasi produk-produk Jepang (yang saat itu PM Jepang adalah Tanaka).

Dua isu ini yang membuat rakyat terpuruk. Hariman Siregar paham betul masalah ini, karenanya pemerintah harus didesak untuk menyelesaikan sumber masalah. Berbagai pendekatan telah dilakukan Hariman Siregar melalui DMUI untuk mempercepat mengatasi permasalahan bangsa. Hariman Siregar menghubungi semua unsur, dalam bahasa sekarang stakeholder.

Keluar: Hariman Siregar menghububungi Jenderal Soemitro sebagai Pangkopkamtib dan Ali Moertopo sebagai asisten pribadi (aspri) Presiden Suharto. Bagi sejumlah kalangan mahasiswa cara Hariman Siregar surapa ini tidak lazim dan dianggap merendahkan mahasiswa. Apalagi Hariman Siregar menjalin hubungan baik dengan Ali Moertopo.

Kedalam: Hariman Siregar melakukan konsolidasi mahasiswa di dalam kampus. Hariman blusukan ke kampus-kampus dan berhasil menjalin hubungan baik dan melakukan MOU dengan sepuluh kampus.

Hariman Siregar memimpin perwakilan sepuluh kampus untuk bertemu dan menanyakan langsung kepada Suharto tentang permasalahan Negara ini. Sejarah berulang bagaimana Willem Iskander dulu memimpin rombongan guru-guru untuk studi ke Eropa. Pertemuan ini deadlock karena mahasiswa yang dibawanya ternyata berdialog tidak taktis malah membuat Suharto agak kesal.

Diskusi-diskusi di kalangan mahasiswa semakin intens. Intelijen yang selama ini memonitor di lapangan memberi laporan yang membuat petinggi ABRI Jendral Soemitro dan Ali Moertopo menjadi sangat gelisah. Ali Moertopo coba mengendalikan mahasiswa melalui Hariman Siregar yang dianggapnya sebagai teman. Akan tetapi Ali Moertopo ‘kecele’, Hariman Siregar terus maju dengan apa yang dipikirkannya. Akbar Tanjung pernah mengatakan bahwa ‘Hariman adalah orang yang tidak bisa dikendalikan’. Hariman Siregar adalah orang yang independent.

Di internal DMUI sempat muncul mosi tidak percaya kepada Ketua DMUI, Hariman Siregar. Pada tanggal 28 Desember 1973 satu kelompok fungsionaris DMUI mengatakan bahwa Hariman Siregar dalam beberapa bulan terakhir tidak menjalankan agenda kegiatan atas nama DMUI. Menanggapi hal ini Hariman Siregar beserta petinggi DMUI lainnya mengambil tindakan cepat dan tegas.  Sehari setelah mosi tidak percaya tersebut disampaikan, kelompok fungsionaris tersebut dicopot dari keanggotaannya dari DMUI. Mungkin dalam hal ini Hariman Siregar menggertak: ‘lo mau apa, gue ini anak Batak’. Dalam bahasa sekarang dapat diterjemahkan: ‘Saya tidak memandang kalian itu siapa, saya berjuang untuk kepentingan rakyat. Mau ikut atau kagak. Titik’.

Respon yang lamban dari pemerintah disentil Hariman Siregar dalam pidatonya di Universitas Indonesia pada malam pergantian tahun baru 1973-1974. Statemennya jelas, antara lain:

“Tidak ada hasil yang diperoleh tanpa kerja keras, tanpa perjuangan, dan tanpa keberanian. Karena, kalau kita tidak mau dikekang, dianca, baik oleh kekuasaan maupun cecunguk-cecunguknya, maka kita mahasiswa harus berani bersikap dan bergerak untuk mewujudkan pendapat-pendapat yang diperoleh. Ingat, pada akhirnya yang menentukan bukanlah analisis yng bagus-bagus yang ilmiah, tetapi tindak nyata yang mengubah keadaan.

Kepada tukang becak, mari abang-abang, kita bergerak bersama untuk membuka kesempatan kerja. Kepada para penganggur yang puluhan juta, yang berada di desa-desa dan kota-kota untuk bergerak untuk kesejahteraan sosial; kepada warga Negara Indonesia yang bekerja untuk perusahaan asing, mari kita bergerak untuk menuntut persamaan hak dengan karyawan-karyawan asing, mari kita bergerak untuk menuntut persamaan hak dengan karyawan-karyawan asing. Dan akhirnya, kepada para koruptor penjual bangsa, pencatut-pencatut sumber alam Indonesia yang mengejar-ngejar komisi sepuluh persen, kami serukan bersiap-siaplah menghadapi gerakan kami yang akan datang.”

Eskalasi politik terus semakin meninggi tatkala ada rencana kedatangan Perdana Menteri (PM) Jepang yang akan berkunjung ke Indonesia 15-17 Januari 1974 dan menambah kebencian terhadap asing. Hariman Siregar mencoba untuk jalan dialog dan bertemu langsung dengan PM Tanaka. Namun Hariman Siregar ditekan teman-temannya dari seluruh Indonesia agar menghindari dialog dan langsung turun ke jalan. Hariman Siregar tidak berdaya lalu ikut menyetujui. Inilah kesetiaan Hariman Siregar terhadap kawan, selagi perjuangan masih berada di dalam relnya.

Pada tanggal 15 Januari 1974 mahasiswa yang dimotori DMUI coba melakukan protes dengan turun ke jalan menuju bandara Halim tempat kedatangan PM Jepang, tetapi itu tidak mudah karena sudah dihalangi oleh berikade tentara. Lalu demonstrasi dialihkan menuju Grogol dengan longmarch dan melakukan orasi di kampus Trisakti.

Pada hari yang sama, tidak disangka, ada pihak ketiga yang mengacaukan Jakarta dengan memicu penjarahan, pembakaran gedung-gedung, toko-toko dan mobil-mobil produk Jepang. Mendengar kejadian ini, atas perintah Hariman Siregar, mahasiswa langsung balik ke kampus UI Salemba dan di dalam terus memantau apa yang tengah terjadi. Hariman Siregar di dalam kampus sesungguhnya tidak panik. Hariman Siregar meminta mahasiswa bertahan di dalam kampus dan Hariman Siregar sendiri bergegas menuju Kantor TVRI untuk melakukan siaran yang berisi seruan penghentian demonstrasi dan menyerukan agar mahasiswa tidak terlibat dalam kerusuhan yang tengah terjadi.
Esok harinya, opini berkembang dan semua menyudutkan Hariman Siregar. Meski demikian, Hariman Siregar tidak gentar. Secara publik kecaman itu diterimanya, tetapi di dalam hati dia tetap tenang karena merasa tidak bersalah. Karena mahasiswa tidak menginginkan kerusuhan tetapi mengkritisi pemerintah agar melakukan koreksi. Hariman Siregar paham. Ibarat lempar batu ke utara, tetapi kali ini jatuhnya di selatan.

Lalu Petinggi ABRI dalam hal ini Jenderal Soemitro memerintahkan Sudomo sebagai wakilnya untuk menangkap Hariman Siregar sebagai yang pertama. Sewaktu ditahan Hariman Siregar sudah lulus doctorandus medicus (dr.med). Hariman Siregar tidak melawan, malah tidak melarikan diri ketika mau ditangkap. Hariman Siregar dibawa ke rumah tahanan militer Budi Utomo, Jakarta Pusat. Hariman Siregar menunggu proses hukum yang dituduhkan kepadanya. Biar pengadilan yang menjelaskan. Hariman Siregar ‘diadili’ dan kemudian lalu divonnis enam tahun pada tanggal 21 Desember 1974. Hariman Siregar lalu ditahan di penjara Nirbaya, Podok Gede Jakarta.

Hariman Siregar tidak berusaha beretorika. Hariman Siregar mengikuti semua prosedur peradilan yang dimainkan saat itu. Hariman Siregar dalam hati mengabaikan semua tuduhan dan berusaha berkelakuan baik meski sudah berada di penjara. Hariman Siregar mengambil risiko itu, sebagaimana Parlindungan Lubis dulu telah mengambil risiko itu. Hariman Siregar tidak ingin menambah kegaduhan. [Anak-anak Padang Sidempoean lainnya yang ditangkap diantaranya Adnan Buyung Nasoetion dan Mochtar Lubis]. Melakukan pembelaan diri saat itu tidak tepat.

Hariman Siregar hanya berusaha untuk tetap kuat dan tegar ketika kesedihan selalu mengusiknya: ada korban jiwa dan materi. Hariman Siregar hanya sangat bersedih karena rakyat juga yang menderita. Kerusuhan yang berlangsung selama dua hari itu tercatat sebelas orang meninggal. Kesedihan Hariman Siregar terus bertambah. Hariman Siregar hanya bersedih pada penderitaan rakyat dan terhadap orang-orang yang sangat dicintainya. Istrinya yang masih bestatus mahasiswa FPsUI itu mengandung untuk kali kedua. Akibat keadaan, istri Hariman Siregar menjadi stress dan anak kembar mereka yang lahir meninggal. Bapak mertua juga ikut ditangkap yang juga tengah berada di dalam tahanan. 

Kesedihan ternyata masih berlanjut. Beberapa waktu kemudian, ayahnya, Kalisati Siregar (pejuang Padang Sidempoean) dikabarkan telah meninggal dunia. Kalisati Siregar, pejuang Padang Sidempoean masih sempat melihat anaknya, 'sang petarung' Hariman Siregar berjuang habis-habisan demi rakyat banyak. Ayahnya tersenyum (like son, like father) dan lalu menutup mata untuk selamanya. Kalisati Siregar meninggal dengan tenang. Selamat jalan, Pak Komandan!. Hormat kami dari anak-anak Padang Sidempoean. Perjuanganmu menjadi inspirasi kami. Semoga diterima di sisiNya. Amin.

Kini, hanya tinggal ibu (boru Hutagalung) yang kerap bolak-balik datang ke penjara. Ketika semua itu datang bersamaan, Hariman Siregar berupaya mengelola kesedihannya agar tidak sampai merusak dan membunuh dirinya. Hariman Siregar berusaha tetap kuat dan tegar meski muncul ‘cobaan’ yang begitu berat. Hariman Siregar menganggap perjuangan yang dicita-citakan masih lama dan butuh waktu dan tenaga.

***
Pemerintah dan ABRI mengoreksi keputusannya. Vonnis Hariman Siregar yang ditetapkan pada awalnya enam setengah tahun hanya dijalani dua tahun tujuh bulan. Pejuang sejati tetaplah berjuang. Selepas keluar dari tahanan, mahasiswa tetap menganggap Hariman Siregar sebagai figure kuat dan ideal. Hariman Siregar diminta mendukung. Hariman Siregar tidak keberatan. Hariman Siregar ikut mendukung gerakan mahasiswa 1978 yang menolak Soeharto sebagai presiden kembali. Dalam perkembangannya, nama Hariman Siregar terrehabilisasi. Jenderal Sumitro dalam biografinya meyakini Hariman Siregar tidak terlibat. Sumitro balik menuduh kelompok jaringan intel lepas Opsus (Operasi Khusus) di bawah komando Ali Moertopo seharusnya yang paling bertanggung jawab atas peristiwa malapetaka lima belas januari itu. Jangan lupa, yang memerintahkan untuk menangkap Hariman Siregar adalah Sumitro sendiri. Anehnya, dugaan siapa yang berada di balik kerusuhan itu adalah sebagian dari kelompok mosi tak percaya di DMUI itu yang kemudian dikenal sebagai ‘Kelompok Sepuluh’ yang dikaitkan dengan peran Ali Moertopo. Hariman Siregar tahu siapa yang harus dipecat yaitu orang-orang yang ingin menodai perjuangan. Hariman Siregar telah menunaikan itu selagi menjadi ketua DMUI.

Hariman Siregar telah mengisi organisasi mahasiswa yang telah dibentuk dan didirikan oleh pendahulunya: Sutan Casajangan (PPI), Lafran Pane (HMI) dan Ida Nasoetion (PMUI) dengan pahit dan manis. Hariman Siregar dipandang sebagai tokoh yang unik dan berpolitik tanpa ambisi kekuasaan. Akan tetapi bagi anak-anak Padang Sidempoean hal serupa itu dianggap lumrah. Prinsip dalihan natolu dalam tradisi anak-anak Padang Sidempoean selalu hadir dimanapun berada. Organisasi adalah bentuk modern dari system social dalihan natolu. Unsur dalam organisasi mahasiswa adalah sangat penting tetapi yang lebih penting adalah relasinya. Tidak akan kuat sebuah organisasi mahasiswa jika hanya terdiri dari unsur-unsur yang tidak berkaitan satu sama lain (relasi). Hariman Siregar melihat mahasiswa adalah kekuatan dan kekuatan itu powerfull jika satu sama lain disatukan.

Afdeeling Padang Sidempoean menjadi Kabupaten Tapanuli Selatan, 1956
Hariman Siregar memainkan lakon dalihan natolu ini dalam menjalankan misinya. Hariman Siregar dengan sadar semua adalah kawan, tetapi jika tidak memiliki relasi dalam kepentingan umum (bersama) Hariman Siregar tidak segan-segan untuk memecat. Sebaliknya jika memiliki relasi siapapun mereka akan dianggap kawan. Hariman Siregar adalah pemimpin mahasiswa yang telah menjalankan prinsip-prinsip dalihan natolu dalam perjuangannya. Hal ini telah dilakukan oleh ayahnya Kalisati Siregar dalam perang agresi militer Belanda di Padang Sidempoean dengan menyatukan semua kekuatan dengan hanya mengandalkan amunisi pangan. Terbukti pasukan Belanda tidak pernah mengalahkan rakyat yang bersatu. Hanya satu perang di Sumatra Utara yang tidak berakhir dengan kekalahan, yakni perang yang terjadi di Afdeeling Padang Sidempoean. Kalisati Siregar, ayah Hariman Siregar dalam perang itu memainkan peran yang penting.


***
Hariman Siregar adalah Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia (DMUI) yang memprakarsai ‘perang’ terhadap korupsi dan modal asing. Hariman Siregar berhasil menggabungkan semua kekuatan mahasiswa Indonesia dalam satu barisan yang sangat solid. Hariman Siregar ‘anak pejuang perang’ berhasil memadukan organisasi luar kampus (interkampus) yang utama, yakni HMI yang dipimpin Akbar Tanjung dengan organisasi dalam kampus (intrakampus). Hariman Siregar aktivis dalam kampus dan non-partisan mampu merebut hati semua mahasiswa baik yang partisan (utamanya yang berafiliasi dengan HMI) maupun yang non-partisan. Inilah sejarah kekuatan mahasiswa yang pernah digalang di negeri ini ketika intelijen dan tentara (ABRI) terus memata-matai gerakan mahasiswa. Sejarah turun kepada anak (like son., like father), ayah Hariman Siregar di masa perang berhasil merebut hati penduduk untuk secara bersama-sama dengan laskar melawan musuh bersama: menolak agresi Belanda.

'Tarombo' Pemimpin Mahasiswa Indonesia asal Padang Sidempoean
Kombinasi organisasi dalam kampus dengan organisasi luar kampus ini ternyata di masa perang telah dilakukan secara bersama antara Lafran Pane, pendiri HMI organisasi luar kampus dengan Ida Nasoetion, pendiri PMUI (Persatuan Mahasiswa Universitas Indonesia), organisasi dalam kampus (yang menjadi cikal bakal DMUI). Kedua anak Padang Sidempoean ini sadar betul bahwa dengan menyatukan mahasiswa akan menjadi kekuatan yang maha besar. Hanya dengan kekuatan suatu misi perjuangan dapat diraih yakni: kedaulatan NKRI. Lafran Pane dan Ida Nasoetion mendirikan perhimpunan mahasiswa ketika intelijen dan tentara Belanda memata-matai mereka. Kita berduka ketika Ida Nasoetion gencar-gencarnya menyuarakan kata-kata merdeka dalam esainya, Ida Nasoetion harus diculik dan diduga dibunuh oleh intelijen dan tentara Belanda. Ida Nasoetion telah mengambil risiko itu. Yang disayangkan, bahwa hingga kini, Ida Nasution tidak pernah diketahui dimana makamnya.

Perlawanan mahasiswa setiap jaman menghadapi musuhnya dengan cara yang berbeda-beda. Demikian juga sebelum ada HMI dan PMUI/DMUI, mahasiswa yang dimotori oleh mahasiswa di Negeri Belanda juga melakukan perjuangan. PPI Belanda dibawah kepemimpinan Parlindungan Lubis menyuarakan anti fasis. Terbukti tidak lama dengan kemenagan fasis, Belanda yang telah berkoloni cukup lama di Indonesia diambilalih oleh tentara Jepang yang berporos fasis untuk menguasai bumi Indonesia. Ibarat lepas dari mulut harimau namun jatuh ke dalam mulut buaya. Ketika Jepang menduduki Indonesia, Parlindungan Lubis ditangkap oleh intelijen dan tentara Jerman dan dimasukkan ke kamp konsentrasi NAZI. 

Demikian juga, jauh ke belakang, ketika guru Sutan Casajangan Harahap merasa perlu untuk menyatukan mahasiswa di negeri Belanda agar lebih mudah menyuarakan perlunya peningkatan pendidikan, pertanian dan perdagangan di kalangan rakyat pribumi. Pemikiran Sutan Casajangan dituangkannya dalam sebuah buku yang diterbitkan di Belanda (1913) yang isinya mengkritik strategi kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang selalu mengabaikan rakyat pribumi dan di dalam buku itu diusulkan bagaimana pendidikan, pertanian dan perdagangan rakyat dikembangkan. Guru juga tahu bagaimana harus berjuang, yakni dengan buku--yang konon buku yang ditulis Sutan Casajangan adalah buku pertama yang ditulis dalam bahasa asing oleh seorang pribumi yang diterbitkan di luar negeri.

***

Hariman Siregar kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Fakultas ini merupakan rangkaian perkembangan pendidikan kedokteran di Indonesia dari era kolonial Belanda yang dimulai tahun 1851 yang kemudian disebut Docter Djawa School, dan berubah nama tahun 1902 menjadi STOVIA lalu tahun 1927 berubah menjadi Geneeskundige Hoogeschool yang kemudian menjadi salah satu faculteit di Universiteit van Indonesia (setelah pasca kedaulatan RI menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia). Hariman Siregar adalah generasi yang kesekian, anak-anak yang berasal dari afd. Padang Sidempuan (sebelumnya bernama afd. Mandheling en Angkola).

Generasi pertama adalah Si Asta dan Si Angan yang masuk docter djawa school pada tahun 1854. Sekolah kedokteran ini dibuka tahun 1851, dan saat masuk kedua anak Padang Sidempuan belum ada siswa yang lulus. Ini artinya Si Asta dan Si Angan atau anak-anak Padang Sidempuan adalah termasuk generasi pertama di sekolah kedokteran. Dua tahun berikutnya (1856) menyusul dua siswa lagi, Si Doepang dan Si Dorie. Demikian, seterusnya secara periodik dua anak Padang Sidempuan direkrut studi di Docter Djawa School karena sejumlah criteria: lebih cerdas (pendidikan dasar yang lebih baik), lebih mampu (karena dukungan financial orang tua), lebih berani dan mandiri (saat itu belum ada komunikasi), lebih tekun, lebih tabah dan lebih sehat, serta bersedia ditempatkan dimanapun (tidak cengeng dan memiliki rasa pengabdian di bidang kesehatan).

Anak-anak Padang Sidempuan ini ada yang sekelas dengan Dr. Wahidin, Dr. Tjipto, Dr. Soetomo dan dokter-dokter lainnya yang cukup dikenal di Jawa pada waktu itu. Alumni sekolah kedokteran asal Padang Sidempuan itu puluhan banyaknya, sementara kebutuhan dokter di afd. Padang Sidempuan hanya satu orang (sesuai kebijakan pemerintahan kolonial kala itu). Mereka itu ditempatkan di berbagai tempat, ada yang di Batavia, Buitenzorg, Semarang, Soerabaja, kota-kota di Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Papua, dan tentu saja kota-kota di Sumatra (termasuk di Sumatra’s Westkust dan Sumatra’s Ooskust.

Bataviaasch nieuwsblad, 20-01-1931
Beberapa diantaranya yang cukup dikenal di Padang Sidempuan alumni Docter Djawa School adalah Dr. Haroen Al Rasjid (Nasution) dan Dr. Muhamad Hamzah (Harahap) yang keduanya lulus tahun 1901. Haroen Al Rasjid menjadi menantu Dja Endar Moeda (editor pribumi pertama). Anak pertama Haroen Al Rasjid, bernama Ida Loemongga adalah dokter bergelar doctor (PhD) pertama orang Indonesia (lulus di Leiden 1931). Satu lagi anaknya bernama Gele Haroen, ahli hukum lulusan Leiden (dan menjadi Residen pertama Lampung). Dr. Muhamad Hamzah adalah sepupu guru Sutan Casajangan yang menjadi anggota dewan pribumi pertama Pematang Siantar.

Dr. Muhamad Daulaj (lulus tahun 1905), setelah bertugas di Jawa Timur lima tahun dipindahkan ke Medan untuk memberantas penyakit lepra. Pada tahun 1912, Dr. Muhamad Daulaj membuka rumah sakit lepra (rumah sakit swasta) di Pulau Sitjanang. Dr. Abdul Hakim (lulus 1903), setelah berdinas di Sumatra Barat selama 10 tahun dipidahkan ke Tanjung Poera lalu membantu Dr. Muhamad Daulaj untuk mengembangkan rumah sakit lepra.

Dua anak Padang Sidempuan sekelas dengan Tjipto di STOVIA
Beberapa diantara alumni STOVIA yang terkenal adalah Dr. Radjamin Nasoetion (lulus 1912), setelah berpindah-pindah dari Batavia, Jawa Timur, Kalimantan ditempatkan di Medan. Selama di Medan mendirikan bond sepakbola pribumi (Deli Voetbal Bond). Setelah dari Medan dipindahkan ke Batavia dan kemudian di Surabaya. Di kota ini, Radjamin membina sepakbola pribumi di Surabaya. Radjamin selama masa kuliah adalah pemain sepakbola Docter Djawa Club (STOVIA) yang berkompetisi di Bataviasch Voetbal Club). Di Surabaya Radjamin menjadi anggota dewan (gementee raad) dari wakil pribumi. Di jaman Jepang diangkat sebagai wakil walikota Surabaya dan di jeman RI diangkat sebagai walikota. Radjamin Nasoetion, teman sekelas Dr. Soetomo adalah walikota pribumi pertama Kota Surabaya.

Adik-adik kelas Radjamin Nasution di STOVIA antara lain yang cukup terkenal adalah Abdoel Moenir Nasution (pendiri Sumatra Bond di Batavia Desember 1917, abang dari SM. Amin, Gubernur Sumatra Utara yang pertama). Sumatra Bond pada dasarnya, pertamakali didirikan oleh Dr. Sorip Tagor (kakek Inez Tagor) di Belanda Januari 1917.

Sorip Tagor Harahap berangkat studi ke Belanda untuk meneruskan bidang keahlian (spesialis) pada tahun 1916. Baru setahun megikuti kuliah, Sorip Tagor, kelahiran Padang Sidempuan ini menyadari bahwa ada hal-hal yang tidak berjalan semestinya. Di satu sisi, sepeninggal Sutan Casajangan (pulang ke tanah air 1914), perhimpunan nasional Indonesia (Indisch Vereeniging) makin melorot daya juangnya, sedangkan di sisi lain organisasi Boedi Oetomo (yang bersifat kedaerahan) semakin menguat. Satu hal lain lagi yang dilihat Sorip Tagor adalah pembangungan antara Jawa dan luar Jawa semakin timpang. Atas dasar keinginan untuk mempercepat pembangunan di luar Jawa (khususnya di Sumatra), Sorip Tagor mempelopori didirikannya organisasi anak-anak Sumatra (Jong Sumatra) yang diberi nama Sumatra Sepakat yang secara resmi di’proklamirkan’ pada tangga 1 Januari 1917. Dewan terdiri dari Sorip Tagor (sebagai ketua); Dahlan Abdoellah, sebagai sekretaris dan Soetan Goenoeng Moelia sebagai bendahara. (Salah satu) anggota (benama) Ibrahim Datoek Tan Malaka (yang kuliah di kampus Soetan Casajangan). Pendirian Sumatra Sepakat ini mendapat respon dari mahasiswa-mahasiswa asal Sumatra di STOVIA dengan diberi nama Sumatra Bond yang secara resmi di’proklmairkan’ pada tanggal 8 Desember 1917. Susunan pengurus Jong Sumatranen di Batavia ini adalah Tengkoe Mansoer sebagai ketua, Abdoel Moenir Nasoetion sebagai wakil ketua, Amir dan Anas sebagai sekretaris serta Marzoeki sebagai bendahara. Catatan: Adik Abdoel Moenir di STOVIA adalah Abdoel Moerad. Satu lagi adiknya di Recht School, SM Amin Nasoetion, seangkatan dengan Amir Sharifoedin (SM Amin kelak menjadi Gubernur Sumatra Utara yang pertama, Amir Sjarifoedin menjadi Perdana Menteri)


Dr. Abdoel Rasjid Siregar pendiri Jong Batak tahun 1919. Dr. Rasjid adalah adik dari Mangaradja Soangkoepon (alumni Belanda yang pada tahun 1924 menjadi anggota Volksraad pertama dari dapil Sumatra Timur, (empat periode berturut-turut). Dr. Rasjid Siregar menjadi anggota Volksraad tahun 1932 mewakili dapil Tapanoeli (dua periode) dimana sebelumnya diwakili oleh Dr. Alimoesa Harahap (yang saat itu menjadi kepala kesehatan di Pematang Siantar).

Abdoel Rasjid selama kuliah di STOVIA juga melihat adanya sedikit distorsi di Sumatra Bond. Lalu Abdoel Rasjid mempelopori didirikannya Bataksch Bond (mirip ide Sorip Tagor), tetapi Abdoel Rasjid tetap berafiliasi dengan Sumatra Bond (mungkin untuk menghormati seniornya Sorip Tagor). Alasan lain didirikannya Bataksch Bond oleh Rasjid agar lebih optimal mengakomodir anak-anak Batak lainnya karena ditengarai ada sedikit resistensi dari beberapa anggota Sumatra Bond (Islam) terhadap anak-anak Batak lainnya (yang beragama Kristen). Prinsip dalihan natolu menjadi sumber pengikat lagi.


Dr. Aminoedin Pohan, setelah bertugas di Jawa Tengah, melanjutkan studi dokter spesialis Ke Belanda dan ketika pulang tahun 1932 diangkat menjadi direktur rumah sakit Padang Sidempuan yang baru dibuka (mengalahkan calon seorang dokter Belanda). Dr. Paroehoeman, setelah bertugas di Malang dan sekitarnya lima tahun melanjutkan studi (spesialis) ke Belanda. Anak-anak Padang Sidempuan yang juga melanjutkan studi spesialias ke Belanda diantaranya Dr. Diapari Siregar, Dr. Daliloedin Loebis dan Dr. Djabangoen Harahap.

Ketika Dr. Aminoedin Pohan pulang kampong, Parada Harahap (yang bukan dokter) justru berangkat ke luar negeri untuk memimpin tujuh orang pertama orang Indonesia ke Jepang (1932). Riwayat Parada Harahap sangatlah langka: hanya lulus sekolah dasar alias SD (karena keadaan financial orangtua yang tidak mendukung ke sekolah tinggi), tetapi otaknya sangat encer. Ketika lulus SD tahun 1915, Parada Harahap merantau ke Medan, bekerja di perkebunan perusahaan asing sebagai krani. Tapi anak pejuang dari Padang Sidempuan ini tidak tahan melihat penderitaan para koeli perkebunan yang tersiksa (akibat penerapan poenale sanctie). Parada Harahap mulai belajar otodidak di tempat kostnya diluar jam kerja: belajar bahasa Belanda dan mulai menulis dalam bahasa Indonesia. Lalu tulisan-tulisannya tentang kekejaman di perkebunan terhadap para koeli dikirimkannya ke surat kabar Benih Mardika di Medan. Namun tindakan Parada Harahap diketahui oleh manajemen lalu dipecat dari pekerjaannya (1917). Parada Harahap hijrah ke Medan melamar menjadi wartawan, tetapi malah jabatan editor yang ditawarkan kepadanya. Dalam tahun 1918 Parada Harahap mulai memainkan penanya dengan lebih tajam. Oleh karena korannya dibreidel karena kasus lain (bukan disebabkan perihal jurnalistik),
Surat kabar militan di Indonesia hanya ada di Padang Sidempuan (1919)
Parada Harahap pulang kampong dan mendirikan surat kabar Sinar Merdeka di Padang Sidempuan tahun 1919. Di kota kelahirannya ini juga Parada Harahap kerap dimejahijaukan sebagaimana pernah dialami di Medan. Belasan kali masuk penjara di Padang Sidempuan karena kasus delik pers. Pada tahun 1922 Parada Harahap mendirikan cabang Bataksch Bond di Sibolga bersama Manullang. Pada tahun 1923 Parada Harahap hijrah ke Batavia dan bergabung dengan Bataksch Bond yang (tetap) berafiliasi dengan Sumatranen Bond. Parada Harahap langsung mendirikan surat kabar Bintang Hindia bersama Dr. Abdoel Rivai (alumni docter djawa school, teman Soetan Casajangan di Belanda). Koran mereka laris manis. Parada Harahap juga mendirikan kantor berita Alpena (kantor berita pertama pribumi) dimana editornya sekaligus wartawannya WR Supratman. Karir Parada Harahap terus meroket, tidak hanya ketua Bataksch Bond tetapi juga menjadi sekretaris Sumatranen Bond. Usaha medianya juga maju pesat, setelah Bintang Hindia, Parada Harahap mendirikan koran Bintang Timur (maju pesat memiliki tiras dan oplag tertinggi di Batavia). Tidak hanya itu, Parada Harahap juga menulis buku, mendirikan organisasi wartawan, menerbitkan surat kabar berbahasa Belanda (total jumlah medianya sebanyak tujuh buah), juga memiliki manufaktur di Batavia dan plantation di Jawa Tengah. Dengan portofolio setinggi itu, Parada Harahap mulai menggagas perlunya semua oraganisasi-organisasi kemasyarakat bersatu. Lalu Parada Harahap menghubungi semua pihak dan mengumpulkan pimpinan organisasi di Jalan Kenari. Trbentuklah organisasi Permofakatan Persatoen Perhimpunan Kemasyarakat Indonesia (PPPKI) tahun 1927 dimana Parada Harahap sebagai sekretaris dan didaulat M. Husni Tamrin sebagai tokoh menjadi ketua. Yang hadir dalam pembentukan itu adalah pimpinan dari Boedi Oetomo, Jong Ambon, Pasundan, Kaum Betawi, Sumatra Bond, perwakilan Sulawesi Utara dan sebagainya. Parada Harahap sendiri waktu itu masih berumur 30 tahun (terbilang masih muda), tetapi sangat heroik, sangat kaya dan tentu sangat cerdas, tentu saja sangat diterima oleh samua pihak. Di kantornya di Jalan Kenari beberapa tokoh pergerakan fotonya dipajang oleh Parada Harahap, termasuk tiga tokoh pemuda yang masih belia: Soekarno, Hatta dan Amir Sjarifoedin. Ketika foto-foto ketiga anak muda ini pernah diturunkan oleh orang tidak dikenal (mungkin spionase), Parada Harahap sempat menangis sebagaimana ditulisnya di surat pembaca. Beberapa waktu sebelumnya Parada Harahap pernah menulis di editorial Bintang Timur agar turun ke jalan dan keluar dari lingkungan kampus. Lalu dijawab Soekarno beberapa waktu kemudian di surat pembaca: ‘…saya tengah mempelajari teorinya…, tunggu tindakan saya Bang…’ Parada Harahap yang menjadi sekretaris PPPKI secara intens menjadi mentor para anak muda dan secara lahir (termasik material) dan batin (termasuk pemikiran) memfasilitasi untuk diadakannya Kongres Pemuda 1928. Ketua panitia kongres adalah Soegondo dan bendahara Amir Sjarifoedin (keduanya anak Medan, sama-sama kelahiran Medan). Jangan lupa, Parada Harahap adalah pendiri dan presiden persatuan pengusaha pribumi (semacam Kadin pada masa ini). Tiba waktunya, pada tahun 1933 Parada Harahap dimanfaatkan oleh agen Jepang (kala itu muncul istilah saudara tua).

De Indische courant, 29-12-1933
Parada Harahap diminta Jepang untuk melawat ke Jepang dan memimpin rombongan orang Indonesia. Terdapat tujuh orang terpilih Indonesia yang mewakili bidang: Parada Harahap (pemimpin politik), Abdullah Loebis (pemilik dan editor Pewarta Deli), seorang guru dari Jawa Barat, seorang pengusaha dari Jawa Tengah, …, dan seorang sarjana ekonomi yang baru lulus dari Belanda, namanya M. Hatta  Rombongan pada akhir tahun 1933 berangkat dari Surabaya dengan kapal Jepang menuju Makasar, Manila dan lalu tiba di Jepang. Peristiwa ini membuat heboh pers Belanda, baik di Batavia maupun di Amsterdam. Di Jepang, Parada Harahap dan kawan-kawan disambut bagaikan pimpinan sebuah Negara berdaulat. Pers Jepang menjuluki Parada Harahap sebagai The King of Java Press. Setelah pulang ke tanah air, Parada Harahap yang sudah sejak dari Padang Sidempoean dimata-matai, lalu ditangkap dan dimejahijaukan. Untuk yang kesekian kalinya, total Parada Harahap dimejahijaukan sebanyak 101 kali dan belasan kali harus dibui (untuk lengkapnya lihat artikel tentang Parada Harahap di dalam blog ini). Singkat kata: Parada Harahap boleh dibilang adalah mentor tiga para the founding father Republik Indonesia: Ir. Soekarno, Drs. Ec. M. Hatta dan Mr. Amir Sjarifoedin Harahap (mewakili tiga bidang keahlian yang akan lebih dibutuhkan nanti: teknik, ekonomi dan hukum). Terbukti bahwa ketiga orang yang dulunya masih muda, jelang kemerdekaan RI sudah matang. Merdeka! Last but not least: yang menjadi juri pemilihan lomba lagu Indonesia Raya adalah Parada Harahap yang mana pemenangnya adalah WR Supratman (editornya dan pernah tinggal di rumah Parada Harahap). Jangan juga lupa, setiap ketiga tokoh revolusioner tadi bermasalah dengan militer Jepang dan saat-saat persoalan menjadi kritis, Parada Harahap yang selalu mendinginkan situasi (meski Parada Harahap sudah dibatasi langkahnya oleh militer Jepang, Parada Harahap masih memiliki taktik dan tentu saja masih berpengaruh dihadapan para tokoh-tokoh sipil Jepang). Pada waktu pembentukan BPUPK, Parada Harahap termasuk di dalamnya.
Tokoh muda, penerus tiga founding father di bawah bimbingan Parada Harahap adalah Adam Malik Batubara (pendiri kantor berita Antara), Mochtar Lubis (pendiri surat kabar Indonesia Raya) dan Sakti Alamsyah Siregar (pendiri surat kabar Pikiran Rakyat Bandung). Kebetulan atau sengaja ketiga orang ini pernah sama-sama bekerja di radio militer Jepang. Koran Indonesia Raya (Mochtar Lubis) dan Pikiran Rakyat (Sakti Alamsyah) memiliki motto yang sama: ‘Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat). Setelah pasca kedaulatan RI, pada tahun 1956 orang Indonesia pertama yang diundang ke Jepang adalah Mochtar Lubis dan Adinegoro. Kisah kembali berulang: dari abang (Parada Harahap) turun ke anggi (Mochtar Lubis) dan dari uda (M. Hatta) turun ke adik (Adinegoro). Hubungan Parada Harahap dan Adinegoro sangat dekat. Ketika Adinegoro pulang studi jurnalistik dari Eropa, Parada Harahap meminta Adinegoro menjadi editornya di surat kabar Bintang Timur, karena Parada Harahap sudah sangat sibuk dalam urusan politik. Namun baru setahun, datang Abdullah Lubis dari Medan meminta kepada Parada Harahap agar Adinegoro menjadi editor Pewarta Deli (karena dirinya juga sibuk politik di Medan). Parada Harahap menyetujui dan Adinegoro berkarir di Medan. Parada Harahap tidak sulit menemukan editor lain di Batavia. Kebetulan adiknya, Panangian Harahap bersedia mengisi kekosongan itu, seorang mantan guru yang menjadi penilik sekolah di Bandung. Mochtar Lubis dan Adinegor sama-sama pendiri SPS dan PWI, Mochtar Lubis ketua SPS (pertama) dan Adinegoro ketua PWI (pertama). Kembali ke masa lampau: Parada Haraap adalah pendiri persatuan wartawan di Medan (organisasi wartawan pertama pribumi di era Belanda 1918) dan di Batavia, Parada Harahap adalah ketua sarikat perusahaan surat kabar pertama di era Belanda (1826). Pada tahun 1954 Soekarno meminta Bang Parada untuk menyusun buku repelita. Buku Repelita ini disusun selama setahun termasuk studi banding ke 14 negara di Eropa. Buku repelita ini adalah buku repelita Indonesia pertama. Pada seputar tahun-tahun ini Soekarno berseteru dengan Mochtar Lubis. Untuk urusan keributan ini (Mochtar Lubis vs Soekarno) Parada Harahap abstein, tidak intervensi dan tidak melakukan apa, mungkin karena keduanya adalah adik-adiknya yang pernah dibimbingnya. Inilah kearifan Parada Harahap, musuhnya hanya satu: Belanda. Demikianlah fakta yang sebenarnya. Segala sesuatunya tidak datang ujuk-ujuk (secara random), boleh jadi by design (secara systematic) oleh sang kreator: Parada Harahap. Sekali lagi: Merdeka!   .
Dr. Daliloedin adalah abang dari Parlindoengan Loebis. Sementara Parlindoengan Loebis bukan alumni STOVIA, tetapi setelah tahun pertama di STOVIA karena dianggap berprestasi direkomendasikan langsung studi kedokteran ke Belanda. Hal serupa ini juga yang dialami oleh seniornya Ida Loemongga, langsung ke Belanda. Dr. Djabangoen Harahap setelah bertugas di Jawa Timur dipindahkan ke Padang Sidempuan dan kemudian menggantikan Dr. Paneth di Kabanjahe untuk memimpin sanatorium (rumah sakit TBC). Pada tahun 1931 dipindah ke Medan menjadi kepala biro epidemic TBC di rumah sakit kota Medan menyusul temannya Dr. Pirngadi (anak Banten). Rumah sakit itu kelak menjadi RS Pirngadi Medan. Dr. Djabangoen selama agresi militer Belanda menjadi Ketua Front Medan (di Surabaya, Ketua Front adalah Doel Arinowo, seteru Dr. Radjamin Nasoetion). Tambahan: Dr. Amir Hoesin Lubis alumni STOVIA adalah menantu Radjamin Nasution.

Selama agresi militer Belanda di Sumatra Utara (Sumatra Timur, Tapanuli dan Atjeh) yang menjadi Gubernur Militer adalah DR. Gindo Siregar (masuk STOVIA tahun 1921). Tiga teman seangkatan Gindo Siregar yang berasal dari Padang Sidempuan adalah Daliloedin Loebis adalah Pamenan Harahap dan Kasmir Harahap. Dr. Pamenan Harahap setelah berdinas di Buitenzorg, Semarang, Surabaya, Papua dan Ruteng kembali ke Batavia tahun 1941 untuk memimpin rumah sakit Batavia (sekarang RS Cipto). Dr. Abbas Siregar yang pulang kampong, selama agresi militer pertama menjadi ketua Dewan di Padang Sidempuan (agresi militer Belanda di Tapanuli baru terjadi pada agresi militer kedua, 1948). Ketua dewan di Sibolga adalah Dr. Ma’moer Nasution. Satu lagi alumni STOVIA adalah Dr/ Radja Djoendjoengan Loebis nebhadu Gubernur Sumatra Utara (sebelumnya Bupati Tapanuli Selatan).

Last but not least: Armijn Pane (abang dari Lafran Pane) adalah mahasiswa STOVIA masuk tahun 1923, pada tahun ketiga meninggalkan kampus karena lebih tertarik dunia sastra. Hal yang sama juga dialami oleh Sanusi Pane, yang awalnya masuk STOVIA tetapi lebih tertarik sastra dan kemudian lebih memilih masuk Kweekschool (sekolah guru) Goenoeng Sahari. Boleh jadi karena tarikan dari bakat ayah mereka Soetan Pangoerabaan Pane, seorang guru dan pengarang (sastra lokal). Hal serupa ini (sebagaimana dilaporkan) juga dialami oleh Adi Tirto Suryo (Bapak Pers Indonesia) dan Adinegoro (pendiri PWI). Seangkatan dengan Soetan Pangoerabaan Pane adalah guru Hamonangan Harahap, guru di Padang Sidempuan, ayah dari Soetan Goenoeng Moelia, PhD, doktor kelima orang Indonesia yang menjadi Menteri Pendidikan RI yang kedua. (DR. Soetan Goenoeng Moelia adalah saudara sepupu Amir Sjarifoedin).

Setelah pasca pengakuan kedaulatan RI, anak-anak Padang Sidempuan masih terus mengalir untuk studi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, baik yang datang dari kampong di Padang Sidempuan maupun yang datang dari kota-kota lain di Indonesia (generasi rantau)  hingga tiba saatnya Hariman Siregar masuk tahun 1967. Dua diantaranya adalah  putra Radjamin Nasution, yakni anak pertama lulus kedokteran sebelum kemerdekaan (pada perang Surabaya menjadi kepala kesehatan militer berpangkat Letkol), anak ketiga lulus dokter setelah kemerdekaan menjadi guru besar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Merdeka! 

Penutup:

Organisasi mahasiswa pertama yang didirikan adalah Indisch Vereeniging di Belanda oleh Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan Soripada pada tahun 1908. Oleh karena Indisch Vereeniging dianggap mengalami kelesuan sepeninggal Soetan Casajangan yang pulang ke tanah air 1914, anak-anak Sumatra mendirikan organisasi mahasiswa baru yang bernama Sumatra Sepakat tahun 1917 yang dipelopori oleh Sorip Tagor Harahap. Pada tahun 1924, M.Hatta merevitalisasi Indisch Vereeniging dengan nama baru Persatuan Pelajar Indonesia (PPI). Namun lagi-lagi mengalami kelesuan setelah periode M. Hatta. Parlindungan Lubis melakukan revitalisasi PPI tahun 1938 bahkan lebih radikal (anti fasis). Pada tahun 1947, dua lagi anak Padang Sidempuan mendirikan organisasi mahasiswa. Pada bulan Februari 1947 Lafran Pane mendirikan organisasi mahasiswa di luar kampus yang bernama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Bulan November 1947 Ida Nasution bersama G. Harahap mendirikan organisasi mahasiswa di dalam kampus yang diberi nama Perhimpunan Mahasiswa Universitas Indonesia yang disingkat PMUI. Kala itu, perguruan tinggi di bawah pemerintahan Belanda baru satu-satunya Universiteit van Indonesie yang kampusnya tersebar di Batavia (menjadi UI), Buitenzorg (menjadi IPB), Bandoeng (menjadi ITB), Surabaija (menjadi Unair) dan Macassar (menjadi Unhas). Para pendiri itu, semuanya berasal dari Padang Sidempuan.

Debat Dja Endar Moeda di koran Sumatra Courant, 1899
Organisasi-organisasi non mahasiswa juga banyak yang dipelopori oleh anak-anak Padang Sidempuan. Salah satunya yang utama: organisasi sosial kemasyarakatan yang diberi nama ‘Medan Perdamaian’. Organisasi ini secara resmi dibentuk di Padang tahun 1900 oleh Dja Endar Moeda Harahap. Organisasi Medan Perdamaian delapan tahun lebih awal dari Boedi Oetomo (lihat Soerabaijasch handelsblad, 20-10-1908). Dja Endar Moeda, alumni Kweekschool Padang Sidempuan (1884), mantan guru, novelis, pemilik sekolah pribumi pertama (1895) dan editor pribumi pertama (1897) yang tidak ada takutnya berdebat dengan pers Belanda yang kerap memojokkan pribumi. Membantu rakyat di bidang hukum di Padang secara sukarela (Algemeen Handelsblad, 02-11-1898). Menulis panduan berangkat haji ke Mekah (Bataviaasch nieuwsblad, 14-11-1900). Mendorong media pribumi lebih banyak agar rakyat lebih berpengetahuan (De locomotief: Samarangsch handels-en advertentie-blad, 02-05-1901). Pernah dikenakan tuntutan (tidak berdasar) dalam delik pers dan dihukum cambuk (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 30-11-1905).Juga melakukan bantuan hukum di Kota Radja, Atjeh (De Tijd: godsdienstig-staatkundig dagblad, 02-08-1909).

Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 20-02-1900
Yang menjadi direktur pertama organisasi ini adalah Dja Endar Moeda sendiri. Ketika, organisasi ‘Boedi Oetomo’ didirikan tahun 1908 dan ketika mau melaksanakan kongres yang pertama di Solo, seorang inspektur Belanda yang berpidato dalam kongres itu menyebutkan bahwa organisasi sejenis sudah ada di Sumatra namanya Medan Perdamaian. Bedanya, Medan Perdamaian bersifat nasional sedangkan ‘Boedi Oetomo’ bersifat kedaerahan. Pada tahun 1902 Medan Perdamain memberikan sumbangan untuk pembangunan sekolah di Semarang.

De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 21-08-1902
Untuk jong Batak, juga didirikan oleh anak Padang Sidempuan, setelah adalanya Sumantranen Bond, Pasundan, Boedi Oetomo, Jong Ambon, Kaum Betawi dan lainnya. Organisasi anak-anak Batak ini disebut Bataksch Bond (Jong Batak). Didirikan tahun 1919 oleh Abdul Rasjid Siregar (mahasiswa STOVIA). Organisasi sosial yang bersifat nasional yang digagas dan didirikan oleh Saleh Harahap gelar Dja Endar Muda tahun 1900 sirna, terkotak-kotak yang awalnya dipicu oleh berdirinya Boedi Oetomo. Namun jangan khwatir, kelak organisasi-organisasi yang bersifat kedaerahan itu akan diikat kemabli oleh anak Padang Sidempuan (kembali ke visi dan misi Dja Endar Moeda).

Organisasi profesi yang didirikan oleh anak-anak Padang Sidempuan juga cukup banyak. Beberapa yang penting diantaranya: Pertama, organisasi wartawan pribumi pertama digagas oleh Parada Harahap di Medan tahun 1919 (De Sumatra post, 04-04-1919). Parada Harahap, wartawan terbaik versi Europeescbe Pers (1924) menggaas didirikannya Inheemsche Vereenigingen (organisasi himpunan organisasi-organisasi sosial) yang diberi nama Permoefakatan Perhimpoenan-perhimpoenan Politiek Kebangsaan Indonesia (PPPKI) tahun 1927 di Batavia. Parada Harahap juga pendiri dan presiden pertama Kamar Dagang dan Industri Pribumi tahun 1929. Parada Harahap yang pernah mempelopori organisasi wartawan pada tahun 1919 di Medan, pada tahun 1931 kembali menggagas didirikannya organisasi wartawan nasional (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 18-07-1931). Saat itu koran Bintang Timoer adalah yang terbaik untuk koran pribum yang dimiliki oleh Parada Harahap. Selain itu, Parada Harahap yang dijuluki oel pers Jepang sebagai The King of the Java Press adalah pendiri asosiasi surat kabar yang kini disebut SPS (Bataviaasch nieuwsblad, 25-06-1934). Parada Harahap juga adalah pendiri Akademi Wartawan yang pertama. Juga jangan lupa Parada Harahap adalah pendiri organisasi perguruan tinggi swasta (semacam Kopertis pada masa ini). Terakhir, Parada Harahap di era Presiden Soekarno, memimpin Misi Dagang dan Industri Indonesia ke 14 negara dan pulang dari situ Parada Harahap menyusun buku repelita atas permintaan Soekarno (buku repelita RI pertama).

Jika Parada Harahap berkiprah di dalam negeri, Mochtar Lubis di luar negeri. Mochtar Lubis adalah pendiri dan ketua International Press Institute (IPI) pertama chapter Indonesia (1952). Mochtar Lubis memimpin demonstrasi untuk Kebebasan Pers (1953). Atas sepak terjangnya dalam melawan tirani, Mochtar Lubis dipenjara di rumah tahanan CPM (jalan) Guntur, lalu dipindahkan ke penjara militer (jalan) Boedi Oetomo (1956): Pada tahun 1957 Mochtar Lubis dibela M. Yamin (abang ari Adinegoro) dan didukung oleh PWI Bandung (ada di situ Sakti Alamsjah) sedangkan PWI pusat diam saja (tetapi akhirnya dukung tetapi setengah hati). Juga didukung Internationale Pers Instituut di Zürich. Tentu saja juga ada dukungan dari para sastrawan. Juga ada dukungan dari para penulis dari Himpunan Pengarang Islam. Tahun 1966 Mochtar Lubis bebas, sebaliknya Soekarno ‘ditahan’. Indonesia Raya terbit kembali tahun 1967. Mochtar Lubis bereaksi ketika De Spiegel menuduh Adam Malik korupsi (akhirnya koran De Spiegel meralat dan minta maaf). Hariman Siregar diterima di Fakultas Kedokteran UI. Pada tahun 1968 Mochtar Lubis berteman dekat dengan Profesor Soemitro Djojohadikoesoemo. Pada tahun 1969 Mochtar Lubis kritik wartawan amplop dan juga ‘menyerang kerajaan’ Ibnu Soetowo. Pada tahun 1970 di era Soeharto, tetap konsiten anti korupsi dan juga masih wartawan paling terkenal di pers asing. Mochtar Lubis bertemu dengan Hariman Siregar dalam Malari 1974. Pada tahun 1979 Mochtar Lubis dijuluki The Musketeer in International Press. Mochtar Lubis dan Princen, dua anak bangsa beda ras di Indonesi berjuang ‘tiada ujung’ (1986). Hariman Siregar is: The Last Mochican dari dunia kampus.

Edward Doewes Dekker alias Multatuli tidak tahan melihat perjuangan para penduduk di afd. Mandheling en Ankola, Residentie Tapanoeli tahun 1942-1943. Sebagian penduduk Angkola dan Mandailing (tentu termasuk ompung dari Mochtar Lubis dan Hariman Siregar) antara tahun 1842-1845 (satu abad sebelum penduduk Jepang, 1952-1945) memberontak atas kekejaman koffiestelsel yang diterapkan pemerintah Belanda di Afd. Mandheling en Ankola. Edward yang kala itu menjadi controleur di afd. Natal juga tidak tega hati terhadap penderitaan penduduk Mandheling en Ankola, merekam peristiwa lalu ikut membela dan menjadi tempat keluh kesah penduduk bagaimana mereka diperlakukan tidak adil. Akhirnya, Edward yang baru berdinas setahun dipecat pemerintah di Padang, terkatung-katung selama setahun di Padang tidak diperbolehkan pemerintah pusat di Batavia istrinya untuk menjenguk ke Padang. Dari sinilah awal kisah pembela hak azasi yang dalam buku Edward Douwes Dekker yang terkenal: Max Havelaar, terminologi 'multatuli' dan 'insulinde' muncul. Sebagian penduduk Mandheling en Ankola lalu eksodus ke Semenanjung Malaya (dan kini menjadi warga negara Malaysia). Edward Douwes Dekker dan Princen adalah tokoh asing yang melegenda di Indonesia, sebaliknya Mochtar Lubis dan Hariman Siregar adalah dua orang Indonesia yang sangat dikenal di luar negeri. Intinya: anak-anak afdeeling.Padang Sidempuan (yang dulu bernama afdeeling Mandheling en Ankola) berjuang demi keadilan, hak azasi dan mendorong ke arah kemajuan di segala bidang. Horas! Merdeka!


Untuk urusan organisasi di Indonesia baik yang berada di kalangan mahasiswa (kampus) maupun yang berada di dunia sosial (non kampus), yang berasal dari Padang Sidempuan adalah sebagai berikut:

A. Kampus dan kemahasiswaan
1. Pelopor: Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan Soripada
2. Penegak: Sorip Tagor Harahap, Parlindungan Lubis dan Abdul Rasjid Siregar
3. Pendobrak: Lafran Pane, Ida Nasution dan G. Harahap
4. Penerus: Hariman Siregar (The Last Mochican)

B. Sosial dan kemasyarakatan
1. Pelopor: Sati Nasution gelar Willem Iskander
2. Penegak: Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda
3. Pendobrak: Parada Harahap, Abdullah Lubis dan Adam Malik
4. Penerus: Mochtar Lubis (The Musketeer)



Catatan: Dalam Perang Padang Sidempuan, tokoh penting:
  • Kalisati Siregar, Kepala Bidang Perdagangan (Logistik): Ayah dari dr. Hariman Siregar.
  • Djohan Nasoetion, Kepala Bidang Pertanian: Ayah dari Prof. Ir. Lutfi Ibrahim Nasution, MSc. PhD (gruru besar IPB dan Kepala BPN RI)
  • Abdul Hakim Harahap: menjadi Gubernur Sumatra Utara (yang ketiga).
  • Maskud Siregar, wakil komandan AGS Sipirok: Ayah dari Dr. Arfin Siregar (Menteri Perdagangan RI dan Gubernur BI)
  • Mayor Maraden Panggabean, komandan militer Residen Tapanuli: Pada saat peristiwa Malari berpangkat Jenderal yang menjabat sebagai Menteri Pertahanan RI.

Tidak ada komentar: